Senin, 15 Maret 2010

Wakil Presiden Boediono mengingatkan bahwa bangsa yang maju dan berkesinambungan adalah bangsa yang mengandalkan sumber daya manusia dan pendidikan adalah kunci utama yang harus disiapkan.

Wakil Presiden yang didampingi oleh jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, dalam kunjungannya di SMA Negeri 3 Kota Semarang, Sabtu, mengatakan bahwa ke depan persaingan yang tidak dapat dihindari adalah persaingan antarmanusia dalam segala bidang.

"Manusia bersaing dengan manusia lain ke depan akan semakin nyata dan terbuka dalam kancah persaingan global. Kita harus siap bersaing karena hal tersebut tidak dapat dihindari," katanya.

Standar dalam segala hal, kata Wakil Presiden, juga tidak dapat dipungkiri akan meningkat tidak lagi ditentukan oleh sekolah, oleh negara.Namun, oleh dunia internasional. Oleh karena itu, ada dua hal yang harus disiapkan, pertama penguasaan pengetahuan dan keterampilan.

"Yang kedua adalah, untuk menjadi pemimpin harus ada tambahannya yakni selain pengetahuan dan keterampilan, pemimpin juga harus punya karakter. Ini yang menentukan apakah pemimpin unggul dengan yang lain, bisa jadi pemimpin atau pengikut, atau justru yang terburuk, hanya jadi penonton," katanya.

Karakter melekat pada hati, sikap, dan pandangan mendasar, sehingga tidak bisa dengan menghapal atau menghitung. Namun, bisa dengan mencontoh. Oleh karena itu, tugas pendidik atau pengajar untuk mendidik dan memberi contoh.

"Selain karakter adalah integritas, yakni satu kesatuan antara kata-kata dan perbuatan. Apa yang dikatakan dilakukan dan sebaliknya. Jadi bukan isapan jempol," katanya.

Untuk membangun karakter, lanjut Boediono, harus diawali dari diri anak yakni adanya niat dan tekad membangun karakter diri, dari orang tua karena banyak bersinggungan di rumah, pendidik karena interaksi terbanyak di sekolah, serta dari pemerintah yang bertugas untuk mengarahkan pendidikan secara nasional.

Boediono juga mengaku bangga dengan jumlah sekolah di Jawa Tengah yang berstandar internasional. Di Jateng jumlah yang berstandar internasional terus mengalami peningkatan. Tahun 2007 jumlah SD yang berstandar internasional baru dua dan sekarang sudah ada 15 SD. SMP yang sebelumnya 40 sekolah dan sekarang sudah 66 SMP.

Masih perbandingan dengan tahun 2007, SMA yang berstandar internasional baru 35 sekarang sudah 55 dan tingkat SMK sekarang sudah ada 59 sekolah.

Dalam kunjungan ke SMA Negeri 3 Semarang tersebut, Wakil Presiden bersama menteri yang lain sempat masuk ke salah satu ruang kelas yang saat itu sedang berlangsung proses belajar mengajar dengan mengunakan bahasa Inggris.

Ikut dalam kunjungan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Menteri Agama dalam kesempatan tersebut menjadi salah satu pemberi bantuan untuk sejumlah sekolah di Jateng selain dari pihak perbankan.
***
sumber: republika.co.id




Minggu, 14 Maret 2010

Potret Pendidikan Nasional (Bagian 3 - selesai)

Semakin mahalnya biaya pendidikan tinggi di dalam negeri dibantah oleh Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Muchlas Samani. Dibandingkan biaya kuliah di negara-negara lain, biaya pendidikan di dalam negeri masih jauh lebih murah. Menurut dia, kuliah di luar negeri bisa 10 kali lebih mahal dibandingkan di dalam negeri.

Padahal, kuliah di Universitas Indonesia atau Institut Teknologi Bandung tidak lebih jelek dibandingkan di luar negeri seperti Malaysia. "Jadi tidak betul kuliah di dalam negeri lebih mahal dibandingkan di luar negeri," bantahnya.

Berdasarkan amanah undang-undang, maksimal biaya operasional pendidikan yang dibebankan kepada mahasiswa maksimal sepertiga atau 30%. Berarti, perguruan tinggi negeri (PTN) yang membebankan lebih dari sepertiga akan diberi sanksi, bisa dalam bentuk evaluasi kebijakan atau pergantian rektorat.

PTN adalah badan hukum pendidikan (BHP), sehingga negara memiliki kewenangan untuk mengawasi kinerja lembaga penyelenggara pendidikan. Selain itu pengawasan juga dilakukan oleh majelis wali amanah, yang anggotanya terdiri atas wakil dosen, orang tua, alumni, dan mahasiswa. Dengan demikian PTN dituntut untuk lebih transparan dalam mengelola keuangannya.

Jika terjadi pelanggaran, maka majelis wali amanah yang akan berperan untuk menuntut perguruan tinggi bersangkutan untuk bertanggung jawab. "Memang, untuk baik itu perlu biaya, namun yang mahal tidak selalu bagus. Artinya kita harus jeli. Setiap perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia memiliki kewenangan untuk menentukan harga. Namun, mereka harus menyediakan 20% kuota untuk beasiswa bagi orang tidak mampu," ujarnya.

Menurut Muchlis, tidak semua masyarakat harus sampai belajar ke perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia. Sebab, lulusan SMU yang kurang mampu lebih dari 20%. Ironinya kuota 20% beasiswa tersebut masih belum mampu dipenuhi oleh perguruan tinggi. Hal itu terjadi karena banyak hal, di antaranya mahasiswa miskin tidak mampu memenuhi kualifikasi persyaratan beasiswa berupa nilai akademik yang tinggi.

Padahal, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, sulit bagi anak miskin untuk melampaui kecerdasan anak dari kalangan masyarakat berada. Hambatan lainnya, angka putus sekolah di masyarakat miskin sangat tinggi, sehingga kuota 20% beasiswa di pendidikan tinggi belum terpenuhi.

"Dengan pola biaya operasional sekolah (BOS) SD sampai SMP, kita akan push sampai tingkat SMA. Untuk sekarang kita dorong, kalau memang mereka bagus, silakan masuk ke SMA, dibiayai, bahkan sampai uang transpor ke sekolah dan langsung beasiswa," papar Muchlis seusai acara predeparture breafing di Erasmus Huis, Jakarta awal tahun kemarin.
***
sumber: news.okezone.com





Sabtu, 13 Maret 2010

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) di bawah payung Southeast Asian Ministers of Education Organisation Regional Centre for Higher Education (SEAMEO RIHED) menggencarkan harmonisasi pendidikan. Alasannya, kualitas pendidikan di negara ASEAN belum merata.

Untuk mendorong hal itu, maka pada 2010 ini negara ASEAN di bawah SEAMEO mengadakan program M-I-T Pilot Project on Promoting Student Mobility in Southeast Asia.

''Program itu semacam transfer kredit mahasiswa negara ASEAN yang dimulai terlebih dahulu dalam bentuk pilot project antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Jadi nanti Indonesia akan kirim 50 mahasiswa, 25 mahasiwa ke Malaysia dan 25 mahasiswa ke Thailand, Malaysia juga kirim mahasiswa dengan jumlah yang sama, setengah ke Indonesia dan setengah ke Thaildand, begitu juga Thailand,'' ujar Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, pada Konfrensi Pers SEAMEAO RIHED di Kantor Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Kamis (11/3).

Fasli menjelaskan, kerjasama akan terdiri dari lima bidang, yakni pertanian, pariwisata, bahasa dan budaya, teknologi pangan, dan bisnis Internasional. Universitas dari Indonesia yang akan ikut kerja sama di antaranya UI, IPB, Universtas Maranata, UGM, UPI, ISI Denpasar, UNSRI, dan UNS. ''Kalau Malaysia ada enam universitas terkemuka, dan Thailand tiga, salah satunya Universitas Songkhla,'' jelasnya.

Selain itu, lanjut Fasli, sepuluh negara ASEAN beserta Timor Timur juga akan membahas bagaimana penghargaan terhadap ijazah, agar ijazah yang sudah terakreditasi oleh negara masing-masing juga dapat diakui akreditasinya oleh negara ASEAN lain. ''Nanti, badan-badan akreditasi di tiap negara ASEAN akan mendiskusikan masalah akreditasi ijazah yang dapat diakui di seluruh negara ASEAN,'' ucapnya.

Kemudian, kata Fasli, adalah membahas bagaimana meningkatkan penggunaan teknologi informasi dalam proses belajar atau e-learning, yaitu proses belajar di negara ASEAN, tetapi dosen bisa dari negara lain seperti Rusia, atau dosen negara ASEAN.

Selanjutnya, ungkap Fasli, membangun research cluster di antara negara ASEAN, seperti penelitian pertanian,teknologi pangan, energi alternatif, dan penyakit.

Sekretaris Jenderal Komisi Pendidikan Tinggi Thailand, Sumate Yamnoon, mengatakan program ini sangat menarik dan penting karena bertujuan untuk memajukan pendidikan tinggi di ASEAN. ''Tapi saya akan fokus pada penelitian di perguruan tinggi di ASEAN dan student mobility,'' jelas Sumate.
***
sumber: republika.co.id



Jumat, 12 Maret 2010

Potret Pendidikan Nasional (Bagian 2)

Sayangnya pemikiran yang sama belum terjadi di Indonesia. Direktur Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina Utomo Dananjaya mengungkapkan keprihatinannya bahwa Pemerintah Indonesia belum menjamin hak anak atas pendidikan.

Jangankan berbicara biaya pendidikan di perguruan tinggi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, wajib belajar sembilan tahun gratis saja masih sekadar slogan. Hal itu karena anggaran pendidikan 20% dari APBN 2009 ternyata lebih banyak dihabiskan untuk anggaran rutin dan gaji guru, bukan untuk mendukung biaya operasional pendidikan.

"Tampaknya bapak-bapak pemegang kebijakan di pemerintahan masih kurang peduli dengan rakyat kecil," ungkapnya. Secara angka, menurut Utomo, justru pos anggaran untuk biaya pendidikan dari APBN 2009 turun menjadi 9% dibandingkan 2008 yang masih 11%. Sebagian besar dari anggaran pendidikan yang jumlahnya lebih dari Rp200 triliun itu untuk menambah gaji guru dan anggaran rutin lainnya.

Padahal, di negara-negara lain subsidi pemerintah untuk biaya pendidikan sangat tinggi. Malaysia, misalnya, pos anggaran pendidikan adalah 32% APBN negeri jiran itu. Sebagian besar dari anggaran tersebut untuk menyubsidi biaya pendidikan, sehingga meringankan beban masyarakat untuk membayar biaya sekolah dan kuliah anaknya.

Indonesia memang belum seperti negara-negara lain yang biaya pendidikannya demikian terjangkau oleh penduduknya. Jerman, misalnya, meski telah menghapuskan kebijakan pendidikan di perguruan tinggi gratis, tapi biaya kuliah di sana masih terbilang murah. Banyak negara lain juga memberlakukan subsidi silang.

Subsidi silang di situ berarti pemerintah menyubsidi biaya pendidikan warga negaranya menjadi murah dan terjangkau, mahasiswa internasional dari negara lain tetap membayar dengan harga wajar- harga yang sebenarnya terbilang mahal. Keprihatinan lainnya adalah mengenai angka partisipasi kasar (APK) remaja usia 18-24 tahun terhadap pendidikan tinggi di Indonesia.

Berdasarkan data Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), saat ini APK untuk perguruan tinggi sebesar 17% atau naik 3% dibandingkan APK 2004 lalu. Meski peningkatannya kecil, upaya pemerintah meningkatkan jumlah APK layak diapresiasi. Sayangnya, dibandingkan negara- negara lain APK untuk perguruan tinggi di Indonesia ini masih tergolong kecil.

Menurut Utomo, APK di China saja 85%. Malaysia dan Singapura mempunyai nilai APK untuk perguruan tinggi lebih tinggi lagi. Padahal jelas, Undang-Undang Dasar 1945 sudah mengamanatkan kepada negara untuk memprioritaskan anggaran pendidikan nasional.

Apa daya, setelah lebih dari 63 tahun Indonesia merdeka, masih belum banyak masyarakat yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kelak, pada ulang tahun ke-100 kemerdekaan RI mendatang, diperkirakan masih banyak generasi muda Indonesia yang belum memiliki tingkat pendidikan memadai. "Sudah anggaran lebih kecil dibandingkan negara lain, pertanggungjawaban dan peluang kebocorannya dipertanyakan banyak pihak lagi," imbuhnya.
***
sumber: news.okezone.com





Kamis, 11 Maret 2010

Sarjana lulusan perguruan tinggi kita masih sulit bersaing dengan lulusan luar negeri. Bukan dari sisi keilmuan atau kemampuan akademisnya, melainkan soft skill mereka yang payah.

Berdasarkan kemampuan teknis sesuai bidang akademis masing-masing, lulusan perguruan tinggi Indonesia memang tidak kalah, bahkan berani diadu. Namun, justru hal-hal nonteknis, seperti kemampuan berbicara di depan orang banyak, rasa percaya diri, dan interaksi terhadap perubahan dengan cepat, lulusan kita masih payah.

Demikian dikatakan oleh CEO Inti College Indonesia Sudino Lim di Kampus Inti, Jakarta, Selasa (9/3/2010). Tidak mengherankan, lanjut Sudino, data survei tenaga kerja nasional tahun 2009 yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Nasional (Bappenas)mengungkapkan bahwa betapa tinggi dan sangat mengkhawatirkannya jumlah pengangguran di Indonesia.

Data tersebut mengungkapkan, dari 21,2 juta masyarakat Indonesia yang masuk dalam angkatan kerja, sebanyak 4,1 juta atau sekitar 22,2 persen adalah pengangguran. Lebih mengkhawatirkan lagi, kata dia, tingkat pengangguran terbuka itu didominasi oleh lulusan diploma dan universitas dengan kisaran angka di atas 2 juta orang.

"Dari situ kita melihat bahwa semakin baik perguruan tinggi menyiapkan soft skill lulusannya, maka semakin siap pula mereka menghadapi dunia kerja, bahkan untuk menjadi wirausahawan," ujar CEO Inti Sudino Lim di Jakarta, Selasa.

Sudino menambahkan, tugas perguruan tinggi saat ini harus mampu membangkitkan soft skill para mahasiswanya, baik dengan cara yang terkait langsung dengan kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler di keorganisasian mahasiswa.

"Termasuk untuk mencetak wirausahawan pada lulusannya, karena syarat utama menjadi wirausahawan adalah memiliki soft skill yang bagus," tambah Sudino.
***
sumber: edukasi.kompas.com




Rabu, 10 Maret 2010

Potret Pendidikan Nasional (Bagian 1)

Biaya pendidikan di perguruan tinggi semakin mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat miskin. Padahal sudah menjadi kewajiban negara untuk memastikan pendidikan bisa dijangkau semua kalangan.

Di samping itu, beberapa orang pejabat di negeri ini lebih memilih menyekolahkan anak mereka di perguruan tinggi luar negeri ketimbang di dalam negeri. Alasannya beragam. Konon, misalnya, biaya kuliah di Groningen, Belanda, ternyata tidak jauh lebih mahal ketimbang kuliah di Universitas Indonesia (UI).

Menyekolahkan anak ke luar negeri dengan nilai investasi yang sama dengan menyekolahkan anak di dalam negeri, bagi mereka, berarti kualitas dan prestise bisa didapat sekaligus. Orang tua yang lain beralasan kuliah di luar negeri bukan melulu karena membandingkan harga dan kualitas.

Secara harga, kuliah di luar negeri jelas lebih mahal, apalagi menghitung biaya hidup di Eropa, misalnya. Namun yang terpenting adalah lingkungan pendidikan internasional yang akan membentuk mindset si anak didik. Dengan kuliah di luar negeri, pemikirannya akan terbuka dengan dunia luar dan di luar kotak (out of the box).

Wajar investasi berapa pun akan dikeluarkan agar anak mereka bisa memperoleh pendidikan terbaik untuk bekal masa depan. Apa pun alasannya, semua itu tidak untuk masyarakat yang secara ekonomi kurang beruntung. Sebab, kuliah di luar negeri atau di dalam negeri bagi masyarakat miskin sepertinya hanya menjadi angan-angan.

Meski ada skema beasiswa bagi mahasiswa miskin, tapi jumlahnya yang kecil tidak mampu menjangkau semua penduduk miskin di negeri ini. Apalagi bagi anak miskin dengan kemampuan pas-pasan. Sudah pasti, menjadi anak kuliah hanya akan berada di dalam bayangan mereka dan sulit menjadi kenyataan.

Sebenarnya di negara berkembang seperti Indonesia maupun negara kaya seperti negara-negara di Eropa, pendidikan sudah seharusnya menjadi prioritas utama. Artinya, kondisi ekonomi sedang bagus atau krisis pun anggaran untuk pendidikan tidak akan dikurangi. Justru akan diupayakan untuk dipertahankan bahkan di tambah, seiring bertambahnya jumlah penduduk setiap tahunnya. Kerajaan Belanda bisa jadi contoh.

Meski dalam kondisi resesi ekonomi,jumlah kuota beasiswa yang disediakan tidak dikurangi. Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Nikolaos van Dam memastikan skema pemberian beasiswa yang disediakan Pemerintah Negeri Kincir Angin itu tidak akan dikurangi. "Kami tidak mengurangi pos anggaran untuk beasiswa atau fellowship, meskipun saat ini sedang krisis," kata Van Dam kepada wartawan seusai acara pre-departure briefing di Erasmus Huis, Jakarta, awal tahun 2010 lalu.
***
sumber: news.okezone.com





Selasa, 09 Maret 2010

Untuk ketiga kalinya Universitas Paramadina memberikan beasiswa kepada siswa-siswi lulusan SMA/sederajat yang memiliki potensi akademis maupun non-akademis untuk mengikuti pendidikan S-1 di Universitas Paramadina. Batas akhir penyerahan formulirnya sampai April 2010.

Program beasiswa yang dinamai dengan Paramadina Fellowship Program 2010 tersebut terbuka untuk program studi Manajemen dan Bisnis, Falsafah dan Agama, Ilmu Komunikasi, Psikologi, Hubungan Internasional, Teknik Informatika, Desain Komunikasi Visual, serta Desain Produk Industri.

Sebagai syarat kualifikasi, selain siswa kelas 3 atau lulusan SMA/sederajat dari seluruh Indonesia dengan nilai rata-rata NEM/UAN, STTB, dan Rapor Kelas I, II dan III, minimum 7,50, siswa juga harus berada di 10 siswa atau lulusan terbaik di kelas selama 4 (empat) semester.

Berdasarkan usia, tanggal lahir pelamar beasiswa juga dibatasi, yaitu sejak 1 Januari 1987 dan setelahnya. Siswa juga harus memiliki kecerdasan emosional dan jiwa kepemimpinan, aktif dalam kegiatan organisasi intra dan ekstra sekolah, serta berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

Sebagai ketentuan setelah menerima beasiswa, penerima beasiswa harus menyelesaikan masa kuliah dalam kurun 4 tahun kalender akademik. Siswa yang tidak mendapatkan nilai IPK minimal 3,00 selama dua semester pada saat perkuliahan dinyatakan gagal dan tidak lagi memperoleh beasiswa untuk penyelesaian sisa masa studinya di universitas ini.

Senilai Rp 125.000.000, skema beasiswa ini meliputi dana transportasi dari tempat asal, biaya studi selama 4 tahun kalender akademik, dana aktivitas kemahasiswaan, tunjangan buku, serta biaya hidup.

Bagi yang tertarik, informasi lengkap mengenai beasiswa ini bisa dilihat di:

Sedangkan untuk formulir, siswa juga bisa mengunduhnya di:

selain bisa juga didapatkan gratis bagian informasi kampus.
Batas waktu pendaftaran sampai 10 April 2010 (melalui pos) dan 17 April 2010 (langsung diantar ke kampus).
***
sumber:edukasi.kompas.com




Senin, 08 Maret 2010

KEBANYAKAN orangtua pasti ingin anaknya mencintai buku. Tapi, membaca, memahami isi buku, hingga menjadikan si kecil kutu buku, membutuhkan lebih dari apa yang didapatnya dari sekolah.

Porsi yang cukup terhadap pendidikan dini terkait pula dengan kemampuan membaca, dari memahami huruf hingga mengucapkan kata. Untuk mengasah kemampuan tersebut, anak-anak butuh contoh dari orangtuanya di rumah.

Membaca diawali dari rumah, jauh sebelum anak Anda masuk dalam lingkungan sekolah. Sedari kecil, mereka merasakan seberapa besar minat kita terhadap buku. Kalau kita bisa menjadikan baca sebagai kegiatan yang nyaman, maka anak-anak juga akan merasakannya.

Berikut enam trik menjadikan si kecil pencinta buku, seperti diungkap Sheknows.

Punya buku di rumah

Aksi sederhana memiliki buku di rumah mengatakan pada si kecil bahwa membaca itu penting. Biarkan mereka “merasakan” kata-kata yang terdapat di halaman depan buku-buku tersebut.

Dengan itu, mereka akan lebih nyaman dengan bentuk huruf dan kata. Memang, ini tidak menjamin si kecil bisa membaca lebih awal, tapi setidaknya menjadikan kegiatan membaca nyaman baginya.

Atur waktu harian

Atur waktu harian untuk membaca dengan si kecil, bukan hanya membaca saat mengantarnya tidur. Jadikan aktivitas ini bagian dari rutinitas hariannya. Ini mengirimkan sinyal pada si kecil bahwa membaca adalah bagian dari hidup, bukan sesuatu yang spesial atau luar biasa.

Menjadi contoh

Kalau ingin membentuk si kecil menjadi pencinta buku, sebelum itu terjadi, Anda harus memiliki kebiasaan itu terlebih dahulu. Membaca dengan rutin (sebelum waktu membaca bersama si kecil) berbagai jenis buku, apakah fiksi atau nonfiksi. Intinya, biarkan si kecil tahu bahwa Anda menikmati kegiatan membaca.

Ajak pasangan untuk menerapkan hal serupa. Adalah penting bagi anak-anak untuk melihat ayahnya membaca dengan rutin, seperti ibunya.

Ajak si kecil ke perpustakaan lokal

Perpustakaan lokal adalah sumber yang sangat baik untuk mengalirkan kebiasaan membaca kepada si kecil. Kalau si kecil sudah bisa meminta Anda untuk mengajaknya ke sana, maka segeralah. Libatkan pula si kecil pada berbagai kegiatan yang diadakan perpustakaan lokal, dan lebih banyak waktu berkunjung.

Jadikan buku sebagai hadiah

Kesempatan memberi hadiah adalah cara yang sangat baik untuk menjadikan si kecil pencinta buku. Berikan buku dengan berbagai variasi cerita agar si kecil semakin mengenal dunianya dengan lebih kaya.

Bergabung pada klub membaca orangtua-anak

Banyak pusat komunitas, sekolah, dan perpustakaan yang memiliki klub membaca untuk orangtua dan anak. Biasanya, kegiatan ini melibatkan anak yang lebih tua.

Dengan bergabung di klub membaca, Anda bisa saling mendiskusikan isi buku dengannya atau dengan kelompok yang lebih luas. Dan untuk si kecil, Anda bisa turut mengajaknya saat ajang diskusi berlangsung. Jadi, ia semakin mengenal arti kebiasaan membaca.
***
sumber: lifestyle.okezone.com





Minggu, 07 Maret 2010

Uji coba ujian yang lebih dikenal dengan "try out" sudah tidak asing lagi bagi siswa di Indonesia. Apalagi dengan menjamurnya lembaga bimbingan belajar (bimbel).

Biasanya, "try out" yang diselenggarakan bimbel dilakukan secara konvensional, yaitu dengan kehadiran fisik. Tetapi salah satu bimbel di Indonesia, Primagama, mencoba bentuk baru. Bekerjasama dengan Microsoft, Primagama meluncurkan layanan "try out" online untuk menyambut Unas 2010. Layanan online ini dapat diakses melalui www.primagamaplus.com.

"Saat ini banyak sekali layanan yang sifatnya online. Namun belum tentu isinya mendidik," ujar General Manager Primagama Adam Primaskara, saat peluncuran www.primagamaplus.com di kantor Microsoft Indonesia, Jakarta, Jumat (5/3/2010).

"Try out" online memfasilitasi siswa sekolah dari jenjang SD hingga SMA untuk bisa belajar di rumah tanpa dipungut biaya alias gratis. Fasilitas ini, terang Adam, dapat dinikmati seluruh siswa di Indonesia, tanpa terhalang letak geografis. Mereka yang ingin mencobanya cukup melakukan registrasi di laman tersebut.

"Setelah ini, kami akan ada layanan lain, seperti video materi dan tutorial. Juga akan dibuat sistem serupa untuk persiapan SNMPTN, UM-UGM, SIMAK UI, dan lainnya," tambah Adam.

Selain dapat belajar menghadapi soal ujian, siswa juga dapat mengetahui hasilnya secara real-time dan membandingkannya dengan hasil dari siswa di wilayah lain. Sistem online ini juga dapat memetakan siswa di daerah mana yang masih kesulitan menghadapi Ujian Nasional.
***
sumber: edukasi.kompas.com



Sabtu, 06 Maret 2010

Ternyata tak hanya kasus Bank Century yang disebut-sebut sebagian pihak berdampak sistemik. Ujian nasional (UN) pun mengenal kosakata tersebut. PKS yang tak menyetujui UN sebagai syarat kelulusan siswa, menyatakan implementasi metodologi UN memiiki dampak sistemik.

“Dalam pandangan kami, sepanjang rapat panitia kerja dengan pemerintah, persoalan penting yang mengemuka adalah pada sistem atau metodologi UN yang dalam implementasinya memiliki dampak sistemik terhadap sistem pendidikan nasional secara menyeluruh,” ujar anggota komisi X, Rohmani.

Hal itu dikatakan Rohmani saat ia mengemukakan pandangan fraksinya mengenai UN dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Mendiknas M.Nuh di DPR, Senayan, Jakarta, akhir Januari 2010.

Jika UN menjadi vonis akhir lulus atau tidaknya peserta didik dari satuan pendidikan, lanjut Rohmani, maka UN telah mengabaikan adanya proses pembelajaran yang telah diamanatkan dalam UU Sistem pendidikan nasional (Sisdiknas).

"Pemerintah harus membenahi sistem evaluasi peserta didik dengan salah satu caranya menjadikan UN hanya sebagai salah satu komponen penilaian dan tidak menjadi syarat kelulusan peserta,” jelasnya.

Fraksi yang juga tidak setuju dengan UN adalah FPDIP. Dalam kesempatan berbeda, anggota fraksinya, Dedi Gumelar menyatakan fraksinya bulat menolak UN 2010 jika pemerintah menjadikan UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan.

Sementara itu, Mendiknas M. Nuh menyatakan UN akan tetap dilaksanakan. “Insya Allah akan tetap kita laksanakan. Termasuk dalam keputusan MA, tidak ada larangan juga melaksanakan UN. Maka tidak ada alasan juga pemerintah tidak melaksanakannya,” ucap Nuh.
***
sumber: detiknews.com





Jumat, 05 Maret 2010

Kemendiknas menggagas pemberlakuan sistem nomor induk siswa nasional. Dengan sistem itu, data siswa seluruh Indonesia dapat diketahui dan di-update. Hal itu mempermudah pelaksanaan berbagai program pendidikan, terutama pemberian bantuan kepada siswa. Misalnya, biaya operasional sekolah (BOS).

Mendiknas M. Nuh mengatakan, sebenarnya nomor induk siswa sudah ada mulai SD hingga SMA. Namun, sistem tersebut belum terintegrasi hingga perguruan tinggi. ''Kami tidak tahu berapa jumlah siswa kita yang melanjutkan ke perguruan tinggi dan berapa siswa kita yang putus sekolah," terang Nuh.

Mantan rektor ITS itu menjelaskan, saat ini angka partisipasi murni (APM) siswa SD kurang lima persen. Dia menyebut, saat ini masih ada 1,7 persen siswa SD yang putus sekolah. Sedangkan siswa SD yang melanjutkan ke SMP baru 90 persen. "Berarti masih ada 10 persen siswa SD yang tidak melanjutkan ke SMP," terangnya.

Bukan hanya itu. Ada disparitas siswa SD yang melanjutkan ke SMP antara di kabupaten dan kota. Tingkat disparitas itu mencapai 20 persen. Sedangkan APM siswa SMP yang meneruskan studi ke SMA baru 73 persen. Juga terjadi disparitas yang lebih tinggi siswa yang melanjutkan pendidikan dari SMP ke SMA antara kabupaten dan kota. Tingkat disparitasnya mencapai 30 persen. "Kesenjangan-kesenjangan inilah yang akan kami atasi," terang Nuh.

Salah satunya, kata Nuh, pembuatan sistem nomor induk siswa nasional. Dengan sistem itu, dapat diketahui secara menyeluruh jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan ke SMP hingga perguruan tinggi. Selain itu, nomor tersebut bisa dipakai sebagai data program penerima BOS.
***
sumber: jawapos.co.id




Kamis, 04 Maret 2010

Pemerintah beralasan, ujian nasional (UN) mempunyai sisi positif jika terus dilakukan. UN dapat mencegah para pelajar melakukan tawuran.

"Tawuran pelajar di Jakarta turun drastis sejak adanya ujian nasional. Bagus kan kalau demikian?" ujar Menkominfo Tifatul Sembiring.

Tifatul menyampaikan itu ketika memberikan sambutan dalam diskusi publik bertajuk 'Ujian Nasional sebagai Alat Evaluasi Keberhasilan Pendidikan' di Hotel Sahid, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis.

Meski menyatakan tawuran pelajar turun drastis, Tifatul tidak memberikan data detail tentang angka penurunan tawuran pelajar.

Tifatul menegaskan UN juga bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan, apakah sistem sudah berhasil atau tidak. "Kalau tidak demikian, lalu bagaimana cara mengevaluasi keberhasilan?" tanya politisi PKS ini.

Tifatul tidak sependapat jika UN dinilai melanggar HAM. "Loh kalau melanggar HAM, berarti negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia juga melanggar HAM dong. Ajukan mereka ke Mahkamah Internasional," tegas Tifatul.

Tapi sistem pendidikan di RI belum semerata negara lain? "Kalau soal itu, ya tanyakan ke Mendiknas," kata dia.
***
sumber: detiknews.com




Rabu, 03 Maret 2010

Cuma dengan Syarat Surat Keterangan Miskin


Program kuliah gratis yang diwadahi pemerintah melalui ‘beasiswa bidik misi’ kebanjiran peminat. Klaim dari Universitas Negeri Malang (UM), sudah ada lebih dari 800 siswa yang mendaftar program ini.

“Padahal, kuota yang ada di kampus kami hanya untuk 450 anak,” ujar Kusmintardjo, Pembantu Rektor bidang akademik UM, Senin (1/3).

Kusmintardjo menambahkan, angka pendaftar masih bisa membengkak lagi, karena masa pendaftaran baru akan ditutup Jumat (5/3) mendatang. Untuk itu, tambahnya, akan ada banyak pendaftar yang tereliminasi karena kuota yang tak memadai.

Sayangnya, sistem penyisihan yang digunakan UM nanti adalah dengan melihat latar belakang ekonomi siswa, bukan kecerdasannya. Meski, Kusmintardjo mengakui, data kemiskinan bisa lebih mudah ‘dibuat’ daripada nilai rapor, karena hanya mengandalkan surat keterangan dari Ketua RT hingga Kelurahan.

Apalagi, pihak UM juga tidak akan menerjunkan surveyor guna melihat kondisi kemiskinan masing-masing pelamar. “Kebijakan itu sudah diatur dalam petunjuk teknis dari pusat. Yang lebih miskin, lebih dapat prioritas,” tegasnya.

Pihak UM, sambung pengajar dari Fakultas Ilmu Kependidikan ini, juga bisa dibilang nyaris mustahil untuk mengadakan tes demi melihat siapa yang lebih pantas mendapatkan beasiswa ini. Ia berdalih, hal itu memerlukan dana yang tak sedikit.

“Taruhlah ada yang ketahuan memberikan data palsu, penerima beasiswa akan langsung kami drop-out,” janji Kusmintardjo.

Selain sistem eliminasi, kebijakan lain beasiswa ini juga dianggap tidak adil bagi calon pelamar. Kebijakan tersebut adalah mewajibkan pelamar menduduki peringkat 25 persen terbaik di kelas, bukan sekolah atau paralel.

Menanggapi hal ini, Kusmintardjo beralasan, UM menggunakan sistem ini karena banyak sekolah yang malas menilai siswa secara paralel. “Tahun lalu, kami menggunakan kebijakan terbaik sistem paralel. Tapi sekolah kebingungan, karena mereka tidak punya datanya,” ucapnya.
***
sumber: surya.co.id



Selasa, 02 Maret 2010

Tahun 2010, Malaysia menyediakan setidaknya 600 beasiswa penuh untuk jenjang S1, S2, dan S3.

Beasiswa mencakup biaya kuliah, dan biaya hidup selama belajar hingga lulus di beberapa universitas di Malaysia. Beasiswa tersebut diutamakan bagi mahasiswa luar Malaysia yang tidak mampu, namun memiliki kemauan belajar yang tinggi.

Khusus tahun ini, Malaysia juga menyediakan setidaknya 59 beasiswa spesial program S2 & S3 jurusan Keuangan Syariah, yang bisa dipakai untuk mengenyam pendidikan di Universitas INCIEF, Malaysia. INCIEF adalah satu universitas di Malaysia yang mengkhususkan dirinya pada program pascasarjana keuangan dan perbankan syariah.

Penambahan jumlah tersebut dilakukan Malaysia melihat perkembangan dunia keuangan syariah, dan bertambahnya minat masyarakat terhadap ilmu keuangan dan perbankan syariah dalam beberapa tahun terakhir.

Malaysia saat ini tengah gencar mempromosikan pendidikan tinggi di negerinya sejak negara itu tergabung dalam "Perjanjian Washington" tahun 2009 kemarin. "Perjanjian Washington" adalah sebuah kesepakatan yang dibuat oleh 13 negara termasuk Amerika Serikat dan Inggris untuk menyamakan standar kualitas / akreditasi pendidikan tinggi mereka. Dengan akreditasi ini, maka kualitas pendidikan di sejumlah universitas di Malaysia, setara dengan universitas di Amerika, Kanada, dan Inggris.

Siswa yang ingin mendapatkan informasi beasiswa, bisa datang ke Kementrian Pengajian Tinggi Malaysia di Wisma Kodel lantai dasar, Kuningan, Jakarta. Atau mengakses lewat website: www.indonesia.studymalaysia.com.

Further Info:
DR Syed Alwee Alsagoff
Direktur Pemasaran Luar Negeri Pendidikan Tinggi Malaysia
+60 197 520 672
***
sumber: okezone.com




Senin, 01 Maret 2010

20 Februari - 5 Maret 2010

Sekedar Informasi buat rekan-rekan semuanya, silahkan jika ada yang berminat dapat gaji besar di Pertamina. Dan jika perlu, bisa disebarluaskan sekaligus mohon di forward untuk teman, pacar, keluarga, milist, atau lainnya, biar pada tahu tentang info ini.

Beberapa Bidang Studi yang di terima :

1. Teknik Geologi
2. Teknik Geofisika
3. Teknik Perminyakan
4. Teknik Pertambangan
5. Teknik Kimia
6. Teknik Mesin
7. Teknik Sipil
8. Teknik Elektro - Arus Kuat
9. Teknik Elektro - Arus Lemah
10. Teknik Fisika
11. Teknik Instrumen
12. Teknik Geodesi
13. Teknik Lingkungan
14. Teknik Metalurgi
15. Kesehatan Masyarakat
16. Ilmu Komputer
17. Teknik Telekomunikasi
18. Teknik Informatika
19. Teknik Komputer
20. Teknik Industri
21. Psikologi
22. Ilmu Komunikasi
23. Hukum
24. Ekonomi

Syarat :

* IPK Minimum: 3.00 (Skala: 4.00)
* Usia maksimum 27 tahun pada tanggal 1 Juli 2010.
* Bersedia mengikuti seluruh tahapan proses seleksi di lokasi test yang ditentukan.

Ketentuan:

Bagi Pelamar yang sudah melamar secara online pada acara Job Fair UPN Veteran Yogyakarta tanggal 6-7 Februari 2010 tidak perlu melamar lagi berdasarkan pemberitahuan ini.

Pelamar yang akan diundang untuk mengikuti tahapan seleksi adalah yang memenuhi kualifikasi yang ditetapkan dan masuk dalam shortlisted kandidat berdasarkan evaluasi Tim Rekrutmen PERTAMINA EP.

Pelamar yang tidak diundang dalam 6 (enam) bulan dari batas akhir pemasangan iklan ini (5 Maret 2010) untuk mengikuti tahapan proses seleksi dinyatakan tidak lulus dalam seleksi.

Pelamar yang telah mengirimkan lamaran berdasarkan iklan ini dan diundang untuk mengikuti proses seleksi, maka secara otomatis dinyatakan bersedia mengikuti seluruh ketentuan dalam proses rekrutmen dan pengangkatan calon pekerja fresh graduate PERTAMINA EP.

Pelamar yang diundang untuk mengikuti tahapan seleksi bersedia untuk mengikuti proses seleksi di lokasi test yang ditentukan.

Dalam proses seleksi ini, PERTAMINA EP tidak memungut biaya apa pun dari peserta.

Kelengkapan dokumen akan diminta apabila saudara dipanggil untuk mengikuti tahapan seleksi, yang meliputi: Surat Lamaran, Curriculum Vitae, Foto Copy Ijazah, Foto Copy Transkrip Nilai, dan Pas Foto terbaru berwarna ukuran 4x6
sebanyak 2 lembar.

Apabila data yang saudara isikan dalam formulir ini berbeda dari dokumen otentik yang diserahkan dan tidak sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan, baik pada masa proses seleksi, pre-employment program maupun setelah menjadi pekerja, maka berlaku sanksi sesuai ketentuan di PERTAMINA EP.

Petunjuk Pengisian:

Pada halaman berikut akan ditampilkan formulir lamaran online bagi pelamar calon pekerja PERTAMINA EP. Isi formulir dengan data yang sesungguhnya.
Perhatikan keterangan / ketentuan format pengisian.

Perhatikan ketentuan sebagai berikut:

Data yang saudara isikan harus sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya.

Apabila data yang dimasukkan tidak sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan oleh PERTAMINA EP maka sistem akan secara otomatis me-reject Anda, dan Anda tidak dapat meneruskan proses pengisian sampai selesai.

Tulislah setiap informasi dengan jelas tanpa ada singkatan, kecuali untuk singkatan yang sudah berlaku dan dipahami secara umum.

Selengkapnya, klik di :






Labels

Alumni (21) Amerika Serikat (1) Angkatan 1995 (1) Anti Korupsi (1) Arab Saudi (1) Arema Malang (1) Artikel (8) ASEAN (1) ay kusnadi (1) Ayusta (1) Bahasa (2) Balitjestro 2008 (1) Bandung (1) Bank Mandiri (1) Bantuan Operasional Sekolah (1) barongan (1) Basketball (1) bca (1) Beasiswa (19) Berita (3) berita duka (1) BHMN (1) Bimbel (1) Biodiversity (1) Bisnis (1) bisnis online (1) Blog (5) bondan winarno (1) BOS (3) Buku (1) Buku Paket (1) Bulan Bahasa (1) Bullying (1) Bursa Kerja (1) Candi Kidal (1) Class Meeting (1) Dee (1) dollar gratis (1) Dumpul (1) dunia maya (1) Ekstrakurikuler (5) Facebook (2) Fair Play (1) Fisika (1) Friendster (1) Futsal (1) gado gado (1) Global Warming (1) Google (1) Gunung Tabor (1) Guru (10) Gus Dur (1) HUT ke-30 (1) IKAPALA (1) imam gozali (1) Inggris (1) Inspirasi (1) Internet (1) IPB (1) Iptek (3) Istana Negara (2) ITB (1) Jabodetabek (1) Jambi (1) Jawa Timur (4) Jepang (1) jerman (3) Jeru (1) Jilu (1) Jombang (1) Jusuf Kalla (1) Kabupaten Malang (4) kampus (1) karir.com (1) Kegiatan (1) Kelas A4 (1) Kelas XII (1) Kemendikbud (3) Kemendiknas (1) Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan (1) Kepala Sekolah (1) Kesehatan (3) KH. Abdurrahman Wahid (1) Kiat Jitu (1) Komik (1) Komunitas (1) kosmetika (1) Kota Batu (1) Kota Malang (5) Kuliah (1) kuliner (1) kusti (2) launching (1) Lingkungan (1) LIPI (1) Lowongan (1) Lulusan 2008 (1) M. Nuh (1) Mahasiswa (2) Mahasiswa Baru (2) Mahkamah Konstitusi (1) maknyus (1) Malang (3) Malang Raya (1) Malangsuko (1) Malaysia (1) Matematika (1) Mendiknas (1) Mendit (1) Menkominfo (1) Menulis (2) Menulis Ilmiah (1) Minat Baca (1) Motto Kelas (1) nDangdut (1) Nostalgia (2) Otonomi Daerah (1) Pahlawan Nasional (1) pak temun (1) Pancasila (1) panggung terbuka (1) Pelajar (1) Pelajaran (1) Pemerintah (1) Pendidikan (11) Pendidikan Nasional (6) Penelitian Ilmiah Remaja (2) Perbankan (1) Perguruan Tinggi (3) Perguruan Tinggi Swasta (2) Permen Karet (1) Pertamina (2) Pilkada (1) PMP (1) PMR (1) Pornografi (1) pramuka (2) Precet (1) Profil (2) PTN (3) PTS (1) Redaksi (1) remaja (2) reuni (5) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (3) Riset (1) RSBI (4) Rujak Cingur (1) S-1 (1) S1 (1) S2 (1) S3 (1) Sains (1) Sarjana (1) SBI (1) SD (5) Sejarah (3) Sekolah Hijau (1) Sepakbola (2) sepeda (1) Situs (1) SMA (17) SMA Kebon Tebu (1) SMAN 1 Malang (1) sman tumpang (3) SMANETA (10) Smansa (1) SMK (1) SMKN Turen (1) SMP (4) SNMPTN (2) SNMPTN Online (1) soeharto (1) STT Telkom (1) sugeng hadiono (1) Sukoanyar (1) Surabaya (1) Tahun 2013 (1) Tahun Baru (1) Taiwan (1) Tawuran (1) teknologi (3) Tes Online (1) Tips (5) Tomik HS (1) Trik (1) Try Out Online (1) Tulus Ayu (1) Tumpang (2) UAN (2) UASBN (1) UGM (2) UI (1) Ujian (2) Ujian Akhir Nasional (1) Ujian Nasional (5) Ujian Nasional 2010 (1) Ujian Nasional 2011 (1) Ujian Nasional 2012 (1) UM (1) UMB (1) UN (7) UN 2010 (5) UN 2012 (1) Universitas (1) Universitas Brawijaya (1) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (1) Universitas Paramadina (1) UNS Solo (1) Virus (1) wafat (1) Wakil Gubernur (1) website (2) Wendit Water park (1) Wisata (2) wisnuwardhana-narasinghamurti (1) www.smantumpang.com (1)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!