Selasa, 12 Januari 2010

*** KILASAN IKAPALA
-----------------------------
Lahir pada tanggal 8 Maret 1980, penancapan bendera dilakukan di gunung Welirang, angkatan I-III digembleng di sekolah Kepolisian Watukosek Sidoarjo. Misi organisasi ini adalah menanamkan sejak dini mengenai kepedulian akan bumi melalui kegiatan Pengenalan Alam dan Adventure.

IKAPALA
banyak mengeluarkan generasi-generasi muda (alumni) yang siap terjun di masyarakat dalam bidangnya.
Di usianya yang ke 31
IKAPALA merupakan organisasi Pecinta Alam yang cukup dewasa dan penuh pengalaman serta siap mendidik kader-kadernya untuk bermental baja.

*** PRESTASI

-------------------

Diantaranya yang sempat terekam:

- Finalis MACCO (Malang Climbing Competition)
- Masuk 10 besar lomba panjat tebing tingkat Jatim di Surabaya
- Peringkat 17 Tingkat Nasional dalam VWCC( Vignecwara Wall Climbing Competition )

- Menjuari Hicking Ralli Panji Pulang Jiwo (HRPPJ) I-IV se Jawa-Madura-Bali-Lombok
- Menjadi satu-satunya peserrta SMU dalam Jambore Pecinta Alam se Jawa di Ranupane

- Mengadakan pendakian tahunan ke Arjuna, Welirang, dan Semeru

- Mengadakan Ekspedisi ke Argopuro
- Mengadakan Seminar dan Pameran foto di Hari Puspa Satwa se Kab/ Kodya Malang.


*** MATERI
(meliputi 4 bidang:)
----------------------------------------
* RG (Rimba Gunung)

Meliputi :

- Hill Walking (pendakian)

- PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat)

- SAR (Tindakan Evakuasi Korban dan Kemanusian)

- Survival (Bertahan di Alam terbuka)


* RC (Rock Climbing)

Kegiatan olahraga Panjat Tebing yang biasa berlatih di Lembah Kera Pagak.


* Caving

Kegiatan penelusuran gua dan mempelajari habitat yang ada di dalam gua.


* ORAD

Olahraga Arus Deras yang biasa kita kenal dengan Arung Jeram.


***KEGIATAN

------------------

- Pengenalan Alam Luar sekolah

- Materi Ruang
- DIKLATSAR Ranupane
- Pendakian rutin Semeru

- Pendakian / Ekspedisi Khusus : G. Argopuro, G. Agung dan G. Rinjani

- Kegiatan Eksidental

***

Sumber: www.ikapala.net





Sabtu, 02 Januari 2010

Kalau tidak ada halangan, pada Maret nanti, seluruh anak Indonesia yang duduk di kelas terakhir SD sampai SMA akan bertarung dengan seluruh daya dan usaha agar bisa lulus Ujian Nasional (UN) 2010. Ujian nasional yang dulu dikenal dengan Ebtanas ini sudah sejak lama menjadi momok menakutkan, bukan saja bagi anak dan guru sekolah, tapi juga orang tua.

Semua pihak ikut tegang ketika anak bersiap mengikuti UN, bahkan anak-anak pintar pun “deg-degan”, karena mereka tahu “nasib” juga sangat menentukan kelulusan mereka.

Dua tahun lalu, seorang anak pintar di sebuah SMA di Jakarta yang merasa tidak cukup bekal dari guru-gurunya sehingga sejak kelas dua mengikuti bimbingan belajar, bahkan sudah lolos PMDK di sebuah perguruan tinggi negeri terkenal, tetapi apa daya, anak itu tidak lulus UN.

UN juga membuat para guru ikut tegang dan berjibaku mendampingi muridnya, sampai-sampai mesti membocorkan soal atau memberi jawaban secara sembunyi-sembunyi, hanya agar anak didiknya lulus. Situasi sama meliputi orang tua. Selain berdoa siang malam, dana juga dikerahkan mereka dengan mengirim anak ke pusat-pusat bimbingan belajar yang terkenal berjaminan lulus atau memiliki sistem belajar ketat sehingga anak bak tinggal di asrama. Bagi mereka, yang penting, anak lulus UN.

Intinya, semua “deg-degan” saat UN tiba.

Lebih dari setahun ini, UN menimbulkan pro kontra pada masyarakat, bahkan pemerintah sendiri. Namun UN tetap dipertahankan dengan versi janji yang berbeda, lengkap dengan misi mulia yang dipikulnya.

Di depan Komisi X DPR RI belum lama ini, Mendiknas Mohammad Nuh mengumumkan empat syarat kelulusan pada 2010. Pertama, menyelesaikan seluruh proses pembelajaran di sekolah. Kedua, memperoleh nilai baik untuk kelompok mata pelajaran akhlak mulia, kepribadian, dan seterusnya. Ketiga, lulus Ujian Sekolah. Keempat, anak lulus UN.

Keempat syarat ini berlaku simultan. Artinya, meski rata-rata UN seorang murid 10, tapi nilai akhlak mulia atau kepribadian yang dinilai sekolah hanya empat, maka otomatis dia tidak lulus. Keempat syarat itu tampak ideal karena dengan begitu, anak tidak boleh sekedar pintar, tapi juga mesti santun dan bermoral mulia. Dia pintar dan juara di kelas, tapi kalau sering “melawan” guru, bisa jadi dia tidak lulus. Masalahnya, pengertian “melawan” tentu ditafsirkan berbeda-beda.

Kalau sudah bosan dengan cara gurunya mengajar, lalu anak berulah, sehingga dia dicap nakal oleh gurunya. Jika murid berani menanyakan yang aneh-aneh, misal, mengapa kacang hijau bentuknya kecil dibandingkan kacang tanah, maka timbul rasa disepelekan dari guru.

Lalu, bagaimana kalau anak memang nakal di sekolah?

Faktor-faktor ini bisa menjaid alasan alasan kuat untuk tidak meluluskan anak, padahal itu belum tentu objektif. Di balik nafas idealisme UN, terselip kekhawatiran bahwa kelulusan juga ditentukan oleh nilai yang berlaku di sekolah, padahal nilai-nilai itu nota bene adalah nilai-nilai dari para guru yang tentu subjektif. Oleh karena itu, guna menyeimbangkan keadaan ini dan memenuhi tuntutan agar anak bisa lulus, guru perlu juga mengikuti UN, yakni UN guru. Kelululusan guru tidak cukup dengan sertifikasi guru, tetapi apakah dia juga memenuhi empat syarat yang ditentukan pemerintah kepada anak-anak sekolah.

Untuk syarat pertama, misalnya, apakah guru sudah memberikan hak dan kewajiban anak selama proses belajar mengajar, karena bukan rahasia lagi, guru juga kerap mangkir, bolos, dan tidak memberi pelajaran sesuai dengan minat anak karena misalnya, hanya mengacu pada kurikulum kaku semata.

Untuk syarat kedua, apakah guru juga telah menjadi teladan bagi anak didiknya, karena bukan hal yang asing jika guru kerap berlaku terlalu keras terhadap anak didik, misalnya menampar atau menjewer anak, bahkan merokok dalam kelas.

Saya teringat pada pengalaman seorang anak kelas dua SD yang rajin mengikuti salat berjamaah di sekolahnya. Dari ibunya, dia belajar bahwa doa paling makbul adalah saat sujud terakhir. Ironisnya, di masjid sekolahnya, dia justru mendapat pukulan dari sajadah yang digulung gurunya, karena dianggap main-main dalam salat, hanya karena sujud terakhirnya lama. Masih segar dalam ingatan, berita kecil tentang cara guru di sebuah desa terpencil di Sumatera Utara yang menyuruh muridnya menghapus papan tulis dengan lidah muridnya.

Ketiga, harus lulus Ujian Sekolah. Di sini, guru wajib bertanya pada dirinya apakah sudah memberikan yang terbaik. Dalam suatu rapat kelulusan di sekolah, seorang guru bertahan memberikan nilai merah kepada anak didiknya, hanya karena anak kerap melawan gurunya di kelas. Guru Bimbingan Karir (BK)-lah yang lalu mati-matian menolong anak supaya lulus.

Kemudian untuk syarat keempat, apakah guru sudah menyiapkan anak didiknya secara maksimal. Bukan rahasia lagi, selain menyelenggarakan program pengayaan, sekolah-sekolah malah mendatangkan juga “perusahaan” bimbingan belajar ke sekolah atau memanggil alumni pintar untuk memberikan bimbingan khusus kepada murid-muridnya. Lalu, apa yang diberikan guru selama enam tahun di SD atau tiga tahun di SMP dan SMA, kalau untuk tiga hari UN saja masih meminta tenaga luar?

Inilah dilema UN. Ketegangan emosi yang meliputi anak didik, guru dan orang tua hendaknya membuat semua pihak sadar untuk melewati semua itu dengan kebersamaan, saling terbuka dan peka satu sama lain.

Joseph Devito dalam buku Interpersonal Communication (2009) menyebutkan saling merasa hanya akan muncul jika dua pihak atau lebih bersifat terbuka, berpikiran positif dan merasa setara.

Semua hal itu masih membutuhkan satu syarat lagi, yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati segala hal menyangkut anak. Artinya, orang tua dan guru mesti menerima anak apa adanya.

Yang menjadi masalah, orang tua dan guru merasa memiliki “kekuasaan” karena posisinya sebagai orang tua atau guru, sehingga seringkali memandang yang mereka berekan kepada anak adalah yang terbaik untuk anak. Padahal, belum tentu anak merasakannya seperti itu. Misal, ikut bimbingan belajar ke sana ke mari sehingga anak-anak kelelahan, namun anak merasa bersalah jika tidak menuruti perintah orang tuanya. Rasa bersalah ini semakin membebani anak, jika si anak tidak lulus ujian.

Dalam kaitan itu, semua pihak agaknya perlu memperhatikan model komunikasi mencerahkan seperti disebut John Stewart & Carole Logan dalam buku Together (1993), bahwa orang tua dan anak serta guru perlu membina komunikasi “balancing act.” Namun, ini hanya bisa dipenuhi dengan komunikasi interpersonal. Menurut mereka, ada dua model hubungan komunikasi, yakni hubungan komplementer karena ada perbedaan posisi atau kepentingan dan pengalaman antara kedua pihak. Dalam konteks ini, karena orang tua dan guru pada posisi atas, maka anak hanya pasrah dan menerima apa saja yang dianggap terbaik oleh orang tuanya.

Model kedua adalah komunikasi simetris di mana kedua pihak merasa setara meski keduanya berbeda posisi. Komunikasi seperti ini bisa terjalin jika orang tua atau guru tidak menganggap anak didik masih “anak-anak yang masih disuapi” tapi sudah sebagai teman dengan kepentingan bersama.

Di sinilah pentingnya kebersamaan orang tua, guru dan anak dalam menghadapi UN 2010 sehingga ketiganya tidak harus deg-degan karena semua yakin bahwa anak didik mampu menghadapi UN.

***
Ditulis oleh:
Dr. Artini
(Staf Pengajar STIKOM London School of Public Relations, Jakarta).
Sumber:

AntaraNews.Com





Jumat, 21 Agustus 2009


SUSUNAN PANITIA

REUNI AKBAR

ALUMNI SMA NEGERI 1 TUMPANG

26 September 2009



Pelindung/Pembina :

Bpk. Maskuri (Kepala SMAN 1 Tumpang)


Penasehat :

Bpk. Prianggono (Waka Kesiswaan)

Bpk. Herry Effendi (Waka Kurikulum)

Bpk. Soedjianto (Guru Senior SMANETA)

Ibu Runia Laksmiwati (Guru Senior SMANETA)


Penanggung Jawab :

Bpk. Agus Siswanto (Alumni 1982)


Ketua Umum :

Sugeng Pribadi (Alumni 1987)

Ketua Pelaksana :

Ragil Agung Cahyono (Alumni 1996)


Sekretaris :

Arief Wahyuono (Alumni 1994)

Wakil Sekretaris :

Rany Maharsari (Alumni 1994)


Bendahara :

Lestari S. Asih (Alumni 1987)

Wakil Bendahara :

Selvia Wulandari (Alumni 2007)


Seksi-seksi :


1. Sie Sekretariat :

Hengky Priyo (Alumni 2002)

M. Zainul Karomi (Alumni 2008)

Rizal Rinaldi (Alumni 2008)


2. Sie Acara :

Deddy Cahyono (Alumni 1998)

Chusnul Chuluq (Alumni 1998)

Mulyati (Alumni 1998)

Rulli Suprayugo (Alumni 2002)


3. Sie Design & Artistik :

Tyo M. Wibowo (Alumni 1998)

Rizky Ardiansyah (Alumni 1995)

Bambang Gumbing (Alumni 1995)

Rendy Trio (Alumni 1998)


4. Sie Humas, Publikasi & Perijinan :

Happy Hendra C. (Alumni 1995)

Audzu Wayin (Alumni 1995)

Hari Subekti (Alumni 1995)

Desantara Eka W. (Alumni 2002)

Ahmad Apriono (Alumni 1988)


5. Sie IT & Online :

Abdee Kurniawan (Alumni 2004)

Nova Nila Santi (Alumni 2004)


6. Sie Sponsorship :

Prasetyo Early Firmansyah (Alumni 2002)

Putri Indah C. (Alumni 2002)

Sofiana Ulfa (Alumni 2002)

Dwi Prasetyoadi (Alumni 2002)

Trio Ismail (Alumni 2002)


7. Sie Transportasi :

Yudha Istanto (Alumni 2000)

Lutfi Firmansyah (Alumni 2007)


8. Sie Dokumentasi :

Mahbub Junaedi (Alumni 1995)

Hisbulloh Huda (Alumni 1995)

OSIS SMANETA


9. Sie Keamanan :

Widodo Yatmoko H. (Alumni 1991)

Widodo Prasetyono (Alumni 1993)

Eko Suhariyanto (Security)


10. Sie Perlengkapan :

Maliki (Alumni 1995)

Roy Trigodwin Butar-Butar (Alumni 1995)

Abdul Halim (Alumni 1995)


11. Sie Kesehatan & P3K :

Allif Krisnawati (Alumni 2008)

PMR SMANETA


12. Sie Konsumsi :

Titin Agustina (Alumni 1985)

Intarti (Alumni 1995)


13. Sie Pendaftaran :

Herlina Susanti (Alumni 1994)

Masniya Ulfa (Alumni 2008)

Khusnul Prianto (Alumni 1998)
Fitri Nuril L. (Alumni 2008)







Rabu, 29 Juli 2009


Kepada Yth.
Teman2 alumni SMA Negeri 1 Tumpang
di mana saja berada


Kami informasikan, bahwa upaya pendataan alumni SMA Negeri 1 Tumpang (SMANETA) sudah mulai dilakukan, baik secara offline maupun online. Tujuannya, melakukan update data dan mencatatnya dalam buku induk alumni (yg nantinya akan disimpan di sekolah), sehingga komunikasi antar alumni maupun dg pihak sekolah bisa lebih lancar.

Untuk mempercepat, satu upaya lagi (akan) dilakukan, yaitu melalui sms.
Untuk itu mohon bantuan teman2 alumni semua untuk segera mengirim sms dengan format:

nama lengkap (sesuai ijazah sma) - tahun lulus - kota tempat domisili sekarang - no. telp yg bisa dihubungi
contoh :
sugeng pribadi - 1987 - jakarta - 081514315525


dikirim ke (salah satu):
0341-7575845 (Arief)
0815-8988345 (Ninik)
0815-14315525 (Sugeng)

**Semua sms yg masuk akan dihubungi lagi oleh Alumni yg bertugas di bagian registrasi alumni, untuk verifikasi.

Jika teman2 juga mempunyai data/alamat/no telp alumni lainnya, mohon disampaikan juga kepada kami (melalui no. sms yg sama), cukup dengan format: nama - kota - no. telp.

selanjutnya kami akan menghubungi ybs. untuk pendataan lebih lanjut. Dengan demikian proses pendataan alumni akan bisa berjalan lebih cepat, efesien dan efektif.

Jika ada yang akan mengirim via email (untuk semua hal yg berhubungan dg alumni) bisa dialamatkan ke : smantumpang@gmail.com

Terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya. Semoga alumni SMA Negeri 1 Tumpang (SMANETA) bisa semakin kompak serta kuat dalam SATU ikatan tali silaturahmi.

**Untuk melihat DAFTAR Alumni yang sudah didata, klik DISINI !




Selasa, 16 Juni 2009

Kebetulan saya mengajar Fisika di SMAN1 Tumpang mulai tahun 1984 hingga sekarang, dari sisi ilmu yang dipelajari banyak berkaitan dengan hukum-hukum alam misal: hukum kekekalan energi, relativitas, aksi-reaksi, keseimbangan, grafitasi, pengukuran dan lain-lain yang ternyata banyak berlaku pula pada kita, karena kita juga salah satu unsur alam. Hukum-hukum dalam fisika yang tak lain semua itu adalah sunatullah, jika dikaji dan diterapkan dengan benar akan berdampak kebaikan dan meningkatkan kemakmuran hidup serta bisa menjadi sarana untuk labih memahami ayat-ayat Allah. 

Uraian pada edisi perdana ini berkaitan dengan pengukuran, utamanya untuk mengukur kebarhasilan kita dalam menempuh kehidupan di dunia. Kita sadar bahwa setiap orang pasti ingin berhasil dalam hidupnya, takada orang yang normal ingin tak berhasil dan susah dalam hidupnya, keberhasilan tersebut tentu ada tolak ukurnya atau alat ukurnya diantaranya adalah tingkat ekonomi, tingkat pendidikan, tingkat kesehatannya dan tingkat sosial atau jabatannya, sehingga jika teman kita telah menjadi pejabat, kaya, berpendidikan tinggi dan sehat maka itulah yang kita katakan berhasil, enak dan bahagia hidupnya demikian ukuran orang pada umumnya dan kita selalu berlomba-lomba untuk meraihnya. 

Tak-jauh dengan pemahaman fisika tentang pengukuran besaran fisika, misal menurut ilmu fisika jika kita akan mengukur sesuatu besaran haruslah juga dipilih alat ukur yang sesuai dan tepat, lebih jelasnya dengan contoh jika kita ingin mengukur tebal kertas maka alat ukurnya adalah alat pengukur panjang atau disebut meteran bukan menggunakan pengukur waktu atau yang lain, tapi hal itu belumlah tepat kalau sembarang penggaris sebagai pengukur panjang dipakai untuk mengukur tebal kertas, karena kemampuan dan ketelitiannya tidak cocok dan masih perlu dicari alat ukur yang cocok, dalam hal ini alat itu disebut mikrometerskrup dan untuk menggunakan perlu belajar agar sesuai berdasarkan petunjuk yang ditentukan oleh pembuatnya. 

Alat ukur keberhasilan hidup yang kita pakai secara umum sudah sesuai dan benar tetapi perlu dikoreksi ketepatnya, sebab masih banyak kasus yang kita jumpai misal diantara kita ada orang kaya, pendidikannya tinggi, fisiknya sehat punya jabatan ternyata belum memperoleh kebahagian dan melakukan perbuatan yang tak terpuji. Sehingga alat ukur keberhasilan dalam hidup juga harus tepat dan sesuai petunjuk pembuat-Nya. 

Untuk itu marilah kita berusaha untuk meperoleh keberhasilan hidup dengan tolak ukur yang benar dan tepat yaitu agama lebih khusus bagi yang beragama Islam adalah Al Qur’an dan Al Hadis, yang intinya adalah mengajarkan agar kita ber-akhlaq mulia, sesuai yang dituntunkan-Nya. Kita diwajibkan untuk berusaha semaksimal mungkin dan selalu berdoa agar kita meraih kehidupan yang bahagia, sejahtera baik di dunia hingga akhirat. 

Dengan melengkapi alat ukur agama maka alat ukur yang umum dipakai menjadi lebih ber-makna, apalagi kalau diterapkan dalam kehidupan tak ada istilah orang tidak berhasil, karena ukuran yang dipakai bukan sekedar tingkat ekonomi, pendidikan dan kesehatan tapi yang dipakai adalah akhlaq. Apapun peran kita dan apapun kondisi kita dianggap sama dihadapan Allah dan kita dituntut untuk merubah akhlaq yang belum sesuai untuk dirubah menjadi sesuai tuntunanNya, itulah manusia yang berhasil. Kewajiban lain dari kita adalah menuntut ilmu untuk kebaikan dunia akhirat, baik ilmu umum maupun ilmu agama selanjutnya dapat mengamalkan sesuai kemampuan dan sesuai tuntunan-Nya karena dengan itu kita akan hidup lebih baik, sejahtera lahir-batin di dunia maupun akhirat disebut juga berhasil. 

Beberapa kesimpulan yang diperoleh antaralain : Dengan alat ukur yang benar dan tepat kita dapat menilai kebenaran dan akurasi dari yang diukur. Dengan berbekal ilmu umum dan agama kita dapat lebih sejahtera. Dengan berbekal Akhlaq mulia kita masuk surga. Semoga uraian singkat ini ada manfaatnya dan edisi lanjutannya bisa terbit.  

*** Tomik HS (Guru SMA Negeri 1 Tumpang)

***

Komentar bisa dikirimkan ke: email : tomikhs@gmail.com



Selasa, 12 Mei 2009


Mungkin, bagi sebagaian orang yang membuat blog hanya sekedar sarana “pelampiasan” uneg-uneg, tak pernah terpikirkan bahwa blog juga bisa dijadikan barang “jualan” yang menggiurkan. Maksudnya, sebuah blog yang mempunyai unsur lengkap – dalam kaidah sebuah blog/web yang baik – akan mempunyai nilai jual tinggi, jika ada yang menginginkan blog/nama blog/domain (termasuk content) blog tersebut.

Saat ini, ada beberapa web – diantaranya: websiteoutlook.com, dnscoop.com, URLrate.com – yang menyediakan layanan khusus untuk menaksir harga sebuah blog ataupun nama domain. Bahkan, diantara web tersebut, ada yang menyediakan jasa menjualkan blog atau domain kita, jika memang ingin dijual.

Nah.., sebagai contoh, untuk mengetahui berapa taksiran harga blog smantumpang (siapa tau ada yang mo beli?) – yang beralamat di www.smantumpang.blogspot.com – dengan segala kesederhanaannya, ternyata sungguh mengejutkan. Di situs www.websiteoutlook.com, blog smantumpang mempunyai (taksiran) harga US$ 1,744.7 atau setara dengan Rp. 17.447.000,- jika memakai kurs US$ 1 = Rp. 10.000,-

Harga ini, tentu bukan asal-asalan, karena ada beberapa indikator yang dijadikan dasar taksiran, seperti Umur blog, PageRank, Inbound Links dan juga Trafic Rank (Alexa). Di blog smantumpang nilai indikatornya cukup tinggi. Untuk PageRank, blog ini sempat mencapai angka 3, umur blog pun sudah 3 tahun lebih. Sedang untuk Traffic Rank, berada di kisaran angka 4.036.148 (memakai standar Alexa), plus 29 backlinks.

Sedang website smantumpang lainnya -- www.sma1-tumpang.com – di URLrate.com hanya ditaksir dengan harga US$ 418 (setara dengan Rp. 4.180.000), karena belum mempunyai PageRank (0) dan Alexa Rank (no data). Tetapi, di usianya yang baru 10 bulan web smaneta ini sudah mempunyai Inbound Links 38. Sebagai perbandingan, contoh lainnya adalah blog www.sugeng-pribadi.blogspot.com, yang mempunyai taksiran harga US$ 2,479 (setara Rp. 24.790.000,-) ; karena ber PageRank 2 dan usia blog 2 ,5 tahun, dengan Alexa Rank yang masuk kisaran 2.000.000.

Cuma, adakah yang mau “menawar” blog-blog tersebut? Walau, menurutku, untuk sebuah blog/web yang membawa nama sebuah institusi (sekolah), tentulah tidak bisa “dijual” begitu saja (dengan harga berapapun), karena selain membawa nama baik institusi, tidak menutup kemungkinan pihak pembeli akan menyalahgunakan. Lain masalahnya kalau blog-ku yang ditawar, jangankan 24,7 juta, ada yang mau bayar 5 juta pun aku kasihkan, toh aku bisa bikin blog lagi, hehehe… (apa susahnya sih?).


Rabu, 25 Maret 2009


Setelah secara rutin sejak tahun 2004 mengadakan pertemuan tahunan, para alumni SMA Negeri 1 Tumpang yang tersebar di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) sepakat untuk melembagakan tali silaturahmi antar alumni di rantau ini dalam sebuah wadah yang punya struktur organisasi, pada pertemuan tahunannya yang ke-5.

Sebagai gambaran, alumni SMA Negeri 1 Tumpang yang tercatat keberadaannya di wilayah tersebut lebih dari 150 alumni. Dan mulai rutin mengadakan pertemuan sejak tahun 2004 (ke-1) mengambil tempat di Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta Timur), tahun 2005 (ke-2) di Cijantung (Jakarta Timur), tahun 2007 (ke-3) di Halim Perdanakusumah (Jakarta Timur), dan tahun 2008 (ke-4) di Taman Wiladatika Cibubur (Jakarta Timur)

Kesepakatan yang dicapai para alumni SMA Negeri 1 Tumpang untuk wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten tersebut, terjadi pada hari Minggu, 15 Pebruari 2009, bertempat di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, pukul 11.00 s/d 15.30 Wib. yaitu membentuk Kepengurusan Paguyuban Alumni SMA Negeri 1 Tumpang untuk wilayah DKI, Jawa Barat & Banten.

Tujuan pembentukan kepengurusan ini semata-mata hanya untuk memudahkan segala urusan (operasional dan administrasi) kegiatan-kegiatan alumni yang ada di wilayah tersebut. Artinya, meskipun berbentuk organisasi yang ada kepengurusannya, tetapi tetap bersifat informal, sambil menunggu terbentuknya Ikatan Alumni yang formal (direncanakan 27 September 2009) di Tumpang. Itulah sebabnya para alumni wilayah DKI, Jawa Barat dan Banten mengambil nama "Paguyuban" bukan "Ikatan Alumni".

Hasil pertemuan tersebut juga menggaris-bawahi bahwa paguyuban ini bukan berarti ingin "memisahkan diri" secara eksklusif dengan para alumni di daerah lain; tetapi justeru ingin mendorong agar di wilayah lain segera terbentuk paguyuban sejenis, dan pada akhirnya akan disatukan menjadi IKATAN ALUMNI SMA NEGERI 1 TUMPANG yang resmi dan formal, yang mendapat pengesahan dari pihak sekolah dan instansi terkait (akta notaris).

Untuk program awal, salah satunya adalah membantu mengumpulkan data alumni yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Caranya, dengan meminta bantuan seluruh alumni (yang sudah ada nama, alamat dan nomor teleponnya) untuk saling memberikan informasi keberadaan rekan-rekan alumni yang lain, atau biasa disebut gethok tular. Semua data yang masuk akan dikonfirmasi ulang pada yang bersangkutan dan kemudian akan ditampung di data-center, yang akan ditangani pengurus yang berada di bagian IT.

Terpilih sebagai Ketua Umum untuk periode tahun 2009 adalah Drs. Winarto (lulusan 1983) -- salah satu perwira TNI -- yang saat ini berdinas di Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), dengan posisi terakhir sebagai Kepala Sekretariat Paspampres. Berikut kepengurusan inti :

Ketua : Winarto Lulusan 1983
Wakil Ketua : Dwika J. Wahyudi Lulusan 1983

Sekretaris Jenderal : Sugeng Pribadi Lulusan 1987
Wakil Sekjen : Yusuf Ari Wibowo Lulusan 1994

Bendahara : Dian Eka Anggraeni Lulusan 1997
Wakil Bendahara : Budi Ismawan Lulusan 1992




Kamis, 19 Maret 2009


Sangat kaget, itu reaksi pertama saat melihat foto diatas muncul di halaman utama Harian Kompas, Kamis, 19 Maret 2009. Kaget, karena foto itu menggambarkan kondisi realistis yang terjadi di salah satu sekolah dasar di wilayah Kabupaten Malang. Tepatnya, ruang kelas V SDN Simojayan 2, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

Ironisnya, kondisi sekolah tanpa bangku tersebut – terjadi di 3 ruang kelas SDN tersebut – bukan karena sekolah tidak mampu membeli perabot ataupun sarana sekolah. Tetapi mebel sekolah ditarik oleh perajin mebel yang memasok ke sekolah tersebut, karena rekanan Pemerintah Kabupaten Malang belum membayar perajin mebel terkait dengan proyek pengadaan mebel sekolah tahun 2006.

Sulit membayangkan, ketika dunia pendidikan tingkat dasar di negeri ini didengung-dengungkan sebagai hal yang wajib dan gratis – entah di setiap kampanye pilkada maupun pemilu nasional – ternyata malah pelaksana dunia pendidikan itu sendiri yang “mencuri” hal-hak para murid, yang tentu saja tidak seharusnya menerima perlakuan seperti itu.

Bagaimana mungkin dunia pendidikan bisa beranjak maju, bagaimana mungkin guru dan murid (yang selama ini selalu menjadi kambing hitam kegagalan sistim pendidikan) bisa dengan tenang belajar di sekolah, kalau institusi yang harusnya “melayani” kebutuhan sekolah justeru menutup mata ketika terjadi ketidak beresan? Atau, jangan-jangan ketidak-beresan ini juga bermuara dari institusi itu sendiri?

Sebelum semuanya menjadi terlambat, harus segera ada upaya pembenahan, yang tentunya menjadi tugas kita bersama (sesuai dengan proporsi masing-masing). Kalau tidak, dunia pendidikan kita akan semakin terpuruk!




Minggu, 01 Maret 2009


Istana Merdeka adalah yang paling diingat khalayak diantara enam Istana Kepresidenan meski jelaslah ia bukan yang paling tua, paling megah, atau paling indah. Istana Negara yang berada di belakang dan satu halaman dengannya, jauh lebih dulu dibangun. Istana Bogor jelas lebih luas dan megah.

Sementara Istana Yogyakarta mempunyai peran paling besar dalam revolusi kemerdekaan. Pastilah khalayak tahu bahwa Istana Merdeka adalah tempat kediaman resmi Presiden, khususnya Presiden pertama, dan tempat berlangsungnya upacara-upacara kenegaraan. Ia mendapat tempat khusus di hati rakyat karena bernama Merdeka perlambang kemenangan perjuangan bangsa. Nama itu menandai berakhirnya penjajahan di Indonesia dan mulainya pemerintahan oleh bangsa sendiri.

Pemberian nama itu mempunyai latar sejarah tersendiri. Pada tanggal 27 Desember 1949 Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat. Acaranya berlangsung di dua tempat: di Istana Gambir, Jakarta, Indonesia, dan Istana Dam, Amsterdam, Belanda. Di Istana Gambir, Wakil Tinggi Mahkota Belanda A.H.J. Lovink melakukan upacara itu di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia.

Karena perbedaan waktu antara Amsterdam dan Jakarta, upacara di Istana Gambir itu dimulai menjelang senja. Matahari sudah hampr terbenam ketika lagu kebangsaan Belanda Wilhelmus berkumandang mengiringi bendera Merah-Putih-Biru untuk terakhir kalinya merayap turun dari puncak tiangnya. Masyarakat yang berkumpul di luar halaman Istana Gambir bersorak-sorak menyaksikan turunnya bendera tigawarna itu. Sorak-sorai kian gemuruh setelah kemudian lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan mengantar bendera Merah-Putih ke puncak tiang. “Merdeka ! Merdeka! Hidup Indonesia!

Sementara di Troonzaal (Bangsal Singgasana) Istana Dam, Amsterdam, Ratu Juliana menandatangani naskah pengakuan kedaulatan itu dan menyerahkan kepada Perdana Menteri Republik Indonesia Mohammad Hatta yang memimpin Delegasi Republik Indonesia dalam perundingan itu. Untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan di Istana Dam. Kobaran pekik Merdeka pada senja bersejarah itulah yang kemudian menggerakkan Bung Karno untuk mengubah nama Istana Gambir menjadi Istana Merdeka.

Selengkapnya klik : DISINI!





Labels

Alumni (21) Amerika Serikat (1) Angkatan 1995 (1) Anti Korupsi (1) Arab Saudi (1) Arema Malang (1) Artikel (8) ASEAN (1) ay kusnadi (1) Ayusta (1) Bahasa (2) Balitjestro 2008 (1) Bandung (1) Bank Mandiri (1) Bantuan Operasional Sekolah (1) barongan (1) Basketball (1) bca (1) Beasiswa (19) Berita (3) berita duka (1) BHMN (1) Bimbel (1) Biodiversity (1) Bisnis (1) bisnis online (1) Blog (5) bondan winarno (1) BOS (3) Buku (1) Buku Paket (1) Bulan Bahasa (1) Bullying (1) Bursa Kerja (1) Candi Kidal (1) Class Meeting (1) Dee (1) dollar gratis (1) Dumpul (1) dunia maya (1) Ekstrakurikuler (5) Facebook (2) Fair Play (1) Fisika (1) Friendster (1) Futsal (1) gado gado (1) Global Warming (1) Google (1) Gunung Tabor (1) Guru (10) Gus Dur (1) HUT ke-30 (1) IKAPALA (1) imam gozali (1) Inggris (1) Inspirasi (1) Internet (1) IPB (1) Iptek (3) Istana Negara (2) ITB (1) Jabodetabek (1) Jambi (1) Jawa Timur (4) Jepang (1) jerman (3) Jeru (1) Jilu (1) Jombang (1) Jusuf Kalla (1) Kabupaten Malang (4) kampus (1) karir.com (1) Kegiatan (1) Kelas A4 (1) Kelas XII (1) Kemendikbud (3) Kemendiknas (1) Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan (1) Kepala Sekolah (1) Kesehatan (3) KH. Abdurrahman Wahid (1) Kiat Jitu (1) Komik (1) Komunitas (1) kosmetika (1) Kota Batu (1) Kota Malang (5) Kuliah (1) kuliner (1) kusti (2) launching (1) Lingkungan (1) LIPI (1) Lowongan (1) Lulusan 2008 (1) M. Nuh (1) Mahasiswa (2) Mahasiswa Baru (2) Mahkamah Konstitusi (1) maknyus (1) Malang (3) Malang Raya (1) Malangsuko (1) Malaysia (1) Matematika (1) Mendiknas (1) Mendit (1) Menkominfo (1) Menulis (2) Menulis Ilmiah (1) Minat Baca (1) Motto Kelas (1) nDangdut (1) Nostalgia (2) Otonomi Daerah (1) Pahlawan Nasional (1) pak temun (1) Pancasila (1) panggung terbuka (1) Pelajar (1) Pelajaran (1) Pemerintah (1) Pendidikan (11) Pendidikan Nasional (6) Penelitian Ilmiah Remaja (2) Perbankan (1) Perguruan Tinggi (3) Perguruan Tinggi Swasta (2) Permen Karet (1) Pertamina (2) Pilkada (1) PMP (1) PMR (1) Pornografi (1) pramuka (2) Precet (1) Profil (2) PTN (3) PTS (1) Redaksi (1) remaja (2) reuni (5) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (3) Riset (1) RSBI (4) Rujak Cingur (1) S-1 (1) S1 (1) S2 (1) S3 (1) Sains (1) Sarjana (1) SBI (1) SD (5) Sejarah (3) Sekolah Hijau (1) Sepakbola (2) sepeda (1) Situs (1) SMA (17) SMA Kebon Tebu (1) SMAN 1 Malang (1) sman tumpang (3) SMANETA (10) Smansa (1) SMK (1) SMKN Turen (1) SMP (4) SNMPTN (2) SNMPTN Online (1) soeharto (1) STT Telkom (1) sugeng hadiono (1) Sukoanyar (1) Surabaya (1) Tahun 2013 (1) Tahun Baru (1) Taiwan (1) Tawuran (1) teknologi (3) Tes Online (1) Tips (5) Tomik HS (1) Trik (1) Try Out Online (1) Tulus Ayu (1) Tumpang (2) UAN (2) UASBN (1) UGM (2) UI (1) Ujian (2) Ujian Akhir Nasional (1) Ujian Nasional (5) Ujian Nasional 2010 (1) Ujian Nasional 2011 (1) Ujian Nasional 2012 (1) UM (1) UMB (1) UN (7) UN 2010 (5) UN 2012 (1) Universitas (1) Universitas Brawijaya (1) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (1) Universitas Paramadina (1) UNS Solo (1) Virus (1) wafat (1) Wakil Gubernur (1) website (2) Wendit Water park (1) Wisata (2) wisnuwardhana-narasinghamurti (1) www.smantumpang.com (1)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!