Sabtu, 17 Januari 2009


Ketika muncul tuntutan agar anggota milist smantumpang (kalo kamu mau gabung, kirim e-mail tanpa subject ke: smantumpang-subscribe@yahoogroups.com) – yang kini jumlahnya hampir mencapai ratusan orang itu – tidak hanya sekedar asyik baca email, tetapi juga harus aktif menulis (cerita) apa saja sekitar pengalaman selama menjadi siswa di SMA Negeri 1 Tumpang (bagi yang alumni), permasalahan klasik muncul: “Aku gak iso molai nulise, lek cerito pengalaman se akeh. Mangkane ajarono nulis donk, Mas…” Nah lho!

Aku jadi ingat, sekitar awal tahun 1989 aku pernah menjadi (salah satu) pembicara/tutor Latihan Jurnalistik Tingkat Dasar untuk adik-adik pengelola Majalah Widya Wiyata (Wita) dan beberapa pengurus OSIS di SMAN 1 Tumpang. Waktu itu aku sempat membuat diktat sebagai panduan (lengkap, mulai menulis opini, features, berita/news, sampai teknik wawancara & tata letak/lay out). Tujuannya, supaya adik-adik SMAN Tumpang ndak "ketinggalan" kalau ngomong masalah jurnalistik dan permasalahan majalah sekolah dengan SMA di kota atau daerah lain. Tapi, ya itu tadi, ternyata ilmu itu hanya bisa diterapkan dalam satu tahun kepengurusan. Ketika ganti pengelola, sama sekali tidak berjalan.

Nah.., menjawab pertanyaan teman-teman – agar diajari rahasia membuat sebuah tulisan – ya prinsipnya secara umum menulis itu sebenarnya gampang koq (bagi yang biasa, hehehe..). Atau, agar tidak bertele-tele, ini ada TIPS ala kadarnya yang paling gampang diterapkan untuk memulai belajar menulis, yaitu:

Tahap Pertama (untuk latihan) : Apa yang ada di pikiran kita, coba dieksploitasi semua (dan diimplementasikan) dalam bentuk tulisan. Biarkan mengalir begitu saja, gak usah dipikirkan, Ini baik apa enggak ya? Yang penting ditulis. Persis sama kalau kita ngomong atau nggedabyah, apa nulis surat cinta gitu... (tapi, yang ini melalui tuts keyboard bukan melalui mulut).

Tahap Kedua : Coba dibaca lagi apa yang sudah kita tulis tadi, ada yang janggal enggak? Ada yang bertele-tele enggak? Ada kata-kata yang terlalu baku enggak? Ada yang kurang lucu enggak? (untuk yang nulis lucu-lucuan), Atau, ada yang kurang jelas enggak? Nah.., ditahap ini barulah kita koreksi, mana yang perlu dirubah, mana yang perlu ditambah atau dibuang. Persis kayak ngoreksi karangan. Jaman masih memakai mesin ketik dulu, untuk tulisan pertama mesti harus menggunakan 2 spasi, agar ada ruang kosong buat nyoret dan koreksi. Kalau sekarang sih ndak perlu lagi, di komputer tinggal di-delete, beresss !

Tahap Ketiga : Baca lagi! Udah pantas belum? Tapi, menurutku, pantas gak pantas memang harus di publish dulu. Biarkan teman-teman yang menilai. Makin sering kirim tulisan, makin terlatih otak kita memilih kata-kata yang enak dan pas (termasuk juga penempatan tanda baca lho!).

Tahap Keempat : Biasakan membaca tulisan di majalah, koran atau tulisan teman sendiri. Perhatikan karakter tulisan tersebut (jelas beda lho, mana tulisan berita/news, features, fiksi, ilmiah, dll). Dari situ kita bisa "belajar" , oooh ternyata gitu to nulis features itu? Oooh kalau tulisan news ternyata harus hemat kata (nggak bertele-tele). Dan seterusnya, dan seterusnya. Lantas : Coba nulis sendiri dulu deh....

Tahap kelima : Segera menulis sendiri. Jangan keenakan baca tulisan ini (emang nggak capek sambil kerja disuruh ngetik tulisan ginian? Emang gue cowok apaan? Hehehe...). Ciao !


*** Tulisan ini pernah dimuat di milist smantumpang, dengan perubahan seperlunya.


Rabu, 14 Januari 2009


Tidak dipungkiri lagi, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dengan kualitas terbaik – di dalam negeri, apalagi di luar negeri – dapat dikategorikan sebagai “barang mewah”. Apalagi bagi mereka yang tertarik belajar ke luar negeri, pastinya memerlukan persiapan dana yang cukup besar.

Memang, ada dua alternatif mempersiapkan dana pendidikan untuk belajar ke luar negeri, yaitu melalui program beasiswa, dan melalui tabungan di bank. Mengikuti program beasiswa yang tepat memang akan memudahkan dalam belajar ke luar negeri. Biasanya, ada dua jenis kategori penyediaan dana yang ditawarkan oleh penyedia beasiswa.

Pertama, full scholarship atau beasiswa penuh. Artinya, penyedia beasiswa akan menanggung semua jenis pendanaan yang berhubungan dengan pendidikan, mulai dari biaya perkuliahan, perumahan, biaya hidup sehari-hari, asuransi, buku, biaya riset, biaya pesawat, dan lain-lain.

Kedua, partial scholarship atau beasiswa sebagian. Beasiswa jenis ini biasanya hanya membantu membiayai komponen pendidikan tertentu, seperti bebas biaya kuliah atau beasiswa untuk penelitian. Sedangkan biaya-biaya yang lainnya menjadi tanggungan sendiri. Oleh sebab itu, sebelum mengajukan aplikasi beasiswa, harus mencermati terlebih dahulu jenis beasiswa apakah yang mereka tawarkan.

Sebagai gambaran, berikut adalah beberapa website penyedia beasiswa ke luar negeri yang bisa Anda buka-buka untuk sekedar gambaran atau pengetahuan (atau juga, siapa tahu memang tertarik?) :

• Beasiswa ADS (Australia)
http://www.adsjakarta.or.id/
• Beasiswa Chevening (Inggris)
http://www.chevening.or.id/
• Beasiswa StuNed (Belanda)
http://www.nesoindonesia.or.id/
• Beasiswa Fullbright (Amerika Serikat)
http://www.aminef.or.id/
• Beasiswa DAAD (Jerman)
http://jakarta.daad.de/
• Beasiswa ALA (Australia)
http://www.usaid.gov.au/scholar
• Beasiswa Monbukagakusho (Jepang)
http://www.id.emb-jpn.go.jp/
• Beasiswa Endeavour (Australia)
http://www.endeavour.deewr.gov.au/
• Beasiswa Ford Foundation
http://www.fordfound.org/
• Beasiswa Sampoerna Foundation
http://www.sampoernafoundation.org/




Jumat, 09 Januari 2009


Bisa jadi kabar ini bukan berarti apa-apa bagi para pengunjung blog ini. Tetapi, untuk yang biasa bergelut dengan website (ataupun blog) Google PageRank merupakan “prestasi” atas sebuah web yang dibuatnya. Untuk gampangnya, menurut Wikipedia, Google PageRank adalah: sebuah algoritma yang telah dipatenkan yang berfungsi menentukan situs web mana yang lebih penting/populer. PageRank merupakan salah satu fitur utama mesin pencari Google dan diciptakan oleh pendirinya, Larry Page dan Sergey Brin yang merupakan mahasiswa Ph.D. Universitas Stanford.

Masih menurut Wikipedia, cara kerja PageRank ini adalah sebuah situs akan semakin populer jika semakin banyak situs lain yang meletakan link yang mengarah ke situsnya, dengan asumsi isi/content situs tersebut lebih berguna dari isi/content situs lain. PageRank dihitung dengan skala 1-10. Contoh: Sebuah situs yang mempunyai Pagerank 9 akan di urutkan lebih dahulu dalam list pencarian Google daripada situs yang mempunyai Pagerank 8 dan kemudian seterusnya yang lebih kecil.

Nah, per tanggal 1 Januari 2009 ini, blog SMANTUMPANG (www.smantumpang.blogspot.com) mendapat PageRank 3 (dari maksimal 10), sebuah angka yang cukup besar bagi sebuah blog (bukan website dengan domain komersial, lho!). Bandingkan saja dengan web atau blog sekolah disekitar kita (ini hanya perbandingan semata):
SMA Negeri 1 Kepanjen (www.smaneka.sch.id) : 0
SMA Negeri 1 Lawang (www.smanela.co.nr) : 3
SMA Negeri 1 Batu (www.sman01batu.blogspot.com): 0
Alumni SMA Negeri 1 Lawang (www.alumnismanela.com): 0

Atau, SMA Negeri di ada di kota Malang:
SMA Negeri 1 Malang (www.sman1-mlg.sch.id): 2
SMA Negeri 2 Malang (www.sman2-mlg.sch.id): 4
SMA Negeri 3 Malang (www.sman3malang.sch.id): 2
SMA Negeri 4 Malang (www.sman4mlg.com): 0
Alumni SMA Negeri 3 Malang (www.ikasmariagitma.net) : 3

Sebagai gambaran, meski blog ini terlihat jarang di-update (bukan terlihat ding, tapi memang jarang di update, hehehe...), dari data statistik yang ada menunjukkan pengunjung blog ini cukup banyak. Sampai tanggal 4 Januari 2009, Rata-rata per hari ada 26 unique visitor (total sampai 4 januari 2008: 6.821 visitor) dan 56 page-view / hari (total sampai 4 januari 2008: 12.428 page-view).

Demikian juga di mesin pencari Google, untuk per tanggal 4 Januari 2009, kalau kita memasukkan kata : SMAN Tumpang, maka ada 19.100 halaman yang mengandung kata (atau perpaduannya). Sedang kalau kita masukkan SMANETA (ada 1.350 halaman), SMANTUMPANG (ada 828 halaman), dan SMA Negeri 1 Tumpang (ada 26.200 halaman); dengan alamat blog ini menempati rata-rata 3 besar di tiap halaman utama.

Artinya, secara kualitas blog ini sudah diakui Google sebagai web yang mempunyai nilai tinggi dimata pengguna Google, sedang secara kuantitas tidak terbantahkan bahwa (secara diam-diam) ternyata banyak juga yang datang menyambangi blog ini. Bisa jadi ini para alumni dan “simpatisan” SMA Negeri 1 Tumpang, yang ingin tahu perkembangan terkini dari sekolah yang pernah menjadi kawah candradimuka selama 3 tahun.

Sebuah kado tahun baru yang istimewa, tentunya.




Rabu, 07 Januari 2009


Perjalanan panjang gedung SMA Negeri 1 Tumpang, yang kini lebih beken disebut SMANETA – koq selalu berubah-ubah ya: dari SMANTUMP, terus SMANTUM (tanpa P), muncul lagi SMAGITA (satu paket dengan Palm@gita), SMANET, terakhir SMANETA (ada tambahan huruf A) – yang di Malangsuko, awal-awal berdirinya penuh dengan cerita misteri.

Bisa jadi karena di awal 80-an itu suasana di lokasi gedung sekolah tersebut masih dikelilingi oleh perkebunan tebu dan rumpun bambu, sehingga kalau sudah jam 4 sore – dulu, masih ada yang masuk siang – suasana kelas menjadi singup (bahasa Indonesia-nya apa ya?) dan terkesan gimanaaa…gitu (apalagi kalo musim hujan dan listrik padam.., aduuh.. seyeeeem…!!!).

Nah.., ada satu cerita serem yang dialami oleh Pak Temun – Tukang Kebun SMANETA di tahun 80-an, mudah-mudahan sekarang belum pensiun ya Pak, hehehe… – di belakang kelas deretan atas, paling ujung kanan (ndak tau deh, dulu itu sering dihuni anak-anak kelas III A3-3). Begini ceritanya :

Di suatu hari Minggu, saat matahari jam 1 siang lagi terik-teriknya, Pak Temun berinisiatif memotong pucuk-pucuk bambu yang menjuntai di genteng kelas paling ujung tersebut (itu lho, deretannya Ruang OSIS, tetapi paling ujung sendiri). Kebetulan disitu rumpun bambu dari luar pagar sudah begitu rimbun dan menjuntai ke atap gedung sekolah. Menurut Pak Temun, sekalian kerja sambil ngadem.

Begitu tangga dipasang menghadap pohon bambu, Pak Temun langsung naik tangga sambil membawa golok dan memakai sepatu boot kesayangannya. Sampai di anak tangga ke-3 dari atas, Pak Temun berhenti dan mulai mengayunkan goloknya ke rerimbunan bambu tersebut. Astaghfirullah.., begitu golok mengenai bambu, pada saat bersamaan kaki Pak Temun (yang terbalut sepatu boot) ada yang mencengkeram dan menarik ke bawah. Secara reflek Pak Temun teriak dan menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa!

Karena kakinya – yang bekas cengkeraman tadi terasa perih – Pak Temun buru-buru turun dari tangga dan lari sekuat tenaga ke arah toilet (parkiran sepeda) sambil meninggalkan tangga dan goloknya. Barulah ketika sampai di depan toilet Pak Temun berhenti (nafasnya hampir habis, hehehe…) dan jongkok sambil membuka sepatu boot-nya. Betapa kagetnya, di betis kakinya ada bekas cakaran kuku empat baris yang mengeluarkan darah. Aneh, bagaimana mungkin sepatu boot-nya utuh, tetapi kakinya terkena cakaran? (udah.., udah.., ndak usah dilanjutkan. Bayangkan sendiri apa dan siapa pelakunya ya..?!).

Nah, sejak saat itu Pak Temun tidak pernah mau membersihkan rimbunan bambu di atas kelas paling pojok tersebut, kecuali ditemani oleh rekan-rekan tukan kebun yang lain. Untuk adik-adik yang saat ini masih aktif sebagai siswa, kalau masuk ke kelas tersebut, sambil mengingat-ingat cerita ini ya, hiii…hiii… hiii…hiii..hiii….


*** Diceritakan langsung oleh Pak Temun, pada beberapa rekan Pengurus OSIS, sekitar pertengahan tahun 1987, di ruang UKS.




Senin, 05 Januari 2009


Mungkin, tulisan ini lebih bersifat apologi semata, untuk menghindarkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih banyak dilontarkan pada para alumni, terutama kiprah dan sepak terjang apa saja yang sudah dilakukan untuk almamaternya. Tentu, kontribusi tidak harus dalam bentuk materi ataupun benda kasat mata, tetapi – lebih dari itu – sebuah usulan, pendapat ataupun solusi-solusi lainnya (mungkin) akan lebih berharga bagi almamater itu sendiri.

Ya, dasar dari tulisan ini, berasal dari beberapa email yang masuk ke pengelola blog (dan web) yang isinya “tantangan” agar alumni SMANETA lebih pro-aktif memberikan “suaranya” kepada almamater, demi perkembangan SMA Negeri 1 Tumpang itu sendiri. Toh sarananya sudah ada (milist, web & blog), mekanismenya sudah jelas (dikirim langsung ke email yang berwenang di SMANETA), lantas tunggu apa lagi?

Nyatanya, meski keinginan-keinginan yang muncul tersebut sudah dilaksanakan semaksimal mungkin, dengan dirilist langsung di milist ataupun web – dengan harapan akan mendapat sambutan dari para alumni dengan meriah (atau melimpah ruah?) – toh tak terbukti sama sekali, bagai jauh api dari panggang alias tidak ada sambutan sama sekali. Ironis!

Memang, harus diakui (dan disadari) bahwa alumni “juga manusia” yang punya pekerjaan lain – yang lebih penting dan harus didahulukan – sehingga tidak bisa berharap terlalu banyak, apalagi “dipaksa” untuk memberikan sesuatu pendapat terhadap apa yang sudah lama tidak dilihatnya. Apalagi antara alumni dan almamater (hampir) tidak ada ikatan yang bisa membuat seorang alumni tergerak, minimal secara moral, untuk partisipasi dalam bentuk sekecil apapun. Jadi, tidak bisa dipaksanakan.

Kalau akhirnya kami – sebagian dari para alumni – bisa berbasa-basi dan ngobrol “ngalur-ngidul” dengan alumni lainnya, baik melalui media online maupun offline, ya (mungkin) baru itu yang bisa dilakukan. Seperti judul pada tulisan ini, “mohon maaf” kalau belum bisa memberi kontribusi (apa-apa) pada almamater. Meski, ini tentu sesuatu yang patut disayangkan. Sampai kapan?




Senin, 15 Desember 2008


Karena tidak ada kegiatan lagi, sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta api ke Jakarta, siang itu sekitar jam satu, aku sempatkan mampir ke warnet dekat rumah. Biasalah, untuk mengecek email kantor, siapa tau ada pekerjaan ringan yang bisa dikerjakan saat itu juga.


Begitu masuk warnet berisi 12 komputer tersebut, sekitar 7 kursi sudah terisi. Saat menuju tempat paling ujung – ini tempat favoritku setiap ke warnet ini – aku melewati salah satu komputer yang berisi 3 remaja tanggung. Aku sempatkan menghampiri dan sambil bercanda aku berujar, “Laopo rek, ojok mbukak situs jorok ae!”


Dengan cengingisan mereka menjawab kompak, “Tenang Om, iki lagi nggolek data gawe sekolahan.” Dan, yang membuatku kaget adalah perkataan mereka selanjutnya, Om, sudah dengar belum, arek Pakis ada yang terlibat kasus foto porno lho. Anaknya Pak …. (sensor!) yang sekolah ndek SMA …. (sensor!) iku lho. Foto dewekan karo hp-ne dewe, tapi ketemon konco-koncone, yo sak iki tersebar luas wiiis…,” cerita anak-anak itu, dengan tanpa beban.


Aku hanya ketawa, tanpa memberi komentar langsung menuju komputer paling ujung. Sesungguhnya, dalam hati aku cukup prihatin sedih melihat “perkembangan” remaja seperti ini. Dulu, setiap ada kasus penyalahgunaan teknologi (baca: handphone) untuk mengabadikan hal-hal tak senonoh – sengaja ataupun tidak – oleh para remaja, abg (dan anak-anak sekolahan), hanya membatin, “Koq gitu ya pergaulan anak-anak di …….. (kota/daerah tempat anak-anak tersebut)”.


Tapi, kini kejadian itu menimpa anak-anak disekitarku, tetanggaku sendiri, yang aku tau keseharian mereka. Lebih tidak masuk nalar, Pak……… (sensor!) ayah dari gadis itu adalah guruku saat aku bersekolah di …… (sensor!). Sebegitu parahkah moralitas anak-anak jaman sekarang, sehingga dengan mudah dan tanpa malu-malu lagi mengabadikan dirinya tanpa penutup apa-apa di depan kamera?


Mungkin, kita – atau siapapun yang membaca tulisan ini – tidak ambil pusing, karena berfikir toh itu terjadi pada orang lain. Meski, sesungguhnya tanpa kita sadari bisa saja hal tersebut menimpa (dilakukan) orang-orang terdekat kita, apakah itu tetangga, adik, keponakan, kerabat ataupun anak-anak kita sendiri.


Intinya, kalau kita memang punya komitmen untuk “menghambat” laju kebebasan berekspresi (di depan kamera) yang kebablasan tersebut, sudah selayaknya memulai dari lingkungan sendiri, dengan memberikan pemahaman pada orang-orang terdekat betapa tidak terpujinya perbuatan tersebut (meski tujuannya untuk konsumsi sendiri). Ini bukan sekedar masalah teknologi yang disalahgunakan menjadi “jahat”, tetapi lebih pada kesadaran personal dan moralitas.


Setelah hampir satu jam setengah, saat aku mau meninggalkan warnet, aku sempatkan mendatangi sekumpulan remaja tadi, “Koen gak isin ta rek, foto telanjang koncomu tersebar nang endi-endi ngono iku?” Dan, lagi-lagi jawabannya mengejutkan, “Salahe dewe ta Om. Iku sik siji sing ketemon, arek-arek iku lho akeh sing seneng foto dewe koyok ngono iku, sangking ae durung ketemon.”


Nah lho.., gimana kalo sudah kayak gini ?


***


Catatan:

  • Beberapa petikan kalimat sengaja ditulis apa adanya dengan memakai bahasa daerah (lokal), tanpa diterjemahkan. Tujuannya agar tidak mengurangi esensi dan makna dari kalimat tersebut.
  • Tulisan ini tidak punya tendensi apapun pada siapapun, penulis hanya berusaha menyajikan realita yang ada saat ini.

Sabtu, 06 Desember 2008

Wisata Kuliner Lokal : PAKIS


Meski sudah terbiasa dengan corak ragam masakan jawa yang banyak dijajakan di Jakarta – mulai dari kaki lima, warung, resto sampai café – nampaknya membuat lidah “Malang”ku belum juga bisa diajak kompromi menikmati sembarang masakan, jika ada kesempatan pulang kampung. Tetap memilih, tetap nyari, makanan apa yang menjadi ke-khas-an dari tanah kelahiran ini.


Hari Kamis kemarin (4 Nopember 2008) nampaknya adalah sebuah keberuntungan bagiku, sebab bisa memilih dengan leluasa menu sarapan pagi, saat berkunjung ke Pakis. Dari yang biasanya Nasi Pecel bungkus daun plus Peyek Kacang, kali ini aku ditawari keponakan untuk sarapan menu lain. Dari beberapa yang disodorkan, aku memilih gado-gado (memang sih, dari segi bumbu, ndak jauh beda dengan pecel ataupun rujak).


Wuuiiih.., begitu sarapan datang, ternyata gado-gadonya luar biasa dan lain dari biasanya. Sayurannya saja, sudah mulai “kebarat-baratan” karena disisipkan irisan wortel tipis memanjang dan buncis (biasanya kacang panjang), selain sayuran khas gado-gado Malang seperti kol dan ketimun, serta irisan tempe, emping mlinjo dan telur rebus.


Terus, yang membuat selera makan pagi bertambah, adalah bumbu gado-gado yang dibuat halus (perasaanku, ini bumbu pasti diblender), sehingga tidak seperti gado-gado lokal kebanyakan, yang bumbunya meski diuleg halus, masih tetap terasa butiran kecil-kecil dari kacang tanah. Ciri khas yang telihat jelas pada gado-gado Pakis ini adalah aroma (dan rasa) daun jeruk purut yang begitu kental, malah dibumbunya sengaja disertakan selembar daun jeruk purut utuh yang sudah matang.


Jujur saja, sarapan gado-gado Pakis (plus sepiring nasi dan krupuk) kemarin adalah salah satu makanan khas Malang terenak yang pernah aku temui. Dari informasi yang aku dapat, gado-gado ini seporsi hanya dihargai Rp. 3.500,- (sayuran dan bumbu dibungkus terpisah, sehingga kalau dibawa pulang agak jauhan/lamaan, sayur tidak cepat basi dan berair). Tetapi, kalau dimakan di tempat (warung), pasti kenikmatannya akan berlebih, sebab selain sayurannya yang masih hangat, bumbunya pun langsung dibuat saat dipesan.


Biar nggak penasaran, setelah aku telusuri asal-usulnya, gado-gado ini bisa didapat di Warung Mak Kaji, yang ada di seberang Pasar Pakis (kalau dari arah Malang, ada di kanan/selatan jalan). Persisnya, ada di sebelah Alfamart. Selain gado-gado, racikan masakan yang tersedia (dan jadi andalan) di warung milik Mak Kaji Sitin ini – buka setiap hari, pagi sampai sore – adalah Soto Rujak (walaaah… makanan apa lagi ini?). Pokoknya, bagi yang suka berburu tempat kuliner lokal Malangan, kalo nggak mampir ke tempat ini, rugi besaaar…!

***


Catatan:

Bagi teman-teman yang punya kenangan atau tempat-tempat (boleh warung, angkringan, restoran, rumah makan, ataupun warung tenda) jajan/makanan enak dan merasa patut direkomendasikan ke teman-teman pembaca blog ini, silahkan kirimkan tulisan + foto pendukung ke: smantumpang@gmail.com (Syarat pastinya: Obyek harus berada di wilayah Malang Raya ; lebih bagus lagi kalo di seputaran Tumpang, Poncokusumo, Jabung & Pakis).


Senin, 10 November 2008

Ngobrol di alam terbuka (sambil menunggu alumni yang lain)
***

Mengambil tempat di obyek wisata Taman Wiladatika Cibubur – dekat lokasi Bumi Perkemahan Cibubur – Jakarta Timur, pada hari Minggu, 9 Nopember 2008 dilaksanakan acara Silaturahmi Alumni SMA Negeri 1 Tumpang wilayah Jakarta-Bogor-Tangerang-Depok-Bekasi (Jabodetabek). Tentu ini bukan acara dadakan, sebab dalam 4 tahun terakhir, secara kontinyu acara semacam ini rutin dilaksanakan. Sebagai flashback, alumni SMANETA Jabodetabek untuk pertama kali mengadakan acara pertemuan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII – Jakarta Timur) tahun 2004. Dilanjutkan di Graha Cijantung (Jakarta Timur) tahun 2005, dan di tahun 2006 bertempat di daerah Halim Perdanakusumah – Jakarta Timur.

Untuk tahun 2008, acara yang dikomandoi Ninik Polwan (Bekasi) dan Ari Wibowo (Jakarta Selatan), dibantu Budi Ismawan (Bogor) sebagai koordinator lapangan, serta Dian Luthfi (Jakarta Selatan) sebagai seksi dokumentasi, mengagendakan pembahasan hasil-hasil pertemuan alumni di aula SMANETA tanggal 4 Oktober 2008 (Acara Reuni dan Halal Bihalal SMA Negeri 1 Tumpang), sekaligus membahas program apa yang bisa dijalankan dalam satu tahun kedepan.

Setidaknya, sekitar 45 orang alumni dan keluarganya (dari 130 alumni yang sempat terdata) hadir dalam pertemuan yang dimulai pukul 10.00 wib, dan mengambil tema acara : Lesehan di Alam Terbuka, Ajang Silaturahmi dan Wisata Keluarga Besar Alumni SMA Negeri 1 Tumpang Wilayah Jabodetabek Tahun 2008. Nama-nama langganan hadir tiap pertemuan tahunan seperti Sam Hery (Depok, lulusan 86), Sam Budi dan Mbak Ida (Bekasi, lulusan 86), ataupun Yulie Monieq (Pasar Minggu, lulusan 97) tetap setia datang. Belum lagi wajah-wajah baru (hadir) di pertemuan kali ini, seperti : Sam Dwika (Jakarta Selatan, lulusan 85), Deddy KW (Jakarta Timur, lulusan 2002), dan beberapa nama lain (Wafiq, Maya Imawati, Yohannes, Yanto, dll-nya) yang rata-rata ternyata sudah lebih 5 tahun tinggal di wilayah Jabodetabek.

Secara umum, acara yang berlangsung sampai pukul 15.00 Wib ini memiliki bobot yang lebih dibanding pertemuan ditahun-tahun sebelumnya. Terutama kualitas dan materi pembicaraan yang lebih fokus pada upaya kontribusi alumni untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Negeri 1 Tumpang. Tentu saja bentuk kontribusi disesuaikan antara kebutuhan pihak sekolah dengan kemampuan alumni dalam mensupport. Beberapa alternatif pilihan kontribusi memang sudah didapatkan, tetapi masih perlu untuk dibicarakan lebih detail lagi, minimal dalam tim kecil yang akan dibentuk lebih lanjut. Target pemenuhan bentuk konkrit kontribusi alumni pada sekolahan ditargetkan dalam satu tahun kedepan sudah bisa terealisasi.

Satu hal menarik dari pertemuan kali ini adalah konsumsi yang dihidangkan pada peserta pertemuan, semuanya serba Malang-an (Malang bangeeet…!). Yaitu: nasi jagung (sego gerit?), urap, bothok luntas, jangan lombok (bahasa Indonesianya: Sayur sangat pedas sekali, hehehe…), ikan asin, krupuk, sambel terasi, dan semuanya memang untuk 17 tahun keatas (karena sebelum pertemuan sudah diumumkan, untuk yang bawa anak kecil, harap membawa konsumsi sendiri, karena masakan yang akan dibawa tim konsumsi adalah kategori “don’t try at home” kalo punya anak kecil). Dan “trio konsumsi” Ninik, Yulie dan Dian sudah sukses membuat seluruh peserta terpuaskan. Ini juga termasuk nilai PLUS! dari pertemuan alumni kali ini.

Yang pasti, tujuan utama pertemuan untuk (semakin) mengakrabkan tali silaturahmi antar alumni dan keluarganya di wilayah Jabodetabek – agar tidak kehilangan saluran komunikasi dan informasi kampung halaman – semakin tahun semakin menjadi kenyataan. Sehingga, selain menghasilkan kontribusi positif bagi institusi pendidikan SMA Negeri 1 Tumpang, alumni juga bisa menjaga “kebersamaan” dalam menjalani hidup di perantauan, yang jauh dari kampung halaman. Sebuah upaya positif, yang mudah-mudahan bisa menular kepada rekan-rekan alumni yang ada di wilayah Indonesia lainnya. Semoga!
***

Mas Budi, Mas Nuradi, Mas Heri (lulusan 86) dan Mas Dwika (lulusan 85), masih punya semangat untuk hadir di setiap pertemuan alumni.
***

Nasi Jagung, Ikan Asin, Sambel Terasi, Jangan Lombok, Urap dan Bothok. Langsung diserbu habis...!!! (Kata Ninik, resiko sakit perut ditanggung sendiri lho!)

****

Kamis, 09 Oktober 2008

Kekompakan Panitia Halal Bihalal P@lmagita bersama Alumni dan Pembina
***

Tanpa disertai spanduk ataupun baliho sebagai tanda adanya sebuah acara, Palang Merah Remaja Unit SMA Negeri 1 Tumpang (biasa disebut: P@LMAGITA) pada hari Selasa, 7 Oktober 2008 mengadakan acara Halal Bihalal khusus Anggota & Alumni P@lmagita, bertempat di salah satu ruang kelas yang ada di SMANETA.

Meski terkesan sederhana, salah satu unit ekstrakurikuler tertua ini – didirikan Oktober 1984, dan sudah menghasilkan 25 Angkatan – tetap menyelenggarakan tradisi tahunan saling bermaafan di bulan Syawal secara rutin. Seperti diungkapkan Nurvia Malia, Ketua PMR periode 2008/2009, bahwa yang diundang acara inipun hanya sebatas anggota Angkatan XXIV dan XXV (saat ini sekitar 60-an anggota), 20 orang Alumni P@lmagita, serta Pembina ekstrakurikuler PMR sendiri. “Setidaknya anggota P@lmagita tetap kompak dan selalu menjaga tali silaturahmi antar anggota serta seniornya,” tambah Nurvia, yang kini duduk di kelas XI-IA 2.

Sementara itu, Bapak Nurwanto, selaku Pembina PMR SMA Negeri 1 Tumpang, beberapa saat sebelum acara dimulai mengingatkan, “Acara semacam ini bisa menumbuhkan kepercayaan anggota P@lmagita, untuk tetap menggeluti pilihan kegiatan ekstrakurikulernya.” Apalagi, masih tutur Pak Nurwanto, “Minat siswa pada ekstrakurikuler macam PMR ini semakin menyurut, terutama siswa laki-lakinya.” Sehingga, tidak berlebihan kalau dari sejumlah 60-an anggota P@lmagita saat ini, yang berjenis kelamin laki-laki hanya sekitar 25% nya saja.

Apapun yang ada, upaya yang dilakukan unit ekstrakurikuler PMR ini sudah sepatutnya diacungi jempol. Setidaknya, sebagai anggota PMR tidak hanya sebatas bisa memahami P3K semata, tetapi lebih dari itu adalah mengejawantahkan materi Pengembangan Diri yang menjadi bagian dari kegiatan PMR itu sendiri, dalam kegiatan yang bernama Halal Bihalal ini. Semoga tradisi ini juga ada di unit ekstrakurikuler yang lain!

Minggu, 05 Oktober 2008


Matahari mulai merambat naik, waktu masih menunjukkan pukul 8.45 pagi, tapi suasana di halaman SMA Negeri 1 Tumpang sudah nampak ramai hillir mudik – mulai dari adik-adik PMR, alumni, guru sampai staf kebersihan – dengan berbagai aktivitas yang bermuara sama: menyiapkan hajatan yang akan dilaksanakan hari itu. Dan, mulai pukul 9.25 wib, satu persatu alumni SMANETA mulai berdatangan, ada yang sendiri, bersama keluarga, dan juga berombongan.

Ya benar! Sabtu, 4 Oktober 2008 hari itu, acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Alumni SMA Negeri 1 Tumpang digelar untuk pertama kalinya. Ya, untuk pertama, sebab Halal Bihalal ini mengundang secara terbuka seluruh alumni – lulusan tahun 1982 sampai dengan lulusan 2008 – untuk berkumpul bersama di aula sekolah, yang selama 30 tahun SMANETA berdiri belum pernah dilaksanakan.

Seperti sebuah acara “reuni”, begitu alumni masuk gerbang sekolah, langsung mengisi daftar hadir, disodori formulir isian alumni, dan dipersilahkan foto di papan nama sekolah. Setelah itu baru dipersilahkan masuk aula. Tak disangka, alumni yang hadir benar-benar beragam. Bukan saja dari status, pekerjaan atau domisilinya, tetapi juga angkatannya. Tak kurang dari Mbak Lilik Astuti (yang kini menjadi PNS) lulusan tahun 1982 sampai Bagus Arif Setyawan (mahasiswa Universitas Kanjuruhan) yang baru lulus tahun 2008 ini, datang ke tempat yang sama untuk ber Halal Bihalal, karena statusnya yang sama : ALUMNI.

Pukul 10.55 wib, acara Halal Bihalal yang dipandu duet MC lokal Amulyatin & Alvin (keduanya alumni) dimulai. Ada laporan Ketua Pelaksana (Sugeng Pribadi, angkatan 1987) yang menekankan perlu dilembagakan acara seperti ini setiap tahun dengan format yang lebih besar dan rapi, dan Sambutan dari Bapak kepala Sekolah yang baru 5 bulan bertugas di SMA Negeri 1 Tumpang, Bapak Drs. Maskuri.

Dengan suara yang cukup lantang dan tegas, dihadapan 241 alumni yang hadir, Pak Maskuri memberi lecutan dan dorongan kepada seluruh alumni agar mulai memikirkan daerah “asal” mereka dibesarkan. Apa gunanya sukses di mana-mana (bahkan, sampai di mancanegara) kalau daerah asal alumni menuntut ilmu masih belum berubah juga sampai sekarang? Dan salah satunya, adalah tugas alumni untuk segera membenahinya. Sementara, Pak Bambang S., Ketua Komite Sekolah, menyampaikan hal yang senada, bahwa perlunya alumni untuk ikut memikirkan perkembangan sekolah tercita ini.

Untuk acara sambutan diakhiri dengan Launching Official Website SMA Negeri 1 Tumpang
www.sman1-tumpang.com oleh Bapak Kepala Sekolah, yang ditandai dengan memberikan komentar online pada web tersebut.

Meski acara terkesan menjadi tidak formal dan kurang terkoordinir, karena berjalan mengikuti kondisi dan situasi peserta yang hadir, suasana khas “temu kangen” tak terhindarkan lagi. Meski datang tidak bersamaan, alumni secara naluri membentuk kelompok-kelompok sendiri sesuai angkatannya, begitu masuk aula. Begitu sulit untuk mendiskripsikan suasana ketika para alumni berkumpul, selain bahwa ajang seperti ini mau tidak mau harus rutin diadakan.

Pukul 14.00 wib, dengan diakhiri pembacaan doa spontanitas oleh Pak Sujianto (Guru Agama), acara Halal Bihalal berakhir. Waktu yang cukup singkat memang. Ungkapan ketidakpuasan dan protes bahwa tak cukup waktu untuk melepas kangen memang bermunculan, bahwa undangan tidak rata menyebar juga menjadi topik dalam pembicaraan tiap kelompok alumni yang hadir. Sebuah masukan yang sangat berharga tentunya.

Acara Halal Bihalal – atau Silaturahmi, atau Reuni, atau Temu Kangen, atau apalah namanya – memang sudah berakhir. Banyak cerita yang ditinggalkan, bahkan sampai sekarangpun masih ada yang tetap membicarakan. Yang pasti, sebuah pekerjaan rumah (PR) telah menanti, kalau yang informal saja bisa mendatangkan banyak alumni, bagaimana kalau formatnya dibuat formal dan undangan menyeluruh keseluruh alumni yang kini sudah mencapai 9.000-an alumni?

Mudah-mudahan di tahun 2009 mendatang, acara REUNI AKBAR ALUMNI SMA NEGERI 1 TUMPANG bisa terealisasi. Anda mendukung kan ?


Dengan kursi diatur setengan lingkaran, semua alumni bisa saling melihat.
***

Sebagian angkatan 2008 yang hadir, berfoto bersama Kepala Sekolah dan Guru

****

Senin, 15 September 2008



Sebuah Otokritik Terhadap Majalah Widya Wiyata


Setiap hari Jumat pagi – saat membaca koran Kompas sebelum berangkat kerja – ada perasaan gemas dan geregetan ketika sampai pada sesi 4 halaman rubrik Muda. Sebuah rubrik yang diperuntukkan kaum muda (baca : siswa SMA) untuk berkreasi di bidang jurnalistik. Setiap hari Jumat itu pula, berbagai SMA yang ada di Indonesia silih berganti menampilkan tim-nya untuk menunjukkan bakatnya di bidang jurnalistik, dengan membuat tulisan yang tematis.

Kenapa harus geregetan? Karena menurutku ini hanya masalah “kesempatan” untuk tampil di koran nasional semata. Kesempatan, karena mereka memang mendaftarkan tim-nya terlebih dahulu pada Kompas, untuk diseleksi sebelum tampil. Masalah kemampuan teknis (wawancara, pilihan tema, maupun penulisan) bisa dilakukan oleh siapa saja, dimanapun letak sekolahnya, asal mempunyai niat dan kemauan yang kuat. Tentu saja, salah satu – SMA yang bisa mempunyai kemampuan teknis seperti itu – adalah SMA Negeri 1 Tumpang.

Tetapi, kenyataan yang ada – setidaknya sampai aku datang ke SMA Negeri 1 Tumpang Desember 2007 lalu – kemampuan teknis hampir tak terlihat sama sekali. Terutama di penerbitan Majalah Widya Wiyata edisi Nopember/Desember 2007. Tidak muncul “semangat dan gelora” anak muda dalam mengekspresikan halaman per halaman, juga eksplorasi kemampuan menuangkan kalimat khas remaja sama sekali tidak nampak.

Ini bukan karena pengelola (redaksi) Widya Wiyata tidak punya talenta atau kemampuan jurnalistik yang memadai. Buktinya, dengan personal yang sama, ternyata begitu bebasnya para pengelola ini mengekspresikan kemampuan jurnalistiknya di Majalah Dinding (aku sempat mengamati 2 edisi yang berbeda, dan boleh dibilang nilainya 8+), dan juga di Friendster – sebuah komunitas personal yang lagi trend di internet – yang mereka buat rata-rata mencerminkan dunia mereka yang sebenarnya.

Kenapa mereka (para pengelola Widya Wiyata) tiba-tiba kehilangan sense of journalism dan seperti mati angin ketika harus mengelola sebuah media cetak formal? Jawabannya, dari pembicaraan dengan pengelola dan Pembina – saat diadakan syukuran atas terbitnya kembali Widya Wiyata, Desember 2007 – nyatanya memang ada beberapa hal yang menjadi muara kurang berkembangnya majalah Widya Wiyata.

Pertama, komunikasi yang kurang seimbang antara pengelola dengan Pembina, sehingga Pembina nampak lebih dominan. Mestinya, Pembina bertugas mengawasi, mengarahkan, dan mengeksplor kemampuan siswa, bukan memberi instruksi.

Kedua, ketidakberanian pengelola mengeksplorasi kemampuannya secara penuh, karena khawatir dianggap sok pinter, takut idenya tidak diterima anggota lain, dan tidak didukung oleh pembina.

Ketiga, tidak ada platform yang jelas bagaimana sebuah majalah sekolah harusnya dibuat, akibatnya setiap ganti pengurus pasti akan berubah tampilan. Mestinya, ada panduan baku tentang cover, rubriksasi, jenis tulisan, dan brand dari majalah itu sendiri.

Keempat, pengelola dan pembina terlalu yakin (over convidence) bahwa apa yang dilakukan adalah yang terbaik, padahal dunia jurnalistik selalu berkembang dan dinamis.

Kelima, ini yang paling penting: belajar dan belajar. Tidak sekedar textbook, tetapi belajar melihat perkembangan media cetak lain, belajar melakukan survey media cetak macam apa yang disukai remaja saat ini, dan belajar untuk “meniru” media cetak yang sudah mapan.

Lima hal tersebut tentu bukan sekedar “teori”. Sebab, saat Widya Wiyata – yang dilahirkan Februari 1984 – masih seumur jagung, yaitu sekitar tahun 1985/1986, hal tersebut sudah sepenuhnya dijalankan. Dibawah komando Syamsu Muhajir (Lulusan 1987) Widya Wiyata bisa diterima semua kalangan karena isinya yang meremaja dan sesuai trend remaja saat itu, meski hanya berteknik stensil dan sablon. Dan nampak aneh, kalau 20 tahun berikutnya, ketika teknologi informasi sudah begitu maju, justeru Widya Wiyata seperti diktat atau majalah tahun70-an? Tentu ada mekanisme yang salah!


-----------------
Sugeng Pribadi
***Pengalaman Jurnalistik : Pemimpin Redaksi Majalah Widya Wiyata, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah dan Koran Kampus, Reporter sebuah Tabloid Mingguan, Juri berbagai Lomba Majalah Cetak dan Majalah Dinding Sekolah, semuanya tahun 1987 s/d 1996.


Senin, 08 September 2008



WORO-WORO

Mumpung sebentar lagi Lebaran, mumpung kita juga pada punya libur panjang, alangkah baiknya kalau di hari baik tersebut kita gunakan untuk saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.
Sekedar informasi, Acara Halal Bihalal & Silaturahmi Alumni (angkatan berapa saja, yang penting pernah sekolah dan atau lulus dari SMA Negeri 1 Tumpang) akan diadakan pada :

Hari : Sabtu
Tanggal : 4 Oktober 2008
Jam : 10.00 Wib s/d selesai
Tempat : Aula SMANETA

Berhubung ini acara informal, maka yang mau datang tidak perlu "pesan" (apalagi beli) undangan. Pokoknya ini acara kita -- dari kita dan untuk kita -- semuanya boleh kangen-kangenan, boleh menjelajah pelosok sekolah (siapa tau kangen masa lalu, hehehe...) ; dan rencananya ada pertandingan Futsal dan basket antar generasi lho....

J
angan sampai nggak datang ya.... (dan, informasikan ke teman-teman alumni yang lain!).


Salam,
Sie HUMAS
-------------
Catatan:
Agar tercatat dan mendapat layanan yang baik (hehehe... takut ada penyelundup soalnya), tolong yang sudah pasti bisa datang menginformasikan ke: smantumpang@gmail.com atau via SMS ke: 0815.1431.5525, dengan format: Nama, Tahun Lulus, Jumlah yang datang (siapa tau ngajak suami/istri/anak).

Jumat, 27 Juni 2008


Ini ada acara "Bursa Tenaga Kerja" di Kota Malang,
barangkali ada yang berminat dan ingin hadir.

--------------------


Kunjungilah Malang Career Fair 2008!
Pameran Bursa Kerja terbesar di kota Malang
yang diikuti berbagai perusahaan terkemuka
dengan ribuan lowongan kerja di berbagai bidang
bagi lulusan SMA, D1, D3 hingga S1.

Acara ini merupakan hasil kerja sama antara
karir.com dan Aero Komunika
selaku penyelenggara serta penanggung-jawab kegiatan.



Waktu & Tempat:
4-5 Juli 2008, hari Jumat-Sabtu
Pukul 09.00-17.00 WIB
Hotel Montana 2 Jl. Candi Panggung No.2
Malang-Jawa Timur


Perusahaan Peserta:
- Advanced Career Indonesia
- Agricon Putra Cipta Optima
- Bentoel Group
- Bernofarm Pharmaceuticals
- Berlian Laju Tanker
- BFI Finance, Tbk.
- Datacomm Dian Graha
- Indobatt
- karir.com
- kapanlagi.com
- Mandala Multifinance, Tbk.
- Parastar Echorindo
- Prima Jabar Steel
- Salam Pacific Indonesia Lines
- Samator Gas
- Sigma Cipta Caraka
- Summit Auto Group
- TEC Indonesia
- Utomo Utomo
- Outsourcing Indonesia

Harga Tanda Masuk:
Rp.20.000,-

Seminar:
Kiat lolos wawancara kerja dan persiapan memasuki dunia kerja.

Persiapkanlah diri Anda sebaik mungkin.
Bawalah CV serta surat lamaran dan bersiaplah untuk menghadapi wawancara langsung di lokasi!

Rabu, 18 Juni 2008


Buat teman-teman yang menyukai wisata kebun dan berdomisili di Jawa Timur, atau sedang berkunjung ke Jawa Timur pada tanggal 4 - 6 Juli 2008, saya persilahkan untuk berkunjung ke kantor kami dalam Acara Field Day Balitjestro 2008. Insya Allah acaranya tidak mengecewakan.

Info lebih lengkap silahkan akses ke
www.citrusindo. org.
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.



Wassalam,
Farida Yulianti
(Alumni SMANETA)

Sekarang bekerja di :
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung
Jl. Raya Tlekung No. 1 Junrejo, Batu
Jawa Timur

Senin, 16 Juni 2008


kepada adik-adik kelas XII SMA Negeri 1 Tumpang,
yang berhasil LULUS dalam Ujian Nasional 2008,
kami ucapkan Selamat….!


Tahun ini,
SMA Negeri 1 Tumpang berhasil
mencapai kelulusan 99,68%
(dari 305 peserta Ujian nasional, 1 orang siswa gagal lulus).

Semoga ini menjadi awal,

untuk melanjutkan ke jenjang (pendidikan) lebih tinggi,
serta bisa menggapai impian dan cita-citanya.



Pengelola Blog SMANETA

Selasa, 20 Mei 2008


Entah apa yang terjadi pada masa reformasi ini, terutama di dunia pendidikan kita. Seingatku, saat masih sekolah di tingkat dasar dan menengah awal tahun 80-an, aku tidak pernah membeli buku pelajaran (dulu disebut Buku Paket). Semua buku – mata pelajaran apapun – sudah disediakan sekolah. Bukan dikasih gratis untuk dimiliki sih, tetapi cukup dipinjamkan dan boleh dibawa pulang.

Kini, mimpi pemerintah untuk memberikan buku pelajaran sekolah gratis nampaknya sulit terealisasi. Pemerintah ternyata kesulitan membeli hak cipta buku pelajaran. Sampai sekarang, Departemen Pendidikan Nasional baru membeli hak cipta 37 buku pelajaran. Padahal, target pembelian hak cipta buku pelajaran tahun ini sebanyak 250 hak cipta buku.

Namun, pemerintah tak gusar. Mereka tetap yakin target ini bakal tercapai. Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo juga menyatakan bahwa upaya pembelian hak cipta itu pun sudah terlaksana dengan baik. Bahkan, Bambang juga sudah berniat tidak hanya membeli hak cipta buku pelajaran sekolah tetapi juga membeli hak cipta bacaan lainnya, khususnya buku-buku sains.

Dalam program ini, Departemen Pendidikan Nasional menawarkan Rp. 100 juta untuk setiap hak cipta buku. Nah itu berarti, bila pemerintah menargetkan tahun ini bisa membeli 250 hak cipta buku, maka pemerintah telah mengalokasikan Rp. 2,5 miliar untuk menjalankan program tersebut. Dan kalau dihitung-hitung, sebenarnya ongkos yang dikeluarkan tersebut masih terbilang kecil.

Yang jadi masalah, apakah harga setiap hak cipta tersebut sudah memenuhi standar kelayakan sebuah hak cipta, ataukah justeru buku pelajaran yang mau dibeli hak ciptanya yang tidak memenuhi standar kurikulum yang ada. Ini yang sebenarnya (juga) harus dijelaskan dengan transparan.

Sabtu, 26 April 2008



Tahun 2008 ini mungkin bakal banyak siswa yang tak lulus ujian nasional. Pengawas Independen Ujian Akhir Nasional menilai tingkat kesulitan soal ujian untuk tahun ini terlalu tinggi. Mereka menganggap soal-soal ujian tahun ini tak sebanding dengan kemampuan siswa. Seperti diungkapkan Komaruddin Hidayat, Ketua Panitia Pengawas Independen Ujian nasional, bahwa seharusnya ujian harus sejalan dengan pelajaran yang diberikan, kalau terlalu jauh akan membunuh siswa.

Pemerintah tak menampik bahwa materi ujian pada tahun ini lebih sulit ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Tujuannya supaya kemampuan siswa Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun. Bahkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla saat meninjau pelaksanaan ujian nasional di sejumlah SMA di Jakarta mengatakan, dengan tingkat kesulitan yang diatas rata-rata siswa kita bisa menyaingi Singapura dan Malaysia.

Secara keseluruhan, untuk pelaksanaan ujian nasional tahun ini, pemerintah mengaku puas meski banyak pelanggaran terjadi. Pemerintah justeru menganggap lebih baik daripada tahun lalu. Masih menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, pengawasan sudah dilakukan dengan cukup ketat, mulai dari proses pencetakan soal hingga pembagian soal di kelas.

Jadi, apapun hasilnya Ujian Akhir Nasional kali ini, ya “nikmati” saja. Toh pemerintah sudah mengajukan argument sendiri tentang banyaknya keluhan betapa sulitnya soal yang di-uji-kan. Jangan-jangan, karena beliau yang berkomentar di berbagai media selama ini (dulunya) belum merasakan susahnya jadi siswa seperti sekarang ini kali ya ?



Senin, 21 April 2008


Atas nama Alumni SMA Negeri Tumpang,
kami mengucapkan selamat menjalani

"Ujian Akhir Nasional (UAN)"
21-22 April 2008

kepada Adik-adik Kelas XII
SMA Negeri Tumpang (SMANETA)

Semoga mendapatkan hasil yang memuaskan,
dan sukses untuk masa depan adik-adik semua.
Doa kami selalu menyertai "perjalanan" kalian.



Alumni SMANETA

Labels

Alumni (21) Amerika Serikat (1) Angkatan 1995 (1) Anti Korupsi (1) Arab Saudi (1) Arema Malang (1) Artikel (8) ASEAN (1) ay kusnadi (1) Ayusta (1) Bahasa (2) Balitjestro 2008 (1) Bandung (1) Bank Mandiri (1) Bantuan Operasional Sekolah (1) barongan (1) Basketball (1) bca (1) Beasiswa (19) Berita (3) berita duka (1) BHMN (1) Bimbel (1) Biodiversity (1) Bisnis (1) bisnis online (1) Blog (5) bondan winarno (1) BOS (3) Buku (1) Buku Paket (1) Bulan Bahasa (1) Bullying (1) Bursa Kerja (1) Candi Kidal (1) Class Meeting (1) Dee (1) dollar gratis (1) Dumpul (1) dunia maya (1) Ekstrakurikuler (5) Facebook (2) Fair Play (1) Fisika (1) Friendster (1) Futsal (1) gado gado (1) Global Warming (1) Google (1) Gunung Tabor (1) Guru (10) Gus Dur (1) HUT ke-30 (1) IKAPALA (1) imam gozali (1) Inggris (1) Inspirasi (1) Internet (1) IPB (1) Iptek (3) Istana Negara (2) ITB (1) Jabodetabek (1) Jambi (1) Jawa Timur (4) Jepang (1) jerman (3) Jeru (1) Jilu (1) Jombang (1) Jusuf Kalla (1) Kabupaten Malang (4) kampus (1) karir.com (1) Kegiatan (1) Kelas A4 (1) Kelas XII (1) Kemendikbud (3) Kemendiknas (1) Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan (1) Kepala Sekolah (1) Kesehatan (3) KH. Abdurrahman Wahid (1) Kiat Jitu (1) Komik (1) Komunitas (1) kosmetika (1) Kota Batu (1) Kota Malang (5) Kuliah (1) kuliner (1) kusti (2) launching (1) Lingkungan (1) LIPI (1) Lowongan (1) Lulusan 2008 (1) M. Nuh (1) Mahasiswa (2) Mahasiswa Baru (2) Mahkamah Konstitusi (1) maknyus (1) Malang (3) Malang Raya (1) Malangsuko (1) Malaysia (1) Matematika (1) Mendiknas (1) Mendit (1) Menkominfo (1) Menulis (2) Menulis Ilmiah (1) Minat Baca (1) Motto Kelas (1) nDangdut (1) Nostalgia (2) Otonomi Daerah (1) Pahlawan Nasional (1) pak temun (1) Pancasila (1) panggung terbuka (1) Pelajar (1) Pelajaran (1) Pemerintah (1) Pendidikan (11) Pendidikan Nasional (6) Penelitian Ilmiah Remaja (2) Perbankan (1) Perguruan Tinggi (3) Perguruan Tinggi Swasta (2) Permen Karet (1) Pertamina (2) Pilkada (1) PMP (1) PMR (1) Pornografi (1) pramuka (2) Precet (1) Profil (2) PTN (3) PTS (1) Redaksi (1) remaja (2) reuni (5) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (3) Riset (1) RSBI (4) Rujak Cingur (1) S-1 (1) S1 (1) S2 (1) S3 (1) Sains (1) Sarjana (1) SBI (1) SD (5) Sejarah (3) Sekolah Hijau (1) Sepakbola (2) sepeda (1) Situs (1) SMA (17) SMA Kebon Tebu (1) SMAN 1 Malang (1) sman tumpang (3) SMANETA (10) Smansa (1) SMK (1) SMKN Turen (1) SMP (4) SNMPTN (2) SNMPTN Online (1) soeharto (1) STT Telkom (1) sugeng hadiono (1) Sukoanyar (1) Surabaya (1) Tahun 2013 (1) Tahun Baru (1) Taiwan (1) Tawuran (1) teknologi (3) Tes Online (1) Tips (5) Tomik HS (1) Trik (1) Try Out Online (1) Tulus Ayu (1) Tumpang (2) UAN (2) UASBN (1) UGM (2) UI (1) Ujian (2) Ujian Akhir Nasional (1) Ujian Nasional (5) Ujian Nasional 2010 (1) Ujian Nasional 2011 (1) Ujian Nasional 2012 (1) UM (1) UMB (1) UN (7) UN 2010 (5) UN 2012 (1) Universitas (1) Universitas Brawijaya (1) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (1) Universitas Paramadina (1) UNS Solo (1) Virus (1) wafat (1) Wakil Gubernur (1) website (2) Wendit Water park (1) Wisata (2) wisnuwardhana-narasinghamurti (1) www.smantumpang.com (1)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!