Jumat, 28 Maret 2008

Hari ini, tepatnya tanggal 28 & 29 Maret 2008, diadakan acara syukuran dan berbagai acara lainnya dalam rangka perayaan HUT sekolah kita (SMANETA) yang ke-30, di areal gedung sekolah yang beralamat di Jl. Kamboja 10 malangsuko, Tumpang. Dan, meskipun kami para Alumni -- yang saat ini tersebar di seluruh tanah air dan mancanegara -- tidak bisa hadir secara fisik di lokasi acara bersama Keluarga Besar SMA Negeri 1 Tumpang lainnya, tetapi kami tetap bisa ikut merasakan getar suka cita hari jadi SMANETA ini.

Berbagai kenangan -- entah suka, duka, terhadap teman, guru dan segala sesuatu yang berhubungan dengan SMANETA -- jelas masih melekat di hati masing-masing kami, para Alumni. Untuk itulah, kali ini kami menampilan “suara alumni” khusus kenangan selama menjadi siswa SMANETA, yang kami beri judul : SMANETA di Mata Kami …


Bicara SMANETA, yang langsung terbayang adalah Romansa SMA. Hehehe.., geli aja kalo liat temen-teman berpacaran di kala itu. Saling men-comblang-i deh pokoknya. Walaupun saya sendiri tidak pacaran. Hanya aktif di OSIS bidang Kesenian, dan tampil menari kalo ada event wisuda dan ultah SMA.
Paling mngesankan, dimarahin sama Bu Tutik (guru matematika) kalo pake baju kedodoran nggak rapih atau contek-contekan pas ulangan. Tapi sekarang selalu nanyain aku kalo Beliau ketemu sama ibuku.
Dari lulus tahun 1997 belum pernah nyambangi SMA lagi, ada kerinduan tersendiri. Semoga dalam waktu dekat ada masa untuk kembali bersilaturahim dengan SMANETA, Insya Allah. Selamat Milad SMANETA semoga ada peranan dalam dirimu untuk melahirkan insan-insan bertaqwa yang berguna untuk bangsa dan negara amin.

Dian Eka Anggraini
Alumni/Lulusan 1997 (IPA-2)


Ketika pertama kali kaki menginjak masuk halaman SMANETA (waktu itu tahun 1992), kalau memandang bangunan SMANETA, terus terang agak kurang tertarik. Maklumlah kondisi fisiknya kalah dengan bangunan SMPN 1 Tumpang. Tapi perlahan tapi pasti rasa itu terkikis, seiring dengan SMANETA yang mulai berbenah. Waktu itu yang jadi kebanggaan adalah gedung Aula, gedung serba guna SMANETA. Itu soal bangunan fisik, dan tentunya sekarang jauh lebih megah gedung-gedungnya.
Banyak kenangan indah saat di SMANETA. Mulai dari teman-teman OSIS (yang jadi Ketua-nya Audzu Waiyin dan Wakasek Kesiswaannya pak Prianggono), sampai kenangan dengan teman sekelas di Fisika (kalau kita basket, kalah ataupun menang rasanya seperti juara NBA saja). Pokoknya, kalau ditulis satu per satu wah banyak banget. SMANETA, selamat ulang tahun, semoga panjang umur, semoga lebih bagus lagi, setidaknya selalu menjadi sekolah unggulan di Malang Raya.

Happy Hendra
Alumni/Lulusan 1995 (Fisika)

Mencoba menggali ingatan tentang SMANETA. Ternyata masih begitu banyak kenangan yang membekas, padahal udah 15 tahun yang lalu. Masih ingat benar suasana sekolah, guru-guru, juga teman-teman khususnya temen sekelas. Waktu itu ada 2 kelas untuk jurusan A1, tapi karena penghuninya cuman sedikit akhirnya digabung jadi satu. Jadilah kelas kami menjadi kelas yang rame, padat penghuninya, tapi asik....Kenangan SMANETA rasanya gak akan pernah habis untuk diceritakan. Sekarang dengan performance SMANETA yang baru, smoga semuanya jaauuuuh lebih baik dari waktu lalu. 30 tahun bukan perjalanan yang singkat, perjalanan yang panjang penuh perjuangan. Selamat Ulang Tahun SMANETA, semoga panjang umur, semakin sukses dan bisa menjadi sekolah teladan.

Khamilatur Rodliyah
Alumni/Lulusan 1993 (A1)


Gak terasa waktu belajar di SMANETA sudah berlalu 13 tahun yang lalu. Kenangan dengan Ibu / Bapak Guru, temen-teman OSIS, TPC (Pak Ketu, Kids, Halim, Happy dan Hary), dan masih banyak yang gak terwakilkan, salam rindu, I Miss U All. Selamat ulang tahun SMANETA, semoga berkah.

Budi Laksono Putro
Alumni/Lulusan 1995 (Jurusan A1)


Waaah senangnyaaa, jadi inget dulu. Yaah biar cuma setahun di Tumpang, tapi tetep jadi kenangan banget. Waktu jaman-jamannya olahraga (gak bakal lupa deh) lari keluar sekolah yang ampun-ampunan jauhnya, jalannya terjal mau motong jalan dilihatin guru. Teruuuus guru Fisika-nya (ibu Dewi kalo gak salah), ngajarnya keren banget, bikin semangat pas jam pelajarannya. Ehm dulu aku di SMA Negeri Tumpang sekitar tahun 2003/2004 lah.

Jasmine
Satu Tahun di SMANETA : 2003/2004


Jujur saja, aku agak terkejut dengan perkembangan pesat yang terjadi di SMANETA, setelah aku lulus 21 tahun silam. Luar biasa, sekarang ada gedung berderet-deret, aula tertutup yang besar dan juga pepohonan yang begitu asri. Mudah-mudahan ini diimbangi dengan kualitas SDM-nya (baik guru, siswa & alumninya). Yang selalu aku usulkan ke SMANETA – setiap mengadakan kunjungan ke almamater, hehehe… -- agar masalah Teknologi Informasi (TI) juga mulai diprioritaskan. Sebab ini akan menjadi parameter kemajuan sebuah institusi pendidikan. Semoga didengar !

Sugeng Pribadi
Alumni/Lulusan 1987 (A3-2)



Sudah 16 taun saya tidak pernah menginjakkan kaki di SMANETA. Tapi yang pasti segala kenangan yang ada dengan guru dan teman-teman tercinta akan tetap ada sepanjang perjalanan hidup saya. SMANETA, selamat ulang tahun, semoga makin maju dan terima kasih buat semuanya.

Rina Septiani
Alumni/Lulusan 1992 (A3-2)


Sudah 15 tahun saya meninggalkan smaneta dan belum pernah sekalipun menginjakkan kaki lagi disana setelah lulus tahun 1993. Tentunya makin baik, dan berharap tambah baik, tapi yang pasti segala kenangan yang ada dan pernah saya lalui disana akan tetap ada dalam hati saya.SMANETA slamat ulang tahun smoga makin maju dan terus maju.

Ely Kristiana F
Alumni/Lulusan 1993 (A3-1)


Wah kalo ditanya SMANETA sekarang seperti apa, pastinya nggak begitu tau, meskipun ada teman baikku yg sekarang jadi guru disitu. Pengen banget sekali waktu main kesana (seperti Happy dan rekan yg lain) untuk sekedar bernostalgia. Banyak kesan indah disekolah itu, dari "perang klandingan", ditampar pak Pendik, di skors 2 minggu gara-gara tidur dikelas. Sepatu dirampas gara-gara gak pake kaus kaki, pergi ke "orang pinter" untuk nanya mesin ketik yang ilang di sekertariat, ada yang kesurupan saat LDKCP OSIS, wah banyak banget cerita yang begitu berkesan.
Kalau pun ada "Hiro Nakamura" yang menawari untuk balik kemasa itu, dengan senang hati aku terima.

Yusuf Ari W.
Alumni/Lulusan 1994 (A1-1)

Senin, 10 Maret 2008


UAN telah tiba… UAN telah tiba, horee… horeee… horee…!!!
Hehehe…, bukannya meledek – dengan pelesetan lagi anak-anak "Libur Telah Tiba" yang ditenarkan Tasya diatas – tapi memang inilah saat yang ditunggu-tunggu para penghuni kelas XII dengan harap-harap cemas. Ya Ujian Akhir Tahun (UAN) akhirnya akan dgelar serentak di bumi nusantara mulai tanggal 22 April 2008, yang mulai tahun ajaran ini (2007/2008) standar untuk lulus Ujian Nasional mencakup 6 mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan mata pelajaran yang menjadi ciri khas program pendidikan.

Sebagai kakak kelas yang baik hati dan tidak sombong – ceileee…, baru jadi alumni aja udah belagu – ada beberapa petuah yang siapa tau bisa dijadikan acuan tambahan, dalam menghadapi UAN bulan depan. Kiat jitu “menghadapi” Ujian Akhir Nasional ini dirangkum dari pengalaman berbagai orang sukses (lha buktinya bisa menuliskan dalam bentuk KIAT kan ?), yang mungkin selama ini belum pernah terpikirkan oleh kamu-kamu yang akan UAN.

Siapa tau (ingat ya : siapa tau lho !) tulisan ini bisa membantu menambah spirit dalam berjibaku melawan UAN, yang (katanya) selama ini menjadi momok siswa kelas XII. Udah siap ? Berikut rangkumannya :

1. Jangan jadi katak dalam tempurung : Artinya tuh sedikit-sedikit usahakan belajar kelompok or diskusi dengan teman-teman sejurusan. Sambil mengukur kekuatan juga, jangan-jangan kita selama ini merasa sok pintar, tapi nyatanya tidak ada apa-apanya dibanding teman lainnya.

2. Tidak perlu ngoyo belajar di malam hari : Tau kan akibatnya, begitu pagi sampai sekolah, bukannya ingat yang dibaca semalam, tapi malah ngantuk doank. Jadi belajar malam sifatnya sekedar mengingat materi saja. Trus jangan lupa juga berdoa sebelum tidur, karena doa akan membuat mental kita bebas dan lepas, sekalian biar bisa nyenyak tidur kan ?

3. Faktor non-teknis (sebelum berangkat ujian) : Catat ya : mandi pakai sabun wangi dan jangan lupa keramas dan gosok gigi, karena badan yang segar akan sangat membantu dalam berkonsentrasi. Sarapan secukupnya, jangan sampai saat mengerjakan soal soal ujian, eeeh di otak hanya ada hasrat pengen makan atau pengen ke WC. Hilang tuh jadinya konsentrasi.

4. Faktor non-teknis (persiapan internal) : Yaitu : pakai pakaian seragam yang paling kamu suka, jangan lupa harus bersih dan disetrika, sehingga menambah PD (baca : Pe-De) ketemu teman-teman dan pengawas ujian. So gak ada lagi pikiran yang bisa mengganggu konsentrasi.

5. Konsentrasi diatas segalanya : Sampai lokasi jangan sampai telat, karena kalau telat ada kemungkinan harus lari kencang menuju ruang ujian. Lagi-lagi ini membuat konsentrasi berkurang, bahkan buyar. Saat di ruang ujian berdoa lagi sebelum mengerjakan soal. Trus, siapkan alat tulis, peraut dan penghapus tepat di depanmu. Usahakan semua harus baru dan dalam keadaan siap digunakan. Dan, duduk tegak tapi rileks dan bersandar pada kursi, baca soal dengan hati-hati dan penuh konsentrasi.

6. Atur strategi di ruang ujian itu perlu : Saat membaca soal usahakan hanya mata yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Usahakan (lagi) atau paling tidak minimalkan gerakan lain seperti gerak bibir, tangan atau bersuara, karena gerakan-gerakan itu hanya akan membuang energi sia-sia dan bisa mengganggu konsentrasi. Lantas, buat perhitungan berapa jumlah soal minimal yang harus dijawab dengan benar untuk memenuhi standar lulus, sehingga kita tahu mana target utama yang harus dicapai dan mana target berikutnya.

7. Jangan umbar energi sebelum tuntas : Nah, selesai ujian hari itu segera pulang dan beristirahat sehingga energi untuk besok pulih kembali.

Jurus-jurus ini tidak perlu dihafal sampai berhari-hari. Sekali baca, asal dimasukkan dalam hati dan pikiran, pasti ada energi positif yang menjalar keseluruh tubuh, dan pada saatnya nanti (saat UAN maksudnya) energi ini akan bereaksi menjadi unsur rasa percaya diri dan konsentrasi. Percayalah !

***

Disusun dari berbagai sumber, oleh :
Kesatuan Alumni Peduli Adik Kelas (KAPAK)
SMA Negeri 1 Tumpang (SMANETA) - Wilayah Cyber
10 Pebruari 2008

Rabu, 05 Maret 2008

Kalo yang namanya bikin nama Gang (bhs. Inggris = kelompok, gerombolan) -- bukan Gang Bima, Gang V atau Gang Senggol lho..! -- tentu bukan hanya monopoli anak tongkrongan semata. Saat kita di SMP ato SMA dulu (ini bagi yang sudah alumni), pasti masih ingat sebutan kelompok kelas masing-masing, baik yang terkesan sangar atau malah kembali ke jaman Ki Hajar Dewantara, karena saking jadul-nya motto yang dicantumkan untuk kelompok kelasnya.

Contohnya nih : di tahun 1987, ada nama “sebutan” kelasnya AMBEGPRAT (keren juga sih, tapi nyatanya ini kependekan dari Ambeg Parama Artha, hehehe…), trus jauh sebelumnya di tahun 1983 ada yang menamakan kelasnya GENSOS (tau donk kepanjangannya : Generasi Sosial), dan masih banyak contoh-contoh lain tentunya (dilarang protes, bagi yang protes ato mo nambah, silahkan bikin tulisan tersendiri ! Nah lho...)

Nah.., untuk generasi sekarang, ternyata nama GANG itu masih melekat di tiap kelas. Seperti yang diinformasikan oleh Meirza Rizky – nama beken di friendster : SasHa aMoi – siswi kelas XII IA-3 SMA Negeri 1 Tumpang, yang sebentar lagi katanya mo Ujian Akhir Nasional (UAN). Doa’in ya, semoga SasHa berhasil dan bisa lulus & meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, sesuai yang dicita-citakan (haiyaaah… koq malah ngajak kenduren, hehehe…).

Kalo nggak percaya, nih foto-foto penghuni kelas XII IA-3 SMANETA, yang lebih dikenal dengan nama Gang “Mak Thonk-thonk & GJ community” (Nah kan, anak sekarang kalo bikin nama genk lebih kreatif dan gimanaaaa… gitu !).



GJ Community bersama Pak Prianggono



GJ Community, SasHa yang mana ya ?

***



Sebagaian materi tulisan ini dikirim oleh :
Meirza “SasHa” Rizky
Klik fs-ku : SasHa aMoi

Minggu, 02 Maret 2008

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Barangkali itu peribahasa yang cocok dengan penggambaran apa yang diceritakan oleh Kusti -- alumnus SMAN 1 Tumpang & IPB Bogor -- yang saat ini melanjutkan studinya di Jerman. Selain bangga dengan keberhasilan Kusti, tentu pengetahuan khasanah budaya kita akan semakin bertambah, dengan tulisan-tulisan perjalanan dari negeri benua biru, semacam yang dikirim Kusti via email ke milist SMAN Tumpang, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya :

Sepeda (onthel) adalah salah satu yang membuatku shock ketika pertama kali menjejakkan kaki di benua Eropa, 2005 lalu. Bagaimana tidak, di lingkungan kita -- di kampung apalagi di kota -- sepeda sudah semakin terpinggirkan, bahkan tidak dapat tempat (dalam arti sebenarnya).

Kalau di kampung, sepeda onthel sepertinya sudah tidak dilirik sama sekali, kalah sama HONDA dan YAMAHA, juga motor CHINA. Sedang di kota, nggak ada lagi kenyamanan bersepeda (sebagaimana pejalan kaki), karena angkot yang kebanyakan ugal-ugalan sak enake dhewe atau keganasan bus kota.

Kondisi tersebut berbeda 180 derajat (pas, nggak kurang atau lebih...hehehe) dengan yang ada di daratan Eropa. Umumnya ada jalan khusus untuk sepeda (biasanya berdampingan juga untuk pedestrian). Bersepedapun nyaman. Makanya nggak mengherankan kalau sepeda yang parkir di statsiun lebih banyak daripada jumlah mobil yang parkir. Mobil biasanya dipake kalo pas musim dingin (banget). Itu prolognya (kepanjangan ya...hehehe).

Ok, sekarang tentang sepeda merah putih. Sepeda tersebut (yang di Barcelona diberi label "BICING"), digunakan oleh turis dan juga penduduk setempat. Sistem sewanya sudah pake mesin, yaitu tinggal masukkan koin, kemudian dapat tiket (atau kartu) yang juga berfungsi sebagai "kunci gembok". Di mesin tersebut tercantum juga lokasi "halte" bicing. Sepeda dapat dikembalikan di halte manapun, cuma tergantung lama sewa, tentunya. Kalau nggak salah 30-50 cent untuk setengah jam.

Untuk di Jakarta, barangkali nggak perlu yang sistem mesin gini, cukup pake orang aja kali ya yang jaga, itung itung juga ngurangi pengangguran, selain juga (kalau pake mesin kayak di Eropa) mahal. Jadi ada beberapa spot (halte), yang sekaligus juga disediakan loket penjualan kartu (sewa) sebagaimana sistem parkir di perkantoran Jakarta. Sementara itu cerita dari benua biru, semoga bermanfaat.

salam,
Kusti (Jerman)

Senin, 11 Februari 2008


Nampaknya, magnet sekolah kita (baca : SMA Negeri 1 Tumpang) begitu kuat daya tariknya, sehingga alumni yang telah lama lulus – maupun yang baru di wisuda – tak kuasa untuk melupakannya. Dengan berbagai alasan yang ada, keinginan kuat untuk “datang” kembali ke sekolah terus bermunculan. Dan salah satunya adalah Happy Hendra, alumni tahun 1995 yang sekarang bekerja di Kota kediri, di awal Februari 2008 berkesempatan untuk nostalgia masa-masa sekolah dulu, dengan mendatangi langsung SMA kita. Berikut penuturannya :

Hari sabtu 9 Februari 2008, kami jalan-jalan ke smanet. Sesuatu yang sangat menyenangkan. Alhamdulillah kami bertemu guru-guru semasa kami masih di smanet, yaitu : Bapak Prianggono, Bapak Sudjianto (Pak Antok), Ibu Runia, Pak Kandar, Ibu .... (lupa namanya, mengajar agama Islam, pakai jilbab), dan Pak Kusnadi (sudah pensiun sepertinya) serta pak Sayit (dulu staf TU). Kami memang sudah lama ingin sekali menengok dan mengenang peristiwa-peristiwa semasa SMA dulu dengan mengunjungi smanet.

Bangunan fisik memang banyak sekali perkembangannya dibanding waktu kami dulu (angkatan 95). Banyak gedung/kelas-kelas baru. Yang tidak berubah dan tetap semangat, awet muda, selalu tersenyum dan pasti kocak adalah pak Prianggono. Beliau dulu menjabat Wakasek Kesiswaan -- dan sekarang kembali menjabat Wakasek Kesiswaan -- setelah sempat tidak menjabat wakasek kesiswaan selama 10 tahun. Pak Antok penampilannya agak kurus, Ibu Runia memakai jilbab.

Oh ya kami juga sempat menikmati bakso di kantin smanet, dekat lapangan basket. Kami berkeliling di lingkungan smanet. Kami menyebut SMA Negeri Tumpang dengan nama singkatan Smanet (tanpa ”a” dibelakang) karena nama itulah yang kami pakai sewaktu kami masih bersekolah di sana.

Untuk melihat foto-foto selengkapnya, klik DISINI !

Senin, 04 Februari 2008


Hari-hari mengikuti ke”edanan” bersepakbola mengingatkanku ketika masih sekolah di SMANETA kelas I–4 tahun 1987/1988 hingga kelas III Bio 3 tahun 1989/1990 (berarti aku naik kelas terus). Sepakbola bayaran yang salah dari jalur olahraga, kalau ketahuan guru ataupun FIFA bisa dihukum tidak bermain selamanya karena mental kami waktu itu disamping senang-senang, jaga wibawa dengan gila kemenangan, tapi diiringi dengan taruhan uang. Suatu kegiatan yang patut tidak ditiru oleh penerusnya.

Secara kebetulan letting kami sekelas di kelas I-4 yang laki-laki pada hobby sepakbola. Sangat antusias kalau olahraga bebas mainnya bola, apalagi kalau ada info selanjutnya (jam) pelajaran kosong. Timbul ide bersama kawanan lain kelas (kawanan … kayak gajah aja) menantang bermain sepakbola, tentunya juga taruhan uang untuk menentukan siapa yang jago daripada cuma bisa ejek-ejekan saja. Dan ternyata sederek2 … kamilah jagoan antar kelas periode tersebut.

Pada gebrakan pertama, berbekal uang “sumbangan kawan sekelas” untuk taruhan Rp. 5.000,- / Rp. 10.000,-an / Rp. 20.000,-an dengan team kelas lain, pada hari minggu bermain di stadion Tumpang, dengan semangat tanding dan teknik yang lumayan kami bisa mengandaskan permainan anak kelas I-3 yang kala itu diperkuat oleh rombongan Jumari, Agus D. Saputro, Faisol, Ateng nDeteng, dkk. Tak jeri dengan permainan kami, minggu depannya ngajak main dan lagi–lagi kalah.


(selengkapnya, KLIK DISINI ! )


Kiriman :
PUJI SUGIARTO - Jambi
(Alumni III Bio-3, Lulusan 1989)

Jumat, 01 Februari 2008


Tradisi tahunan menggelar Bulan Bahasa masih tetap berjalan, termasuk di akhir tahun 2007 kemarin. Untuk Bulan Bahasa 2007, acara digelar selama 3 hari penuh. Beberapa mata lomba “wajib” tetap ada, seperti Lomba Reporter dan Pidato bahasa Inggris, Lomba Baca Puisi, dan juga Lomba Fragmen. Seperti biasa, lomba diikuti oleh hampir semua perwakilan kelas.

Secara umum, kualitas peserta lomba lebih bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan tentu ini sebuah perkembangan yang menggembirakan. Paling tidak, bahwa salah satu tujuan Bulan Bahasa 2007 untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pemahaman fungsi bahasa itu sendiri, benar-benar tercapai.

Selain lomba, Bulan Bahasa 2007 juga diisi dengan Bazaar Buku (diadakan di Aula SMANETA), dan berbagai hiburan mulai dari Dance, Pembacaan Puisi, dan juga Pergelaran Musik. Yang menarik, antusiasme siswa sangat besar dibanding tahun sebelumnya. Ini bisa dilihat dari tidak beranjaknya seluruh siswa di Aula saat acara berlangsung, sampai acara benar-benar selesai.

Bisa jadi selain acara memang menarik, penyebabnya adalah didatangkannya bintang tamu dari sekolah lain untuk grup band penghibur. Selain itu, konsep jitu yang disajikan panitia ini didukung sepenuhnya oleh guru pembimbing.

Sebagai pemenang untuk beberapa lomba yang diadakan diantaranya adalah :
Juara Lomba Reporter : Umi Ilma
Juara Lomba Baca Puisi : Santi P (12 IA-1)
Juara Lomba Fragmen : Kelas 12 IS-2
***
Laporan : Rachzal 12 ia-2

Selasa, 29 Januari 2008

Futsal masuk sekolah ? Udah kuno tuh..! Jadi tak heran kalau masa hari “bebas” setelah ujian semester (pertengahan Januari 2008 lalu) dilakukan kegiatan pertandingan Futsal antar kelas (khusus kelas 10 dan 11). Memang sih, bukan hanya Futsal aja yang dipertandingkan – karena ini bagian dari classmeeting tahunan – namun perlu dikedepankan karena suasana serunya itu lho.

Pertandingan sendiri mengambil tempat di Lapangan Basket SMA Negeri 1 Tumpang (SMANETA gitcu looch !), yang kelihatan makin sumpek saja, karena bukan lagi dikelilingi pagar kawat yang bisa melihat pemandangan nun jauh disana, tetapi sudah ditembok permanen di sekelilingnya.

Selama pertandingan diadakan, aman-aman saja. Tidak ada pemukulan terhadap wasit, tidak ada kerusuhan suporter (baik dari kelas yang selama ini kalem-kalem saja, maupun kelas yang terkenal beringas dan brutal, hehehe…), dan tidak ada protes keras dari wali kelas karena anak asuhnya kalah. Semuanya aman terkendali, semua memegang azas fair play, pokoknya peace maaan !

Sebagai campione di Pertandingan Futsal Class Meeting 2008 adalah : Kelas 11 IS-2, yang dengan sukses mengkandaskan adik kelasnya di final (dan harus puas menduduki Juara II), yaitu Kelas 10-8. Sukses untuk sang Juara !
***
Tulisan kiriman dari : Rizal Rinaldi, 12 IA-2
Note : Foto hanya ilustrasi.

Minggu, 27 Januari 2008



Innalilahi Wa'inailaihi Rajiun

Turut berduka cita yang sedalam dalamnya
atas wafatnya :

Bapak H.M. Soeharto
(mantan Presiden RI ke-2)

Minggu, 27 Januari 2008 ; Pukul 13.10 Wib
Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, amin.


Jumat, 18 Januari 2008


Arema jadi “lakon”, Arema (dan Aremania) jadi pusat berita di semua media cetak maupun elektronik nasional, sebagai imbas dari Tragedi Stadion Brawijaya Kediri, 16 Januari 2008 lalu. Ini menambah deretan panjang carut marut persepakbolaan nasional yang semakin terpuruk. Apapun, sebagai warga Malang Raya, tentu ini sebuah pukulan dan cobaan yang sangat berat, meski sebagai Aremania sejati tentu tak akan “menyerah” hanya karena perbuatan dzolim dari PSSI dan BLI.

Sambil berdoa agar Arema meraih sukses di Liga Djarum Indonesia 2007 – yang molor sampai 2008 – tak ada salahnya kalau kita juga memberi support tersendiri pada Agung Yudha, salah satu Alumni SMAN Tumpang yang ikut berjuang di dalam tim Arema saat ini.

Ya, Agung Yudha Kurniawan – begitu nama lengkap pemuda asal Kemantren (Jabung) – kelahiran 28 April 1978, memang sudah menunjukkan bakat alam sebagai pesepakbola handal sejak belia. Sebagai bukti, saat usia 16 tahun dan bergabung di Persema Yunior, Agung membawa timnya menjadi juara Nasional U-17.

Setelah masuk Persema senior, Agung Yudha – lulusan SMAN Tumpang tahun 1997, Jurusan IPA – sekitar akhir tahun 90-an masuk tim impiannya AREMA. Malang melintang berkarir di tim Singo Edan membuat Agung “dipinang” tim Macam Kemayoran Persija Jakarta. Hanya bertahan satu musim kompetisi, Agung kemudian bergabung dengan tim Laskar Sakerah Persekabpas Pasuruan. Dan sejak musim kompetisi 2006, Agung kembali pulang kandang, memperkuat skuad Singo Edan Arema.

Meski saat ini sering menjadi pemain cadangan di AREMA, melihat perjalanan karir 10 tahun terakhir, Agung Yudha termasuk mempunyai prestasi yang cemerlang. Apalagi sebagai pemain belakang (defender) Agung yang memakai nomor punggung 28 di AREMA ini cukup lugas dan kokoh, dengan tinggi badannya yang 175 cm dan berat badan 65 kg.

Memang, selain Agung Yudha Kurniawan, masih ada satu lagi Alumni SMAN Tumpang yang pernah membela skuad Singo Edan AREMA, yaitu Rudy Hariantoko. Alumni angkatan 1990 (Jurusan A-2) yang saat itu berdomisili di Suko Anyar (Pakis). Di awal-awal berdirinya AREMA, Rudy seangkatan dengan idola Aremania saat itu, Nanag Supriyadi. Selain berkarir di Arema Rudy Hariantoko juga membela tim PKT
Bontang, Persijap Jepara, dan terakhir di Persegi Bali FC Gianyar.
***

Sabtu, 12 Januari 2008


Meski agak terlambat beritanya, tetapi keberhasilan ekstrakurikuler PRAMUKA SMA Negeri 1 Tumpang – masuk 10 besar Lomba Karya Tulis Ilmiah putra-putri & Juara 1 Presentasi Fotografi – di ajang Lomba “Tegak Tangguh 2007” se Jawa Timur di Universitas Airlangga Surabaya, patut dikabarkan.

Dengan berkekuatan 20 orang, yaitu 1 sangga putra dan 1 sangga putri masing-masing beranggota 10 orang, gerakan pramuka Ambalan Wisnuwardhana-Narasinghamurti (WN) pangkalan SMA Negeri 1 Tumpang harus bersaing dengan peserta dari berbagai kota lain di Jawa Timur, seperti Kediri, Sidoarjo, Ponorogo, Lamongan, Pasuruan, Pamekasan, Sumenep, maupun Surabaya sendiri, dalam lomba yang digelar hari Minggu, 9 September 2007. Hebatnya, kontingen SMAN Tumpang adalah satu-satunya wakil dari (sekian banyak) SMA yang ada di Malang Raya.

Materi yang dilombakan ada 6 macam, yaitu Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Pengetahuan Umum dan Pengetahuan Kepramukaan (PUPP), Fotografi, Orasi, Karya Tulis, dan Teknologi Tepat Guna (TTG). Memang, materi lomba tidak terlalu istimewa bagi Ambalan WN, tetapi dengan persiapan intensif hanya sekitar 2 minggu – setiap pulang sekolah – hasil yang dicapai kurang begitu maksimal, dan akan lebih baik lagi (hasilnya) kalau masa persiapan lebih lama lagi.

Yang pasti, hasil “terbaik” sudah diberikan anggota pramuka Ambalan Wisnuwardhana-Narasinghamurti (WN) – yang awal berdirinya di SMAN Tumpang digagas oleh Bapak AY. Kusnadi – kepada sekolah tercinta. Dan ini tentunya akan dicatat sebagai bagian prestasi non-akademis yang patut dibanggakan dari siswa-siswi SMA Negeri 1 Tumpang !

***
Note : 
Sebagian materi berita ini diambil dari Majalah Widya Wiyata Edisi 22/Desember 2007.

Kamis, 10 Januari 2008


Setelah lebih dari 18 tahun tidak bersua, nampaknya rasa kangen untuk kembali mengenang masa-masa indah di SMA sudah tidak terbendung lagi. Dan itulah yang terjadi pada alumni SMAN Tumpang lulusan tahun 1988, khususnya kelas A4 (Bahasa).

Ya, dengan dihadiri sekitar 30 alumni, acara temu kangen & reuni yang diadakan pada hari Minggu, 6 Januari 2008 dan mengambil tempat di Pondok Gunung Tabor, Ds. Tulus Ayu – Tumpang ini boleh dikata sangat meriah dan penuh keharuan. Bagaimana tidak, acara yang digelar mulai pukul 10 pagi dan berakhir setelah pukul 3 sore ini, serasa masih kurang untuk melepas semua cerita (nostalgia) yang terjadi saat-saat sekolah dulu maupun perjalanan panjang masing-masing alumni selama 18 tahun lebih tidak bersua.

Yang patut diacungi jempol tentulah upaya panitia yang berhasil mengumpulkan semua alumni A4 (1988) yang sudah tercerai-berai dari yang masih tinggal di sekitar wilayah Tumpang, sampai yang terlempar ke pulau Sulawesi. Hanya 1 orang yang tidak hadir, disamping 2 lainnya sudah meninggal dunia. Pilihan tempat di Pondok Gunung Tabor – yang lumayan tinggi biaya sewanya – juga menjadi indikasi bagaimana tingkat kemapanan para alumni A4 tahun 1988 ini.

Selamat untuk rekan-rekan alumni A4/1988 –
Agung, Iwan, Cemot, Ruby, Anik, Lilik, Muda’i, Darmo, Fuad, Kholifah, Trini, Mincu, Suparman, Sri, Subhan, Indah Usman, Zainul, Rusman, Yanto, dan yang belum disebut disini – yang sudah “berhasil” merealisasikan obsesinya untuk bertemu kembali secara full sekelas, tanpa ada yang ketinggalan. Mudah-mudahan (suatu saat) bisa mempertemukan seluruh kelas (satu angkatan), tidak hanya A4 saja !
***
Note : 
Terima kasih kepada rekan SIWA yang telah mengirimkan berita reuni ini, meski hanya melalui SMS dan telepon langsung. Foto-foto menyusul kan ?

Selasa, 08 Januari 2008

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Senin, 07 Januari 2008


Alkisah, pada awal tahun 80-an, ketika SMA Negeri Tumpang baru boyongan dan menempati gedung yang ada di Malangsuko – dari gedung lama di Jl. Setyawan (Ledoksari) – suasana lingkungan sekolah boleh dikata sangat-sangat jauh dari keramaian. Bayangkan, selain dikelilingi oleh perkebunan tebu, di sudut selatan-timur juga ditumbuhi rerimbunan pohon bambu (barongan, red). Belum lagi akses jalan (tikus) dari jalan raya Malangsuko yang juga melewati barongan (samping stadion), dan pemakaman umum yang (saat itu) belum beraspal. Menyedihkan, tapi juga menyenangkan.

Menyedihkan, karena kalau sudah musim hujan bisa dipastikan sepatu, celana dan ruang kelas penuh lumpur. Tetapi, juga menyenangkan. Suasana sekolah benar-benar nampak asri, karena bangunan yang ada (sekitar 10 kelas, Lab. IPA, Lab, Bahasa, Ruang UKS, Ruang OSIS, Ruang Ketrampilan dan Ruang Guru) membentuk huruf O, dengan lapangan hijau terhampar di tengah-tengahnya. Dan sekitar tahun 1986, di ujung bawah lapangan (depan Ruang Guru) dibangun Panggung Terbuka dengan arsitektur Bali. Eksotis banget.., karena panggung bisa dilihat dari semua kelas tanpa terkecuali !

Nah, kembali ke Lapt…. ups.., ke “barongan” di ujung kelas paling selatan-timur tadi (dulu dipakai untuk kelas II A3-3), banyak kenangan bagi kami siswa yang pernah terperangkap disana, hehehe. Terutama kalau ada pelajaran tambahan sore hari (untuk kelas III), pasti agak kurang berkonsentrasi kalau sudah diatas jam 5, suasananya itu lho.., magiiis banget, hiiii…… Tapi, ada juga lho yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena jarang siswa mau ke lokasi tersebut (belakang kelas), maka dimanfaatkanlah tempat ini untuuuuk… (aduuuh, nggak sampai hati menulisnya..) pokoknya untuk pacaran deh !

Satu pengalaman yang membuat bulu kudut merinding, ketika Pak Temun (salah satu penjaga sekolah) sedang membersihkan ranting-ranting bambu yang menjorok ke genteng sekolah (belakang kelas), tiba-tiba kaki kanan Pak Temun ada yang narik dari bawah. Secara reflek beliau pegangan anak tangga, dan buru-buru turun. Ketika sampai depan WC, saat Pak Temun melihat kaki kanannya, terlihat empat goresan luka warna merah bekas cakaran kuku. Percaya atau tidak, Pak Temun dihalangi untuk tidak membersihkan barongan tersebut !

Itu cerita duluuu…, yang kalau sekarang datang lagi ke belakang sekolah kita (dekat lapangan basket), barongan itu sebagian sudah menjadi kantin sekolah, yang ndak pernah sepi. Dan ruang ketrampilan (pelajaran nge-tik Pak Pendi, hehehe…) kini disulap jadi ruang OSIS, PMR & Ikapala, dan menghadap ke “ex” barongan tersebut. Jadi, barongan itu sudah menjadi nostalgia semata.


Jumat, 04 Januari 2008

Menarik juga mengikuti diskusi hangat di milist smantumpang@yahoogroups.com dalam 2 hari terakhir. Berawal dari kiriman sebuah foto “terbaru” dari kunjungan alumni ke sekolah akhir tahun lalu, yang menggambarkan salah satu ruang kelas dengan tembok bercat hijau muda.

Kusti Ariyah misalnya, alumni SMAN Tumpang (dan juga IPB) yang saat ini bermukim di Jerman tersebut membuka pembicaraan – dalam email yang bersubjek :
Kelas Cat Ijo –nDangdut ? – dengan komentar yang sedikit retoris, “… Ono sing menarik karo ruang kelas (yang nampak dalam foto, red), yoiku cat-e sing ijo royo-royo. Lha opo gak tambah adhem kelas-e, opo maneh sing ndhik isore barongan (nek isik ono lho barongan-e). Opo kabeh cat-e koyok ngono ? Gak tambah marakno ngantuk tah ?”



Belum lagi pertanyaan Kusti terjawab, Ayusta Cakra Iswara, alumni lulusan tahun 1988 yang mengalami masa-masa awal menempati gedung sekolah di “kebon tebu” ini menegaskan, “Sayang ora difoto kabeh. Saiki cat kelas-e warna-warni ono sing merah, hijau, kuning koyok play group pendek’e. Emang saiki trend-e koyok ngono tah ?” Dan Yusta, yang memang mengambil foto ruang kelas tersebut menambahkan, ”Emang sa’iki kelase nyentrik-nyentrik. Ono salah siji kelas sing ndek nisor, nek tak delok koyok kampanye salah satu partai politik. Wah ternyata era kebebasan saiki wis mlebu nang sekolah.”

Ungkapan Kusti dan Ayusta bisa jadi ada benarnya. Setidaknya pilihan warna untuk sebuah kelas tidak lagi didasarkan pada kebijakan sekolah dengan memperhitungkan efek psikologis siswa saat belajar, disamping apa sebenarnya fungsi ruang kelas itu sendiri. Entah benar atau tidak, yang kini nampak hanya unsur warna “kesukaan” penghuni kelas, trend ataupun segi estetika sepihak belaka. Kemungkinan besar, itulah yang menjadi alasan utama pemilihan warna cat ruang kelas. Belum lagi tambahan pernak-pernik hiasan ruang kelas yang terkesan “meriah” menjadikan siapapun yang melihat akan membayangkan sebuah ruang untuk pesta ulang tahun.

Tanpa bermaksud memberi vonis bahwa ini suatu fenomena yang cenderung negatif – dilihat dari sisi dunia pendidikan – apa yang diungkap Diah Mustophani, bisa menjadi pembanding.
“Hehehe, hiyo bener, koq kelase dadi semarak penuh warna ngono yo ? Jamanku biyen ditempeli gambar rodok nyentrik sithik ae wis dihukum sak kelas. Tentang kelas, yo gpp-lah, its okay ae. Itu kan namanya kebebasan berekspresi,” ungkap alumni yang kini bekerja di Jombang.

Ya, bisa jadi ini sebuah bentuk ekspresi jiwa para remaja. Tetapi, kalau terlalu “diumbar” apa tidak menjadi kebablasan ?

Selasa, 01 Januari 2008


Dear Rekans,
Berikut tulisan menarik yang saya ambil dari milis tetangga.
Semoga berkenan, dan bisa menjadi renungan di awal tahun.



Salam,
Kusti Ariyah
(Alumni SMAN Tumpang, tinggal di Jerman)

------------------------------------------------------------------------

Jadikan Dirimu Sendiri yang Terbaik!
Bondan Winarno *)


Tiba-tiba saya menyesali keputusan untuk melewatkan pergantian tahun di tepi pantai indah di Bali. Makanan lezat dan minuman mewah tak berhenti mengalir. Musik lembut mengalun ditingkahi debur ombak. Perempuan gemerlap dan laki-laki wangi bercanda ria di sekitar.

Tiga tahun yang lalu, pergantian tahun juga saya rayakan di lingkungan laut. Bedanya, ketika itu kami berada di geladak sebuah kapal perang, dalam perjalanan menuju Meulaboh, sebuah kota yang telah luluh lantak digempur tsunami. Ada sense of mission yang tebal di dada kami ketika itu. Tidak ada yang menyuruh saya berangkat ke Aceh, kecuali hati nurani sendiri.
Barangkali saya memang tidak sendiri terusik oleh perasaan seperti itu, begitu hibur saya. Perasaan penyesalan telah menikmati sesuatu ketika sebagian besar warga bangsa kita tengah menderita dan putus asa. Saya menuntut kesetaraan, tetapi mengapa saat ini saya menjadi bagian dari ketidaksetaraan? Saya tiba-tiba merasa tidak solider dengan amanat penderitaan rakyat.
Hilangnya kerelawanan

Barangkali, memang itulah elan vital yang telah hilang dari nurani kita. Gotong royong! Ke mana perginya dia? Kenapa kita semakin individualistis dan materialistis? Ke mana sikap dasar kerelawanan bangsa kita mengungsi?

Mana mungkin kegotongroyongan dan kerelawanan hidup di negeri yang melihat semakin lebarnya jurang antara kemiskinan dan kelimpahmewahan? Bukankah kegotongroyongan dan kerelawanan merupakan basis dari kesetaraan?

Ki Hajar Dewantara pernah berkata, "Tak mungkin akan tercipta kesetaraan bila elite tidak mencerminkan peradaban". Mungkin kalimat itu sebenarnya hanya sepenggal dari kalimat yang lengkapnya justru tidak diucapkannya. Bahwa bangsa yang beradab adalah bila elitenya juga beradab dan terdidik. Dengan kalimat lain yang lebih tidak sopan: elite yang tidak terdidik dan tidak mencerahkan justru menimbulkan kegelapan.

Kita berangsur-angsur telah menjadi bangsa yang sangat beragama. Tetapi, mengapa agama-agama yang indah itu ternyata juga gagal membangun karakter bangsa? Mengapa Departemen Agama justru merupakan salah satu sarang korupsi terbesar? Menurut saya, yang salah bukan agama. Yang salah adalah insan-insan yang bersembunyi di balik lembaga agama dan alpa bahwa tidak ada lembaga yang baik bila unsur-unsurnya tidak baik.

Lihat saja posisi kita di Indeks Pembangunan Manusia. Jelas sekali tampak bahwa kualitas kita sebagai sumber daya manusia secara rata-rata jauh tertinggal di belakang warga negara tetangga kita. Mana mungkin kita jadi bangsa yang unggul bila kita masing-masing ternyata adalah sumber daya manusia yang tidak terpilih?

Jangan tunggu pemerintah

Saya sungguh tidak menyebarkan sikap antipemerintah. Saya hanya ingin mengajak kita semua realistis menyikapi keadaan. Di alam modern, peran pemerintah memang harus menjadi semakin kecil karena masyarakat sudah mampu mengurus diri sendiri. Acap kali kita mengecilkan peran dan kemampuan swadaya masyarakat, lalu menyerahkan urusan-urusan yang sebetulnya urusan kita kepada pemerintah. Pemerintah sendiri sering tidak menyadari hakikat modern ini, dan merebut urusan masyarakat untuk diatur-atur.

Reformasi telah mengubah kita semua menjadi demokrat. Dalam alam demokrasi yang baru, kita telah memilih wakil rakyat di parlemen, presiden, gubernur, bupati, wali kota, bahkan lurah kita masing-masing. Tetapi, apa manfaatnya semua itu bagi kita? Apakah hidup kita telah menjadi lebih baik dengan kehadiran orang-orang yang kita pilih secara demokratis itu?

Kita telah membiarkan diri terjebak dalam prahara politik, dan karena itu kita telah kehilangan peluang untuk menentukan nasib kita sendiri. Mengapa kita biarkan kesejahteraan kita merosot? Mengapa kita izinkan kondisi keamanan dan ketertiban kita memburuk? Mengapa kita malah ikut serta dalam sistem yang membuat biaya pendidikan terus meroket?

Sangat boleh jadi kesalahannya terletak pada diri kita sendiri. Kita mengharap terlalu banyak dari pemerintah dan kaum elite politik, serta tidak melakukan apa-apa terhadap diri sendiri. Kita tidak pernah mencocokkan apakah kita sudah tiba pada titik yang kita ingini dalam roadmap pribadi kita. Atau, jangan-jangan malah kita tidak punya roadmap pribadi itu. Kita terlalu pasrah menunggu sampai pemerintah mengubah nasib kita. Kalau pemerintah yang sekarang belum mampu, mungkin pemerintah yang akan datang bakal mampu mengubah nasib kita. Lha, bagaimana kalau tidak?

Jangan bermimpi, Saudaraku. Rebut kembali nasib Anda. Be your best! Tuntut dirimu sendiri menjadi yang terbaik. Gembleng dan kembangkan dirimu menjadi yang paling unggul. Jangan tunggu orang lain mengubah nasibmu. Nasib kita hanya ditentukan oleh diri kita sendiri, seberapa hebat kita tampil di kancah persaingan. Jangan tunggu pemerintah memperbaiki sistem pendidikan karena kita berkemampuan mendidik diri kita sendiri. Jangan tunggu pemerintah membasmi korupsi karena kita sendiri dapat mulai menjadi sel antikorupsi.

Be your best! Ya, itulah barangkali dogma (code of belief) yang perlu menjadi resolusi kita semua dalam memasuki tahun 2008 yang penuh tantangan. Pupuk kembali elan vital diri pribadi, dan bersama-sama membangun kembali karakter bangsa. Visi bangsa ini jangan hanya memakai ukuran-ukuran ekonomi, tetapi juga memakai ukuran spiritual. Elemen-elemen keadilan, keramahtamahan, dan kegotongroyongan harus menjadi bagian dari visi kesejahteraan, keamanan, dan kestabilan.
Be your best! Kalau Anda sekarang jadi tukang sapu, jadilah tukang sapu yang terbaik. Kalau hari ini Anda menjadi pengemudi taksi, jadilah pengemudi taksi yang terbaik pula. Jangan dong kita hanya bisa menuntut seorang presiden yang hebat kalau sebagai akuntan saja ternyata kita masih bersedia disuruh membuat pembukuan ganda dan mengemplang pajak.

Jadilah lilin di tengah kegelapan. Jadilah lilin yang mencerahkan. Biarlah angin dan badai berembus, asal kita mampu terus menyala. Karena, kalau kita tidak menyala, kita akan mati.
Lamat-lamat, terdengar musik lembut di benak saya. Liriknya ditulis oleh Bernie Taupin. Musiknya oleh Elton John. …Like a candle in the wind/ Never knowing who to cling to/ When the rain set in….
Selamat Tahun Baru, Saudara. Semoga 2008 bawa berkat.


** Bondan Winarno - Tukang Makan, Tinggal di Pinggiran Bogor




Minggu, 23 Desember 2007

Untuk menutup akhir tahun 2007,
Alumni SMAN Tumpang Korwil Cyber
akan mengadakan hajatan "Rujak Party" pada :

Hari : Minggu
Tanggal : 30 Desember 2007
Jam : 10.00 s/d 14.00 Wib
Tempat : Sekitar Tumpang (tepatnya akan diumumkan menyusul)

Kepada segenap alumni diharap untuk bisa hadir di acara tersebut.

Untuk Pendaftaran, hubungi :
YUSTA - 0812 3329 590
DIAH - 0852 3497 2010

Semua free of charge !


salam,
"ACI Event Organizer"


Kamis, 09 Agustus 2007

Saking jarangnya ada kesempatan untuk pulang kampung, dalam kurun waktu 20 tahun terakhir aku seperti kehilangan informasi tentang daerah yang (dahulu) begitu akrab dengan kehidupan keseharianku. Minimal, kayak apa sih “perubahan” yang ada di sepanjang perjalanan ke arah Tumpang, itu yang menjadi obsesiku setiap akan pulang kampung di Pakis.

Nah, akhir bulan Juni 2007 kemarin niat itu kesampaian. Di akhir liburanku (lebih tepatnya : selama 4 hari menghadiri hajatan di rumah Mbak-ku yang di Pakis) aku sempatkan menikmati perjalanan dari Pakis – Tumpang (PP). Tidak naik mobil ataupun mikrolet, tetapi cukup dengan sepeda motor, biar pandangan ke kiri dan kanan jalan bisa lebih leluasa. Dan waktunya pun, mengambil tengah hari, sekitar pukul 11.00 s/d 12.30 wib.

Berangkat dari sekitar Kecamatan Pakis – ke arah timur – suasana sudah mulai nampak berubah (Ingat ! yang jadi panduan adalah suasana 15 – 20 tahun silam, lho). Mulai dari Polsek Pakis sampai pertigaan arah Jabung 90% sudah berubah total. Di kiri jalan sudah berderet ruko (dulunya taman, lapangan volley dan terminal dokar).

Terus, di kanan jalan sudah tidak nampak rumah rumah mungil warga di sekitar stasiun, yang ada (sebagai gantinya) adalah deretan toko dan minimart, bahkan Indomart berdekatan dengan Alfamart di depan pasar Pakis. Sampai di jembatan Sungai nJilu dan Randu Alas (Pakis Kembar), aku sengaja tidak begitu menghiraukan sekitar, karena akan lebih nikmat kalau cerita perjalanan dimulai dari Tumpang.

Tak sampai 30 menit aku sudah sampai Bank BCA (depan Gedung Bioskop). Barangkali Bank BCA menjadi “simbol” perubahan pertama yang ada di Tumpang. Tapi sayangnya, begitu menyusuri ke arah utara (Pakis), tidak nampak perubahan apapun. Pasar Tumpang tetap seperti 20 tahun silam, termasuk juga beberapa mikrolet TA yang ngetem di bawah pohon ringin. Trus deretan toko juga masih sama seperti dulu, Cuma penjaganya saja berbeda (mungkin yang duluuuu… itu, sudah pada tua kali ya ? Sekarang digantikan oleh anak, menantu, atau cucunya, hehehe…). Yang benar-benar hilang (karena tidak nampak satupun), yaitu dokar yang dulu masih berseliweran di seputar jalan raya Tumpang.

Depan Gang V sampai Gang I juga masih tetap seperti dulu (ihiks.. jadi inget Gang III, aku pernah kost 2 tahun disana soalnya…), Masjid Tumpang, Kantor Dinas Kehutanan (makin gersang…), daerah Kauman, Kantor Kecamatan, praktis tetap sama. Koq bisa ya ? Nah.., sampai di depan pegadaian (dahulu ada toko sepatu) trus deretan warung dan penggilingan padi (rumahnya) Taufiq, sekarang berubah total, jadi ruko dan Bank BRI yang lumayan besar, karena ATM-nya saja ada 2. Kalau Kantor Polisinya, ya tetap saja. Termasuk juga stadion Tumpang yang makin merana. Sampai depan Jl. Kamboja (gang masuk SMAN Tumpang) nggak ada perubahan, demikian juga seberang jalan yang menuju Sumber Ringin yang nampak ya itu-itu juga. Barangkali yang cukup menonjol adalah berdirinya SPBU yang ada di Malangsuko (ex rumah Kepala Desa), sebelah kiri jalan. Dan praktis sampai nJeru, suasana masih tetap seperti 15 tahun silam. Luar biasa !!!

Nah, baru ada perubahan lagi ya setelah jembatan pasar Jeru (itu lho, kalo belok kiri ada jalan turunan ke Precet). Beberapa deretan ruko berjejer rapi di sebelah kanan jalan, dan beberapa bangunan permanen maupun kios-kios buah cukup meramaikan sepanjang jalur ini, sampai pertigaan ke arah Ngluring (Luring ? kalau ambil/belok kanan). Setelah itu, sepanjang jalan desa Sukoanyar, sampai pertigaan nDumplul, blas relatif sama dengan beberapa tahun silam. Heran juga, kenapa bisa begitu statis kehidupan dan dinamika masyarakat daerah ini ya ?

Trus.., apakah ada perubahan di nDumpul (dan seterusnya) ? tunggu tulisan lanjutan di Bagian 2 !

Labels

Alumni (21) Amerika Serikat (1) Angkatan 1995 (1) Anti Korupsi (1) Arab Saudi (1) Arema Malang (1) Artikel (8) ASEAN (1) ay kusnadi (1) Ayusta (1) Bahasa (2) Balitjestro 2008 (1) Bandung (1) Bank Mandiri (1) Bantuan Operasional Sekolah (1) barongan (1) Basketball (1) bca (1) Beasiswa (19) Berita (3) berita duka (1) BHMN (1) Bimbel (1) Biodiversity (1) Bisnis (1) bisnis online (1) Blog (5) bondan winarno (1) BOS (3) Buku (1) Buku Paket (1) Bulan Bahasa (1) Bullying (1) Bursa Kerja (1) Candi Kidal (1) Class Meeting (1) Dee (1) dollar gratis (1) Dumpul (1) dunia maya (1) Ekstrakurikuler (5) Facebook (2) Fair Play (1) Fisika (1) Friendster (1) Futsal (1) gado gado (1) Global Warming (1) Google (1) Gunung Tabor (1) Guru (10) Gus Dur (1) HUT ke-30 (1) IKAPALA (1) imam gozali (1) Inggris (1) Inspirasi (1) Internet (1) IPB (1) Iptek (3) Istana Negara (2) ITB (1) Jabodetabek (1) Jambi (1) Jawa Timur (4) Jepang (1) jerman (3) Jeru (1) Jilu (1) Jombang (1) Jusuf Kalla (1) Kabupaten Malang (4) kampus (1) karir.com (1) Kegiatan (1) Kelas A4 (1) Kelas XII (1) Kemendikbud (3) Kemendiknas (1) Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan (1) Kepala Sekolah (1) Kesehatan (3) KH. Abdurrahman Wahid (1) Kiat Jitu (1) Komik (1) Komunitas (1) kosmetika (1) Kota Batu (1) Kota Malang (5) Kuliah (1) kuliner (1) kusti (2) launching (1) Lingkungan (1) LIPI (1) Lowongan (1) Lulusan 2008 (1) M. Nuh (1) Mahasiswa (2) Mahasiswa Baru (2) Mahkamah Konstitusi (1) maknyus (1) Malang (3) Malang Raya (1) Malangsuko (1) Malaysia (1) Matematika (1) Mendiknas (1) Mendit (1) Menkominfo (1) Menulis (2) Menulis Ilmiah (1) Minat Baca (1) Motto Kelas (1) nDangdut (1) Nostalgia (2) Otonomi Daerah (1) Pahlawan Nasional (1) pak temun (1) Pancasila (1) panggung terbuka (1) Pelajar (1) Pelajaran (1) Pemerintah (1) Pendidikan (11) Pendidikan Nasional (6) Penelitian Ilmiah Remaja (2) Perbankan (1) Perguruan Tinggi (3) Perguruan Tinggi Swasta (2) Permen Karet (1) Pertamina (2) Pilkada (1) PMP (1) PMR (1) Pornografi (1) pramuka (2) Precet (1) Profil (2) PTN (3) PTS (1) Redaksi (1) remaja (2) reuni (5) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (3) Riset (1) RSBI (4) Rujak Cingur (1) S-1 (1) S1 (1) S2 (1) S3 (1) Sains (1) Sarjana (1) SBI (1) SD (5) Sejarah (3) Sekolah Hijau (1) Sepakbola (2) sepeda (1) Situs (1) SMA (17) SMA Kebon Tebu (1) SMAN 1 Malang (1) sman tumpang (3) SMANETA (10) Smansa (1) SMK (1) SMKN Turen (1) SMP (4) SNMPTN (2) SNMPTN Online (1) soeharto (1) STT Telkom (1) sugeng hadiono (1) Sukoanyar (1) Surabaya (1) Tahun 2013 (1) Tahun Baru (1) Taiwan (1) Tawuran (1) teknologi (3) Tes Online (1) Tips (5) Tomik HS (1) Trik (1) Try Out Online (1) Tulus Ayu (1) Tumpang (2) UAN (2) UASBN (1) UGM (2) UI (1) Ujian (2) Ujian Akhir Nasional (1) Ujian Nasional (5) Ujian Nasional 2010 (1) Ujian Nasional 2011 (1) Ujian Nasional 2012 (1) UM (1) UMB (1) UN (7) UN 2010 (5) UN 2012 (1) Universitas (1) Universitas Brawijaya (1) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (1) Universitas Paramadina (1) UNS Solo (1) Virus (1) wafat (1) Wakil Gubernur (1) website (2) Wendit Water park (1) Wisata (2) wisnuwardhana-narasinghamurti (1) www.smantumpang.com (1)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!