Kamis, 15 April 2010

AKHIR bulan lalu, Rosari Saleh terlihat san tai di sebuah kedai kopi di sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan. Profesor yang juga Guru Besar Fisika Universitas Indonesia itu tampil kasual dengan kemeja kotak-kotak dan celana jins belel. Dia hadir bersama dua rekannya.

Gaya bicara perempuan ini juga jauh dari kesan serius, meski sesungguhnya sosok ini sangat serius berniat membumikan fisika agar tidak menjadi momok bagi siswa.

Dua tahun lalu, perempuan yang akrab dipanggil Prof Oca ini membidani komunitas Kucing Fisika. Tujuannya, kata Oca, untuk menjangkau siswa setingkat SMA dan menunjukkan bahwa fisika merupakan ilmu yang menyenangkan.

"Misalnya dengan mengunduh video dari kegiatan-kegiatan sederhana yang bisa menjelaskan sebuah teori fisika," ucapnya.

Sebelumnya, Oca pernah berusaha menjangkau guru pengajar fisika di tingkat SMP dan SMA. Namun, ia mengaku sedikit kesulitan. "Walau tidak semua, beberapa guru fisika yang pernah saya ajar belum memiliki semangat untuk mau mencari literatur dan berinovasi dengan fisika. Karena mereka harus melakukan hal-hal lain untuk menopang keluarga," terangnya.

Oca pun mencoba hal lain dengan membuat situs beralamat www.kucingfisika.com, termasuk melakukan demonstrasi dengan peralatan sederhana di sekolahsekolah. Respons yang dituai ternyata mengagumkan. Belum genap dua tahun didirikan, komunitas ini telah berhasil menjaring sebanyak 17 ribu pengguna untuk bergabung di situs resmi tersebut. "Saya ingin membumikan fisika. Mencari cara agar masyarakat tidak memandang fisika sebagai momok," ucapnya serius.

Kolaborasi Oca sadar betul fisika tidak dapat berdiri sendiri. Dia mengajukan contoh, "Misalnya panel surya. Memang betul ilmuwan fisika mengembangkan panel surya. Namun, tapi kita juga butuh tim manajemen, sosiolog, budayawan, sampai ahli hukum untuk membuatnya dekat dengan masyarakat," terang Oca seraya mengangkat cangkir kopinya.

Sore itu, sepotong ide mengalir dari Oca dan dua orang teman diskusinya, yakni almunus FISIP dan Fakultas Hukum UI. "Yuk, kita buat pelajaran tentang ilmu forensik. Di sana ada unsur hukum, kriminologi, science, dan kedokteran. Biar semua bisa terintegrasi," ucapnya.

Oca sendiri kini tengah meneliti reaksi virus H5N1 dan virus HIV terhadap obat secara simulasi komputasi. Selain itu, Oca menekuni penelitian partikel nano. Kesengsem fisika Sebelum menggeluti dunia fisika, Oca mengaku bukan pecandu fisika. "Saya tercemplung masuk jurusan Fisika UI," ucap Oca lalu tertawa.

Awalnya, ia mengincar jurusan teknik sebagai labuhan menuntut ilmu selepas SMA. "Tahun pertama saya sempat mau pindah jurusan, tapi tesnya selalu bentrok dengan ujian di kampus."

Hingga menyandang gelar sarjana sains pada 1985, Oca sangat tidakpuas terhadap apa yang dipelajarinya selama empat tahun. "Di kuliah kita belajar, ujian, lalu lulus. Tanpa tahu, apa yang sebenarnya kita pelajari," ungkap Oca.

Berangkat dari rasa penasaran tersebut, Oca mencicipi fisika di 'Negeri Panser ', Jerman. Oca melanjutkan studi di Universitas Marburg, Jerman, dua bulan berselang setelah kelulusannya di UI. Dia mendapatkan gelar doktor fisika di Universitas Marburg pada 1990.

Di sana, semua pertanyaan tentang 'apa sebenarnya fisika' yang selama ini berkecamuk dalam dirinya terjawab melalui seorang profesor bernama Peter Thomas.

Di kelas teori fisika yang diampu Peter, Oca selalu diminta duduk di barisan terdepan. Peter juga yang menjadi inspirator Oca untuk memahami berbagai teori fisika melalui kejadian seharihari. Salah satu contohnya adalah saat Peter menjelaskan tentang teori interaksi antarpartikel. Oca mengaku biasanya ia mendapatkan teori ini melalui rumus-rumus yang memusingkan kepala.

Namun, kali itu, sang profesor malah menyodorkan gambar dua buah apartemen, dan menjelaskan teori tersebut melalui interaksi yang terjadi antarpenghuninya. "Di sinilah saya sadar bahwa fisika seharusnya menyenangkan. Ia memang bukan suatu ilmu yang mudah, tapi fisika itu fun!" ucapnya bersemangat.

Setelah meraih gelar doktor di Jerman, sang ayah menyarankan Oca untuk mengambil jalur akademis untuk berkarier. "Ayah saya hanya bilang, bantulah almamatermu," lanjut Oca. Ia pun setuju untuk mengabdikan ilmunya kepada dunia pendidikan Indonesia setelah menyelesaikan program pascadoktoral di Jerman selama tiga tahun.

Oca bergabung dengan para pengajar di Jurusan Fisika UI sejak 1993. "Kalau saya sudah suntuk di Indonesia, biasanya saya luangkan waktu 2-3 bulan untuk mengunjungi mereka dan bercerita banyak hal," tandasnya lalu tersenyum.

Menghindari kegamangan
Dengan semangat bergelora, Oca mengawali kariernya sebagai staf pengajar di UI. Namun, Oca kerap kesal mendapati kenyataan yang ia temui pada diri anak didiknya. Ia mengaku ada jarak besar antara kemampuan maha siswa dan kesiapan mereka mempelajari teori-teori fisika yang diajarkan. "Saya ngajar mahasiswa semester enam. Saya merasa kemampuan mereka sebelum semester itu masih agak kurang," imbuhnya.

Oca pun putar otak untuk menghadapi tantangan itu. Selain meminta untuk mengajar di semester yang lebih awal, ia juga mengubah formulasi pengajaran. Di kelas fisika asuhan Oca, setiap siswa haram hukumnya bila hanya mengandalkan satu sumber literatur. Belum lagi, semua referensi yang diberikan Oca adalah berbahasa Inggris. "Standar yang saya dapat dari menuntut ilmu di Jerman itu masih saya pegang teguh di sini," kata perempuan berkacamata ini.

Ia tidak ingin mahasiswanya mengalami kegamangan yang sama seperti yang pernah ia alami setelah lulus kuliah. Untuk upaya yang satu itu, Oca mengaku belum puas meski beragam penghargaan telah diraih selama berkarier di dunia pendidikan.

"Setelah seorang peneliti mendapat penghargaan atau gelar, lalu untuk apa? Apakah gelar tersebut bisa bermanfaat untuk maha siswa dan masyarakat banyak? Jangan jadi seperti menara gading, setelah dapat penghargaan, terus seperti ondel-ondel saja," kata Oca lalu menderai tawa.
***
sumber: mediaindonesia.com




Rabu, 14 April 2010

Kontroversi konsumsi monosodium glutamate (MSG) atau penyedap rasa dalam makanan tak pernah usai. Asosiasi industri glutamat bersikeras MSG aman buat tubuh sebaliknya pakar kesehatan tak berhenti mengingatkan bahaya MSG.

Pelaku industri mengatakan glutamat buatan dalam MSG tidak berbeda dengan glutamat alami yang tertelan saat makan makanan yang mengandung protein.

Pelaku industri mencontohkan setengah sendok teh MSG dalam setiap 1 pound (0,45 kg) daging berisi kurang dari 10 persen kandungan glutamat alami yang ada dalam daging ayam.

Sebenarnya amankah konsumsi MSG untuk tubuh?

Dilansir dari herbsspices, Senin (11/4/2010), badan pengawas obat dan makanan Amerika (FDA) mengakui MSG sebagai produk aman yang sama amannya seperti garam, merica dan gula.

Asosiasi industri glutamat mengutip rekomendasi badan kesehatan dunia (WHO) yang membatasi konsumsi MSG yang aman adalah 1/3 ounce per hari atau 9,45 gram per hari.

Tapi seperti dilansir helium.com, MSG memiliki efek samping bagi anak-anak dan orang dewasa. MSG memang membuat masakan menjadi lebih gurih karena mengandung garam sodium dari asam glutamat tapi tidak mengandung nilai gizi selain hanya untuk meningkatkan cita rasanya.

MSG juga dimasukkan dalam kategori excitotoxin atau neurotoksin yang memiliki efek yang lama kelamaan (degeneratif) merusak otak dan sistem saraf.

Cara kerja MSG yang merusak saraf otak ini melalui selaput di dalam mulut ketika dimasuki aliran darah melalui makanan yang mengandung MSG.

MSG dibuat dengan menggunakan proses buatan yang memecah dan mengubah glutamat terikat ke dalam bentuk bebas. Glutamat bebas ini bisa memasuki aliran darah 10 kali lebih cepat dibanding glutamat alami.

Efek MSG dan excitotoxins menyebabkan orang akan makan lagi setelah makanan makanan yang mengandung MSG karena efek MSG dan excitotoxins memicu insulin, adrenalin, penyimpanan lemak, ketagihan untuk makan.

Seperti dikutip dari eHow, Senin (12/4/2010) ada beberapa efek samping yang bisa timbul setelah mengonsumsi MSG yaitu:
- Sensasi atau rasa terbakar di bagian belakang leher dan dada
- Mual
- Sesak napas
- Nyeri dada
- Rasa haus dan mulut kering
- Pusing
- Mengantuk
- Serta adanya hasrat untuk mengonsumsi makanan lain.

Reaksi terhadap MSG ini bisa terjadi kapan saja, ada yang langsung terasa setelah mengonsumsi tapi ada juga yang baru terasa hingga dua hari kemudian.

Sedangkan salah satu efek lain dari MSG pada anak-anak adalah dapat memicu terjadinya serangan asma, karenanya bagi penderita asma diusahakan untuk menghindari penggunaan MSG.

Asam glutamate yang terkandung dalam MSG adalah suatu neurotransmitter yang dapat membangkitkan rasa pada sistem saraf. Pada beberapa orang tertentu dapat mengakibatkan masalah neurologis seperti perubahan mood, menjadi bingung dan timbul migrain.

Berdasarkan penelitian terhadap tikus di laboratorium ditemukan peningkatan peluang obesitas karena konsumsi MSG. MSG di dalam tikus muda memiliki risiko tiga kali lipat jumlah insulin dalam pankreasnya yang memicu obesitas. Laporan ini berjudul 'Sensory And Autonomic Nerve Changes In The Msg-Treated Rat: A Model Of Type II Diabetes' yang dibuat peneliti dari UAE University.

MSG cukup banyak terdapat dalam berbagai jenis makanan seperti makanan ringan, makanan yang bisa tahan lama atau pada makanan yang dijual bebas, sehingga terasa sulit untuk dihindari secara total.

Kadang-kadang produsen juga tak lagi menulis MSG di label makanannya. Tapi menulis dengan nama lain glutamat, calcium caseinate, yeast extract, hydrolyzed protein, textured protein, gelatino.

Konsumen yang harus memutuskan apakah MSG bermanfaat atau berbahaya karena MSG masih dibolehkan dalam makanan dan dianggap aman.

Tapi jika MSG membuat tidak nyaman dan menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan sebaiknya tidak lagi menggunakan MSG.
***
sumber: health.detik.com




Selasa, 13 April 2010

Paparan zat kimia yang banyak terdapat dalam produk sehari-hari, seperti kosmetik, diyakini bisa menyebabkan masa pubertas datang lebih dini atau terlambat dan berpotensi menganggu kesehatan jangka panjang.

Peringatan tersebut disampaikan sejumlah peneliti yang melakukan penelitian dengan melibatkan 1151 remaja putri berusia 6-8 tahun di New York City, Cincinnati dan California utara. Dalam tes urin mereka ditemukan tiga jenis zat kimia yang sering terdapat dalam produk kosmetik, yakni phenols, phthalates dan phytoestrogen.

Para peneliti menemukan bahwa zat-zat kimia tersebut banyak ditemukan pada beragam produk kosmetik, seperti cat kuku, kosemtik, parfum, lotion dan sampo. Beberapa jenis produk plastik juga menggunakan zat kimia itu.

Dalam kadar tinggi, phthalates dan phytoestrogen bisa menyebabkan payudara berkembang lebih dini. Phthalates yang terdapat dalam produk sampo dan lotion disebut-sebut menyebabkan rambut kemaluan lebih cepat tumbuh. Sementara itu zat kimia lain yang terdapat dalam produk plastik atau bahan bangunan diduga menyebabkan pubertas remaja terlambat.

"Paparan bahan-bahan kimia tersebut memengaruhi perkembangan kelenjar susu pada remaja putri. Dalam jangka panjang, zat kimia ini mungkin memengaruhi terjadinya kanker payudara di usia dewasa," kata Mary Wolff, profesor dari Mount Sinai School of Medicine.

Wolff menjelaskan, sebelumnya sebuah penelitian menyebutkan masa pubertas yang terlalu dini berpengaruh pada kehidupan sosial dan kesehatan anak. "Bisa menyebabkan diabetes atau kanker," katanya. Kendati demikian, Wolff menjelaskan masih dibutuhkan penelitian lebih dalam mengenai tiga jenis bahan kimia ini.
***
sumber: kesehatan.kompas.com




Senin, 12 April 2010

Sebanyak 250 ulama dari 14 negara menghadiri Konferensi Internasional I Aksi Umat Islam untuk Perubahan Iklim di Kota Bogor, Jumat (9/4/2010) hingga Sabtu (10/4/2010).

Mereka memantapkan akar-akar teologis soal kepedulian Islam terhadap lingkungan hidup. Mahmoud Akef, pendiri Earth Mate Dialog Center yang berbasis di London, Inggris, mengatakan, masalah lingkungan hidup banyak dibahas dalam Al Quran. Begitu juga dalam keseharian Nabi Muhammad, beliau banyak berbicara tentang perlunya menjaga lingkungan.

Ia mencontohkan tindakan para ulama 600 tahun silam di Masjid Solaimania di Istambul, Turki. Pada saat itu, prinsip mendaur ulang pun sudah dikenal. Mereka, yang saat itu menggunakan penerangan dari minyak/lilin, menangkap asap hitamnya sehingga tidak mengotori udara. "Jelaga yang terkumpul didaur ulang menjadi tinta," katanya.

Emil Salim, anggota Dewan Penasehat Presiden RI, seusai menjadi salah satu pembicara di konferensi tersebut, bercerita mengenai penyebab merosotnya peradaban Islam.

"Masalah ini (turunnya peradaban Islam) banyak terori. Salah satunya akibat buku-buku yang ditulis cendekia muslim dibakar saat Istambul diserbu (Mongol) pada abad ke-7. Setelah buku-buku habis, yang lebih berkembang masalah fikih Islam, cenderung menekankan pengajaran apa saja yang dilarang. Misalnya, umat Islam tidak boleh membunuh, tidak boleh ini, tidak boleh itu," katanya.

Menurut dia, hal itu berlanjut hingga kini, termasuk di Indonesia. Misalnya dalam menyikapi soal pornografi. "Penggunaan kata bernada larangan atau negatif itu cenderung mengukung pemikiran. Karena itu, Al Quran jangan hanya dibaca, tetapi juga dipelajari dan dipahami," katanya.

Menurut dia, ajaran tentang shalat harus menghadap kiblat melahirkan ilmu astronomi. Adapun ajaran soal Allah menciptakan manusia dari segumpal darah melahirkan ilmu kedokteran.

Mengenai perubahan iklim, mantan Menteri Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto itu menuding bahwa masalah itu adalah akibat dari kesalahan kebijakan pembangunan ekonomi. Dalam pembangunan ekonomi, memelihara lingkungan tidak dimasukkan dalam biaya produksi. "Akibatnya, keharusan ada analisis dampak lingkungan dan pengolahan limbah tidak dilakukan dengan baik, bahkan diabaikan karena dianggap hanya membebani ongkos produksi," katanya.
***
sumber: sains.kompas.com




Minggu, 11 April 2010

Para peserta ujian nasional (Unas) yang melakukan kecurangan atau pelanggaran saat pelaksanaan Unas dipastikan didiskualifikasi. Sebab, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov Jatim mengutamakan kejujuran pada Unas tahun ini.

Kepala Dinas P dan K Pemprov Jatim, Suwanto, mengakui ada sejumlah siswa di Jatim yang melakukan pelanggaran sewaktu Unas, seperti tertangkap basah pengawas membawa ponsel atau menyontek. Diskulaifikasi ini bukan berarti siswa itu tidak lulus. ”Yang didiskualifikasi itu hanya mata pelajaran yang dilanggar,” kata Suwanto di Taman Krida Budaya Jatim Kota Malang, Kamis (8/4).

Ditanya target tingkat kelulusan Unas di Jatim tahun ini, Suwanto menyatakan tak membebani target ke masing-masing daerah. “Tahun lalu, tingkat kelulusan mencapai 97 persen, untuk tahun ini kami optimistis akan lebih baik,” tutur Suwanto. Dia optimistis karena tahun ini ada ujian susulan dan ujian ulangan.

Pengumuman Unas SMA/SMK akan dilakukan serentak pada 26 April 2010. Suwanto mengimbau saat pengumuman para siswa tak menggelar konvoi dan melakukan corat-coret seragam. ”Lebih baik menggelar bakti sosial seperti membagikan buku pelajaran bekas kepada adik kelas,” papar Suwanto.
***
sumber: surya.co.id




Sabtu, 10 April 2010

Di musim penerimaan masuk perguruan tinggi pasca-ujian nasional (UN) seperti saat ini, para orang tua sebaiknya berhati-hati memilih bimbingan belajar (bimbel) yang mengiming-imingi putra-putrinya bisa mudah masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dengan harga tinggi, tetapi memakai cara dan beragam modus penuh kecurangan.

Penyelidikan kami, banyak anak-anak bimbel bukan dilatih mengerjakan soal, tetapi gunakan alat-alat elektronik canggih.

Demikian pesan itu disampaikan langsung Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar R Somantri terkait tertangkapnya seorang peserta ujian Seleksi Masuk UI (Simak UI) di SMAN 68, Salemba, Jakarta, Minggu (11/4/2010).

Gumilar mengatakan, banyak orang tua tergiur oleh bimbingan belajar yang “berani” menjamin seratus persen bisa meloloskan putra-putrinya masuk PTN, khususnya UI, asalkan bisa membayar dengan harga tinggi dan dengan cara-cara yang sangat instan.

Seperti diberitakan sebelumnya di Kompas.com, seorang peserta SIMAK UI tertangkap tangan membawa arloji minikomputer berisi lembar jawaban saat mengikuti tes SIMAK bidang studi IPA, di SMAN 68 Jakarta. Terdapat 60 jawaban pilihan ganda di dalam jam tangan tersebut.

“Ini bukan kejadian sekali dua kali. Penyelidikan kami, banyak anak-anak bimbel itu bukan semata dilatih mengerjakan soal, tapi malah dilatih menggunakan alat-alat elektronik canggih berisi jawaban-jawaban,” ujar Gumilar.

“Satu pesan kami, UI tidak pernah bekerjasama dengan lembaga bimbel manapun baik secara struktural maupun fungsional. Jadi, kalau ada bimbel yang mengatakan bekerjasama dengan UI, itu adalah bohong,” tegasnya.




Jumat, 09 April 2010

Penggunaan internet di kalangan pelajar tidak terbendung lagi dengan kemudahan layanan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat. Untuk menghindarkan para pelajar dari penyalahgunaan internet, sekolah dan keluarga dapat jadi pengontrol yang sehat dalam penggunaan internet.

Anak-anak bisa positif dalam penggunaan internet jika keluarga tidak gagap teknologi alias gaptek. "Bukan berarti di rumah harus tersedia fasilitas internet, tetapi setidaknya orang tua mau belajar soal internet dan bisa berdiskusi secara terbuka dengan anak. Jadi bukan dengan larangan-larangan," kata Sri Sediyaningsih, dosen Universitas Terbuka (UT), dalam seminar bertajuk Dampak Penggunaan Teknologi Informasi pada Pembentukan Identitas yang digelar dalam rangka wisuda mahasiswa UT di Tangerang, Senin (5/4/2010).

Sri mengatakan, dari penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah remaja, penggunaan internet di kalangan remaja bisa mencapai 30 jam per minggu. Kebanyakan membuka situs jejaring sosial, terutama untuk berkomunikasi atau chatting dari orang yang sudah dikenal, kenal biasa, dan baru dikenal.

Menurut Sri, dalam perkembangan lingkungan yang tidak bisa jauh dari pengaruh teknologi informasi dan komunikasi, pendidikan budi pekerti pada diri anak semakin penting. Anak-anak mesti dibekali dengan konsep diri yang baik sehingga mereka dapat menentukan pilihan yang baik, termasuk dalam pemanfaatan internet.

Guru di sekolah dan keluarga di rumah, mesti bisa jadi teladan. Sebagai contoh, mereka mesti bisa berbicara secara terbuka tentang apa yang bisa didapat dari internet. Jangan justru menaruh curiga terus jika anak membuka internet. "Untuk itu harus ada keinginan dari guru dan orang tua untuk memahami soal internet dan bagaimana anak memanfaatkannya," kata Sri.

Ahmad M Ramli, Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional, Kementrian Hukum dan HAM, mengatakan, dalam membahas perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, bukan cuma soal teknologinya. Tetapi juga dengan pendekatan hukum dan sosial budaya.

Menurut Ahmad, yang paling penting untuk mengontrol perilaku anak adalah keluarga. Jika anak mengakses internet di warnet, bisa kerjasama dengan lingkungan untuk mengawasi supaya warnet itu tidak menyediakan ruang tertutup, kata Ahmad.
***
sumber: edukasi.kompas.com




Kamis, 08 April 2010

Takut atau trauma pergi ke sekolah karena mengalami teror terhadap sesuatu yang dikenal sebagai bullying dialami Novia Yuma Shanti, siswi kelas 1 SMA 70, Bulungan Jakarta.

Hanya gara-gara tidak memakai singlet (kaus dalam), Novia atau akrab disapa Vhia, diintimidasi oleh tiga seniornya yang duduk di bangku kelas 3 SMA. Bahkan, Vhia sempat mendapat kekerasan dari seniornya, berinisial E, D, A yang merupakan anggota cheers dance.

“Kejadiannya Rabu kemarin siang, pas saya ke kantin,” kata Vhia, Jumat (2/4).

Salah seorang senior berinisial E kemudian menghardiknya dengan ketus. “Eh, kenapa kamu nggak pake singlet? Bra kamu kelihatan tuh,” kata Vhia menirukan ucapan salah seorang seniornya.

Vhia kemudian mencoba menjelaskan alasannya. Namun, senior E menyuruh Vhia menunduk lalu ia memukul kepala bagian belakang Vhia dengan telapak tangan E sambil terus memarahi Vhia. E kemudian mencubit bahu Vhia. Lebih jauh senior D ikut menendang perut Vhia saat ia disuruh jongkok.

“Terus saya disuruh nggak boleh pakai Bra ataupun singlet selama satu tahun,” urainya.

Aturan memakai singlet sendiri, kata Vhia, tidak dikeluarkan pihak sekolah. Aturan itu ditetapkan oleh senior saat juniornya menjalani Masa Orientasi Sekolah (MOS) hingga berlanjut ke kelas dua. Semasa MOS, para senior SMA 70 memang menerapkan aturan bagi junior-juniornya. Di antaranya rambut tidak boleh digerai, baju dan rok harus longgar, tas harus ransel dan sepatu harus berjenis kets.

Atas kejadian itu, Ibunda Vhia, Rima, melapor ke polisi dengan tuduhan tindakan kekerasan yang dijerat Pasal 80 Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Vhia hampir trauma dan tidak mau pergi ke sekolahnya karena takut diculik sama mereka kalau pas pulang sekolah,” paparnya.

Komnas Anak

Banyaknya kasus bullying di sekolah membuat Komnas Perlindungan Anak prihatin. Komnas Anak mendesak pihak sekolah lebih peduli dan menjaga murid-muridnya.

“Banyak pihak sekolah tidak peduli kasus bullying ini. Padahal, dampaknya bagi anak sangat besar,” kata Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Sabtu (3/4).

Menurut pria yang akrab disapa Kak Seto ini, korban bullying biasanya mengalami trauma yang berkepanjangan.
***
sumber: surya online






Rabu, 07 April 2010

Kementerian Pendidikan Taiwan berencana memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam waktu dekat, demikian Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei, Suhartono.

"Sehubungan dengan itu rombongan dari Kantor Program ESIT (Elite Study In Taiwan) akan berkunjung ke Indonesia pada 20 hingga 24 April 2010," kata Suhartono, di Taipei, Taiwan, Rabu (31/3).

Menurut dia, Kantor Program ESIT merupakan kantor yang disponsori oleh Kementerian Pendidikan Taiwan untuk membantu dan memfasilitasi kementerian tersebut dalam melakukan kerjasama internasional tingkat pendidikan tinggi.

Saat ini sebanyak 30 universitas yang ada di Taiwan telah bergabung dengan ESIT dalam menyediakan dana dan beasiswa bagi mahasiswa dari berbagai negara yang didatangkan ke Taiwan melalui kerja sama dengan ESIT.

Lebih lanjut dikemukakannya, mengingat jumlah mahasiswa yang berasal dari Indonesia merupakan yang kedua terbanyak di Taiwan (1.804 orang, data per Januari 2010), maka ESIT berharap dapat menjalin kerjasama lebih erat dengan Indonesia, khususnya dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan universitas-universitas di Indonesia untuk mendatangkan lebih banyak mahasiswa ke Taiwan.

Dikatakannya, rombongan ESIT yang akan datang ke Jakarta dalam waktu dekat sangat berharap dapat bertemu dengan jajaran Kementerian Pendidikan Nasional untuk membicarakan rencana kerja sama pendidikan antara Taiwan dengan Indonesia.

Mereka selanjutnya berharap dapat mendorong terlaksananya penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) seperti yang telah dilakukan dengan Vietnam. Vietnam belum lama ini mendapat bantuan beasiswa untuk 500 mahasiswa program S3 dalam jangka waktu 12 tahun di Taiwan.

Selain itu, rombongan ESIT diharapkan dapat membahas kunjungan kunjungan berikutnya untuk mengadakan "Higher Education Fair" di Indonesia pada akhir 2010. ESIT sangat membutuhkan bantuan Kementerian Pendidikan Nasional untuk memberikan rekomendasi beberapa universitas di Indonesia yang dapat bekerja sama dalam penyelenggaraan kegiatan dimaksud.

"Kalau ada persetujuan dari Kementrian Pendidikan Nasional, kantor kami siap menandatangani MOU dengan Kementrian Pendidikan Taiwan. Kami pun paham Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan," kata Suhartono.
***
sumber: mediaindonesia.com




Selasa, 06 April 2010

Pemerintah mendorong para guru lebih banyak menulis untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesional mereka.

"Sejak golongan III B harus mulai menulis. Kalau dari muda sudah bisa, tuanya pasti jadi biasa," kata Direktur Profesi Pendidik Kementerian Pendidikan Nasional Ahmad Dasuki kepada peserta konferensi guru internasional di Jakarta, Minggu (4/4).

Sementara itu, Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional Antara Ahmad Mukhlis Yusuf, yang juga menjadi pembicara dalam konferensi itu mengatakan, kemampuan menulis guru tidak hanya penting untuk meningkatkan kapasitas profesional mereka tapi juga bisa mempengaruhi masyarakat.

Ahmad Mukhlis Yusuf mengatakan dengan menulis, para guru bisa membagi ilmu dan informasi yang mereka miliki dengan masyarakat sehingga masyarakat lebih memahami seluk beluk dunia pendidikan.

Namun bagi sebagian guru, membuat tulisan bukan pekerjaan yang mudah mengingat beban tugas mereka sebagai pengajar menyita cukup banyak waktu. "Kegiatan menulis perlu untuk kualifikasi akademis namun beban tugas yang banyak sering membuat kami sulit merealisasikan menulis. Fokus kami lebih pada pengembangan metode belajar, inovasi dalam kegiatan belajar, evaluasi dan yang lainnya," kata Nur Asiyah, peserta konferensi dari Provinsi Bengkulu.

Selain itu, kata dia, akses terhadap media informasi yang masih terbatas di sebagian daerah membuat para guru kesulitan mendapat materi pendukung untuk membuat tulisan.

Menurut Ahmad Dasuki, kesulitan itu bisa diatasi dengan menerapkan disiplin menulis dengan materi dan media yang ada. Guru, kata dia, tidak harus membatasi diri dengan membuat tulisan ilmiah terkait prosess pendidikan.

"Pasti ada banyak pengalaman saat guru berinteraksi dengan guru yang lain, siswa maupun anggota masyarakat, itu juga bisa ditulis. Saya yakin semua bisa karena selama ini cukup banyak buku-buku inspiratif yang lahir dari tangan guru," katanya.

Guru-guru yang dapat mengakses informasi melalui internet dan menggunakan fasilitas tersebut, kata dia, bisa lebih mudah memulai kebiasaan menulis mereka. "Luangkan waktu setengah atau satu jam saja untuk menulis, misalnya dengan menulis di blog, lama-lama pasti bisa."


Sampai saat ini tradisi membuat tulisan ilmiah maupun bukan ilmiah pada guru pegawai negeri sipil dinilai masih rendah dan hal itu menghambat kenaikan golongan karena pemerintah menjadikan keahlian itu sebagai bagian dari penilaian untuk kenaikan golongan kepangkatan.

Guru dari golongan III/B diwajibkan membuat karya pengembangan profesi minimal dua untuk bisa naik pangkat ke golongan III/C. Beban kredit dari karya pengembangan profesi makin tinggi untuk peningkatan golongan yang lebih tinggi. Dari III/C ke III/D minimal empat angka kredit pengembangan profesi dan enam kredit dari Golongan III/D ke IV/D. Dan supaya bisa naik dari Golongan IV/A ke IV/B, seorang guru harus mengumpulkan delapan kredit dengan membuat karya pengembangan profesi.
***
sumber: mediaindonesia.com




Senin, 05 April 2010

Sebanyak 70 persen kecamatan di Kabupaten Malang sudah bisa online. Kondisi itu sangat terbantukan oleh keberadaan para siswa PKL yang praktik kerja di kantor-kantor kecamatan.

“Mereka membantu pendampingan operator kecamatan,” jelas Tri Darmawan, staf teknis PDE Kabupaten Malang, Selasa (30/3).

Selama ini, pada prinsipnya peralatan sudah siap untuk online 100 persen, namun terkendala SDM. Untuk jaringan, PDE (Pengelola Data Elektronik) Pemkab Malang menggunakan jasa Speedy, sementara untuk wifi tergantung daerahnya.

Kecamatan yang menggunakan wifi seperti di Kecamatan Tajinan, Gedangan dan Tirtoyudo. Para siswa PKL yang berjumlah 70 orang itu berasal dari sejumlah SMK di Kota Malang dan Kabupaten Malang itu memang sudah sesuai kompetensi jurusannya. Kata Tri, untuk operator komputer, diberi pelatihan tiap tiga bulan sekali dari staf kecamatan.

Ditambahkan Henry Tanjung, Kabag PDE Pemkab Malang, kegiatan online di setiap kecamatan sebenarnya sudah disiapkan sejak 8 April 2009 lalu dan bisa dilaksanakan secara 24 jam.

“Harapannya adalah untuk meningkatkan pelayanan publik yang berbasis TI,” jelas Henry Tanjung. Seperti rencana cetak KTP di kecamatan untuk menghadap e-KTP yang bakal dilaksanakan pada 2011 nanti.
***
sumber: SURYA Online




Minggu, 04 April 2010

Tingginya intensitas bencana alam di Indonesia seperti gempa atau bencana musiman banjir, mengancam masyarakat kesulitan memperoleh air bersih. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akhirnya menjawab tantangan itu. Mereka berhasil membuat alat yang mampu mengubah air banjir, sungai, dan air tanah menjadi layak minum.

Uji coba pertama pascalisensi sehat dari Departemen Kesehatan dilakukan di permukiman korban banjir di tepi Sungai Citarum, Desa Purwadana, Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat. Kepala peneliti Puslit Fisika LIPI Puspiitek Serpong Naniek Indayaningsih mengatakan, hasil penelitian LIPI yang langsung bisa dirasakan manfaatnya ini telah dibuat sejak tahun 2009.

Dijelaskan, alat dengan keunggulan cyclone filter ini mampu mengolah air keruh dengan tingkat kekeruhan mencapai 467 normal turbidity unit menjadi air bersih. Bahkan, dengan proses lanjutan reverse osmosis (RO) atau pembunuhan bakteri dan kuman, air siap untuk diminum langsung tanpa dimasak.

”Dengan alat ini, air sungai keruh bisa diubah menjadi air bersih dalam waktu seperempat menit, dan beberapa detik di RO sudah bisa diminum,” katanya di sela-sela uji coba alat pengolahan air Pusat Penelitian Fisika LIPI, di Karawang, Jawa Barat, Rabu (31/3).

Naniek menambahkan, alat ini pun mampu menghasilkan air siap minum 10 liter per menit. Sedangkan, untuk air bersih menghasilkan 20 liter per menit.

Proses kerja alat ini terdiri dari beberapa tahap. Diawali air keruh dimasukkan ke dalam pompa treatment, lalu masuk cyclone filter, disaring dengan sand filter kemudian beranjak ke sediment filter.

Di sediment filter air kemudian diultrafiltrasi sampai mikron, sehingga menghilangkan padatan (suspended solid) seperti besi, logam berat, pasir dan kotoran lalu dihasilkanlah air bersih. Untuk air siap minum, hanya dengan waktu beberapa detik masuk ke sediment filter di RO untuk membunuh bakteri, kuman dimasukkan kembali tabung ultraviolet dan air pun siap diminum.

Pencucian Kotoran
Alat ini digerakkan dengan genset 5.000 watt. Setiap empat jam mesin beroperasi, perlu satu jam untuk back wash atau pencucian endapan dan kotoran. Naniek yang juga ketua kegiatan pengolahan air kotor menjadi air bersih dan air minum secara mobile ini, mengaku alat ini adalah penyempurnaan alat penyulingan cyclon filter sebelumnya yang tidak dipublikasikan. ”Saat ini, LIPI baru menghasilkan 1 protipe alat ini,” ujarnya.

Koordinator Sub Program Energi dan Air LIPI Suit Hendrana mengatakan, kerja alat ini menghasilkan 40 persen air bersih dan 60 persen kotoran yang harus dibuang. Alat pengolah air kotor ini tambah Suit, mampu bekerja 24 jam.

”Semakin keruh dan banyak materi suspended solid, maka proses pencucian lebih cepat sebelum empat jam beroperasi,” imbuhnya.

Suit menyatakan, pemerintah perlu mengembangkan temuan ini mengingat Indonesia yang rawan bencana. Idealnya tambah Suit, setiap provinsi memiliki 10 alat pengolahan air bersih mobile ini.

Tika (27) warga Desa Gempol Tengah mengaku terbantu dengan hadirnya mobil pengolah air kotor secara mobile atau bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

”Meskipun banjir yang merendam rumah saya surut. Tetapi, air sumur belum bisa digunakan, karena berbau,” ungkapnya.

Senada dengan itu, koordinator pengungsi Endang mengatakan sebanyak 97 kepala keluarga pengungsi amat terbantu dengan alat ini. Menurutnya, sejak tahun 1960, ini kali pertama banjir besar terjadi. Dia mensinyalir, terkikisnya bantaran sungai Citarum disebabkan derasnya volume air yang mengalir dan tingginya curah hujan.
***
sumber: suara pembaruan online




Sabtu, 03 April 2010

Delapan SMA di Jawa Timur terancam mengulang ujian nasional dan menjalani UN pengganti terkait indikasi kecurangan selama menjalani UN utama.

Lima di antara SMA tersebut bahkan sudah direkomendasikan untuk menjalani UN pengganti. Rekom Pengawas UN dan TPI PTN Jatim itu sudah diajukan kepada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kalau disetujui, maka seluruh siswa kelas XII di sekolah-sekolah itu harus mengulang UN pada mata pelajaran yang dianggap bermasalah.

Koordinator Pengawas Unas dan TPI Jatim Syafsir Akhlus menyatakan, lima sekolah dilaporkan ke BSNP setelah pihaknya mengonfirmasi akurasi temuan jawaban ilegal. "Pihak BSNP menyatakan akurasi jawaban ilegal itu tinggi sehingga kami turun ke lapangan untuk mengecek sekolah-sekolah yang memakai jawaban ilegal, lalu hasilnya kami laporkan kembali ke pusat," paparnya, Selasa (30/3/2010).

Saat ini pihaknya masih menunggu konfirmasi dari pusat. Selain lima sekolah yang sudah direkomandasikan, Pengawas Unas dan TPI PTN Jatim juga sudah menyiapkan dua nama sekolah lagi yang segera dilaporkan ke BSNP.

"Ada lima sekolah yang sudah dilaporkan dan dua lagi menyusul. Tambah satu lagi, yakni sekolah di Blitar, kalau terbukti," ungkapnya.

Adapun UN pengganti akan digelar pada 5 April 2010. Selama pelaksanaan UN SMA/SMK/MA pekan lalu, tim pengawas menemukan 12 versi jawaban ilegal. Jawaban soal-soal ini mayoritas didistribusikan melalui sarana SMS dari ponsel ke ponsel.

"Dari berbagai versi jawaban, ada beberapa yang tingkat akurasinya tinggi," ungkap dosen ITS itu.
***
sumber: kompas.edukasi.com




Jumat, 02 April 2010

Mahkamah Konstitusi (MK) Rabu (31/3) membatalkan Undang-Undang (UU) 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP). Berkaitan dengan itu, pemerintah diminta segera mengembalikan fungsi perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi lembaga pendidikan milik publik, sehingga bisa dijangkau semua lapisan masyarakat.

Pengamat pendidikan Darmaningtyas dari Perguruan Taman Siswa mengatakan, penerimaan mahasiswa harus dikembalikan berdasarkan kemampuan intelektual, bukan pada kemampuan membayar seperti yang terjadi belakangan ini. “Praktik seperti itu, sangat merugikan, terutama rakyat miskin dan di sisi lain juga menurunkan standar mutu PTN,” kata Darmaningtyas di Jakarta, Kamis (1/4) menanggapi putusan MK yang membatalkan UU BHP.

Menurut Darmaningtyas, pemerintah harus menaikkan anggaran untuk PTN terkemuka supaya tetap menjadi center of excellent (pusat pendidikan terbaik) di Indonesia dan diutamakan. “Dulu PTN kita tidak gratis tetapi terjangkau. Negara memiliki banyak dana terbukti untuk menalangi Bank Century saja bisa,” tandasnya.

Majelis Hakim MK yang dipimpin ketuanya Mahfud MD membatalkan UU BHP, karena dinilai bertentangan dengan UUD 1945. MK juga menilai UU BHP memberikan kebebasan otonomi luas kepada perguruan tinggi negeri sehingga melapangkan praktik privatisasi dan komersialisasi dalam sektor pendidikan.

Putusan itu mengabulkan permohonan yang diajukan perorangan, Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BPPTSI), sejumlah pesantren dan yayasan pendidikan, seperti Yayasan Trisakti, Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila, Yayasan Universitas Surabaya, Yayasan Universitas Prof Dr Moestopo, Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia, YPTK Satya Wacana, serta Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar.

MK juga membatalkan Pasal 53 Ayat (1) UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pasal itu, berkaitan dengan hal yang menjadi rujukan lahirnya UU BHP. Pasal 53 Ayat (1) menyebutkan, ”Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan” dan menurut MK, istilah badan hukum pendidikan itu bukanlah nama dan bentuk badan hukum tertentu.

Bisa Lebih Komersial
Sementara itu, pengamat pendidikan dan mantan anggota Komisi X DPR yang ikut membuat UU BHP, Cyprianus Aoer di Jakarta, Kamis mengatakan, apa pun putusan MK wajib dipatuhi. Namun, dia menyatakan tidak ada jaminan dicabutnya UU BHP ini pendidikan khususnya di PTN tidak akan komersial lagi.

Sebenarnya dalam UU BHP yang dibatalkan MK itu, ada aturan menyelamatkan anak-anak peserta didik yang miskin bisa masuk PTN, sebab UU itu mewajibkan setiap PTN menerima mahasiswa miskin sampai 20 persen. Belakangan ini kata Cyprianus, PTN lebih banyak memberi kesempatan kepada orang kaya dengan membayar masuk, sehingga yang miskin tidak punya kesempatan.

“Itu yang diatur dalam UU BHP itu dengan beberapa prinsip, seperti lembaga pendidikan harus bersifat nirlaba, otonom, akuntabilitas, transparan, layanan prima, dan akses berkeadilan,” ujarnya.

Cyprianus berharap dengan dibatalkannya UU BHP, pemerintah harus membuat regulasi baru melalui PP untuk menyelamatkan akses anak-anak yang miskin masuk ke PTN yang bermutu.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, Kementerian Pendidikan akan mengevaluasi ulang kedudukan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum Milik Negara (BHMN) termasuk PP soal BHP dengan dibatalkannya UU BHP oleh MK. ”Ada UU BHP atau tidak, komitmen pemerintah tetap akan meningkatkan kualitas pendidikan. Prinsip otonomi pendidikan bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas pendidikan tetap harus dijalankan tapi tentu dengan bentuk lain,” kata Mohammad Nuh di Jakarta, Rabu.
***
sumber: Suara Pembaruan Online




Kamis, 01 April 2010

Tingginya jumlah korban jiwa akibat reruntuhan bangunan setelah gempa membuat para ilmuwan berupaya keras mencari alat yang dapat memprediksi kapan gempa besar terjadi. Namun sesungguhnya "alat" itu sudah ada sejak dulu, yaitu kodok.

Makalah ilmiah yang dipublikasikan dalam Journal of Zoology kemarin mengungkapkan bahwa kodok biasa (Bufo bufo) dapat merasakan gempa yang akan terjadi dan meninggalkan koloni mereka beberapa hari sebelum aktivitas seismik menghantam wilayah tersebut.

Bukti kemampuan kodok meramal gempa itu ditunjukkan oleh sekelompok kodok yang meninggalkan koloni berkembang biak mereka tiga hari sebelum gempa mengguncang L'Aquila di Italia pada 2009. Bagaimana reptil itu bisa merasakan gempa tersebut masih belum diketahui, tapi sebagian besar pasangan yang tengah melakukan aktivitas berkembang biak dan kodok jantan kabur dari lokasi itu.

Reaksi itu ditunjukkan oleh populasi kodok, meski koloni itu berada 74 kilometer dari pusat episentrum gempa. Demikian dikatakan ahli biologi Inggris dalam Journal of Zoology. Sulit melakukan studi yang obyektif dan berkualitas tentang bagaimana binatang merespons aktivitas seismik, sebagian karena gempa memang jarang terjadi dan tak dapat diprediksi.

Sejumlah studi telah dilakukan tentang bagaimana binatang peliharaan bereaksi terhadap gempa, namun mengukur respons binatang liar jauh lebih sulit. Binatang yang pernah menunjukkan reaksinya, seperti ikan, binatang pengerat, dan ular juga baru bereaksi beberapa saat sebelum gempa menghantam, bukan beberapa hari sebelum peristiwa.

Meski demikian, Dr Rachel Grant, pakar biologi dari Open University, di Milton Keynes, Inggris, secara rutin mempelajari perilaku harian beragam koloni kodok di Italia, termasuk pada saat gempa besar mengguncang kawasan itu. Studinya mencakup pengumpulan data dalam periode 29 hari, yakni sebelum, selama, dan setelah gempa menggoyang Italia pada 6 April 2009. Gempa berkekuatan 6,3 magnitudo itu dekat dengan Kota L'Aquila, sekitar 95 kilometer timur laut Roma.

Grant tengah mempelajari kodok sekitar 74 kilometer jauhnya dari Danau San Ruffino di Italia tengah, ketika dia mencatat perilaku aneh para kodok. Lima hari sebelum gempa, jumlah katak jantan di koloni berkembang biak itu turun hingga 96 persen.

Menghilangnya katak jantan itu sangat aneh karena, begitu masa berkembang biak tiba, biasanya mereka tetap aktif memenuhi tempat perkembangbiakan itu hingga musim kawin selesai. Pada saat gempa terjadi, musim kawin di Danau San Ruffino baru saja dimulai. Selain itu, tak ada peristiwa cuaca yang dapat dihubungkan dengan menghilangnya kodok.

Tiga hari sebelum gempa, jumlah pasangan kodok yang kawin juga tiba-tiba anjlok hingga nol.

Meski telur ditemukan di lokasi itu hingga enam hari sebelum gempa, dan enam hari sesudahnya, tak ada telur yang ditemukan pada saat periode gempa, mulai guncangan besar pertama sampai gempa susulan terakhir. "Studi kami adalah yang pertama kalinya mendokumentasikan perilaku binatang sebelum, selama dan sesudah gempa," kata Grant.

Dia yakin kodok itu kabur ke tempat yang lebih tinggi. Mungkin tempat yang melindungi mereka dari risiko reruntuhan batu, tanah longsor, dan banjir.

Bagaimana kodok itu dapat merasakan sebelum aktivitas seismik itu terjadi masih belum jelas. Perubahan perilaku kodok diduga bertepatan dengan gangguan di ionosfer, lapisan elektromagnetik teratas dari atmosfer bumi, yang terdeteksi oleh para ilmuwan pada saat gempa L'Aquila, menggunakan teknik suara radio dalam frekuensi amat rendah (VLF). Perubahan pada atmosfer semacam itu oleh sejumlah ilmuwan dihubungkan dengan lepasnya gas radon atau gelombang gravitasi sesaat sebelum gempa.

Dalam kasus gempa L'Aquila, Grant tak dapat memastikan apa yang menyebabkan gangguan pada ionosfer. Namun penemuannya menunjukkan bahwa kodok dapat mendeteksi sesuatu. "Temuan kami menunjukkan bahwa kodok mampu mendeteksi petunjuk praseismik, seperti lepasnya gas dan partikel bermuatan, dan menggunakan hal itu sebagai bentuk sistem peringatan dini gempa," katanya.
***
sumber: tempointeraktif.com




Labels

Alumni (21) Amerika Serikat (1) Angkatan 1995 (1) Anti Korupsi (1) Arab Saudi (1) Arema Malang (1) Artikel (8) ASEAN (1) ay kusnadi (1) Ayusta (1) Bahasa (2) Balitjestro 2008 (1) Bandung (1) Bank Mandiri (1) Bantuan Operasional Sekolah (1) barongan (1) Basketball (1) bca (1) Beasiswa (19) Berita (3) berita duka (1) BHMN (1) Bimbel (1) Biodiversity (1) Bisnis (1) bisnis online (1) Blog (5) bondan winarno (1) BOS (3) Buku (1) Buku Paket (1) Bulan Bahasa (1) Bullying (1) Bursa Kerja (1) Candi Kidal (1) Class Meeting (1) Dee (1) dollar gratis (1) Dumpul (1) dunia maya (1) Ekstrakurikuler (5) Facebook (2) Fair Play (1) Fisika (1) Friendster (1) Futsal (1) gado gado (1) Global Warming (1) Google (1) Gunung Tabor (1) Guru (10) Gus Dur (1) HUT ke-30 (1) IKAPALA (1) imam gozali (1) Inggris (1) Inspirasi (1) Internet (1) IPB (1) Iptek (3) Istana Negara (2) ITB (1) Jabodetabek (1) Jambi (1) Jawa Timur (4) Jepang (1) jerman (3) Jeru (1) Jilu (1) Jombang (1) Jusuf Kalla (1) Kabupaten Malang (4) kampus (1) karir.com (1) Kegiatan (1) Kelas A4 (1) Kelas XII (1) Kemendikbud (3) Kemendiknas (1) Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan (1) Kepala Sekolah (1) Kesehatan (3) KH. Abdurrahman Wahid (1) Kiat Jitu (1) Komik (1) Komunitas (1) kosmetika (1) Kota Batu (1) Kota Malang (5) Kuliah (1) kuliner (1) kusti (2) launching (1) Lingkungan (1) LIPI (1) Lowongan (1) Lulusan 2008 (1) M. Nuh (1) Mahasiswa (2) Mahasiswa Baru (2) Mahkamah Konstitusi (1) maknyus (1) Malang (3) Malang Raya (1) Malangsuko (1) Malaysia (1) Matematika (1) Mendiknas (1) Mendit (1) Menkominfo (1) Menulis (2) Menulis Ilmiah (1) Minat Baca (1) Motto Kelas (1) nDangdut (1) Nostalgia (2) Otonomi Daerah (1) Pahlawan Nasional (1) pak temun (1) Pancasila (1) panggung terbuka (1) Pelajar (1) Pelajaran (1) Pemerintah (1) Pendidikan (11) Pendidikan Nasional (6) Penelitian Ilmiah Remaja (2) Perbankan (1) Perguruan Tinggi (3) Perguruan Tinggi Swasta (2) Permen Karet (1) Pertamina (2) Pilkada (1) PMP (1) PMR (1) Pornografi (1) pramuka (2) Precet (1) Profil (2) PTN (3) PTS (1) Redaksi (1) remaja (2) reuni (5) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (3) Riset (1) RSBI (4) Rujak Cingur (1) S-1 (1) S1 (1) S2 (1) S3 (1) Sains (1) Sarjana (1) SBI (1) SD (5) Sejarah (3) Sekolah Hijau (1) Sepakbola (2) sepeda (1) Situs (1) SMA (17) SMA Kebon Tebu (1) SMAN 1 Malang (1) sman tumpang (3) SMANETA (10) Smansa (1) SMK (1) SMKN Turen (1) SMP (4) SNMPTN (2) SNMPTN Online (1) soeharto (1) STT Telkom (1) sugeng hadiono (1) Sukoanyar (1) Surabaya (1) Tahun 2013 (1) Tahun Baru (1) Taiwan (1) Tawuran (1) teknologi (3) Tes Online (1) Tips (5) Tomik HS (1) Trik (1) Try Out Online (1) Tulus Ayu (1) Tumpang (2) UAN (2) UASBN (1) UGM (2) UI (1) Ujian (2) Ujian Akhir Nasional (1) Ujian Nasional (5) Ujian Nasional 2010 (1) Ujian Nasional 2011 (1) Ujian Nasional 2012 (1) UM (1) UMB (1) UN (7) UN 2010 (5) UN 2012 (1) Universitas (1) Universitas Brawijaya (1) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (1) Universitas Paramadina (1) UNS Solo (1) Virus (1) wafat (1) Wakil Gubernur (1) website (2) Wendit Water park (1) Wisata (2) wisnuwardhana-narasinghamurti (1) www.smantumpang.com (1)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!