Senin, 29 Januari 2007

Note : Foto ini hanya sekedar ilustrasi, tidak berhubungan dengan isi tulisan.

Entah kenapa saat membaca artikel tentang karya tulis remaja di Koran SINDO yang aku baca malam ini -- Koran pagi yang baru sempat aku baca malam hari sambil menemani anakku yang sedang belajar -- langsung teringat pada sosok Mas Eko, Ketua OSIS SMA Negeri Tumpang periode 1985/1986. Eko Santoso, begitu nama lengkapnya, sebenarnya hanyalah siswa biasa, jauh terkesan sebagai “local idol” yang digilai-gilai lawan jenis dan membuat iri sesama jenis (biasanya yang model gini ini, anak yang banyak gaya, sedikit punya kemampuan tertentu, wajah diatas rata-rata, tetapi biasa-biasa saja di pelajaran), hiehiehie…

Yang membuat Eko “lebih” dari yang lain adalah selain pemain utama tim basket sekolah, otak (encer)nya diatas rata-rata teman se angkatan, pemilik tubuh tegap dengan tinggi sekitar 175 cm ini juga (kebetulan) seorang muslim taat dari etnis Chinese. Barangkali karena alasan itu pula penghuni IPA-1 -- seangkatan dengan Cak Herry nDepok ? -- terpilih sebagai Ketua OSIS secara aklamasi.

Satu kejadian yang bagiku paling berkesan -- sehubungan pertemanan dengan Mas Eko -- adalah saat mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja tingkat Kabupaten Malang tahun 1985. Berkesan (sekaligus salut !) karena dengan inisiatif sendiri Mas Eko membuat karya tulis, tanpa disuruh guru Pembina OSIS ataupun dorongan dari pihak sekolah, tetapi hanya berbekal selebaran yang dikirim ke sekolah oleh panitia. Judul yang diajukanpun (saat itu) sangat orisinil, yaitu (mudah-mudahan kalimatnya pas begini) : “Cara Mudah Menghitung Perkalian sampai 5 Digit dengan Menggunakan Bantuan Jari”. Karya ini termasuk dalam kategori “Temuan Baru” karena belum ada teori tertulis sebelumnya yang terpublikasi (beberapa tahun kemudian, muncul Metode Kumon yang menurutku hampir sama dengan apa yang ditulis Mas Eko di tahun 1985. Kebetulan ?).

Disaat-saat batas akhir pengumpulan karya tulis, tanpa dinyana Mas Eko memasukkan namaku dalam tim, alasannya lomba karya tulis bukan untuk perorangan, tetapi beregu dengan jumlah minimal 2 orang. Yo wis, nolak juga nggak enak, pokok’e ikut saja. Pas minta restu (pengesahan) dari Drs. Munawar, Kepala Sekolah saat itu -- hari Sabtu di penghujung bulan April sekitar jam 9 pagi, padahal batas pengumpulan jam 13.00 di Kantor Depdikbud Kab. Malang -- ndilalah sambutannya biasa-biasa saja, hanya disarankan minta “sangu” ke Bagian Keuangan OSIS yang saat itu dipegang Bu Runia Laksmiwati. Dengan segala alasan, Bu Runia bisanya ngasih Rp. 650,- saja, yang hanya cukup untuk ongkos transport PP dari SMAN Tumpang ke Kantor Dikbud Kabupaten (yang kalo nggak salah saat itu di sekitar jalan ke arah Kebon Agung).

Keluar dari ruang guru, dengan lirih Mas Eko bilang, “Geng, duwik’e mek cukup digawe wong siji tok. Yok opo iki ?” Dan tanpa disangka Mas Eko nyambung lagi, Wis pokok’e awak’e dewe kudu budal wong loro. Gak usah lewat Patimura (nama terminal Malang dahulu, red) tapi liwat kidul ae. Ayo’ wis berangkat sak iki ae !” Singkat cerita, kami berangkat naik mobil colt yang melewati Banjarejo, trus Kedung Kandang, dan memilih turun di sekitar Kota Lama (bayar Rp. 300,- berdua). Karena ngirit ongkos, ke kantor Dikbud jalan kaki sekitar 2 km, panas-panasan sekitar jam 12-an siang. Sampai kantor Dikbud tercatat sebagai peserta terakhir yang memasukkan naskah lomba, karena sudah sekitar jam 12.30 (eh hiya.., 3 copy Karya Tulis itu semuanya diketik manual dan beberapa bagian ditulis tangan. Kayaknya belum ada yang namanya computer deh saat itu). Balik ke Tumpang lewat Kota Lama lagi, jalan kaki lagi, dan jaraknya sekitar 2 km juga ! Anehnya, saat itu kami berdua tidak mengeluh dan malah becanda terus di perjalanan (sambil ngrasani, koq tego yo pihak sekolah nang awak’e dewe, hehehe…). Sebelum naik colt jurusan Tumpang, kami sempat berunding gimana kalo sisa uang yang Rp. 50,- dibelikan es sirup pinggir jalan saja (lumayan, dapat 2 gelas), dan sisanya Rp. 300,- untuk ongkos.

Memang, akhirnya karya tulis Mas Eko (sengaja tidak aku tulis “KAMI” sebab aku memang tidak memberikan kontribusi apa-apa. Suer !) tidak menang, bahkan untuk masuk 10 besar pun tidak diperhitungkan. Tidak ada rasa kecewa, bahkan Mas Eko membesarkan hatiku, “Gak popo Geng, sing penting awak’e dewe wis wani nyoba’ melok. Dadi iso ngukur kemampuan awak’e dewe iki sepiro dibanding sekolah liyane..!” Bukan main.., begitu legowonya dia, meski (sebenarnya) ada nada kecewa pada pihak sekolah yang kurang memberi dukungan. Dan untuk mensosialisasikan “karya” Mas Eko ke teman-teman, aku sempat memasukkan ke dalam salah satu edisi Majalah Sekolah Widya Wiyata, yang kebetulan saat itu aku ikut menjadi pengelolanya.

Seiring bertambahnya waktu, setelah lulus SMA Mas Eko pernah mendaftar ke Akademi Angkatan Laut (mudah-mudahan nggak salah), tetapi gagal dalam 2 kesempatan karena faktor non-teknis. Trus (masih kalo nggak salah) mendaftar di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dan, kabar terakhir (dari Cak Hery kalo’ nggak salah lagi) Mas Eko saat ini bekerja di kawasan Surabaya. Mudah-mudahan (suatu saat) beliau juga baca tulisanku ini. Paling tidak, Mas Eko tau, bahwa ada sahabat yang masih “menyimpan” bagian suka duka perjalanan masa SMA dulu. Hmmm………. (serasa kembali ke jaman 22 tahun silam deh...).

***

** Terus terang, sambil mengetik naskah ini mataku tanpa kusadari berkaca-kaca. Perasaan kecewa dan marah pada kejadian masa lalu kembali muncul, kenapa sekolahku (mungkin sampai kini) tak banyak menghasilkan “local idol” versi lain macam Mas Eko. Kenapa ide-ide brilian dan penggemar ilmu pengetahuan tidak dikedepankan sebagai bagian yang harus dibina dan (pada akhirnya) menjadi kebanggaan sekolah itu sendiri ? Apakah karena letaknya yang dipelosok kemudian pihak sekolah (baca : kepala sekolah dan semua dewan guru) bersikap pasrah dan “kalah sebelum bertanding” dengan sekolah yang (katanya) favorit ?

** Dengan tulisan ini pula, serasa ada sedikit “beban” yang lepas, yang selama 20 tahun lebih terus mengganjal sebagai bagian “ketidak-puasan” di masa sekolah.


Salam,

Sugeng Pribadi
A3-2 / 1987

Jumat, 26 Januari 2007


Tanda-tanda terjadinya kecanduan Internet adalah :

* Mas kawin yang Anda minta di hari pernikahan adalah seperangkat komputer dan modem. Tunai!
* Bel di rumah Anda bertuliskan "Click here to continue"
* Pintu kamar mandi Anda bertuliskan "This site contains Adult Material, please verify your age"
* Anda menanyakan apakah ada email baru untuk anda kepada Pak Pos yang mengantarkan kartu lebaran.
* Mimpi anda selalu berawal dengan
http://www.
* Anda menggunakan search engine untuk mencari anak anda yang sudah tiga hari tidak pulang ke rumah.
* "Unable to locate your server!" kata Anda ketika menerima telepon salah sambung.
*Anak-anak Anda diberi nama Joko.gov agar kelak dia jadi pegawai negeri sipil dan Tole.edu agar kelak dia jadi mahasiswa abadi.
* Suara dengkuran Anda sudah persis mirip dengan suara Handshake modem.
* Anda susah menggerakan jari Anda karena Anda sudah online selama 36 jam.
* Anda menonton film "The Net" 63 kali.
* Ketika mobil Anda menyeruduk mobil lain di simpang jalan, yang pertama Anda cari adalah tombol UNDO.
* Istri Anda meletakan wig di atas monitor Anda untuk mengingatkan Anda seperti apa tampangnya.
* Anda memberi nama anak Anda Eudora, Netscape dan mIRC. Dan kalau anda lebih demokratis (tidak monopistis) anda akan memberi nama anak anda Linux atau distro-distronya.
* Anda memperkenalkan diri sebagai: youremail@y… atau
www.domain.com
* Anda membuat tatoo di badan Anda "This body best viewed with Internet Explorer 5.5 or higher."
* Anda meninggalkan antrian tiket kereta api dengan berkata "request time out!!!"
* Ketika hidup anda mengalami depresi, anda akan sangat menyesal mengapa tubuh anda tidak dilengkapi dengan tombol Ctrl-Alt-Del.
* Anda membaca tulisan ini sampai habis.


Puji Sugiarto
Biologi-3 / Th. 1990

Kamis, 18 Januari 2007

Hari itu udara sangat panas, matahari bersinar terik di atas kota Bandung. Aku sedang menunggu angkot bersama anakku di sekitar jalan GatSu tepatnya di depan BSM. Entah kenapa tiba-tiba mataku tertuju pada sesosok renta yang sedang berteduh di bawah pohon. Badannya kurus, bajunya lusuh. Didekatnya terongggok beberapa kemucing (alat pembersih debu) dan beberapa sapu lidi. Juga ada sebuah botol minuman dari bekas botol air mineral kemasan. Terlihat dari bentuk botolnya yang sudah kusam, botol itu sudah terpakai dan diisi ulang untuk kesekian kalinya. Kulihat dengan nikmatnya dia meneguk air dalam botol itu dan kemudian dia mengipas-ngipas wajahnya dengan topi bambu untuk mengusir hawa panas yang memang cukup menyengat.

Melihat hal itu, muncullah rasa iba-ku yang akhirnya menggelitikku untuk menghampirinya. Kugandeng anak pertamaku yang waktu itu baru berumur 4 tahun menyeberang jalan untuk menghampiri kakek renta itu. Dengan hati-hati kusapa kakek itu agar tidak mengejutkannya. Sambil berbasa-basi, aku mulai menanyakan berapa harga barang dagangannya. Satu buah kemucing kalo tidak salah dia jual 3500 dan sapu lidi dia jual 2000 rupiah. Dalam hati sebenarnya aku tidak ingin membeli barang dagangannya karena memang aku tidak memerlukan kemucing. Tapi aku ingin berbuat sedikit untuk membantu namun dengan cara yang mungkin tidak akan membuat dia tersinggung. Jadi akhirnya aku bilang akan membeli sebuah kemucing. Aku berikan dia selembar uang yang melebihi harga kemucing itu. Seperti sudah kuduga, dia tidak punya kembalian karena dia bilang barang dagangannya belum laku satu pun hari itu.

Tapi memang itu lah niatku bahwa aku ingin membantunya sedikit tanpa harus menyinggung perasaannya. Lalu aku bilang bahwa kembalian itu buat dia saja. Serta merta, dengan halus dia bilang begini : ”Maaf Neng, bapak tidak bisa terima, ini bukan hak bapak. Biar bapak tukar dulu ya uangnya”. Lalu aku jawab : "Bapak, saya ikhlas…bener pak Insya Allah saya ikhlas…uang itu buat Bapak“. Tanpa kuduga si Kakek renta itu menjawab dengan jawaban yang membuatku terus terkenang sampe saat ini meskipun kejadian itu sudah lebih dari 3 tahun, ”Neng, uang ini bukan hak Bapak, Bapak sudah cukup mendapat rejeki dari Allah dari jualan ini. Masih banyak orang yang lebih berhak dari Bapak yang membutuhkan bantuan dari Neng”.

Sungguh aku tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Dan aku merasakan itu sebuah tamparan yang hebat buat diriku yang seringkali terjebak dengan budaya konsumtif, yang akhirnya membuat diriku kehilangan rasa syukur atas apa yang sudah Allah berikan padaku. Hidup terasa selalu kekurangan yang akhirnya memunculkan sifat tamak, kikir, pelit dan saudara-saudaranya. Bagaimana mau berusaha membantu orang lain lha wong diri sendiri selalu merasa layak dibantu ? Belum lagi kebiasaan untuk mengasihani diri sendiri, merasa nelangsa karena gajinya kok kecil sementara teman sebelah dapat gaji lebih besar padahal pekerjaan kita sama. Dari situ muncul lagi perasaan dengki, iri...bahkan akhirnya bisa menjadikan orang yang suka berburuk sangka.....Astaghfirullahhaladzim...dari hilangnya rasa syukur itu ternyata bisa memicu sifat-sifat jelek yang lainnya.....Dari situlah akhirnya aku mengerti kenapa pak guru ngajiku dulu selalu menginngatkanku untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan-NYA....Dan sungguh pak guru-ku yang barusan aku temui di depan BSM itu yang sudah ”menamparku” karena setelah sekian tahun aku menikmati berkah, kasih sayang dan limpahan rezeki dari-NYA tapi aku melupakannya.........
Kini aku yakin bahwa rasa syukur itu bukan untuk memuji Allah, karena Allah tak memerlukan pujian, DIA sudah Mulia dan Terpuji dengan sendirinya, justru kita lah makhluk yang lemah ini yang memerlukan rasa syukur itu karena rasa syukur itu lah yang akan menyelamatkan kita dan membuat hidup kita terasa lebih indah.
* Note : Gambar yang menyertai tulisan ini hanya sekedar ilustrasi belaka.
***
Rina - Depok

Kamis, 11 Januari 2007

Semoga dengan segala ujian yang kita hadapi

menjadikan kita sebagai manusia yang di ampuni dosa-dosanya.

Amin...amin...amin....

***

A man woke up early in order to pray the Fajr prayer in the masjid. He got ressed, made his aboloution and was on his way to the masjid. On his way to the masjid, the man fell and his clothes got dirty. He got up, brushed himself off, and headed home. At home, he changed his clothes, made his aboloution, and was, again, on his way to the masjid.

On his way to the masjid, he fell again and at the same spot! He, again, got up, brushed himself off and headed home. At home he, once again, changed his clothes, made his aboloution and was on his way to the masjid. On his way to the masjid, he met a man holding a lamp. He asked the man of his identity and the man replied "I saw you fall twice on your way to the masjid, so I brought a lamp so I can light your way." The first man thanked him productively and the two where on their way to the masjid.

Once at the masjid, the first man asked the man with the lamp to come in and pray Fajr with him. The second man refused. The first man asked him a couple more times and, again, the answer was the same. The first man asked him why he did not wish to come in and pray. The man replied "I am Satan."

The man was shocked at this reply. Satan went on to explain, "I saw you on your way to the masjid and it was I who made you fall. When you went home, cleaned yourself and went back on your way to the masjid, Allah forgave all of your sins. I made you fall a second time, and even that did not encourage you to stay home, but rather, you went back on your way to the masjid. Because of that, Allah forgave all the sins of the people of your household. I was afraid if i made you fall one more time, then Allah will forgive the sins of the people of your village, so I made sure that you reached the masjid safely." So do not let Satan benefit from his actions.

Do not put off a good that you intended to do as you never know how much reward you might recieve from the hardships you encounter while trying to achieve that good.


Wassalam
Festarina (Fis-1/93)

Rabu, 10 Januari 2007

HUT PMR ke-2 : Sebagian dari Anggota PMR Angkatan III (1986)

***

Rasanya sudah waktunya, kita mulai memutar roda sejarah ke pertengahan tahun 80-an, untuk membedah satu-persatu kegiatan ekstrakurikuler -- yang (saat itu) lumayan “booming” -- di SMAN Tumpang. Untuk memulai “lintas sejarah eskul” ini, unit Palang Merah Remaja (PMR) lumayan menarik untuk ditempatkan di urutan terdepan. Tidak ada alasan khusus, tetapi karakteristik (calon) anggota PMR saat itu menjadi daya tarik tersendiri untuk dikupas.

Begini ceritanya : Upaya Pak Karsi Prayitno di akhir tahun 1984 mengumpulkan siswa kelas I yang berminat di bidang PMR untuk dididik menjadi “kader P3K” handal, mendapat respon yang cukup besar dari sekitar 52 siswa. Secara umum, ada dua kelompok sesuai background kepalangmerahannya, yaitu kelompok status quo – kumpulan anak-anak yang memang sudah PMR dari sononya (alumnus SMPN 1 Tumpang, red) – dan kelompok bonek, yang memang belum tau apa-apa tetapi minat dan penasaran banget sama PMR.

Ringkas cerita, selama hampir 3 bulan pendidikan PMR dilakukan, tempatnya di ruang Laboratorium IPA, setiap hari Sabtu jam 10 siang sampai menjelang masuk sekolah jam 12.30 (kelas I memang masuk siang semua). Pelatihnya didatangkan langsung dari PMI Cabang Kab. Malang yang (saat itu) bermarkas di Sengkaling, namanya Pak Sugeng Prayitno. Proses seleksi alam memang berjalan, siapa yang “kuat” akan bertahan, dan yang “males-malesan” ya nggak pernah datang latihan lagi.

Dan dalam sesi latihan inilah watak masing-masing kelompok muncul. Kelompok yang merasa “pinter” dan jago memisahkan dalam satu grup dan jarang menyimak dengan seksama materi pelajaran (lha wong memang sudah bisa, hehehe….). Meski agak berat menyebut, nama-nama yang tergabung dalam kelompok ini diantaranya : Hanief Nurrofiq (Ketua PMR pertama di SMAN Tumpang), Iman Prihantini, Bambang Suhernowo, Lestari Soho Asih, Bangun Subagyo, Heri Subagyo, Herlina Afianti, Sholahuddin Hasjim (ditambah sekitar 8 orang lainnya, kalo nggak salah). Lha sisanya tentu saja kelompok “bonek” yang tak gentar melawan kaum BORJU tersebut, diantaranya : Ahmad Zamrozi, Adi Purwanto, Choirul Huda, Setyati Puji Lestari, Sugeng Pribadi, Sanali, Anik Prihatini (alm), Bambang “Yoyok” Trihascaryo (dan sekitar 20 orang lainnya).

Meski demikian, tak pernah terjadi pertentangan apalagi “perang antar suku” diantara kubu yang berbeda pandangan dan pergaulan ini. Semuanya kompak dan berusaha menunjukkan bahwa SMAN Tumpang punya PMR tak kalah dengan SMA Negeri lainnya (waktu itu ada 7 SMA Negeri binaan se Kabupaten Malang). Dan Alhamdulillah, 32 orang dinyatakan LULUS sebagai Angkatan I PMR Unit SMA Negeri Tumpang, setelah menjalani ujian tulis dan praktek selama 2 hari.

Buah manis yang paling berkesan bagi anggota PMR angkatan I adalah saat – enam bulan kemudian – di bulan September 1985 meraih Juara I (untuk Putri) dan Juara III (untuk Putra) Lomba Palang Merah Remaja se Kabupaten Malang di Peniwen, Sumber Pucung. Itupun masih ditambah sebagai Tim Paling Familiar, karena berhasil menjadi Pengumpul Tanda tangan (peserta) Terbanyak (aku termasuk dalam tim ini, soalnya selama sepekan kerjaannya keluyuran dari tenda ke tenda peserta lain, cari makanan + kenalan, hahahaha… namanya juga usaha !). Sayangnya, saat pulang ke Tumpang terjadi "tragedi memilukan", karena Tim Putri langsung ditraktir bakso di seputaran Jl. Veteran (Malang) & naik mobil L300 milik Pak Munawar (Kepala sekolah saat itu), sedang Tim Putra langsung naik truk terbuka dan ndak berhenti-berhenti sampai di Malangsuko, kacian dech....

Dalam perkembangannya, PMR sempat digabung dengan IKAPALA di tahun ajaran 1985/1986 (aku yakin ini ide Pak Karsi lagi), dengan tujuan memangkas “persaingan” yang semakin menajam diantara dua eskul ini. Hasilnya ? Disebut PMR ya bukan (karena ilmunya nanggung banget), disebut IKAPALA koq ya nggak pantes (kurang “garang” man !). Dan kami – para senior PMR – akhirnya turun tangan, memisahkan kembali PMR dan IKAPALA di tahun ajaran 1986/1987 menjadi 2 eskul yang berdiri sendiri-sendiri, dengan “mendidik” para calon PMR-wan PMR-wati sesuai jalan yang benar, bukannya jalan yang sengaja ‘dibenar-benarkan”. Sampuuuuun….!!!

***

Note : Ini hanya lintasan sejarah, jadi tidak perlu disikapi dengan hati & kepala panas !

Minggu, 24 Desember 2006

Ekspresi keterkejutan Yulie tak bisa ditutupi, ketika sosok Mas Nuradi – alumni SMAN Tumpang tahun 1986 – dengan mengendarai motor mendekati mobil yang kami tumpangi, saat memasuki Jalan Jengki di daerah Kampung Makasar, Jakarta Timur. Mas Nuradi sengaja menunggu kendaraan yang kami tumpangi, agar tidak “kebablasan” saat mencari rumah beliau.

Ya, hari Minggu, tanggal 17 Desember 2006 kemarin memang kami (para alumni yang ada di Jakarta) mendapat undangan “istimewa” dari Mas Nuradi, yang sekarang bertugas di Markas Marinir Cilandak, untuk hadir di rumahnya di kawasan Kebon Pala. Dan kami memang sepakat ber-10 berangkat bareng, dengan berkumpul lebih dulu di Pusat Grosir Cililitan (PGC), agar datang di tempat acara bersamaan.

Yulie, yang alumni SMAN Tumpang angkatan 97 & lulusan STT Bandung, datang bersama suami tercinta dan putra pertamanya, memang pantas terkejut. Betapa tidak, sosok tetangga dekat rumah – saat masih di kampung : Desa Banjarejo, Kec. Pakis, Kab. Malang – dulu, ternyata ada di Jakarta. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata beliau juga (sama-sama) alumni SMAN Tumpang, meski jarak lulusannya diatas 10 tahun !

Sekilas memang tidak ada yang menarik dari kejadian tersebut, karena banyak kejadian serupa yang bisa dialami oleh siapa saja, terutama mereka yang tinggal di perantauan. Tetapi, disadari atau tidak, Yulie bisa “ketemu” tetangga di desanya tentu berkat sering kumpul-kumpul dengan sesama Alumni SMAN Tumpang, saat di Jakarta. Dengan intensitas pertemuan yang lumayan sering, komunikasi dan silaturahmi bisa menjadi semakin akrab dan hangat. Dan, informasi yang datang dari desa asal – karena sudah lama ditinggal merantau – akan tetap terjaga, lewat cerita-cerita teman sekampung yang masih sering mudik.

Artinya, ada hikmah yang bisa diambil dari pertemuan yang akhir-akhir ini lumayan sering dilakukan oleh Alumni SMAN Tumpang yang berdomisili di ibukota Jakarta. Dan ini tentu akan lebih menarik dan “menyenangkan” jika alumni yang ada di kota-kota lain juga mengadakan kegiatan yang sama (dan mengalami kejadian-kejadian yang tak pantas untuk dilupakan). Siapa tau akan muncul ucapan keterkejutan (sekaligus setengah tak percaya) seperti yang dialami Yulie, “Lho, iku lak wong mBanjarejo ?!”

Rabu, 13 Desember 2006

Saat penulis gabung dengan milist SMANTUMPANG, penulis jadi kangen dengan cerita saat sekolah dulu apalagi members milist saling cerita tentang guru, lokasi, Ikapala & juga pengalaman masing-masing.

Penulis jadi teringat saat kelas 1 bersama 8 teman lainnya : Nawi, Cemot, Aan, Amin, Gowang, Wanti, Mincu & Sofi, pernah dihukum nulis tata tertib sekolah di buku tulis sebanyak 100 (seratus) kali dan membacanya muter lapangan tengah sekolah (sekarang jadi bangunan baru/aula) di bawah panas terik pada keesokan harinya, gara-gara pulang sebelum waktunya & ‘mrobos pagar lagi’. Dulu pagarnya masih kawat berduri yang dengan mudahnya dibuka, bahkan oleh teman-teman cewek. Sekarang…. gak bisa bung…! Pagar SMA-ku begitu kokoh yang mustahil dibrobos, dilompati or ditembus oleh maling apalagi desertir2 kecil amatiran kayak kami-kami dulu.

Dasar nakalnya anak-anak saat itu, disuruh nulis tata tertib sekolah 100 kali, yang ditulis dengan benar paling cuman di bawah 10, soalnya yang lain merupakan tindasan pake karbon bolak balik rangkap 4. Yang berarti sekali nulis untuk 8 tata tertib: 1 asli, 3 salinan bisa dibaca langsung sedang 4 salinan lainnya hanya bisa dibaca dengan cermin, karena tulisannya terbalik he..he.. maaf pak guru….
Makanya dengan semakin bertambahnya umur SMA kita semua, penulis berharap desertir-desertir kecil sudah tidak ada lagi, namun berganti munculnya inovator-inovator baru yang (nantinya akan) semakin menambah majunya SMA yang kita cintai.

Minggu kemarin, penulis sempatkan buat melihat-lihat jalanan & kondisi SMA Negeri Tumpang yang sekarang sudah disebut SMU Negeri 1 Tumpang… (penulis masih bingung karena SMU 2-nya belum tau dimana ? Atau, karena kuper aja paling ya….)
Seperti kata teman2 di milist, sekolah kita banyak sekali berubah mulai dari tata letak ruangan, adanya bangunan baru, situasi sekitar dan lain-lain. Penulis ingat dulu ada warung pangsit & bakso di depan sekolah dekat dengan kantor Bina Marga tempat mangkalnya murid-murid saat istirahat, sekarang sudah berganti dengan BTS salah satu operator telepon seluler (punya XL paling ya…!? .... salah or bener klarifikasi ya …).

Mungkin ada benarnya juga, biar murid-murid nggak keluar sekolah saat istirahat & adanya BTS bisa meningkatkan layanan komunikasi di antara guru, pengurus sekolah, murid2 dan orang-orang lain yang berkepentingan.

Namun ada yang patut disayangkan karena papan nama eskul yang jadi kebanggaan anggotanya masih banyak yang belum terpampang, padahal penulis yakin kalau saat ini eskul-nya tentu lebih banyak daripada saat penulis sekolah dulu. Juga dengan WITA (Mas Prie sebagai motornya di awal-awal berdirinya …. prihatin Mas kalo lihat foto ruang redaksinya …)

Beberapa gambar berikut mungkin bisa menjadi kenangan bagi teman-teman sekalian, pembaca ataupun members milist SMAN TUMPANG dan juga orang lain yang concern dengan kemajuan SMU Negeri Tumpang Kabupaten Malang, supaya tidak lagi dikenal sebagai SMU di tengah kebon tebu.
***
-(Ayusta, alumni 1988)-

Rabu, 06 Desember 2006

Setidaknya, judul diatas -- dipetik dari salah satu email yang dikirim Happy -- sedikit mematahkan asumsi yang selama ini menjadi topik pembicaraan dalam setiap pertemuan informal antar alumni : bahwa Alumni SMAN Tumpang masih “malu-malu kucing” dalam memanfaatkan sarana Teknologi Informasi yang begitu pesat perkembangannya. Dalam perjalanan milist SMAN Tumpang yang telah melampaui masa 3 tahun, boleh dikata begitu lambat dalam berkembang, baik dari segi kuantitas email yang masuk maupun member yang mendaftar.

Kalau ditarik garis sejarah ke belakang, sejak re-launching Agustus 2003 (sebelumnya milist bernama SMUN Tumpang, sekarang menjadi SMAN Tumpang), member yang tergabung sampai akhir Oktober 2006 adalah 62 alumni, dan di akhir Nopember 2006 menjadi 67 alumni. Inipun masih ditambah yang bouncing 23 alamat email, dan yang keluar masuk tiap bulan -- biasanya menjadi anggota untuk menawarkan bisnis online, apalagi milist kita bersifat unmoderated -- sekitar 2 sampai 3 orang. Artinya, sebuah ironi kalau dari 9.000-an lebih alumni SMAN Tumpang, yang mau bersusah-susah bergabung dengan milist hanya 0,69% saja !

Memang, faktor kurang terpublikasikannya milist -- disamping juga belum disosialisasikan dengan maksimal -- membuat banyak alumni tidak tau kalau ada milist khusus alumni sebuah SMA Negeri yang berlokasi nun jauh di sebelah timur kota Malang sana. Mudah-mudahan dengan (mulai) bergabungnya rekan Bambang, Wahyu, Puji dan juga Kusti (mudah-mudahan disusul dengan alumni yang lainnya) bisa membuat milist semakin ramai dalam arti yang sebenarnya, yaitu (minimal bisa menjadi) wadah komunikasi antar alumni SMA Negeri Tumpang.

Dan sudah selayaknya ucapan terima kasih ditujukan kepada “duoHasan Taufig dan Irvan Nasrun yang mempelopori berdirinya milist -- yang jauh sebelumnya rekan Taufig juga sudah membuka “kelas baru” SMAN Tumpang di Komunitas Sekolah Indonesia, Plasa dot Com -- dan upaya-upaya untuk mensosialisasikan kembali milist yang dilakukan Niniek “SLANK” Indayati dan Hasan “DE TOVIKO” Taufig dengan bergerilya melalui buku tamu Komunitas Friendster.

Rabu, 29 November 2006

Ketika topik “Menulis Itu Gampang !” menjadi bahan diskusi yang hangat di milist SMAN Tumpang -- yang juga mengilhami munculnya Blog Alumni di Blogger -- muncul satu “pertanyaan” nyeleneh : sebenarnya seberapa besar sih “ketertarikan” alumni SMAN Tumpang terhadap dunia Teknologi Informasi saat ini ? Bukannya apa, dunia tulis-menulis saat ini tentu tak bisa dilepaskan dari yang namanya internet dengan segala pirantinya. Dan nggak usah jauh-jauh deh, yang familiar dengan email dan internet banyak enggak sih ?

Dasar munculnya pertanyaan macam ini cukup logis, di berbagai komunitas sekolah di internet maupun milist dengan spesifikasi Malang Raya misalnya, tidak banyak (baca : dikiiit bangeet!) yang ngaku lulusan SMAN Tumpang. Lantas, apa pembuktiannya ?
***
* Ada fakta lain enggak, yang mendukung “kesimpulan” diatas ?
Penelitian langsung di lapangan belum. Tapi, milist SMAN Tumpang (sebelumnya malah SMUN Tumpang namanya) yang usianya hampir 4 tahun, membernya belum bisa dikatakan banyak. Trus, dari sisi eksternalnya, kabarnya 2 warnet yang ada di Tumpang dalam 3 tahun terakhir juga gulung tikar, karena sepi peminat. Ini tanda-tanda awal bahwa "Tumpang" belum familiar dengan dunia TI.

* Itu mah udah biasa. Ada lagi enggak ?
Di Komunitas Sekolah Indonesia (KSI) Plasa.com hampir 6 tahun terakhir tak ada tambahan alumni untuk SMAN Tumpang (terhitung sejak Tovik "memulai" membuka kelas baru di KSI). Di SmaNet.com alumni SMAN Tumpang kayaknya cuma aku sendiri yang tercantum. Dan di Friendster, hanya sekitar 25 orang (ini laporan terakhir dari Niniek, red) yang ngaku alumni SMAN Tumpang. Data yang lainnya, di milist Aremania (Arema 1, Arema, Muslim Arema, dll) hanya sekitar 4 orang yang berstatus alumni SMAN Tumpang. Yang aneh lagi, kalau kita buka Google dan mencari “alumni smantumpang” ataupun yang berhubungan dengan sekolah kita, Cak Google sampai nangis-nangis karena tak bisa menemukan. Puas ?

* Belum sepenuhnya puas sih. Tapi, ngomong-ngomong maksud dan tujuannya apa nih ?
Nggak ada, cuma miris aja ngelihatnya. Gimana almamater kita bisa dikenal masyarakat luas kalau alumni-nya banyak yang gaptek (nggak semua sih, hiehiehie…). Gimana para alumni bisa “bersaing” dengan lulusan sekolah lain kalau hal yang simpel (baca : Teknologi Informasi) saja belum dikuasai ? Gimana mau berkomunikasi dan tukar informasi sesama alumni, jika email dan internet tidak pernah disentuh.

* Sumpeh Lo ?
Lho, kalau aku nggak serius, ngapain sampai nulis di Blog ini segala ? Lagian ngapain sih nanya-nanya mulu, cepet sono gih ajak semua teman-teman alumni gabung sama milist, udah itu nulis apa aja untuk dikirim ke blog alumni, trus jangan lupa ngunjungi situs friendster biar gaul, daftar ke blogger biar bisa nulis diary (ato setidaknya punya mini web sendiri), jangan lupa juga sesering mungkin berkoresponden dengan sesama alumni via email, buat apa punya email disana-sini tapi nggak pernah dipakai ?
Lho.. lho… koq malah pergi ? Belum selesai nih…, mau dilanjutin enggak ? Yaaaa…. jangan sampai judul diatas jadi “kenyataan” dooong….!!!!

Kamis, 23 November 2006

Lebih dari satu tahun silam, alumni SMAN Tumpang yang berada di wilayah Malang Raya dibuat “geger” oleh terbongkarnya kasus penggalangan dana yang mengatas namakan kepentingan ikatan alumni -- kemudian hari diketahui digunakan untuk kepentingan pribadi -- yang dilakukan “oknum” alumni di luar pulau Jawa. Nah, beberapa bulan berselang, giliran sekelompok alumni SMAN Tumpang di “kandang” sendiri melakukan kegiatan sosial Pembagian Sembako pada masyarakat, mengatasnamakan alumni sekolah kita. Ketika sesama (yang merasa alumni) tidak berkenan -- dan tentu saja menyelidiki -- ternyata aktivitas tersebut diikuti HANYA alumni yang tergabung dalam satu partai politik tertentu. Kasarnya, partai politik sudah “mencuri start” (mengambil hati rakyat) dengan memanfaatkan “nama” alumni SMAN Tumpang.

Dari 2 kasus diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa siapapun yang pernah sekolah dan lulus dari SMAN Tumpang, berhak menyandang gelar ALUMNI. Tetapi sebaliknya, setiap kegiatan apapun yang dilakukan baik oleh perseorangan (maupun berkelompok dengan sesama alumni) tentu tidak dapat dikatakan sebagai -- dan mengatasnamakan -- Alumni SMAN Tumpang. Karena, sejak SMAN Tumpang berdiri di tahun 70-an, sudah puluhan ribu alumni yang dihasilkan, yang tidak semua bisa menerima aktivitas yang dilakukan alumni lain. Ada ketidak-relaan ketika “kepentingannya” tidak terakomodir.

Akan menjadi lain permasalahannya, jika seluruh alumni yang ada -- baik diundang langsung, lewat edaran di media massa, atau pemberitahuan lisan -- dikumpulkan dalam satu wadah resmi, yang keberadaannya diakui secara de facto maupun de jure oleh para alumni, pihak sekolah, maupun instansi terkait (yang mengurusi perizinan organisasi sosial/kemasyarakatan). Konkritnya, perlu dibentuk semacam Ikatan Alumni SMA Negeri Tumpang, yang mempunyai struktur organisasi dan kepengurusan jelas, serta AD/ART yang qualified. Artinya, Ikatan Alumni yang bisa mensinergikan dan memberdayakan semua komponen yang ada, bukan sekedar menjadi Panitia Reuni (seperti yang sudah-sudah) semata. Tidak terlalu sulit, tetapi juga perlu kesadaran dan pengorbanan untuk bisa mewujudkannya.

Sudah waktunya kita tidak hanya bisa “teriak” dan jago “membuat konsep” semata. Bukti nyata dengan turun langsung, adalah bakti nyata yang harus kita tunjukkan pada siapapun yang selalu sinis dan apatis pada kita. Seperti salah satu hasil diskusi di POCI Cijantung beberapa hari silam : Pada dasarnya Alumni SMAN Tumpang di Jabodetabek tidak berambisi -- apalagi sampai kemaruk” --
untuk menjadi pengurus ataupun “pahlawan kesiangan” dalam hal ini. Kita hanya peduli dan tidak ingin jadi penonton terus-menerus. Jadi, kalau kita tak sabar dan sekarang langsung “menyingsingkan lengan” lebih dulu untuk mulai bekerja, kenapa harus dicibir dan DICURIGAI ?

*** Sebagai (bahan) Renungan :
Mestinya kita mulai (berfikir untuk) bersatu, mewujudkan Ikatan Alumni sekolah kita yang belum pernah terwujud. Kenapa kita harus malu dan (lebih) mementikan ego kita masing-masing ?
Catatan :
Foto diatas hanya sebagai ilustrasi semata. Thanks untuk rekan-rekan alumni '93 (sudah meminjami foto) !

Selasa, 21 November 2006


Waduh.., kalau baca judul diatas (dan foto yang terpampang), pasti sudah bisa dibayangkan bahwa “cerita” kali ini dijamin seru, romantis, juga menegangkan ! Soalnya (kalau nggak salah ingat) judul di atas adalah plesetan dari salah satu film James Bond : From Russia with Love. Hmmm.., yang merasa akan dijadikan “sasaran tembak” sudah tahan nafas aja nih.., takut ceritanya tidak sesuai dengan kenyataan aslinya, hahaha… Don’t worry, semua yang ditulis disini adalah “real” sesuai keadaan sesungguhnya (walau itu sebatas apa yang diketahui oleh penulisnya. Nah lho….!!).

Yang pasti, sosok Elly -- lengkapnya Ely Kristiana Farida, alumni 1993/IPS -- cukup berperan besar dalam meramaikan milist SMAN Tumpang selama ini. Disela-sela vakumnya anggota milist mengirim email, Elly menjadi “penyelamat” dengan mengirim artikel-artikel yang (kadang) mengagetkan. Entah tulisan tentang motivasi, tips-tips kesehatan, berita terkini, sampai hal-hal yang nyeleneh. Jujur saja, Elly cukup mahir memilih topik yang akan dlempar ke milist. Yang patut diacungi jempol, Elly tak pernah “jera” mengirim artikel, walau sebagian besar tak pernah direspon oleh member lainnya (hehehe… kadang kita memang lebih asyik membaca, daripada disuruh nulis, walau sekedar basa-basi mengomentari tulisan/email member lain).

Dari sisi humanisnya, Elly termasuk “beruntung” mendapatkan pasangan dari luar negeri (aku dulu juga bercita-cita punya istri bule lho, Ell. Ngebayanginnya koq hebat banget gitu lho, apalagi kalo pas diajak lebaran ke kampung…. Pasti jadi pusat perhatian !). Dari cerita dan tulisan yang sempat aku baca, Elly bersuamikan pria Korea Selatan. Dan ini diperkuat lagi dengan cerita/tulisan Elly yang “mengedepankan” masalah ginseng (hehehe… gak onok hubungane yo ?), selain didukung foto-foto Elly yang bernuasa dan berpanorama Korea. Ini membuktikan, seperti kata paribasan : dunia memang tak selebar daun kelor. Lha wong arek Tumpang iku lho, koq iso oleh bojo wong Korea. Padahal Korea iku lak adoh se ? (mesti iki wong Korea-ne sing “blakrakan” nang Indonesia, hiehiehie…).

Wis.. wis.., masalah “sejarahe” wong Korea, Elly biar cerita sendiri. Itung-itung sebagai Hak Jawab Elly, kalau dirasa tulisan ini terlalu tendensius dan berat sebelah (ngalah-ngalahi infotainment ae, rek !). Pokok’e, menurutku Elly -- yang tergabung dalam Trio Kwek Kwek bersama Diah dan Rina -- adalah salah satu “roh” yang bisa menghidupkan suasana milist menjadi segar. Meski akhir-akhir ini jarang tampil, dan kalah pamor sama Diah dan Arie (juga Cak Herry dan Niniek). Dan untuk mereka yang sempat jalan-jalan ke Korea Selatan, tak ada salahnya mampir ke : Shinwol 1 Dong 126-44 Yanchungu, Seoul ; siapa tau mendapat suguhan ginseng asli ????
*** Disarikan dari berbagai sumber (yang kurang layak dipercaya)

Jumat, 17 November 2006

Dikawal ketat :
Saat bicara santaipun, Cak Hery (kiri) dan Prie (Kanan) tetap "dikawal" marinir (tengah)
***
Tanggal 5, bulan Nopember 2006, telah ditetapkan sebagai “waktu” pertemuan alumni SMAN Tumpang. Lokasinya sudah ditetapkan pula, Foodcourt Cijantung Mall -- yang lebih dikenal dengan Pojok Cijantung (POCI) -- salah satu tempat favorit untuk kalangan ABG (dan yang sudah berkeluarga juga) di wilayah perbatasan timur Jakarta. Sesuai laporan yang disampaikan Cak Herry dan Niniek dua hari sebelumnya, yang akan hadir diperkirakan kisaran angka 8 – 10 alumni plus keluarga masing-masing. Its okay.., lumayan banyaklah untuk ukuran “korwil” alumni, yang memang jauh dari induk-nya yang di Tumpang sono !

Karena undangan yang “disebar” di milist tertulis pukul 11.00 wib, maka aku baru masuk kamar mandi jam 9.50 menit (giliran terakhir, setelah Bu Sugeng & 2 Sugeng Yunior, hehehe…). Baru sempat gosok gigi, ngelepas baju dan ngguyur badan 4 gayung, eeeeh… kamar mandi digedor “Bu Sugeng” dengan disertai teriakan, “Yaaah.., ada telpon dari Bapak Herry Depok..!” Waduuh, ada apa gerangan, pikirku. Tangan kanan kuulurkan keluar pintu untuk ngambil HP, dan dari seberang suara Koordinator Lapangan (Korlap) Kapten Herry melaporkan bahwa tepat jam 10.00 Wib (beberapa menit sebelum menelpon) dua anggota Korp Marinir -- yang kebetulan juga alumni SMAN Tumpang -- sudah hadir bersama keluarga dan langsung mengadakan sweeping lokasi, dengan tujuan agar lokasi steril dan acara berjalan lancar dan aman (Paling tidak begitu “laporan” yang aku terima melalui ponselku !). Dengan tergesa, acara mandi aku percepat.

Jam 10.55 Wib, aku sudah sampai lokasi. Tujuan untuk “menggoda” Bu Polwan Niniek -- aku telpon sembunyi-sembunyi dari balik rindangnya bunga bougenville -- sia-sia saja. Bu Polwan lebih sigap dan langsung “menangkap basah” keluargaku (hahaha… nggak sia-sia jadi Polisi, Niek !). Perkenalan dengan alumni yang (ternyata) lebih senior dariku cukup singkat, karena terdiri dari 2 orang marinir, 3 orang pengusaha, 2 orang wiraswastawan, 1 orang ibu rumah tangga, dan beberapa orang yang tidak jelas mata pencahariannya… (lha untuk yang ini, pasti pada gak terima ditulis begini. Tapi tenang aja, pasti orangnya gak baca Blog ini, hehehe…).

Sambil menunggu yang lain datang -- termasuk diantaranya Arie & Nyonya, dan juga Dian & Partner -- suasana tanya kabar kewarasan menjadi topik paling dominan. Harus aku akui, 19 tahun meninggalkan tanah kelahiran (Pakis) membuat aku “tidak kenal” lagi dengan kakak kelasku sejak SD, SMP & SMA (banyak maaf untuk Mbak Ida Maghfuro), juga Fera (teman seangkatan Niniek) yang jelas-jelas masih “dulur” dekatku (anak dari adik Bu Lik-ku di Pakis). Dan sekitar pukul 11.20 Wib, aku sempat membuat “Laporan Pandangan Mata” live dari POCI ke Tumpang. Lewat HP Diah Mustophani (jeneng asline aku ora apal, ketok'e aneh banget se !) beberapa alumni juga ikut say hello pada Dee yang nampaknya lagi momong anaknya. Tapi nang omahe Diah koq ono Lutfi barang yo ?

*** Lagi-lagi bersambung ke tulisan berikutnya : (3) Tibaknya Lebih Rame dari Milist

Special untuk Niniek :
“Nggak usah kuatir, sambungannya udah disiapkan, koq !”

Kamis, 16 November 2006

Sesi nggedabyah : Nanang, Niniek, Dian (nunduk), dan Arie (kaos merah marun).
***
Walaaah…, ndak terasa sudah satu minggu lebih acara “Temu Kangen” para alumni SMAN Tumpang wilayah Jakarta dan sekitarnya berlangsung. Padahal, aku udah janji -- sama beberapa orang, tak tak bisa disebutkan satu persatu disini -- mau bikin tulisan secara komplit dari A sampai Z, tentang acara yang bertajuk “The Real Road to PULANG” tersebut. Supaya tidak banyak yang bertanya-tanya, PULANG itu singkatan dari Paguyuban Alumni SMAN Tumpang. Ngerti kan ?

Yow wis, mari kita mulai ceritanya. Awalnya, ketika di milist lagi rame-ramenya ngomongin tentang persiapan mudik – kalau nggak salah di pertengahan bulan Ramadhan kemarin – trus ada yang (dengan sedihnya) nyeletuk “Bagaimana kalau yang nggak mudik kumpul-kumpul sendiri ? Kan waktu itu Cak Herry pernah nawarin….” (kiro-kiro ono sing kroso enggak yo, sopo sing ngomong koyok ngono ? hiehiehiehie…..). Bak gayung bersambut, gak usah kesuwen, langsung tak timpali “Setujuuu…!!!” Empat puluh menit kemudian, jadwal dan tempat sudah dirilis di milist, meski akhirnya mengalami 2 kali perubahan.

Kalau boleh melihat dari sisi yang berbeda, munculnya antusiasme (untuk berkumpul di rantau) tentu bukan sekedar ajang ngobrol dan melepas kangen semata. Lebih dari itu, ada sebuah ketenangan dan kebersamaan (baca : senasib) dalam menikmati suasana Lebaran, saat jauh dari sanak saudara di kampung halaman. Berkumpul dengan sesama yang masih punya ikatan moral (dalam hal ini satu SMA, meski beda angkatan), tentu lebih “bermakna” daripada berkumpul dengan teman-teman kantor yang sama-sama tidak mudik, misalnya.

Intinya, usulan mengadakan pertemuan yang dilontarkan Arie bulan Ramadhan kemarin, yang direspon positif Cak Herry dan Niniek, tentu menjadi modal yang sangat berharga bagi upaya “mengumpulkan” kembali para alumni yang tersebar dan berserakan di ibukota Negara ini. Memang perlu waktu panjang, untuk (membentuk dan) mewujudkan dalam wadah alumni yang solid dan ideal. Tetapi, kalau tidak dimulai dengan yang kecil terlebih dahulu, mustahil akan mendapatkan (bentuk) yang lebih besar.

Tanpa mengecilkan arti teman-teman yang lain, terima kasih banyak tentu patut diucapkan pada Arie, Cak Herry dan Niniek (juga peran serta Dian Lutfi), yang cukup “militan” untuk mewujudkan pertemuan kemarin. Tetap semangat, rek !!!

*** Bersambung di tulisan berikutnya : Jam 10, Lokasi Disterilkan !
Salam,
Sugeng Pribadi
A-3 / 1987

Selasa, 07 November 2006

Tiba-tiba sebuah pertanyaan menggelayut dibenak, saat membaca email dari Dian (yang aku sendiri kurang tau, ini ditulis setelah pertemuan Cijantung atau malam sebelum pertemuan, cieeee….). Pertanyaan itu, benarkah kita (utamanya : aku!) sudah memberikan “penghargaan” yang layak pada teman-teman sepermainan dulu ? Pada teman-teman yang menjadi bagian duka dan tawa saat sekolah dulu ? Juga, pada teman-teman yang selalu menjadi bagian (baca : men-support) atas keberhasilan yang dicapai pada saat sekolah dulu ? Memang, kalau dibaca sekilas, tulisan Dian hanya sebagai bentuk rasa “kangen” pada keceriaan masa lalu, atau hanya sekedar sebuah romantisme yang selalu terkenang ketika kita sudah “tidak menjalani” masa-masa itu.

Tapi, ada satu “benang merah” yang patut diurai dari tulisan Dian – lengkapnya : Dian Eka Anggraeni, Alumni 97 – bahwa tanpa kita sadari, ternyata banyak teman yang menganggap kita begitu “berarti” walau kita sendiri tanpa pernah (mau) menyadari hal itu. Banyak teman yang merasa sangat beruntung bersahabat dengan kita, tetapi kita kadang mengabaikan begitu saja perhargaan tersebut. Intinya, tulisan Dian bisa menjadi penyadaran bagi kita semua, bahwa sebuah persahabatan, sebuah pertemanan, akan menjadi begitu bermakna dan kekal jika diantara kita bisa “menghargai” bentuk-bentuk pertemanan itu sendiri.
***

Inilah tulisan DIAN selengkapnya :

Kayaknya kalo inget es-em-a, aku bukan seleb kayak Mas Heppy 95 -- anak fisika yang encer otaknya -- atau Slank (Ninik 97, IPA-1) yang super duper gaul, atau Anenk (Setyo Puguh 97, IPA-1) yang encer dan jago basket dan banyak adik kelas yang kesengsem, atau Ragil 95, anak Fisika yang cute dan cool yang juga jadi ketua OSIS (kabarnya udah jadi PNS, betul nggak Mas Prie ?).
Atau, anak-anak IKAPALA yg kumuh *ngacir-takut-ditimpukin* tapi banyak cewek yang naksir hihihi… (kalo ini karena apa ya ?), padahal mereka jarang mandi *ngacir-lagi* atau Mbak Yustina Tri yang terkenal dengan panggilan Tri atau Temi untuk anak I-1 di angkatannya, yang suaranya kayak Withney Huston. Dan banyak lagi temen-temen yang berprestasi yg nggak bisa disebutkan satu-satu.
Mungkin nih... kalo ada yang tanya (kalo ada lho ya....) kenal DIAN angkatan 97 nggak ? Pasti jawabannya "Enggaaaaaaaaaaaaak !!” atau Dian yg mana ya ? hahaha… yang ini nggak penting banget. (Tambahan : Kemarin aku juga sempat bilang gitu sama Ninik Slank, “Dian siapa sih Nik ? Emang di milist ada yang namanya Dian ?” Aduuuh…, maaf lho Dian, ini benar-benar kalimat “kecelakaan” yang muncul tanpa disadari, padahal aku kan sering baca nama Dian Lutfi, Cuma Dian-nya saja yang jarang nulis di milist, ihiiiks.. jadi sedih niiih… ; prie999).
Tidak ada sesuatu dalam diriku yang patut jadi kenangan buat mereka teman2ku, tapi mereka adalah kenangan terindah yang aku miliki semasa es-em-a yang hingga kini masih rela menjadi sahabatku, dengan segala kekurangan dan kelemahanku. Terima kasih temans...atas kenangan terindah itu !
*Dedicated for (Slank, Anenk, Vita, Niken, Ima, Ike, Satu 1, Dua De, IPA-2, dan yang tidak bisa disebutkan satu persatu)*.
Dian Eka Anggraini
IPA 2-97

Jumat, 03 November 2006

Mungkin, yang masuk SMA Negeri Tumpang setelah tahun 1986, tidak pernah tau bahwa sebelum menempati gedung sekolah yang berlokasi di Jl. Kramat, Malangsuko -- jauh sebelumnya -- SMA Negeri Tumpang justeru berlokasi (dan menempati) areal di Belakang Pendopo Kawedanan Tumpang. Tepatnya di Jl. Karyawan, yang menghubungkan jalan raya Tumpang dengan Kudusan (tepat berseberangan dengan Gg. V / Jl. Sadewa), yang kalau tidak salah sekarang sudah dijadikan bagian dari rumah sakit/Puskesmas Tumpang.

Proses "perpindahan" dari gedung lama ke lokasi "tengah tebuan" di Malangsuko memang tidak sekaligus, tetapi bertahap kelas demi kelas. Sampai akhirnya di penghujung tahun 1985, tinggal Perpustakaan saja yang ada di gedung itu, dengan petugasnya yang bernama Ibu Engeline.
Tentu berbagai "kisah" menarik dan penuh nostalgia terekam dari para siswa yang pernah menempati gedung bersejarah tersebut. Sampai-sampai, tiap angkatan mempunyai "sebutan" sendiri untuk gedung yang hanya mempunyai 7 lokal kelas tersebut. Termasuk sebutan SMA "Kidul Pasar" -- karena letaknya yang berada tepat di selatan pasar Tumpang -- seperti yang diceritakan salah satu saksi sejarah berikut ini :
KENANGAN SMA "KIDUL PASAR"
Istilah tersebut muncul atau di’kompor’kan tatkala kelas 2 IPA, disana ada 2 (dua) kelas IPA yang menempat ruang di gedung sekolah yang lama (purna pakai..) di area belakang kantor Wedono di Ledoksari (sekarang menjadi Puskesmas/Rumah Sakit Tumpang, red). Bukan karena kami terbuang, namun bersamaan dengan itu pembangunan sekolah di Malangsuko (gedung sekolah anyar) mulai digelar.

Praktis, para guru pengajar pun ‘riwa-riwi dari Malanguko ke Ledoksari dan sebaliknya. Pun hal itu dialami para murid 2 kelas tersebut, kalo upacara hari Senin pagi, kami (2 kelas) kudu hadir di sekolah Malang Suko yang sudah menjadi ‘pusat pemerintahan’. Alhasil, bubaran upacara bendera, kami semua harus jalan balik ke Ledoksari (Sekolah Kidul Pasar) untuk melanjutkan pelajaran.

Sampai pada suatu ketika, kelas IPA-2 … yang mana saya termasuk didalamnya… pas upacara hari Senin pagi, kami sekelas nggak dateng ke Malangsuko…mogok kecil2-an critane. Sengaja terlambat, biar nggak melok upacara, hehehe. Bandel koen yo..!? Bener perkiraan kami…., pas bubaran upacara… kami baru nongol.Kontan, wali kelas kami (Pak Warisan, kalo nggak salah) langsung ambil mimik geram, marah sekaligus malu karena anak asuhnya pada mbalelo (lucunya lagi, seorang temen kami Sumari (alm) adalah adik kandung dari pak Warisan, betapa malunya dia. Tak ayal, Sumari langsung ngumpet nggak wani ketemu. Eh, ada yang nyeletuk, “Disuruh Sumari, Pak..!" Gerrrrr….yg lain pada ketawa…. (tapi Pak Warisan sudah berlalu..)

Akhirnya, kami pun disuruh upacara dewe, wis srengenge wis munggah, panas lah ! Eh, dasar pada nekad, kami sekelas malah kompakan plesir ke Sumber Wringin, ke kolam renang Wringin Anom. Wuih, segerrr iki rek, bubaran diomelin, dongkol, entar kita bisa langsung byurr...!
Berangkatlah rame-rame, yang cowok2 ada yang jalan kaki, nunut sepeda motor, yang cewek2 dinaik-in dokar, siplah !
Eh, ujug-ujug ditengah jalan, mak njemumuk sekonyong-konyong koder (walah..!!) koq ndilalah kepethuk pak Moh. Sirat (guru Bhs. Indonesia) yang tinggalnya juga di daerah Wringin Anom, mau berangkat ngajar ke Sekolah. Hemmm.... dasar, apess ! Mau nggak mau beliau pun bisa berkicau, loh..! (wah, iki pakai gaya bahasa opo yo, wis lali aku Pak..?!). Entahlah.. apa yang nanti akan terjadi... the show must go on aja. Kamipun bersenda gurau di kolam Sumber ringin sak kesel-e seolah tanpa beban, tanpa dosa ! Sampai akhirnya kami pun kembali ke sekolah Kidul Pasar.

Hal yang dikhawatirkan pasca kepergok pak Sirat pun tiba. Kami disambut oleh guru PMP (kalo’ gak salah...) pak sopo yo ...wis lali aku, duh..! (mesti sing dimaksud iki Pak Chudlori Hasyim, red). Pokok-e langsung disemprot dengan pendidikan etika, ditatar moral, mental Pancasila, P4, GBHN, dll-l
ah..! mailto:*&^&$#@&@$ @*&%$@&@^@ &^ (*&@ (^*%@^@ Gak tau sopan santun, liar, nah loh ! Cercaan demi cercaan, hardikan demi hardikan kami terima dengan legowo, temen2 cewek hanya bisa menunduk dg mata berkaca-kaca (duh, sediiih banget, gitu loh !). Namun keesokan harinya, hukuman tak berakhir sampai disitu.

...................................berhubung kedawan, POTONG DISINI AJA DULU ! (Bersambung)

Kamis, 12 Oktober 2006

Ngrasani (= membicarakan) guru dalam konteks yang baik, tentu sah-sah saja. Apalagi, kalau dibarengi rasa “kangen” akan kenangan yang tak terlupakan di masa lalu. Kali ini yang menjadi “sasaran” adalah Pak Effendy Arsyad – biasanya dipanggil Pak Pendik – yang karena penampilan nyentrik dan cara mengajarnya yang khas, membuat Pak Guru yang suka mengendarai motor trail ini mendapat tempat di hati para muridnya.
Aku sendiri merasakan diajar Pak Pendik hanya tahun pertamaku (kelas I) di SMAN Tumpang. Beliau mengajar mata pelajaran Ekonomi Koperasi. Cara mengajar hariannya sih biasa-biasa saja, tetapi saat ulangan, baru ruaaar biasaaa ! Selain soal ulangan yang selalu di-dikte-kan, untuk menjawab harus nunggu aba-aba : pegang pulpen…, tulis…., letakkan ! Hehehe…, nggak ada kesempatan nyontek, apalagi nengok kiri-kanan. Dan aku menjalani dengan selamat, karena pada dasarnya selain ketua kelas aku juga murid yang penurut (haiyaaaah…muji diri-sendiri lagi !).
Terakhir ketemu Pak Pendik, saat perpisahan kelas III. Beliau dengan gitar akustiknya mengiringi Setyati Puji Lestari di atas panggung terbuka – yang sekarang malah jadi AULA – dengan lagu sendu-nya Hellen Sparingga. (Catatan khusus : Setyati – biasa dipanggil Atiek – adalah teman sekelas di III A3-2 yang aku kagumi. Karena selain cantik, keibuan, bersahaja dan juga tidak sombong. Menurutku, ini adalah wanita ideal dimataku, wuuih…..).
Ternyata….., jauh dibawahku (adik kelasku, maksudnya) ada yang punya pengalaman “unik” juga dengan Pak Pendik. Yang kali ini ikut bercerita adalah Happy Hendra – tadinya aku pikir ini Happy Dwi Cahyana, anak buahku di PMR tahun 1986, yang ternyata bukan. Happy Hendra yang ini sekarang kerja di XL. (Meski dikirim ke milist, nggak ada salahnya kalau di-publish di blog SMAN Tumpang kan, Hap ! )

Begini Ceritanya….:

Aku yo duwe pengalaman lucu-lucu pas diajar karo Pak Pendik (panggilan akrab, red). Waktu itu aku masih di kelas I-4, disuruh ngetik. Hasil ketikanku banyak tipe-x nya. Terus dia bilang, "Lho Happy, kamu ngetik dimana ? Kok banyak "TAI BURUNG" nya..?” Wah, aku isin tenan.
Terus waktu ujian teori mengetik aku duduk sama Elly. Pak Pendik ngawasi ujian keliling pakai penggaris panjang. Si Elly senyum-senyum ke Pak Pendik. Langsung saja beliau berteriak "Happy..! Kamu apain aja si Elly, kok dia senyum sambil merem melek !" Padahal sumpah, aku gak ngapa-ngapain. Waduh isin maneh aku.
Terus waktu penataran P4 di aula. Aku (dan teman-teman hampir satu kelas) telat masuk aula. Dicegat karo Pak Pendik, langsung dia bilang, “PUSH UP ! BERDIRI, LONCAT, JONGKOK !!!” Wah soro tenan ! Belum lagi waktu latihan band di aula ama Didik Rahadi, wah studio dikunci dari luar suruh latihan 4 jam. Ampun deh !
Tapi sekarang katanya bu Tutik (matematika), pak Pendik udah gak ngajar lagi di SMAN Tumpang. Wah kasihan dia. Ya, semoga ada yang ngasih tau ke Beliau bahwa kita mantan anak didiknya masih mengenang memori indah di SMAN Tumpang, dulu waktu diajar ama Pak Pendik.
Wassalam,
Happy Hendra
0818387008
(Credit foto : Koleksi pribadi Happy Hendra, diambil dari milist)

Kamis, 05 Oktober 2006

Hmmm...., pagi-pagi buka email khusus blog SMAN Tumpang, langsung isinya gembrudug. Respon yang cukup bagus tentunya. Malah, ada teman alumni yang sekali kirim 4 artikel sekaligus, wah..wah..wah...
Kata orang sono, "It's okay !" Ya, nggak papa. Ini justeru awal yang bagus. Dan percayalah, semua akan dimunculkan di blog tanpa ada yang di-pending. Cuma, ya itu tadi, giliran dan satu-persatu munculnya (kata seorang teman, "Tulung sing ngisi ojok didominasi wong iku-iku thok lho !" Hehehe, ora perlu kuatir, usul ditampung (sakjane sing disebut "wong iku-iku thok iku sopo se ? Ojok-ojok aku dewe sing disemoni ?).
By the way, kali ini satu tulisan dari Cak Herry Pakis (maksudnya arek Pakis Kembar) yang giliran dimunculkan. Nggak disangka, Cak Herry masih ingat aja sama si Kermit Hijau ini. Kalau aku, jelas ingat, soalnya patung itu persis bener berada di depan kelasku (kelas I-5), waktu itu aku gantian kelas sama anak II IPA-2. Teman-teman yang disebut Cak Herry itu aku ya inget semua, tapi.. koq ya sudah ada beberapa yang almarhum se ? Sakit atau kena bencana massal ?
Eh hiya, perlu aku tambahkan, selain patung kermit, atau satu patung lagi yang cukup fenomenal, yaitu patung Budha (atau Syiwa ?), hasil karya anak-anak kelas II A3-2 (yang tak lain adalah kelasku sendiri, hehehe.....). Sebagi ketua kelas waktu itu (halaaah.. halaah...) aku juga bangga ada anak buahku yang juga seorang pematung, namanya Syamsu Muhajir - Arek Wajak (denger-denger sekarang jadi seorang seniman lukis di Malang).
*
Ini tulisan Cak Herry :
Iling si Kermit
Aku dadi eling tahun 86-an, ngarep-e kelas III IPA-2 wektu iku. Kabeh kelas III diwajibken gawe patung ndek ngarep kelas-e dewe-dewe. Kelompok (gerombolan, ding.!) kelas IPA-2 sing terdiri dari : (lek sik eling) "Nora" Ahmad Zainuri (ketua proyek), Eko Gibon (alm), Moh.”JOJON” Joeni, Zainul Arifin (alm.), Sumari (alm), Slamet “SLATHEM” Riyadi, Mukti, Tukiyat, Sujiono, Mansyur Syafi'i, Luthfi M, dll (sing lali gak disebut ojo nelongso). Dengan telaten nggarap patung berhari-hari, sore hari sampek surup, dino minggu yo dilembur. Melok trênyuh sekaligus bangga juga waktu iku duwe konco-konco sing semangat-e poll!

Sampai dead-line yang ditentukan, akhirnya ngadêg juga si "Kermit elit". Tapi seiring berjalannya ruang dan waktu, pelaku dan kebijakan, maka si kermit pun tergusur. Ah, moga ae gak di daur-ulang..! Jan-é ngono SMAN Tumpang iku kudu duwe semacam “museum”, guna menyimpan/mengabadikan karya, prestasi para “kampiun” anak didik sing berprestasi (Wah, koq kayaknya sok banget, yah..?! Wong nganti saiki kene dewe iki dirèwangi urip "ngacoeng & nJongosh", ha ha haaa..!).
Tapi, lek iku apik, lak gak po-po tah.. :D
Cak Herry
Alumni IPA-2 (Lulusan 86)

Rabu, 04 Oktober 2006

Sampai menjelang istirahat siang -- jam 12 tadi -- milist SMAN Tumpang sepi banget... (tapi ini sudah biasa ding.., kadang malah seminggu full nggak ada email yang muncul, hehehe...). Untung ada satu tulisan dari Diah (nick-name : Dee) alumni tahun 1994 jurusan Fisika, yang kini katanya kerja di salah satu kota di Jawa Timur. Tulisan ini lumayan menggelitik, dan patut dimunculkan dalam blog ini. Yaaaa... sekedar untuk menghilangkan suntuk kerja -- apalagi bulan puasa geneee...-- cukuplah tulisan dari Dee mengendorkan syaraf kita-kita.
*
Kalau boleh menilai, Dee ini termasuk jajaran penulai email aktif (dan lucu) di milist SMAN Tumpang, meski kadang juga "doknyengen" (padan katanya apa ya ? Pokoke, kalau lagi seneng nulis ya nuliiiis terus, tapi kalau lagi males, ya nggak muncul satu pun emailnya). Dan itu ndak penting, sebab di milist SMAN Tumpang ini unik banget. Pas lagi sepi, eeeh tiba-tiba member yang nggak pernah muncul malah menulis email ke milist (yang aku inget : Irvan, Happy, dan juga Halim. Elly juga).
*
Ini nih, tulisan dari Dee :
*
Bagian Personalia (BP) : Kowe nduwe omah opo ora.....?
Calon Karyawan (Cakar) A : Dereng....
BP : Wah kowe ora iso ketompo nang kene
Cakar A : Lho kok ngaten...... ..?
BP : Mengko kowe mesthi ngajukne utang nang perusahaan.
Cakar A : Ah.. mboten kok, Sak janipun tiyang sepuh kulo niku sampun sugih.
BP : Yo malah ora ketompo
Cakar A : Lho kok ngaten.....?
BP : Mengko kowe kerjo mung nggo hiburan, nongkrang-nongkrong ae.

Cakar A Metu, Mlebu Cakar B

BP : Kowe nduwe motor opo ora....?
Cakar B : Mboten.
BP : Ora ketompo
Cakar B : Lho kok mboten ketompo ?
BP : Mengko kowe mesthi njaluk bantuan kredit.
Cakar B : Sak janipun gadhah, ning tasih ten kampung, gampil mangke kulo beto ngriki.
BP : Wah malah ra ketompo....
Cakar B : lho kok ngoten
BP : Tempat parkire wis ra cukup.

Cakar B metu, mlebu Cakar C

BP : Kowe wis lulus sarjana tenan.....?
Cakar C : sampun pak....
BP : Ora ketompo, kene iki golek sing SMA ae, luwih manutan lan ben mbayare murah
Cakar C : Sak janipun kulo tasih badhe skripsi
BP : Malah ora ketompo.....
Cakar C : Lho kados pundi to....?
BP : Mengko kowe kerjo mung ngetik skripsi, lek wis lulus mesti golek kerjo neng perusahaan liyo.

Cakar C metu, mblebu Cakar D

BP : Kowe seneng guyon opo ora ?
Cakar D : Mboten pak, kulo serius nek nyambut gawe.
BP : Ra ketompo.....
Cakar D : Waa......kok ngoten ?
BP : Engkok konco koncomu karo anak buahmu podho stress.
Cakar D : Sak jane nggih sekedhik sekedhik seneng guyon.
BP : Malah ora ketompo.
Cakar D : Lho kok......
BP : Engko kowe mung email emailan sing lucu.......

Cakar D metu, cakar E mlebu

BP : Anakmu akeh opo sithik ?
Cakar E : Kathah pak
BP : Kowe ora ketompo
Cakar E : Sebabipun ?
BP : Nyambut gawemu ora jenjem, mung mikir gawe uanaaaaaak terus
Cakar E : Lha wong namung anak adopsi, kok.
BP : Tambah ora ketompo
Cakar E : Lho, lha kok ... ?
BP : Gawe anak ae aras2en, opo maneh nyambut gawe.

Cakar E metu, Cakar F mlebu

BP : Kowe wis ngerti gaweyanmu durung ?
Cakar F : Dereng
BP : Kowe ora ketompo
Cakar F : Sebabipun ?
BP : Arep nyambut gawe kok ora ngerti gaweyane ?
Cakar F : Oo, nek damelan niku mpun ngertos kok
BP : Tambah ora ketompo
Cakar F : Lho, lha kok ... ?
BP : Kowe rak mung arep keminter, to ?

Cakar F metu, (terakhir) mlebu Cakar G

BP : Kowe biso main Internet ?
Cakar G : mBoten
BP : Kowe ora ketompo
Cakar G : Sebabipun ?
BP : Perusahaan ora nompo BI (Buta Internet)
Cakar G : Wah, sakjanipun nggih saged
BP : Tambah ora ketompo
Cakar G : Lho, lha kok ... ?
BP : Mesthi ora bakal nyambut gawe, kakehan dolanan Internet, to? Ngentek-entekke pulsa !

***

Note : Foto yang ada di tulisan ini hanya ilustrasi belaka, tidak ada hubungan dengan isi tulisan.

Labels

Alumni (21) Amerika Serikat (1) Angkatan 1995 (1) Anti Korupsi (1) Arab Saudi (1) Arema Malang (1) Artikel (8) ASEAN (1) ay kusnadi (1) Ayusta (1) Bahasa (2) Balitjestro 2008 (1) Bandung (1) Bank Mandiri (1) Bantuan Operasional Sekolah (1) barongan (1) Basketball (1) bca (1) Beasiswa (19) Berita (3) berita duka (1) BHMN (1) Bimbel (1) Biodiversity (1) Bisnis (1) bisnis online (1) Blog (5) bondan winarno (1) BOS (3) Buku (1) Buku Paket (1) Bulan Bahasa (1) Bullying (1) Bursa Kerja (1) Candi Kidal (1) Class Meeting (1) Dee (1) dollar gratis (1) Dumpul (1) dunia maya (1) Ekstrakurikuler (5) Facebook (2) Fair Play (1) Fisika (1) Friendster (1) Futsal (1) gado gado (1) Global Warming (1) Google (1) Gunung Tabor (1) Guru (10) Gus Dur (1) HUT ke-30 (1) IKAPALA (1) imam gozali (1) Inggris (1) Inspirasi (1) Internet (1) IPB (1) Iptek (3) Istana Negara (2) ITB (1) Jabodetabek (1) Jambi (1) Jawa Timur (4) Jepang (1) jerman (3) Jeru (1) Jilu (1) Jombang (1) Jusuf Kalla (1) Kabupaten Malang (4) kampus (1) karir.com (1) Kegiatan (1) Kelas A4 (1) Kelas XII (1) Kemendikbud (3) Kemendiknas (1) Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan (1) Kepala Sekolah (1) Kesehatan (3) KH. Abdurrahman Wahid (1) Kiat Jitu (1) Komik (1) Komunitas (1) kosmetika (1) Kota Batu (1) Kota Malang (5) Kuliah (1) kuliner (1) kusti (2) launching (1) Lingkungan (1) LIPI (1) Lowongan (1) Lulusan 2008 (1) M. Nuh (1) Mahasiswa (2) Mahasiswa Baru (2) Mahkamah Konstitusi (1) maknyus (1) Malang (3) Malang Raya (1) Malangsuko (1) Malaysia (1) Matematika (1) Mendiknas (1) Mendit (1) Menkominfo (1) Menulis (2) Menulis Ilmiah (1) Minat Baca (1) Motto Kelas (1) nDangdut (1) Nostalgia (2) Otonomi Daerah (1) Pahlawan Nasional (1) pak temun (1) Pancasila (1) panggung terbuka (1) Pelajar (1) Pelajaran (1) Pemerintah (1) Pendidikan (11) Pendidikan Nasional (6) Penelitian Ilmiah Remaja (2) Perbankan (1) Perguruan Tinggi (3) Perguruan Tinggi Swasta (2) Permen Karet (1) Pertamina (2) Pilkada (1) PMP (1) PMR (1) Pornografi (1) pramuka (2) Precet (1) Profil (2) PTN (3) PTS (1) Redaksi (1) remaja (2) reuni (5) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (3) Riset (1) RSBI (4) Rujak Cingur (1) S-1 (1) S1 (1) S2 (1) S3 (1) Sains (1) Sarjana (1) SBI (1) SD (5) Sejarah (3) Sekolah Hijau (1) Sepakbola (2) sepeda (1) Situs (1) SMA (17) SMA Kebon Tebu (1) SMAN 1 Malang (1) sman tumpang (3) SMANETA (10) Smansa (1) SMK (1) SMKN Turen (1) SMP (4) SNMPTN (2) SNMPTN Online (1) soeharto (1) STT Telkom (1) sugeng hadiono (1) Sukoanyar (1) Surabaya (1) Tahun 2013 (1) Tahun Baru (1) Taiwan (1) Tawuran (1) teknologi (3) Tes Online (1) Tips (5) Tomik HS (1) Trik (1) Try Out Online (1) Tulus Ayu (1) Tumpang (2) UAN (2) UASBN (1) UGM (2) UI (1) Ujian (2) Ujian Akhir Nasional (1) Ujian Nasional (5) Ujian Nasional 2010 (1) Ujian Nasional 2011 (1) Ujian Nasional 2012 (1) UM (1) UMB (1) UN (7) UN 2010 (5) UN 2012 (1) Universitas (1) Universitas Brawijaya (1) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (1) Universitas Paramadina (1) UNS Solo (1) Virus (1) wafat (1) Wakil Gubernur (1) website (2) Wendit Water park (1) Wisata (2) wisnuwardhana-narasinghamurti (1) www.smantumpang.com (1)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!