Minggu, 02 Maret 2008

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Barangkali itu peribahasa yang cocok dengan penggambaran apa yang diceritakan oleh Kusti -- alumnus SMAN 1 Tumpang & IPB Bogor -- yang saat ini melanjutkan studinya di Jerman. Selain bangga dengan keberhasilan Kusti, tentu pengetahuan khasanah budaya kita akan semakin bertambah, dengan tulisan-tulisan perjalanan dari negeri benua biru, semacam yang dikirim Kusti via email ke milist SMAN Tumpang, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya :

Sepeda (onthel) adalah salah satu yang membuatku shock ketika pertama kali menjejakkan kaki di benua Eropa, 2005 lalu. Bagaimana tidak, di lingkungan kita -- di kampung apalagi di kota -- sepeda sudah semakin terpinggirkan, bahkan tidak dapat tempat (dalam arti sebenarnya).

Kalau di kampung, sepeda onthel sepertinya sudah tidak dilirik sama sekali, kalah sama HONDA dan YAMAHA, juga motor CHINA. Sedang di kota, nggak ada lagi kenyamanan bersepeda (sebagaimana pejalan kaki), karena angkot yang kebanyakan ugal-ugalan sak enake dhewe atau keganasan bus kota.

Kondisi tersebut berbeda 180 derajat (pas, nggak kurang atau lebih...hehehe) dengan yang ada di daratan Eropa. Umumnya ada jalan khusus untuk sepeda (biasanya berdampingan juga untuk pedestrian). Bersepedapun nyaman. Makanya nggak mengherankan kalau sepeda yang parkir di statsiun lebih banyak daripada jumlah mobil yang parkir. Mobil biasanya dipake kalo pas musim dingin (banget). Itu prolognya (kepanjangan ya...hehehe).

Ok, sekarang tentang sepeda merah putih. Sepeda tersebut (yang di Barcelona diberi label "BICING"), digunakan oleh turis dan juga penduduk setempat. Sistem sewanya sudah pake mesin, yaitu tinggal masukkan koin, kemudian dapat tiket (atau kartu) yang juga berfungsi sebagai "kunci gembok". Di mesin tersebut tercantum juga lokasi "halte" bicing. Sepeda dapat dikembalikan di halte manapun, cuma tergantung lama sewa, tentunya. Kalau nggak salah 30-50 cent untuk setengah jam.

Untuk di Jakarta, barangkali nggak perlu yang sistem mesin gini, cukup pake orang aja kali ya yang jaga, itung itung juga ngurangi pengangguran, selain juga (kalau pake mesin kayak di Eropa) mahal. Jadi ada beberapa spot (halte), yang sekaligus juga disediakan loket penjualan kartu (sewa) sebagaimana sistem parkir di perkantoran Jakarta. Sementara itu cerita dari benua biru, semoga bermanfaat.

salam,
Kusti (Jerman)

Senin, 11 Februari 2008


Nampaknya, magnet sekolah kita (baca : SMA Negeri 1 Tumpang) begitu kuat daya tariknya, sehingga alumni yang telah lama lulus – maupun yang baru di wisuda – tak kuasa untuk melupakannya. Dengan berbagai alasan yang ada, keinginan kuat untuk “datang” kembali ke sekolah terus bermunculan. Dan salah satunya adalah Happy Hendra, alumni tahun 1995 yang sekarang bekerja di Kota kediri, di awal Februari 2008 berkesempatan untuk nostalgia masa-masa sekolah dulu, dengan mendatangi langsung SMA kita. Berikut penuturannya :

Hari sabtu 9 Februari 2008, kami jalan-jalan ke smanet. Sesuatu yang sangat menyenangkan. Alhamdulillah kami bertemu guru-guru semasa kami masih di smanet, yaitu : Bapak Prianggono, Bapak Sudjianto (Pak Antok), Ibu Runia, Pak Kandar, Ibu .... (lupa namanya, mengajar agama Islam, pakai jilbab), dan Pak Kusnadi (sudah pensiun sepertinya) serta pak Sayit (dulu staf TU). Kami memang sudah lama ingin sekali menengok dan mengenang peristiwa-peristiwa semasa SMA dulu dengan mengunjungi smanet.

Bangunan fisik memang banyak sekali perkembangannya dibanding waktu kami dulu (angkatan 95). Banyak gedung/kelas-kelas baru. Yang tidak berubah dan tetap semangat, awet muda, selalu tersenyum dan pasti kocak adalah pak Prianggono. Beliau dulu menjabat Wakasek Kesiswaan -- dan sekarang kembali menjabat Wakasek Kesiswaan -- setelah sempat tidak menjabat wakasek kesiswaan selama 10 tahun. Pak Antok penampilannya agak kurus, Ibu Runia memakai jilbab.

Oh ya kami juga sempat menikmati bakso di kantin smanet, dekat lapangan basket. Kami berkeliling di lingkungan smanet. Kami menyebut SMA Negeri Tumpang dengan nama singkatan Smanet (tanpa ”a” dibelakang) karena nama itulah yang kami pakai sewaktu kami masih bersekolah di sana.

Untuk melihat foto-foto selengkapnya, klik DISINI !

Senin, 04 Februari 2008


Hari-hari mengikuti ke”edanan” bersepakbola mengingatkanku ketika masih sekolah di SMANETA kelas I–4 tahun 1987/1988 hingga kelas III Bio 3 tahun 1989/1990 (berarti aku naik kelas terus). Sepakbola bayaran yang salah dari jalur olahraga, kalau ketahuan guru ataupun FIFA bisa dihukum tidak bermain selamanya karena mental kami waktu itu disamping senang-senang, jaga wibawa dengan gila kemenangan, tapi diiringi dengan taruhan uang. Suatu kegiatan yang patut tidak ditiru oleh penerusnya.

Secara kebetulan letting kami sekelas di kelas I-4 yang laki-laki pada hobby sepakbola. Sangat antusias kalau olahraga bebas mainnya bola, apalagi kalau ada info selanjutnya (jam) pelajaran kosong. Timbul ide bersama kawanan lain kelas (kawanan … kayak gajah aja) menantang bermain sepakbola, tentunya juga taruhan uang untuk menentukan siapa yang jago daripada cuma bisa ejek-ejekan saja. Dan ternyata sederek2 … kamilah jagoan antar kelas periode tersebut.

Pada gebrakan pertama, berbekal uang “sumbangan kawan sekelas” untuk taruhan Rp. 5.000,- / Rp. 10.000,-an / Rp. 20.000,-an dengan team kelas lain, pada hari minggu bermain di stadion Tumpang, dengan semangat tanding dan teknik yang lumayan kami bisa mengandaskan permainan anak kelas I-3 yang kala itu diperkuat oleh rombongan Jumari, Agus D. Saputro, Faisol, Ateng nDeteng, dkk. Tak jeri dengan permainan kami, minggu depannya ngajak main dan lagi–lagi kalah.


(selengkapnya, KLIK DISINI ! )


Kiriman :
PUJI SUGIARTO - Jambi
(Alumni III Bio-3, Lulusan 1989)

Jumat, 01 Februari 2008


Tradisi tahunan menggelar Bulan Bahasa masih tetap berjalan, termasuk di akhir tahun 2007 kemarin. Untuk Bulan Bahasa 2007, acara digelar selama 3 hari penuh. Beberapa mata lomba “wajib” tetap ada, seperti Lomba Reporter dan Pidato bahasa Inggris, Lomba Baca Puisi, dan juga Lomba Fragmen. Seperti biasa, lomba diikuti oleh hampir semua perwakilan kelas.

Secara umum, kualitas peserta lomba lebih bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan tentu ini sebuah perkembangan yang menggembirakan. Paling tidak, bahwa salah satu tujuan Bulan Bahasa 2007 untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pemahaman fungsi bahasa itu sendiri, benar-benar tercapai.

Selain lomba, Bulan Bahasa 2007 juga diisi dengan Bazaar Buku (diadakan di Aula SMANETA), dan berbagai hiburan mulai dari Dance, Pembacaan Puisi, dan juga Pergelaran Musik. Yang menarik, antusiasme siswa sangat besar dibanding tahun sebelumnya. Ini bisa dilihat dari tidak beranjaknya seluruh siswa di Aula saat acara berlangsung, sampai acara benar-benar selesai.

Bisa jadi selain acara memang menarik, penyebabnya adalah didatangkannya bintang tamu dari sekolah lain untuk grup band penghibur. Selain itu, konsep jitu yang disajikan panitia ini didukung sepenuhnya oleh guru pembimbing.

Sebagai pemenang untuk beberapa lomba yang diadakan diantaranya adalah :
Juara Lomba Reporter : Umi Ilma
Juara Lomba Baca Puisi : Santi P (12 IA-1)
Juara Lomba Fragmen : Kelas 12 IS-2
***
Laporan : Rachzal 12 ia-2

Selasa, 29 Januari 2008

Futsal masuk sekolah ? Udah kuno tuh..! Jadi tak heran kalau masa hari “bebas” setelah ujian semester (pertengahan Januari 2008 lalu) dilakukan kegiatan pertandingan Futsal antar kelas (khusus kelas 10 dan 11). Memang sih, bukan hanya Futsal aja yang dipertandingkan – karena ini bagian dari classmeeting tahunan – namun perlu dikedepankan karena suasana serunya itu lho.

Pertandingan sendiri mengambil tempat di Lapangan Basket SMA Negeri 1 Tumpang (SMANETA gitcu looch !), yang kelihatan makin sumpek saja, karena bukan lagi dikelilingi pagar kawat yang bisa melihat pemandangan nun jauh disana, tetapi sudah ditembok permanen di sekelilingnya.

Selama pertandingan diadakan, aman-aman saja. Tidak ada pemukulan terhadap wasit, tidak ada kerusuhan suporter (baik dari kelas yang selama ini kalem-kalem saja, maupun kelas yang terkenal beringas dan brutal, hehehe…), dan tidak ada protes keras dari wali kelas karena anak asuhnya kalah. Semuanya aman terkendali, semua memegang azas fair play, pokoknya peace maaan !

Sebagai campione di Pertandingan Futsal Class Meeting 2008 adalah : Kelas 11 IS-2, yang dengan sukses mengkandaskan adik kelasnya di final (dan harus puas menduduki Juara II), yaitu Kelas 10-8. Sukses untuk sang Juara !
***
Tulisan kiriman dari : Rizal Rinaldi, 12 IA-2
Note : Foto hanya ilustrasi.

Minggu, 27 Januari 2008



Innalilahi Wa'inailaihi Rajiun

Turut berduka cita yang sedalam dalamnya
atas wafatnya :

Bapak H.M. Soeharto
(mantan Presiden RI ke-2)

Minggu, 27 Januari 2008 ; Pukul 13.10 Wib
Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, amin.


Jumat, 18 Januari 2008


Arema jadi “lakon”, Arema (dan Aremania) jadi pusat berita di semua media cetak maupun elektronik nasional, sebagai imbas dari Tragedi Stadion Brawijaya Kediri, 16 Januari 2008 lalu. Ini menambah deretan panjang carut marut persepakbolaan nasional yang semakin terpuruk. Apapun, sebagai warga Malang Raya, tentu ini sebuah pukulan dan cobaan yang sangat berat, meski sebagai Aremania sejati tentu tak akan “menyerah” hanya karena perbuatan dzolim dari PSSI dan BLI.

Sambil berdoa agar Arema meraih sukses di Liga Djarum Indonesia 2007 – yang molor sampai 2008 – tak ada salahnya kalau kita juga memberi support tersendiri pada Agung Yudha, salah satu Alumni SMAN Tumpang yang ikut berjuang di dalam tim Arema saat ini.

Ya, Agung Yudha Kurniawan – begitu nama lengkap pemuda asal Kemantren (Jabung) – kelahiran 28 April 1978, memang sudah menunjukkan bakat alam sebagai pesepakbola handal sejak belia. Sebagai bukti, saat usia 16 tahun dan bergabung di Persema Yunior, Agung membawa timnya menjadi juara Nasional U-17.

Setelah masuk Persema senior, Agung Yudha – lulusan SMAN Tumpang tahun 1997, Jurusan IPA – sekitar akhir tahun 90-an masuk tim impiannya AREMA. Malang melintang berkarir di tim Singo Edan membuat Agung “dipinang” tim Macam Kemayoran Persija Jakarta. Hanya bertahan satu musim kompetisi, Agung kemudian bergabung dengan tim Laskar Sakerah Persekabpas Pasuruan. Dan sejak musim kompetisi 2006, Agung kembali pulang kandang, memperkuat skuad Singo Edan Arema.

Meski saat ini sering menjadi pemain cadangan di AREMA, melihat perjalanan karir 10 tahun terakhir, Agung Yudha termasuk mempunyai prestasi yang cemerlang. Apalagi sebagai pemain belakang (defender) Agung yang memakai nomor punggung 28 di AREMA ini cukup lugas dan kokoh, dengan tinggi badannya yang 175 cm dan berat badan 65 kg.

Memang, selain Agung Yudha Kurniawan, masih ada satu lagi Alumni SMAN Tumpang yang pernah membela skuad Singo Edan AREMA, yaitu Rudy Hariantoko. Alumni angkatan 1990 (Jurusan A-2) yang saat itu berdomisili di Suko Anyar (Pakis). Di awal-awal berdirinya AREMA, Rudy seangkatan dengan idola Aremania saat itu, Nanag Supriyadi. Selain berkarir di Arema Rudy Hariantoko juga membela tim PKT
Bontang, Persijap Jepara, dan terakhir di Persegi Bali FC Gianyar.
***

Sabtu, 12 Januari 2008


Meski agak terlambat beritanya, tetapi keberhasilan ekstrakurikuler PRAMUKA SMA Negeri 1 Tumpang – masuk 10 besar Lomba Karya Tulis Ilmiah putra-putri & Juara 1 Presentasi Fotografi – di ajang Lomba “Tegak Tangguh 2007” se Jawa Timur di Universitas Airlangga Surabaya, patut dikabarkan.

Dengan berkekuatan 20 orang, yaitu 1 sangga putra dan 1 sangga putri masing-masing beranggota 10 orang, gerakan pramuka Ambalan Wisnuwardhana-Narasinghamurti (WN) pangkalan SMA Negeri 1 Tumpang harus bersaing dengan peserta dari berbagai kota lain di Jawa Timur, seperti Kediri, Sidoarjo, Ponorogo, Lamongan, Pasuruan, Pamekasan, Sumenep, maupun Surabaya sendiri, dalam lomba yang digelar hari Minggu, 9 September 2007. Hebatnya, kontingen SMAN Tumpang adalah satu-satunya wakil dari (sekian banyak) SMA yang ada di Malang Raya.

Materi yang dilombakan ada 6 macam, yaitu Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Pengetahuan Umum dan Pengetahuan Kepramukaan (PUPP), Fotografi, Orasi, Karya Tulis, dan Teknologi Tepat Guna (TTG). Memang, materi lomba tidak terlalu istimewa bagi Ambalan WN, tetapi dengan persiapan intensif hanya sekitar 2 minggu – setiap pulang sekolah – hasil yang dicapai kurang begitu maksimal, dan akan lebih baik lagi (hasilnya) kalau masa persiapan lebih lama lagi.

Yang pasti, hasil “terbaik” sudah diberikan anggota pramuka Ambalan Wisnuwardhana-Narasinghamurti (WN) – yang awal berdirinya di SMAN Tumpang digagas oleh Bapak AY. Kusnadi – kepada sekolah tercinta. Dan ini tentunya akan dicatat sebagai bagian prestasi non-akademis yang patut dibanggakan dari siswa-siswi SMA Negeri 1 Tumpang !

***
Note : 
Sebagian materi berita ini diambil dari Majalah Widya Wiyata Edisi 22/Desember 2007.

Kamis, 10 Januari 2008


Setelah lebih dari 18 tahun tidak bersua, nampaknya rasa kangen untuk kembali mengenang masa-masa indah di SMA sudah tidak terbendung lagi. Dan itulah yang terjadi pada alumni SMAN Tumpang lulusan tahun 1988, khususnya kelas A4 (Bahasa).

Ya, dengan dihadiri sekitar 30 alumni, acara temu kangen & reuni yang diadakan pada hari Minggu, 6 Januari 2008 dan mengambil tempat di Pondok Gunung Tabor, Ds. Tulus Ayu – Tumpang ini boleh dikata sangat meriah dan penuh keharuan. Bagaimana tidak, acara yang digelar mulai pukul 10 pagi dan berakhir setelah pukul 3 sore ini, serasa masih kurang untuk melepas semua cerita (nostalgia) yang terjadi saat-saat sekolah dulu maupun perjalanan panjang masing-masing alumni selama 18 tahun lebih tidak bersua.

Yang patut diacungi jempol tentulah upaya panitia yang berhasil mengumpulkan semua alumni A4 (1988) yang sudah tercerai-berai dari yang masih tinggal di sekitar wilayah Tumpang, sampai yang terlempar ke pulau Sulawesi. Hanya 1 orang yang tidak hadir, disamping 2 lainnya sudah meninggal dunia. Pilihan tempat di Pondok Gunung Tabor – yang lumayan tinggi biaya sewanya – juga menjadi indikasi bagaimana tingkat kemapanan para alumni A4 tahun 1988 ini.

Selamat untuk rekan-rekan alumni A4/1988 –
Agung, Iwan, Cemot, Ruby, Anik, Lilik, Muda’i, Darmo, Fuad, Kholifah, Trini, Mincu, Suparman, Sri, Subhan, Indah Usman, Zainul, Rusman, Yanto, dan yang belum disebut disini – yang sudah “berhasil” merealisasikan obsesinya untuk bertemu kembali secara full sekelas, tanpa ada yang ketinggalan. Mudah-mudahan (suatu saat) bisa mempertemukan seluruh kelas (satu angkatan), tidak hanya A4 saja !
***
Note : 
Terima kasih kepada rekan SIWA yang telah mengirimkan berita reuni ini, meski hanya melalui SMS dan telepon langsung. Foto-foto menyusul kan ?

Selasa, 08 Januari 2008

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Senin, 07 Januari 2008


Alkisah, pada awal tahun 80-an, ketika SMA Negeri Tumpang baru boyongan dan menempati gedung yang ada di Malangsuko – dari gedung lama di Jl. Setyawan (Ledoksari) – suasana lingkungan sekolah boleh dikata sangat-sangat jauh dari keramaian. Bayangkan, selain dikelilingi oleh perkebunan tebu, di sudut selatan-timur juga ditumbuhi rerimbunan pohon bambu (barongan, red). Belum lagi akses jalan (tikus) dari jalan raya Malangsuko yang juga melewati barongan (samping stadion), dan pemakaman umum yang (saat itu) belum beraspal. Menyedihkan, tapi juga menyenangkan.

Menyedihkan, karena kalau sudah musim hujan bisa dipastikan sepatu, celana dan ruang kelas penuh lumpur. Tetapi, juga menyenangkan. Suasana sekolah benar-benar nampak asri, karena bangunan yang ada (sekitar 10 kelas, Lab. IPA, Lab, Bahasa, Ruang UKS, Ruang OSIS, Ruang Ketrampilan dan Ruang Guru) membentuk huruf O, dengan lapangan hijau terhampar di tengah-tengahnya. Dan sekitar tahun 1986, di ujung bawah lapangan (depan Ruang Guru) dibangun Panggung Terbuka dengan arsitektur Bali. Eksotis banget.., karena panggung bisa dilihat dari semua kelas tanpa terkecuali !

Nah, kembali ke Lapt…. ups.., ke “barongan” di ujung kelas paling selatan-timur tadi (dulu dipakai untuk kelas II A3-3), banyak kenangan bagi kami siswa yang pernah terperangkap disana, hehehe. Terutama kalau ada pelajaran tambahan sore hari (untuk kelas III), pasti agak kurang berkonsentrasi kalau sudah diatas jam 5, suasananya itu lho.., magiiis banget, hiiii…… Tapi, ada juga lho yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena jarang siswa mau ke lokasi tersebut (belakang kelas), maka dimanfaatkanlah tempat ini untuuuuk… (aduuuh, nggak sampai hati menulisnya..) pokoknya untuk pacaran deh !

Satu pengalaman yang membuat bulu kudut merinding, ketika Pak Temun (salah satu penjaga sekolah) sedang membersihkan ranting-ranting bambu yang menjorok ke genteng sekolah (belakang kelas), tiba-tiba kaki kanan Pak Temun ada yang narik dari bawah. Secara reflek beliau pegangan anak tangga, dan buru-buru turun. Ketika sampai depan WC, saat Pak Temun melihat kaki kanannya, terlihat empat goresan luka warna merah bekas cakaran kuku. Percaya atau tidak, Pak Temun dihalangi untuk tidak membersihkan barongan tersebut !

Itu cerita duluuu…, yang kalau sekarang datang lagi ke belakang sekolah kita (dekat lapangan basket), barongan itu sebagian sudah menjadi kantin sekolah, yang ndak pernah sepi. Dan ruang ketrampilan (pelajaran nge-tik Pak Pendi, hehehe…) kini disulap jadi ruang OSIS, PMR & Ikapala, dan menghadap ke “ex” barongan tersebut. Jadi, barongan itu sudah menjadi nostalgia semata.


Jumat, 04 Januari 2008

Menarik juga mengikuti diskusi hangat di milist smantumpang@yahoogroups.com dalam 2 hari terakhir. Berawal dari kiriman sebuah foto “terbaru” dari kunjungan alumni ke sekolah akhir tahun lalu, yang menggambarkan salah satu ruang kelas dengan tembok bercat hijau muda.

Kusti Ariyah misalnya, alumni SMAN Tumpang (dan juga IPB) yang saat ini bermukim di Jerman tersebut membuka pembicaraan – dalam email yang bersubjek :
Kelas Cat Ijo –nDangdut ? – dengan komentar yang sedikit retoris, “… Ono sing menarik karo ruang kelas (yang nampak dalam foto, red), yoiku cat-e sing ijo royo-royo. Lha opo gak tambah adhem kelas-e, opo maneh sing ndhik isore barongan (nek isik ono lho barongan-e). Opo kabeh cat-e koyok ngono ? Gak tambah marakno ngantuk tah ?”



Belum lagi pertanyaan Kusti terjawab, Ayusta Cakra Iswara, alumni lulusan tahun 1988 yang mengalami masa-masa awal menempati gedung sekolah di “kebon tebu” ini menegaskan, “Sayang ora difoto kabeh. Saiki cat kelas-e warna-warni ono sing merah, hijau, kuning koyok play group pendek’e. Emang saiki trend-e koyok ngono tah ?” Dan Yusta, yang memang mengambil foto ruang kelas tersebut menambahkan, ”Emang sa’iki kelase nyentrik-nyentrik. Ono salah siji kelas sing ndek nisor, nek tak delok koyok kampanye salah satu partai politik. Wah ternyata era kebebasan saiki wis mlebu nang sekolah.”

Ungkapan Kusti dan Ayusta bisa jadi ada benarnya. Setidaknya pilihan warna untuk sebuah kelas tidak lagi didasarkan pada kebijakan sekolah dengan memperhitungkan efek psikologis siswa saat belajar, disamping apa sebenarnya fungsi ruang kelas itu sendiri. Entah benar atau tidak, yang kini nampak hanya unsur warna “kesukaan” penghuni kelas, trend ataupun segi estetika sepihak belaka. Kemungkinan besar, itulah yang menjadi alasan utama pemilihan warna cat ruang kelas. Belum lagi tambahan pernak-pernik hiasan ruang kelas yang terkesan “meriah” menjadikan siapapun yang melihat akan membayangkan sebuah ruang untuk pesta ulang tahun.

Tanpa bermaksud memberi vonis bahwa ini suatu fenomena yang cenderung negatif – dilihat dari sisi dunia pendidikan – apa yang diungkap Diah Mustophani, bisa menjadi pembanding.
“Hehehe, hiyo bener, koq kelase dadi semarak penuh warna ngono yo ? Jamanku biyen ditempeli gambar rodok nyentrik sithik ae wis dihukum sak kelas. Tentang kelas, yo gpp-lah, its okay ae. Itu kan namanya kebebasan berekspresi,” ungkap alumni yang kini bekerja di Jombang.

Ya, bisa jadi ini sebuah bentuk ekspresi jiwa para remaja. Tetapi, kalau terlalu “diumbar” apa tidak menjadi kebablasan ?

Selasa, 01 Januari 2008


Dear Rekans,
Berikut tulisan menarik yang saya ambil dari milis tetangga.
Semoga berkenan, dan bisa menjadi renungan di awal tahun.



Salam,
Kusti Ariyah
(Alumni SMAN Tumpang, tinggal di Jerman)

------------------------------------------------------------------------

Jadikan Dirimu Sendiri yang Terbaik!
Bondan Winarno *)


Tiba-tiba saya menyesali keputusan untuk melewatkan pergantian tahun di tepi pantai indah di Bali. Makanan lezat dan minuman mewah tak berhenti mengalir. Musik lembut mengalun ditingkahi debur ombak. Perempuan gemerlap dan laki-laki wangi bercanda ria di sekitar.

Tiga tahun yang lalu, pergantian tahun juga saya rayakan di lingkungan laut. Bedanya, ketika itu kami berada di geladak sebuah kapal perang, dalam perjalanan menuju Meulaboh, sebuah kota yang telah luluh lantak digempur tsunami. Ada sense of mission yang tebal di dada kami ketika itu. Tidak ada yang menyuruh saya berangkat ke Aceh, kecuali hati nurani sendiri.
Barangkali saya memang tidak sendiri terusik oleh perasaan seperti itu, begitu hibur saya. Perasaan penyesalan telah menikmati sesuatu ketika sebagian besar warga bangsa kita tengah menderita dan putus asa. Saya menuntut kesetaraan, tetapi mengapa saat ini saya menjadi bagian dari ketidaksetaraan? Saya tiba-tiba merasa tidak solider dengan amanat penderitaan rakyat.
Hilangnya kerelawanan

Barangkali, memang itulah elan vital yang telah hilang dari nurani kita. Gotong royong! Ke mana perginya dia? Kenapa kita semakin individualistis dan materialistis? Ke mana sikap dasar kerelawanan bangsa kita mengungsi?

Mana mungkin kegotongroyongan dan kerelawanan hidup di negeri yang melihat semakin lebarnya jurang antara kemiskinan dan kelimpahmewahan? Bukankah kegotongroyongan dan kerelawanan merupakan basis dari kesetaraan?

Ki Hajar Dewantara pernah berkata, "Tak mungkin akan tercipta kesetaraan bila elite tidak mencerminkan peradaban". Mungkin kalimat itu sebenarnya hanya sepenggal dari kalimat yang lengkapnya justru tidak diucapkannya. Bahwa bangsa yang beradab adalah bila elitenya juga beradab dan terdidik. Dengan kalimat lain yang lebih tidak sopan: elite yang tidak terdidik dan tidak mencerahkan justru menimbulkan kegelapan.

Kita berangsur-angsur telah menjadi bangsa yang sangat beragama. Tetapi, mengapa agama-agama yang indah itu ternyata juga gagal membangun karakter bangsa? Mengapa Departemen Agama justru merupakan salah satu sarang korupsi terbesar? Menurut saya, yang salah bukan agama. Yang salah adalah insan-insan yang bersembunyi di balik lembaga agama dan alpa bahwa tidak ada lembaga yang baik bila unsur-unsurnya tidak baik.

Lihat saja posisi kita di Indeks Pembangunan Manusia. Jelas sekali tampak bahwa kualitas kita sebagai sumber daya manusia secara rata-rata jauh tertinggal di belakang warga negara tetangga kita. Mana mungkin kita jadi bangsa yang unggul bila kita masing-masing ternyata adalah sumber daya manusia yang tidak terpilih?

Jangan tunggu pemerintah

Saya sungguh tidak menyebarkan sikap antipemerintah. Saya hanya ingin mengajak kita semua realistis menyikapi keadaan. Di alam modern, peran pemerintah memang harus menjadi semakin kecil karena masyarakat sudah mampu mengurus diri sendiri. Acap kali kita mengecilkan peran dan kemampuan swadaya masyarakat, lalu menyerahkan urusan-urusan yang sebetulnya urusan kita kepada pemerintah. Pemerintah sendiri sering tidak menyadari hakikat modern ini, dan merebut urusan masyarakat untuk diatur-atur.

Reformasi telah mengubah kita semua menjadi demokrat. Dalam alam demokrasi yang baru, kita telah memilih wakil rakyat di parlemen, presiden, gubernur, bupati, wali kota, bahkan lurah kita masing-masing. Tetapi, apa manfaatnya semua itu bagi kita? Apakah hidup kita telah menjadi lebih baik dengan kehadiran orang-orang yang kita pilih secara demokratis itu?

Kita telah membiarkan diri terjebak dalam prahara politik, dan karena itu kita telah kehilangan peluang untuk menentukan nasib kita sendiri. Mengapa kita biarkan kesejahteraan kita merosot? Mengapa kita izinkan kondisi keamanan dan ketertiban kita memburuk? Mengapa kita malah ikut serta dalam sistem yang membuat biaya pendidikan terus meroket?

Sangat boleh jadi kesalahannya terletak pada diri kita sendiri. Kita mengharap terlalu banyak dari pemerintah dan kaum elite politik, serta tidak melakukan apa-apa terhadap diri sendiri. Kita tidak pernah mencocokkan apakah kita sudah tiba pada titik yang kita ingini dalam roadmap pribadi kita. Atau, jangan-jangan malah kita tidak punya roadmap pribadi itu. Kita terlalu pasrah menunggu sampai pemerintah mengubah nasib kita. Kalau pemerintah yang sekarang belum mampu, mungkin pemerintah yang akan datang bakal mampu mengubah nasib kita. Lha, bagaimana kalau tidak?

Jangan bermimpi, Saudaraku. Rebut kembali nasib Anda. Be your best! Tuntut dirimu sendiri menjadi yang terbaik. Gembleng dan kembangkan dirimu menjadi yang paling unggul. Jangan tunggu orang lain mengubah nasibmu. Nasib kita hanya ditentukan oleh diri kita sendiri, seberapa hebat kita tampil di kancah persaingan. Jangan tunggu pemerintah memperbaiki sistem pendidikan karena kita berkemampuan mendidik diri kita sendiri. Jangan tunggu pemerintah membasmi korupsi karena kita sendiri dapat mulai menjadi sel antikorupsi.

Be your best! Ya, itulah barangkali dogma (code of belief) yang perlu menjadi resolusi kita semua dalam memasuki tahun 2008 yang penuh tantangan. Pupuk kembali elan vital diri pribadi, dan bersama-sama membangun kembali karakter bangsa. Visi bangsa ini jangan hanya memakai ukuran-ukuran ekonomi, tetapi juga memakai ukuran spiritual. Elemen-elemen keadilan, keramahtamahan, dan kegotongroyongan harus menjadi bagian dari visi kesejahteraan, keamanan, dan kestabilan.
Be your best! Kalau Anda sekarang jadi tukang sapu, jadilah tukang sapu yang terbaik. Kalau hari ini Anda menjadi pengemudi taksi, jadilah pengemudi taksi yang terbaik pula. Jangan dong kita hanya bisa menuntut seorang presiden yang hebat kalau sebagai akuntan saja ternyata kita masih bersedia disuruh membuat pembukuan ganda dan mengemplang pajak.

Jadilah lilin di tengah kegelapan. Jadilah lilin yang mencerahkan. Biarlah angin dan badai berembus, asal kita mampu terus menyala. Karena, kalau kita tidak menyala, kita akan mati.
Lamat-lamat, terdengar musik lembut di benak saya. Liriknya ditulis oleh Bernie Taupin. Musiknya oleh Elton John. …Like a candle in the wind/ Never knowing who to cling to/ When the rain set in….
Selamat Tahun Baru, Saudara. Semoga 2008 bawa berkat.


** Bondan Winarno - Tukang Makan, Tinggal di Pinggiran Bogor




Minggu, 23 Desember 2007

Untuk menutup akhir tahun 2007,
Alumni SMAN Tumpang Korwil Cyber
akan mengadakan hajatan "Rujak Party" pada :

Hari : Minggu
Tanggal : 30 Desember 2007
Jam : 10.00 s/d 14.00 Wib
Tempat : Sekitar Tumpang (tepatnya akan diumumkan menyusul)

Kepada segenap alumni diharap untuk bisa hadir di acara tersebut.

Untuk Pendaftaran, hubungi :
YUSTA - 0812 3329 590
DIAH - 0852 3497 2010

Semua free of charge !


salam,
"ACI Event Organizer"


Kamis, 09 Agustus 2007

Saking jarangnya ada kesempatan untuk pulang kampung, dalam kurun waktu 20 tahun terakhir aku seperti kehilangan informasi tentang daerah yang (dahulu) begitu akrab dengan kehidupan keseharianku. Minimal, kayak apa sih “perubahan” yang ada di sepanjang perjalanan ke arah Tumpang, itu yang menjadi obsesiku setiap akan pulang kampung di Pakis.

Nah, akhir bulan Juni 2007 kemarin niat itu kesampaian. Di akhir liburanku (lebih tepatnya : selama 4 hari menghadiri hajatan di rumah Mbak-ku yang di Pakis) aku sempatkan menikmati perjalanan dari Pakis – Tumpang (PP). Tidak naik mobil ataupun mikrolet, tetapi cukup dengan sepeda motor, biar pandangan ke kiri dan kanan jalan bisa lebih leluasa. Dan waktunya pun, mengambil tengah hari, sekitar pukul 11.00 s/d 12.30 wib.

Berangkat dari sekitar Kecamatan Pakis – ke arah timur – suasana sudah mulai nampak berubah (Ingat ! yang jadi panduan adalah suasana 15 – 20 tahun silam, lho). Mulai dari Polsek Pakis sampai pertigaan arah Jabung 90% sudah berubah total. Di kiri jalan sudah berderet ruko (dulunya taman, lapangan volley dan terminal dokar).

Terus, di kanan jalan sudah tidak nampak rumah rumah mungil warga di sekitar stasiun, yang ada (sebagai gantinya) adalah deretan toko dan minimart, bahkan Indomart berdekatan dengan Alfamart di depan pasar Pakis. Sampai di jembatan Sungai nJilu dan Randu Alas (Pakis Kembar), aku sengaja tidak begitu menghiraukan sekitar, karena akan lebih nikmat kalau cerita perjalanan dimulai dari Tumpang.

Tak sampai 30 menit aku sudah sampai Bank BCA (depan Gedung Bioskop). Barangkali Bank BCA menjadi “simbol” perubahan pertama yang ada di Tumpang. Tapi sayangnya, begitu menyusuri ke arah utara (Pakis), tidak nampak perubahan apapun. Pasar Tumpang tetap seperti 20 tahun silam, termasuk juga beberapa mikrolet TA yang ngetem di bawah pohon ringin. Trus deretan toko juga masih sama seperti dulu, Cuma penjaganya saja berbeda (mungkin yang duluuuu… itu, sudah pada tua kali ya ? Sekarang digantikan oleh anak, menantu, atau cucunya, hehehe…). Yang benar-benar hilang (karena tidak nampak satupun), yaitu dokar yang dulu masih berseliweran di seputar jalan raya Tumpang.

Depan Gang V sampai Gang I juga masih tetap seperti dulu (ihiks.. jadi inget Gang III, aku pernah kost 2 tahun disana soalnya…), Masjid Tumpang, Kantor Dinas Kehutanan (makin gersang…), daerah Kauman, Kantor Kecamatan, praktis tetap sama. Koq bisa ya ? Nah.., sampai di depan pegadaian (dahulu ada toko sepatu) trus deretan warung dan penggilingan padi (rumahnya) Taufiq, sekarang berubah total, jadi ruko dan Bank BRI yang lumayan besar, karena ATM-nya saja ada 2. Kalau Kantor Polisinya, ya tetap saja. Termasuk juga stadion Tumpang yang makin merana. Sampai depan Jl. Kamboja (gang masuk SMAN Tumpang) nggak ada perubahan, demikian juga seberang jalan yang menuju Sumber Ringin yang nampak ya itu-itu juga. Barangkali yang cukup menonjol adalah berdirinya SPBU yang ada di Malangsuko (ex rumah Kepala Desa), sebelah kiri jalan. Dan praktis sampai nJeru, suasana masih tetap seperti 15 tahun silam. Luar biasa !!!

Nah, baru ada perubahan lagi ya setelah jembatan pasar Jeru (itu lho, kalo belok kiri ada jalan turunan ke Precet). Beberapa deretan ruko berjejer rapi di sebelah kanan jalan, dan beberapa bangunan permanen maupun kios-kios buah cukup meramaikan sepanjang jalur ini, sampai pertigaan ke arah Ngluring (Luring ? kalau ambil/belok kanan). Setelah itu, sepanjang jalan desa Sukoanyar, sampai pertigaan nDumplul, blas relatif sama dengan beberapa tahun silam. Heran juga, kenapa bisa begitu statis kehidupan dan dinamika masyarakat daerah ini ya ?

Trus.., apakah ada perubahan di nDumpul (dan seterusnya) ? tunggu tulisan lanjutan di Bagian 2 !

Rabu, 04 Juli 2007

Kesempatan langka, bertemu langsung Bapak Kepala Sekolah
***

“Pihak sekolah tentu menyambut dengan senang hati dan mendukung,
jika benar para alumni masih mempunyai kepedulian pada perkembangan sekolah.
Mudah-mudahan ini bisa dilakukan oleh alumni di daerah lainnya.
Terus terang saya baru tau kalau alumni yang ada di
Jakarta lebih dari 150 orang.”

Ya.., itulah kalimat yang terekam dengan baik di kepala kami, yang diucapkan oleh Bapak Drs. Sugeng Hadiono, M.Pd. -- Kepala sekolah SMA Negeri 1 Tumpang -- saat kami (pengelola website & blog alumni SMAN Tumpang, red.) menyempatkan diri sowan pada almamater tercinta. Kami tak menangkap kesan formalitas dan basa-basi dari apa yang diucapkan Pak Kepsek (yang didampingin Pak Imam Gozali, WKS Urusan Kesiswaan), sebab yang kami perbincangkan adalah “laporan” perkembangan alumni secara umum (terutama yang aktif di dunia maya), maupun terbentuknya komunitas alumni SMAN Tumpang yang ada di ibukota Jakarta sendiri.

Perbincangan sekitar 15 menit, memang terasa tak cukup untuk melaporkan segala perkembangan yang ada pada alumni dalam skala tertentu. Tetapi, bahwa kami berupaya untuk tetap ada “ikatan” dengan almamater -- entah dengan pihak sekolah, maupun dengan adik-adik di OSIS -- itu tentu harus dinyatakan dengan bentuk konkrit, tanpa harus “berlindung” pada alasan kesibukan keseharian yang tidak lagi menyisakan waktu untuk hal semacam ini.

Tak terasa, perbincangan itu ternyata telah berlalu hampir 3 bulan. Tak ada niatan kami untuk mengabaikan semua hasil “kunjungan” tempo hari. Tetapi -- tanpa bermaksud mencari alasan (lagi) -- ibarat pepatah : tentulah tak akan mungkin sebuah bukit bisa dipindahkan hanya dengan kekuatan satu dua orang saja. Tak akan mungkin seekor induk gajah diangkat oleh seorang pengasuhnya semata. Dan ibarat “bukit” dan “gajah” tersebut, mana mungkin mensinergikan "sekolah-siswa–alumni" dalam sebuah kekuatan yang berdayaguna, jika hanya dilakukan oleh sekelompok alumni semata & (celakanya) justeru disaksikan oleh sekelompok alumni lainnya ?

Ah.., mungkin “mimpi” untuk membuat SMA Negeri 1 Tumpang lebih bisa dikenal dengan segala aktivitas dan prestasi oleh masyarakat luas, masih harus berkepanjangan. Tetapi, apakah hiya diantara kita (ribuan alumni) yang sudah di-entas-kan oleh almamater Jl. Kamboja 10 Malangsuko, tidak ada yang ingin BANGUN dan menyingsingkan lengan untuk kebaikan seluruh komponen yang ada di sekolah yang pernah kita banggakan ini ?

Rabu, 30 Mei 2007

Mengenang awal-awal gedung (baru) SMA Negeri Tumpang – yang berlokasi di seputaran Kebun Tebu Malangsuko, saat itu – baru dihuni, tentu banyak “nostalgia” yang bikin kita senyum-senyum sendiri, kalau dibandingkan dengan kondisi jaman sekarang. Setidaknya, di awal tahun 80-an yang paling mencolok di kalangan siswa (baca : antar jurusan) adalah berlomba-lomba membikin kaos kelas, disusul membuat slogan untuk identitas kelas, dan (ini bisa jadi disebabkan karena sekolah yang masih gersang) lomba bikin taman dan patung !

Mungkin, untuk saat sekarang bikin kaos kelas adalah hal lumrah (dan sedikit katrok ?), karena ingin menunjukkan ke-identitas-annya semata. Tapi di tahun 80-an kaos kelas lebih menjadi simbol perekat dan solidaritas teman sekelas (dan se-jurusan). Simbol dan logo juga bisa menunjukkan jatidiri kelas itu sendiri, misalnya untuk jurusan sosial (IPS, yang kemudian diganti A3) menamai kelompoknya dengan : GENESIS (Generasi Sosial Siji), GENSOS (Generasi Sosial) atau juga GANAS (Generasi Anak Sosial). Lucunya, gambar kaos hampir keseluruhan jurusan justeru mengambil gambar silhuet warna hitam dari tokoh-tokoh seperti Bob Marley, Iwan Fals, Robert De Niro, Jaka Sembung sampai Charles Bronson ! Belum lagi masalah warna, mulai dari yang putih polos, hijau tua, biru mudah, sampai hijau pupus (hehehe… seluruh kelas koq ya setuju memakainya, ya ?).

Nah.., untuk memacu semangat belajar di kelas, ternyata tak hanya gambar pahlawan nasional ataupun peta Indonesia saja yang “wajib” dipasang, tetapi tiap kelas disarankan untuk membuat slogan “penyemangat”. Maka tulisan (yang ditempel di dinding belakang atau samping atas di dalam kelas) seperti : Ambeg Parama Artha, Jer Basuki Mawa Bea ataupun Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe bertebaran di tiap kelas. Dan – ini yang jadi pemicu ger-geran di dalam kelas – seringnya guru-guru mengomentari slogan itu dengan nyeleneh, bahkan ada yang dengan serius menyoroti dari segi mistis segala.

Yang terakhir, tentu saja lomba membuat taman dan patung. Waduuuh… ini perlu tenaga dan dana lumayan, untuk beli kembang dan rumput, bambu untuk pagar, semen dan besi rangka untuk patung, dan minuman dingin untuk yang kerja. Bagi yang kreatif, untuk ngirit bisa saja nyolong kembang dan rumput di sepanjang jalan ataupun sekitar kawedanan (hehehe… ini lokasi sasaran empuk nampaknya !). Yang pasrah, ya urunan dan bawa dari rumah. Hasilnya, setidaknya ada tiga patung yang fenomenal, pertama : Patung Budha karya I-5 (spesifik : Syamsu Muhajir, kakaknya Adhim Musyafak), Patung Kermit karya IPS-2 (Cak Hery mesem-mesem iki..), terus Patung Abstrak Baca Buku karya A4 (Bahasa) yang terletak di depan Laboratorium IPA.

Apapun itu, aktivitas diatas diakui atau tidak juga ikut serta memberi warna perjalanan panjang SMA Negeri Tumpang, almamater kita tercinta. Ciri khas generasi berikutnya ? Cobalah anda untuk menuliskannya.., tentu dengan versi dan sudut pandang yang berbeda. Menarik bukan ?

Selasa, 29 Mei 2007

Kumpul dengan Pengurus OSIS, duuuuh.... jadi ingat saat SMA dulu !
***

Lama tidak buka blog alumni, ternyata sebuah “kesalahpahaman” muncul dari kolom Kotak Saran. Sebenarnya (nampak) sepele, yaitu salah seorang siswa SMAN Tumpang (Hermawan, red) memberikan pelurusan nama Ketua OSIS SMAN Tumpang saat ini : Agung. Tetapi, dalam kalimat berikutnya Hermawan menulis sebuah kalimat pendek – yang tentu akan membuat sakit hati yang dituju – yang bunyinya : Buat lutfi, jangan menfitnah diri sendiri.

Waduuuh…, ini benar-benar salah paham ! Yang menulis Lutfi sebagai Ketua OSIS SMAN Tumpang (dalam tulisan yang berjudul : Selamat Ulang Tahun, SMA-ku !) adalah pengelola blog, karena dalam email yang dikirim ke redaksi www.smantumpang.com Lutfi memang berbicara sebagai Pengurus OSIS periode saat ini. Dan celakanya, ini diinterpretasikan oleh kami-kami (penulis di blog, red) bahwa Lutfi ini adalah Ketua OSIS yang pernah bertemu dengan pengelola blog beberapa waktu silam.

Kesimpulannya, Lutfi nggak salah. Karena memang Lutfi tidak pernah “mengaku-aku” sebagai Ketua OSIS. Justeru tulisan di blog inilah yang salah, karena menulis Lutfi sebagai Ketua OSIS. Dan sebagaimana layaknya, pengelola blog Alumni SMAN Tumpang memohon maaf yang sebesar-besarnya terutama kepada Pengurus OSIS dan segenap Pembina-nya, yang mungkin kurang enak dengan kejadian ini. Intinya, tidak ada maksud apapun dibalik kekhilafan ini.

Untuk Lutfi, maju terus pantang mundur. Kiriman artikel dan berita-berita “panas” dari SMAN Tumpang tetap kami tunggu. Untuk Hermawan, terima kasih atas ralatnya. Ini membuktikan, bahwa BLOG ini telah menampakkan (salah satu) fungsinya, yaitu sebagai sarana komunikasi tidak hanya sesama alumni, tetapi juga bagi adik-adik yang masih aktif belajar di SMA Negeri Tumpang. Salam !

Labels

Alumni (21) Amerika Serikat (1) Angkatan 1995 (1) Anti Korupsi (1) Arab Saudi (1) Arema Malang (1) Artikel (8) ASEAN (1) ay kusnadi (1) Ayusta (1) Bahasa (2) Balitjestro 2008 (1) Bandung (1) Bank Mandiri (1) Bantuan Operasional Sekolah (1) barongan (1) Basketball (1) bca (1) Beasiswa (19) Berita (3) berita duka (1) BHMN (1) Bimbel (1) Biodiversity (1) Bisnis (1) bisnis online (1) Blog (5) bondan winarno (1) BOS (3) Buku (1) Buku Paket (1) Bulan Bahasa (1) Bullying (1) Bursa Kerja (1) Candi Kidal (1) Class Meeting (1) Dee (1) dollar gratis (1) Dumpul (1) dunia maya (1) Ekstrakurikuler (5) Facebook (2) Fair Play (1) Fisika (1) Friendster (1) Futsal (1) gado gado (1) Global Warming (1) Google (1) Gunung Tabor (1) Guru (10) Gus Dur (1) HUT ke-30 (1) IKAPALA (1) imam gozali (1) Inggris (1) Inspirasi (1) Internet (1) IPB (1) Iptek (3) Istana Negara (2) ITB (1) Jabodetabek (1) Jambi (1) Jawa Timur (4) Jepang (1) jerman (3) Jeru (1) Jilu (1) Jombang (1) Jusuf Kalla (1) Kabupaten Malang (4) kampus (1) karir.com (1) Kegiatan (1) Kelas A4 (1) Kelas XII (1) Kemendikbud (3) Kemendiknas (1) Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan (1) Kepala Sekolah (1) Kesehatan (3) KH. Abdurrahman Wahid (1) Kiat Jitu (1) Komik (1) Komunitas (1) kosmetika (1) Kota Batu (1) Kota Malang (5) Kuliah (1) kuliner (1) kusti (2) launching (1) Lingkungan (1) LIPI (1) Lowongan (1) Lulusan 2008 (1) M. Nuh (1) Mahasiswa (2) Mahasiswa Baru (2) Mahkamah Konstitusi (1) maknyus (1) Malang (3) Malang Raya (1) Malangsuko (1) Malaysia (1) Matematika (1) Mendiknas (1) Mendit (1) Menkominfo (1) Menulis (2) Menulis Ilmiah (1) Minat Baca (1) Motto Kelas (1) nDangdut (1) Nostalgia (2) Otonomi Daerah (1) Pahlawan Nasional (1) pak temun (1) Pancasila (1) panggung terbuka (1) Pelajar (1) Pelajaran (1) Pemerintah (1) Pendidikan (11) Pendidikan Nasional (6) Penelitian Ilmiah Remaja (2) Perbankan (1) Perguruan Tinggi (3) Perguruan Tinggi Swasta (2) Permen Karet (1) Pertamina (2) Pilkada (1) PMP (1) PMR (1) Pornografi (1) pramuka (2) Precet (1) Profil (2) PTN (3) PTS (1) Redaksi (1) remaja (2) reuni (5) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (3) Riset (1) RSBI (4) Rujak Cingur (1) S-1 (1) S1 (1) S2 (1) S3 (1) Sains (1) Sarjana (1) SBI (1) SD (5) Sejarah (3) Sekolah Hijau (1) Sepakbola (2) sepeda (1) Situs (1) SMA (17) SMA Kebon Tebu (1) SMAN 1 Malang (1) sman tumpang (3) SMANETA (10) Smansa (1) SMK (1) SMKN Turen (1) SMP (4) SNMPTN (2) SNMPTN Online (1) soeharto (1) STT Telkom (1) sugeng hadiono (1) Sukoanyar (1) Surabaya (1) Tahun 2013 (1) Tahun Baru (1) Taiwan (1) Tawuran (1) teknologi (3) Tes Online (1) Tips (5) Tomik HS (1) Trik (1) Try Out Online (1) Tulus Ayu (1) Tumpang (2) UAN (2) UASBN (1) UGM (2) UI (1) Ujian (2) Ujian Akhir Nasional (1) Ujian Nasional (5) Ujian Nasional 2010 (1) Ujian Nasional 2011 (1) Ujian Nasional 2012 (1) UM (1) UMB (1) UN (7) UN 2010 (5) UN 2012 (1) Universitas (1) Universitas Brawijaya (1) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (1) Universitas Paramadina (1) UNS Solo (1) Virus (1) wafat (1) Wakil Gubernur (1) website (2) Wendit Water park (1) Wisata (2) wisnuwardhana-narasinghamurti (1) www.smantumpang.com (1)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!