Kamis, 08 April 2010

Takut atau trauma pergi ke sekolah karena mengalami teror terhadap sesuatu yang dikenal sebagai bullying dialami Novia Yuma Shanti, siswi kelas 1 SMA 70, Bulungan Jakarta.

Hanya gara-gara tidak memakai singlet (kaus dalam), Novia atau akrab disapa Vhia, diintimidasi oleh tiga seniornya yang duduk di bangku kelas 3 SMA. Bahkan, Vhia sempat mendapat kekerasan dari seniornya, berinisial E, D, A yang merupakan anggota cheers dance.

“Kejadiannya Rabu kemarin siang, pas saya ke kantin,” kata Vhia, Jumat (2/4).

Salah seorang senior berinisial E kemudian menghardiknya dengan ketus. “Eh, kenapa kamu nggak pake singlet? Bra kamu kelihatan tuh,” kata Vhia menirukan ucapan salah seorang seniornya.

Vhia kemudian mencoba menjelaskan alasannya. Namun, senior E menyuruh Vhia menunduk lalu ia memukul kepala bagian belakang Vhia dengan telapak tangan E sambil terus memarahi Vhia. E kemudian mencubit bahu Vhia. Lebih jauh senior D ikut menendang perut Vhia saat ia disuruh jongkok.

“Terus saya disuruh nggak boleh pakai Bra ataupun singlet selama satu tahun,” urainya.

Aturan memakai singlet sendiri, kata Vhia, tidak dikeluarkan pihak sekolah. Aturan itu ditetapkan oleh senior saat juniornya menjalani Masa Orientasi Sekolah (MOS) hingga berlanjut ke kelas dua. Semasa MOS, para senior SMA 70 memang menerapkan aturan bagi junior-juniornya. Di antaranya rambut tidak boleh digerai, baju dan rok harus longgar, tas harus ransel dan sepatu harus berjenis kets.

Atas kejadian itu, Ibunda Vhia, Rima, melapor ke polisi dengan tuduhan tindakan kekerasan yang dijerat Pasal 80 Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Vhia hampir trauma dan tidak mau pergi ke sekolahnya karena takut diculik sama mereka kalau pas pulang sekolah,” paparnya.

Komnas Anak

Banyaknya kasus bullying di sekolah membuat Komnas Perlindungan Anak prihatin. Komnas Anak mendesak pihak sekolah lebih peduli dan menjaga murid-muridnya.

“Banyak pihak sekolah tidak peduli kasus bullying ini. Padahal, dampaknya bagi anak sangat besar,” kata Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Sabtu (3/4).

Menurut pria yang akrab disapa Kak Seto ini, korban bullying biasanya mengalami trauma yang berkepanjangan.
***
sumber: surya online






Rabu, 07 April 2010

Kementerian Pendidikan Taiwan berencana memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam waktu dekat, demikian Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei, Suhartono.

"Sehubungan dengan itu rombongan dari Kantor Program ESIT (Elite Study In Taiwan) akan berkunjung ke Indonesia pada 20 hingga 24 April 2010," kata Suhartono, di Taipei, Taiwan, Rabu (31/3).

Menurut dia, Kantor Program ESIT merupakan kantor yang disponsori oleh Kementerian Pendidikan Taiwan untuk membantu dan memfasilitasi kementerian tersebut dalam melakukan kerjasama internasional tingkat pendidikan tinggi.

Saat ini sebanyak 30 universitas yang ada di Taiwan telah bergabung dengan ESIT dalam menyediakan dana dan beasiswa bagi mahasiswa dari berbagai negara yang didatangkan ke Taiwan melalui kerja sama dengan ESIT.

Lebih lanjut dikemukakannya, mengingat jumlah mahasiswa yang berasal dari Indonesia merupakan yang kedua terbanyak di Taiwan (1.804 orang, data per Januari 2010), maka ESIT berharap dapat menjalin kerjasama lebih erat dengan Indonesia, khususnya dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan universitas-universitas di Indonesia untuk mendatangkan lebih banyak mahasiswa ke Taiwan.

Dikatakannya, rombongan ESIT yang akan datang ke Jakarta dalam waktu dekat sangat berharap dapat bertemu dengan jajaran Kementerian Pendidikan Nasional untuk membicarakan rencana kerja sama pendidikan antara Taiwan dengan Indonesia.

Mereka selanjutnya berharap dapat mendorong terlaksananya penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) seperti yang telah dilakukan dengan Vietnam. Vietnam belum lama ini mendapat bantuan beasiswa untuk 500 mahasiswa program S3 dalam jangka waktu 12 tahun di Taiwan.

Selain itu, rombongan ESIT diharapkan dapat membahas kunjungan kunjungan berikutnya untuk mengadakan "Higher Education Fair" di Indonesia pada akhir 2010. ESIT sangat membutuhkan bantuan Kementerian Pendidikan Nasional untuk memberikan rekomendasi beberapa universitas di Indonesia yang dapat bekerja sama dalam penyelenggaraan kegiatan dimaksud.

"Kalau ada persetujuan dari Kementrian Pendidikan Nasional, kantor kami siap menandatangani MOU dengan Kementrian Pendidikan Taiwan. Kami pun paham Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan," kata Suhartono.
***
sumber: mediaindonesia.com




Selasa, 06 April 2010

Pemerintah mendorong para guru lebih banyak menulis untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesional mereka.

"Sejak golongan III B harus mulai menulis. Kalau dari muda sudah bisa, tuanya pasti jadi biasa," kata Direktur Profesi Pendidik Kementerian Pendidikan Nasional Ahmad Dasuki kepada peserta konferensi guru internasional di Jakarta, Minggu (4/4).

Sementara itu, Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional Antara Ahmad Mukhlis Yusuf, yang juga menjadi pembicara dalam konferensi itu mengatakan, kemampuan menulis guru tidak hanya penting untuk meningkatkan kapasitas profesional mereka tapi juga bisa mempengaruhi masyarakat.

Ahmad Mukhlis Yusuf mengatakan dengan menulis, para guru bisa membagi ilmu dan informasi yang mereka miliki dengan masyarakat sehingga masyarakat lebih memahami seluk beluk dunia pendidikan.

Namun bagi sebagian guru, membuat tulisan bukan pekerjaan yang mudah mengingat beban tugas mereka sebagai pengajar menyita cukup banyak waktu. "Kegiatan menulis perlu untuk kualifikasi akademis namun beban tugas yang banyak sering membuat kami sulit merealisasikan menulis. Fokus kami lebih pada pengembangan metode belajar, inovasi dalam kegiatan belajar, evaluasi dan yang lainnya," kata Nur Asiyah, peserta konferensi dari Provinsi Bengkulu.

Selain itu, kata dia, akses terhadap media informasi yang masih terbatas di sebagian daerah membuat para guru kesulitan mendapat materi pendukung untuk membuat tulisan.

Menurut Ahmad Dasuki, kesulitan itu bisa diatasi dengan menerapkan disiplin menulis dengan materi dan media yang ada. Guru, kata dia, tidak harus membatasi diri dengan membuat tulisan ilmiah terkait prosess pendidikan.

"Pasti ada banyak pengalaman saat guru berinteraksi dengan guru yang lain, siswa maupun anggota masyarakat, itu juga bisa ditulis. Saya yakin semua bisa karena selama ini cukup banyak buku-buku inspiratif yang lahir dari tangan guru," katanya.

Guru-guru yang dapat mengakses informasi melalui internet dan menggunakan fasilitas tersebut, kata dia, bisa lebih mudah memulai kebiasaan menulis mereka. "Luangkan waktu setengah atau satu jam saja untuk menulis, misalnya dengan menulis di blog, lama-lama pasti bisa."


Sampai saat ini tradisi membuat tulisan ilmiah maupun bukan ilmiah pada guru pegawai negeri sipil dinilai masih rendah dan hal itu menghambat kenaikan golongan karena pemerintah menjadikan keahlian itu sebagai bagian dari penilaian untuk kenaikan golongan kepangkatan.

Guru dari golongan III/B diwajibkan membuat karya pengembangan profesi minimal dua untuk bisa naik pangkat ke golongan III/C. Beban kredit dari karya pengembangan profesi makin tinggi untuk peningkatan golongan yang lebih tinggi. Dari III/C ke III/D minimal empat angka kredit pengembangan profesi dan enam kredit dari Golongan III/D ke IV/D. Dan supaya bisa naik dari Golongan IV/A ke IV/B, seorang guru harus mengumpulkan delapan kredit dengan membuat karya pengembangan profesi.
***
sumber: mediaindonesia.com




Senin, 05 April 2010

Sebanyak 70 persen kecamatan di Kabupaten Malang sudah bisa online. Kondisi itu sangat terbantukan oleh keberadaan para siswa PKL yang praktik kerja di kantor-kantor kecamatan.

“Mereka membantu pendampingan operator kecamatan,” jelas Tri Darmawan, staf teknis PDE Kabupaten Malang, Selasa (30/3).

Selama ini, pada prinsipnya peralatan sudah siap untuk online 100 persen, namun terkendala SDM. Untuk jaringan, PDE (Pengelola Data Elektronik) Pemkab Malang menggunakan jasa Speedy, sementara untuk wifi tergantung daerahnya.

Kecamatan yang menggunakan wifi seperti di Kecamatan Tajinan, Gedangan dan Tirtoyudo. Para siswa PKL yang berjumlah 70 orang itu berasal dari sejumlah SMK di Kota Malang dan Kabupaten Malang itu memang sudah sesuai kompetensi jurusannya. Kata Tri, untuk operator komputer, diberi pelatihan tiap tiga bulan sekali dari staf kecamatan.

Ditambahkan Henry Tanjung, Kabag PDE Pemkab Malang, kegiatan online di setiap kecamatan sebenarnya sudah disiapkan sejak 8 April 2009 lalu dan bisa dilaksanakan secara 24 jam.

“Harapannya adalah untuk meningkatkan pelayanan publik yang berbasis TI,” jelas Henry Tanjung. Seperti rencana cetak KTP di kecamatan untuk menghadap e-KTP yang bakal dilaksanakan pada 2011 nanti.
***
sumber: SURYA Online




Minggu, 04 April 2010

Tingginya intensitas bencana alam di Indonesia seperti gempa atau bencana musiman banjir, mengancam masyarakat kesulitan memperoleh air bersih. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akhirnya menjawab tantangan itu. Mereka berhasil membuat alat yang mampu mengubah air banjir, sungai, dan air tanah menjadi layak minum.

Uji coba pertama pascalisensi sehat dari Departemen Kesehatan dilakukan di permukiman korban banjir di tepi Sungai Citarum, Desa Purwadana, Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat. Kepala peneliti Puslit Fisika LIPI Puspiitek Serpong Naniek Indayaningsih mengatakan, hasil penelitian LIPI yang langsung bisa dirasakan manfaatnya ini telah dibuat sejak tahun 2009.

Dijelaskan, alat dengan keunggulan cyclone filter ini mampu mengolah air keruh dengan tingkat kekeruhan mencapai 467 normal turbidity unit menjadi air bersih. Bahkan, dengan proses lanjutan reverse osmosis (RO) atau pembunuhan bakteri dan kuman, air siap untuk diminum langsung tanpa dimasak.

”Dengan alat ini, air sungai keruh bisa diubah menjadi air bersih dalam waktu seperempat menit, dan beberapa detik di RO sudah bisa diminum,” katanya di sela-sela uji coba alat pengolahan air Pusat Penelitian Fisika LIPI, di Karawang, Jawa Barat, Rabu (31/3).

Naniek menambahkan, alat ini pun mampu menghasilkan air siap minum 10 liter per menit. Sedangkan, untuk air bersih menghasilkan 20 liter per menit.

Proses kerja alat ini terdiri dari beberapa tahap. Diawali air keruh dimasukkan ke dalam pompa treatment, lalu masuk cyclone filter, disaring dengan sand filter kemudian beranjak ke sediment filter.

Di sediment filter air kemudian diultrafiltrasi sampai mikron, sehingga menghilangkan padatan (suspended solid) seperti besi, logam berat, pasir dan kotoran lalu dihasilkanlah air bersih. Untuk air siap minum, hanya dengan waktu beberapa detik masuk ke sediment filter di RO untuk membunuh bakteri, kuman dimasukkan kembali tabung ultraviolet dan air pun siap diminum.

Pencucian Kotoran
Alat ini digerakkan dengan genset 5.000 watt. Setiap empat jam mesin beroperasi, perlu satu jam untuk back wash atau pencucian endapan dan kotoran. Naniek yang juga ketua kegiatan pengolahan air kotor menjadi air bersih dan air minum secara mobile ini, mengaku alat ini adalah penyempurnaan alat penyulingan cyclon filter sebelumnya yang tidak dipublikasikan. ”Saat ini, LIPI baru menghasilkan 1 protipe alat ini,” ujarnya.

Koordinator Sub Program Energi dan Air LIPI Suit Hendrana mengatakan, kerja alat ini menghasilkan 40 persen air bersih dan 60 persen kotoran yang harus dibuang. Alat pengolah air kotor ini tambah Suit, mampu bekerja 24 jam.

”Semakin keruh dan banyak materi suspended solid, maka proses pencucian lebih cepat sebelum empat jam beroperasi,” imbuhnya.

Suit menyatakan, pemerintah perlu mengembangkan temuan ini mengingat Indonesia yang rawan bencana. Idealnya tambah Suit, setiap provinsi memiliki 10 alat pengolahan air bersih mobile ini.

Tika (27) warga Desa Gempol Tengah mengaku terbantu dengan hadirnya mobil pengolah air kotor secara mobile atau bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

”Meskipun banjir yang merendam rumah saya surut. Tetapi, air sumur belum bisa digunakan, karena berbau,” ungkapnya.

Senada dengan itu, koordinator pengungsi Endang mengatakan sebanyak 97 kepala keluarga pengungsi amat terbantu dengan alat ini. Menurutnya, sejak tahun 1960, ini kali pertama banjir besar terjadi. Dia mensinyalir, terkikisnya bantaran sungai Citarum disebabkan derasnya volume air yang mengalir dan tingginya curah hujan.
***
sumber: suara pembaruan online




Sabtu, 03 April 2010

Delapan SMA di Jawa Timur terancam mengulang ujian nasional dan menjalani UN pengganti terkait indikasi kecurangan selama menjalani UN utama.

Lima di antara SMA tersebut bahkan sudah direkomendasikan untuk menjalani UN pengganti. Rekom Pengawas UN dan TPI PTN Jatim itu sudah diajukan kepada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kalau disetujui, maka seluruh siswa kelas XII di sekolah-sekolah itu harus mengulang UN pada mata pelajaran yang dianggap bermasalah.

Koordinator Pengawas Unas dan TPI Jatim Syafsir Akhlus menyatakan, lima sekolah dilaporkan ke BSNP setelah pihaknya mengonfirmasi akurasi temuan jawaban ilegal. "Pihak BSNP menyatakan akurasi jawaban ilegal itu tinggi sehingga kami turun ke lapangan untuk mengecek sekolah-sekolah yang memakai jawaban ilegal, lalu hasilnya kami laporkan kembali ke pusat," paparnya, Selasa (30/3/2010).

Saat ini pihaknya masih menunggu konfirmasi dari pusat. Selain lima sekolah yang sudah direkomandasikan, Pengawas Unas dan TPI PTN Jatim juga sudah menyiapkan dua nama sekolah lagi yang segera dilaporkan ke BSNP.

"Ada lima sekolah yang sudah dilaporkan dan dua lagi menyusul. Tambah satu lagi, yakni sekolah di Blitar, kalau terbukti," ungkapnya.

Adapun UN pengganti akan digelar pada 5 April 2010. Selama pelaksanaan UN SMA/SMK/MA pekan lalu, tim pengawas menemukan 12 versi jawaban ilegal. Jawaban soal-soal ini mayoritas didistribusikan melalui sarana SMS dari ponsel ke ponsel.

"Dari berbagai versi jawaban, ada beberapa yang tingkat akurasinya tinggi," ungkap dosen ITS itu.
***
sumber: kompas.edukasi.com




Jumat, 02 April 2010

Mahkamah Konstitusi (MK) Rabu (31/3) membatalkan Undang-Undang (UU) 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP). Berkaitan dengan itu, pemerintah diminta segera mengembalikan fungsi perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi lembaga pendidikan milik publik, sehingga bisa dijangkau semua lapisan masyarakat.

Pengamat pendidikan Darmaningtyas dari Perguruan Taman Siswa mengatakan, penerimaan mahasiswa harus dikembalikan berdasarkan kemampuan intelektual, bukan pada kemampuan membayar seperti yang terjadi belakangan ini. “Praktik seperti itu, sangat merugikan, terutama rakyat miskin dan di sisi lain juga menurunkan standar mutu PTN,” kata Darmaningtyas di Jakarta, Kamis (1/4) menanggapi putusan MK yang membatalkan UU BHP.

Menurut Darmaningtyas, pemerintah harus menaikkan anggaran untuk PTN terkemuka supaya tetap menjadi center of excellent (pusat pendidikan terbaik) di Indonesia dan diutamakan. “Dulu PTN kita tidak gratis tetapi terjangkau. Negara memiliki banyak dana terbukti untuk menalangi Bank Century saja bisa,” tandasnya.

Majelis Hakim MK yang dipimpin ketuanya Mahfud MD membatalkan UU BHP, karena dinilai bertentangan dengan UUD 1945. MK juga menilai UU BHP memberikan kebebasan otonomi luas kepada perguruan tinggi negeri sehingga melapangkan praktik privatisasi dan komersialisasi dalam sektor pendidikan.

Putusan itu mengabulkan permohonan yang diajukan perorangan, Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BPPTSI), sejumlah pesantren dan yayasan pendidikan, seperti Yayasan Trisakti, Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila, Yayasan Universitas Surabaya, Yayasan Universitas Prof Dr Moestopo, Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia, YPTK Satya Wacana, serta Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar.

MK juga membatalkan Pasal 53 Ayat (1) UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pasal itu, berkaitan dengan hal yang menjadi rujukan lahirnya UU BHP. Pasal 53 Ayat (1) menyebutkan, ”Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan” dan menurut MK, istilah badan hukum pendidikan itu bukanlah nama dan bentuk badan hukum tertentu.

Bisa Lebih Komersial
Sementara itu, pengamat pendidikan dan mantan anggota Komisi X DPR yang ikut membuat UU BHP, Cyprianus Aoer di Jakarta, Kamis mengatakan, apa pun putusan MK wajib dipatuhi. Namun, dia menyatakan tidak ada jaminan dicabutnya UU BHP ini pendidikan khususnya di PTN tidak akan komersial lagi.

Sebenarnya dalam UU BHP yang dibatalkan MK itu, ada aturan menyelamatkan anak-anak peserta didik yang miskin bisa masuk PTN, sebab UU itu mewajibkan setiap PTN menerima mahasiswa miskin sampai 20 persen. Belakangan ini kata Cyprianus, PTN lebih banyak memberi kesempatan kepada orang kaya dengan membayar masuk, sehingga yang miskin tidak punya kesempatan.

“Itu yang diatur dalam UU BHP itu dengan beberapa prinsip, seperti lembaga pendidikan harus bersifat nirlaba, otonom, akuntabilitas, transparan, layanan prima, dan akses berkeadilan,” ujarnya.

Cyprianus berharap dengan dibatalkannya UU BHP, pemerintah harus membuat regulasi baru melalui PP untuk menyelamatkan akses anak-anak yang miskin masuk ke PTN yang bermutu.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, Kementerian Pendidikan akan mengevaluasi ulang kedudukan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum Milik Negara (BHMN) termasuk PP soal BHP dengan dibatalkannya UU BHP oleh MK. ”Ada UU BHP atau tidak, komitmen pemerintah tetap akan meningkatkan kualitas pendidikan. Prinsip otonomi pendidikan bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas pendidikan tetap harus dijalankan tapi tentu dengan bentuk lain,” kata Mohammad Nuh di Jakarta, Rabu.
***
sumber: Suara Pembaruan Online




Kamis, 01 April 2010

Tingginya jumlah korban jiwa akibat reruntuhan bangunan setelah gempa membuat para ilmuwan berupaya keras mencari alat yang dapat memprediksi kapan gempa besar terjadi. Namun sesungguhnya "alat" itu sudah ada sejak dulu, yaitu kodok.

Makalah ilmiah yang dipublikasikan dalam Journal of Zoology kemarin mengungkapkan bahwa kodok biasa (Bufo bufo) dapat merasakan gempa yang akan terjadi dan meninggalkan koloni mereka beberapa hari sebelum aktivitas seismik menghantam wilayah tersebut.

Bukti kemampuan kodok meramal gempa itu ditunjukkan oleh sekelompok kodok yang meninggalkan koloni berkembang biak mereka tiga hari sebelum gempa mengguncang L'Aquila di Italia pada 2009. Bagaimana reptil itu bisa merasakan gempa tersebut masih belum diketahui, tapi sebagian besar pasangan yang tengah melakukan aktivitas berkembang biak dan kodok jantan kabur dari lokasi itu.

Reaksi itu ditunjukkan oleh populasi kodok, meski koloni itu berada 74 kilometer dari pusat episentrum gempa. Demikian dikatakan ahli biologi Inggris dalam Journal of Zoology. Sulit melakukan studi yang obyektif dan berkualitas tentang bagaimana binatang merespons aktivitas seismik, sebagian karena gempa memang jarang terjadi dan tak dapat diprediksi.

Sejumlah studi telah dilakukan tentang bagaimana binatang peliharaan bereaksi terhadap gempa, namun mengukur respons binatang liar jauh lebih sulit. Binatang yang pernah menunjukkan reaksinya, seperti ikan, binatang pengerat, dan ular juga baru bereaksi beberapa saat sebelum gempa menghantam, bukan beberapa hari sebelum peristiwa.

Meski demikian, Dr Rachel Grant, pakar biologi dari Open University, di Milton Keynes, Inggris, secara rutin mempelajari perilaku harian beragam koloni kodok di Italia, termasuk pada saat gempa besar mengguncang kawasan itu. Studinya mencakup pengumpulan data dalam periode 29 hari, yakni sebelum, selama, dan setelah gempa menggoyang Italia pada 6 April 2009. Gempa berkekuatan 6,3 magnitudo itu dekat dengan Kota L'Aquila, sekitar 95 kilometer timur laut Roma.

Grant tengah mempelajari kodok sekitar 74 kilometer jauhnya dari Danau San Ruffino di Italia tengah, ketika dia mencatat perilaku aneh para kodok. Lima hari sebelum gempa, jumlah katak jantan di koloni berkembang biak itu turun hingga 96 persen.

Menghilangnya katak jantan itu sangat aneh karena, begitu masa berkembang biak tiba, biasanya mereka tetap aktif memenuhi tempat perkembangbiakan itu hingga musim kawin selesai. Pada saat gempa terjadi, musim kawin di Danau San Ruffino baru saja dimulai. Selain itu, tak ada peristiwa cuaca yang dapat dihubungkan dengan menghilangnya kodok.

Tiga hari sebelum gempa, jumlah pasangan kodok yang kawin juga tiba-tiba anjlok hingga nol.

Meski telur ditemukan di lokasi itu hingga enam hari sebelum gempa, dan enam hari sesudahnya, tak ada telur yang ditemukan pada saat periode gempa, mulai guncangan besar pertama sampai gempa susulan terakhir. "Studi kami adalah yang pertama kalinya mendokumentasikan perilaku binatang sebelum, selama dan sesudah gempa," kata Grant.

Dia yakin kodok itu kabur ke tempat yang lebih tinggi. Mungkin tempat yang melindungi mereka dari risiko reruntuhan batu, tanah longsor, dan banjir.

Bagaimana kodok itu dapat merasakan sebelum aktivitas seismik itu terjadi masih belum jelas. Perubahan perilaku kodok diduga bertepatan dengan gangguan di ionosfer, lapisan elektromagnetik teratas dari atmosfer bumi, yang terdeteksi oleh para ilmuwan pada saat gempa L'Aquila, menggunakan teknik suara radio dalam frekuensi amat rendah (VLF). Perubahan pada atmosfer semacam itu oleh sejumlah ilmuwan dihubungkan dengan lepasnya gas radon atau gelombang gravitasi sesaat sebelum gempa.

Dalam kasus gempa L'Aquila, Grant tak dapat memastikan apa yang menyebabkan gangguan pada ionosfer. Namun penemuannya menunjukkan bahwa kodok dapat mendeteksi sesuatu. "Temuan kami menunjukkan bahwa kodok mampu mendeteksi petunjuk praseismik, seperti lepasnya gas dan partikel bermuatan, dan menggunakan hal itu sebagai bentuk sistem peringatan dini gempa," katanya.
***
sumber: tempointeraktif.com




Rabu, 31 Maret 2010

Peluang beasiswa bagi siswa SMA kembali ditawarkan oleh Universitas Sebelas Maret Solo (UNS). Saat ini, masih terdapat kuota 314 beasiswa program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) Bidik Misi 2010 di UNS yang belum terisi. Peluang ini dibuka sampai 23 April mendatang.

Hal tersebut disampaikan Ravik Karsidi, Pembantu Rektor I UNS pada jumpa pers di UNS, Senin (22/3). Ravik mengatakan UNS mendapatkan kuota 400 mahasiswa untuk diberikan beasiswa dan biaya pendidikan melalui program beasiswa Bidik Misi dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Namun, pada tahap I seleksi penerimaan mahasiswa jalur PMDK sekaligus calon penerima beasiswa tersebut baru dapat menjaring 59 orang dari 487 pendaftar.

Sebenarnya, kuota beasiswa tersebut diperuntukkan bagi calon mahasiswa yang masuk UNS melalui jalur PMDK atau non-PMDK. Namun, Ravik menuturkan jika pihaknya diberikan tenggat waktu penjaringan penerima beasiswa hingga Mei.

Sementara, penyelenggaraan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN) belum digelar pada bulan tersebut. "Mei harus sudah selesai, maka beasiswa itu hanya untuk jalur PMDK," ujar Ravik.

Pada tahun ini, terdapat 12.400 pendaftar PMDK umum di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya 1200 yang diterima masuk perguruan tinggi. Menurut Ravik, 11.200 sisanya akan dijadikan target penerima beasiswa Bidik Misi tambahan. Kali ini, setiap calon mahasiswa hanya diberikan opsi satu jurusan.

Menurut Ravik, UNS akan mengajukan lebih dari 400 nama calon penerima beasiswa ke Dikti. Hal ini lantaran, untuk mengantisipasi calon mahasiswa yang sudah diterima di universitas lain. "Biar kuotanya terpenuhi,'' jelasnya.

Besarnya beasiswa tersebut adalah Rp 5 juta per siswa per semester selama delapan semester untuk jenjang S1. Sementara, D3 sampai enam semester. Dari jumlah tersebut, Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu untuk biaya hidup, dan sisanya untuk biaya pendidikan.
***
sumber: republika.co.id




Selasa, 30 Maret 2010

Rencana pembuatan Volcania Park, objek wisata edukasi gunung berapi bertaraf internasional di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang makin mendekati kenyataan. April mendatang, detail engineering design (DED) atas proyek itu diharapkan tuntas.

“Harapannya, 2012 nanti sudah bisa soft opening,” tutur Purnadi, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, Senin (29/3).

Dari hasil studi kelayakan lalu yang dilakukan konsultan Euro Asia, wisata ini membutuhkan lahan seluas 50 hektare dan dibuat mirip dengan wisata gunung di Perancis.

“Tapi mungkin awalnya hanya membutuhkan lahan sekitar 10-15 hektare,” tambah. Ia mengharapkan, dengan dibukanya Volcania Park ini, Poncokusumo akan menjadi kota baru, dan berkembang sebagai kota wisata layaknya Kota Batu. Proyek yang dirintis ILO dan pemerintah ini, juga diimpikan menjadi magnet pariwisata Jawa Timur.

Tomie Herawanto, Kabid Perekonomian dan Kesra Bappekab Malang menambahkan, setelah proses DED usai, hasilnya akan diserahkan ke pemerintah pusat.

“Sejauh ini belum ditentukan lokasinya meski sudah ditentukan desanya, yaitu Wringinanom,” papar Tomie. Desa itu dipilih karena memiliki view Gunung Bromo.
***
sumber: surya online




Senin, 29 Maret 2010

Masih dua jam menjelang waktu ashar, tapi Masjid Al Hidayah di Jl Laksmana Adi Sucipto, Blimbing, Kota Malang, sudah dijubeli ratusan bocah dan ABG, Kamis (25/3). Mereka itu adalah para siswa madrasah tsanawiyah (SMP) dan ibtidaiyah (SD) Hasyim Ashari, yang berkumpul untuk melakukan istighotsah, sebuah acara yang belakangan ngetren diadakan sekolah-sekolah, khusus menyambut ujian nasional (Unas).

“Saya berniat untuk menenangkan diri, agar tujuan saya berdoa ini bisa berhasil sepenuhnya,” suara lembut Drs H Afandi, sang Kepala Madrasah dari mikrofon masjid, membuyarkan kegaduhan khas siswa sekolah. Para siswa pun segera bersila, terdiam lantas bersiap mengikuti istighotsah.

Istighotsah yang berlangsung cukup lama itu hanya salah satu dari apa yang disebut ‘ikhtiar batin’ oleh Ustad Afandi. Ada banyak lagi cara sekolah membiarkan siswa mereka untuk mendekatkan diri kepada sang khalik.

Salah satunya, berpuasa. Namun, tentu saja bukan siswa yang diwajibkan berpuasa karena mereka tentu bakal sempoyongan saat mengerjakan soal ujian, melainkan orangtua dan wali murid. “Bapak, Ibu, para orangtua murid. Setelah ini kami sarankan untuk berpuasa. Lakukan puasa ini agar anak-anak kita lulus 100 persen dalam Unas. Lakukan mulai besok, sampai tanggal 1 April mendatang,” ujar Afandi kepada para orangtua murid, selepas memimpin istighotsah kemarin.

Berpuasa ini juga bukan satu-satunya. Afandi, kemarin juga meminta kepada para orangtua, untuk membekali anak-anak mereka dengan sebotol air mineral ‘istimewa’, yang harus dibacakan bismillahirrohmanirrohim sebanyak 867 kali.

Mengapa harus sebanyak itu? “Angka itu adalah ijazah (pesan, Red) dari kiai kami sebelumnya,” jawab Afandi.

Bahkan, kata Afandi, satu upaya lain juga sudah dilakukan pihak madrasah beberapa hari sebelum istighotsah ini. Beberapa guru diutus pergi ke Madura, hanya untuk menyerahkan pensil para peserta Unas ke seorang kiai.

Tiap pensil itu mendapat doa khusus dari kiai. Itu belum termasuk usaha lain, seperti kunjungan para guru dan siswa ke beberapa makam kiai di sekitar Malang.

Afandi menyebut, upaya-upaya yang dilakukan pihaknya itu sebagai ikhtiar batin, yang melengkapi ikhtiar dhohir siswa, seperti belajar dan latihan soal. Hal-hal semacam ini, menurutnya, dipercaya bakal membuat siswa lebih tenang saat ujian.

Afandi mengatakan, upaya ini selalu dilakukan pihaknya setiap Unas. Namun, ia sendiri mengakui, belum tentu berhasil. Buktinya, untuk tahun lalu saja, ada 30 persen siswanya yang tak lulus Unas. “Ikhtiar itu kan hanya upaya. Semuanya, tetap tergantung SDM-nya juga,” ujar Afandi.

Salah satu orangtua siswa, Hj Siti Aminah, mengaku akan menurut saja segala ikhtiar yang diminta pihak madrasah, termasuk berpuasa seminggu penuh dan membaca kalimat basmallah sebanyak 867 kali ke air minum siswa. “Kami percaya itu untuk kebaikan anak-anak kami juga. Sebagai seorang ibu, saya tentu was-was dengan hasil Unas anak saya,” ujar Aminah.

Apa yang dilakukan madrasah Hasyim Ashari ini, menurut pemerhati Pendidikan Agama Islam dari Universitas Islam Malang (Unisma), Prof Dr Masykuri Bakri umum dilakukan sebuah madrasah.

Hanya, Masyukuri mengatakan, upaya-upaya ikhtiar semacam itu bisa bertentangan dengan syariat agama, bila diartikan secara berbeda. “Dalam kasus diatas, yang bahaya adalah ketika siswa sudah menganggap pensil itu barang sakti, sehingga bisa membuat mereka menjawab semua soal dengan benar. Itu sama saja syirik,” kata Masykuri.

Namun, selama sekolah menjelaskan pensil tersebut hanyalah wasilah (perantara) doa, Masykuri mengatakan upaya ikhtiar batin bukanlah sebuah hal yang salah.

Sementara psikolog anak dari Universitas Wisnuwardhana Malang, Lies Purnamasari MM MSi, mengatakan upaya ini sebaiknya memang perlu dilakukan sekolah. Dari pendekatan dunia psikologi, menurut Lies hal ini menjadi semacam sugesti, yang bisa melecut mental anak setingkat SD dan SMP. “Anak-anak seumuran mereka, kalau tahu pensil dan air sudah didoakan, biasanya akan tersugesti untuk tenang dan percaya diri,” terang Lies.

Hanya, ada baiknya sekolah berhati-hati memilih jenis sugesti yang dilakukan. “Coba bayangkan, kalau pensil itu hilang. Siswa tentu akan grogi, nggak pede, dan takut saat mengerjakan Unas,” ungkapnya.
***
sumber: surya.co.id




Minggu, 28 Maret 2010

Sebanyak 46.617 peserta akan mengikuti Ujian Tulis Masuk (UM) Universitas Gajah Mada, yang digelar serentak di 13 kota di Indonesia. Mereka akan memperebutkan 4.000 kursi mahasiswa baru di perguruan tinggi itu yang tersisa. Di samping 4.000 kursi ini, UGM tahun 2010 ini telah menerima 2.179 mahasiswa baru melalui jalur Penjaringan Bibit Unggul.

Penanggung jawab UM-UGM, Dr Budi Prasetyo Widyobroto, menjelaskan ujian masuk ini digelar di 13 kota. Rincinya, di Yogyakarta (sebanyak 24.667 peserta), di Jakarta (dengan 6.355 peserta), Pekanbaru (3.309 peserta), BSD Tanggerang (2.219 peserta), Madiun (2.053 peserta), Semarang (1.991 peserta), Cirebon (1.209 peserta), Lhokseumawe, Aceh (1.130 peserta), Palembang (1.075 peserta), Balikpapan (936 peserta), Bandarlampung (738 peserta), Batam (421 peserta) dan Mataram (541 peserta). Para peserta ini terdiri dari 27.250 peserta IPA, 13.101 IPS, dan 6.266 IPC.

Menurut Budi, peserta UM-UGM tahun ini naik jumlahnya dibandingkan dengan tahun lalu, yang hanya sekitar 44 ribu orang. Ia mengatakan tahun 2010 ini, UGM berencana menerima lebih kurang 7.145 mahasiswa baru S1. Mereka diterima masuk melalui UM-UGM 4.000 orang, jalur PBU 2.179 orang. Jalur PBU ini terdiri dari jalur penerimaan PBUMTM, PBUD, PBS, dan PBOS. Selain melalui jalur penerimaan ini, UGM juga masih akan menerima 700-100 calon mahasiswa baru S1 melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN).

Menurut dia, dari berbagai jalur yang dibuka, jalur UM-UGM nampaknya masih paling banyak diminati. ''Mungkin karena jalur ini tidak menerapkan syarat-syarat tertentu. Mereka yang memiliki nilai raport maupun tidak dapat mengikuti seleksi melalui jalur ini,'' kata Budi.

Selain melalui jalur penerimaan ini, UGM juga masih akan menerima 700-100 calon mahasiswa baru S1 melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN).
***
sumber: republika.co.id




Sabtu, 27 Maret 2010

Dua orang siswi di Kabupaten Malang tak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN). Pasalnya, dua pelajar ini harus mengundurkan diri setelah orang tua mereka memaksa untuk menikah. Kedua siswi ini berasal dari SMU Negeri I Gondanglegi, Kabupaten Malang.

"Di sekolah kami ada dua siswi yang tidak ikut UN, karena dipaksa menikah oleh orang tuanya. Mereka pun mengundurkan diri," kata salah satu guru SMAN 1 Gondanglegi, Puji Hariwati.

Puji mengungkapkan dua siswi itu dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Keduanya menyatakan mundur sejak satu bulan lalu. "Kami sempat memberikan pengertian kepada mereka agar mengikuti UN dan menunda pernikahan. Tapi semua itu tidak membuat kedua orang tua mereka rela memberikan kesempatan kepada anak-anaknya," ungkapnya.

Puji mengatakan UN tahun lalu di sekolahnya juga ada seorang siswi juga memiliki kasus serupa. Mereka mundur karena dipaksa menikah. Menurut Puji kasus seperti ini hampir tiap tahun dialami sejumlah sekolah. Hal itu terjadi karena budaya setempat yang menginginkan anaknya cepat menikah setelah dilamar pria.

"Ini sudah kedua kalinya terjadi di sini. Dulu di tahun 2009 ada satu siswi mundur karena dipaksa menikah," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten Malang, Suwandi menuturkan data jumlah siswa yang tidak mengikuti UN belum terekam seluruhnya. Peserta UN di Kabupaten Malang untuk SMA dan sederajat sebanyak 7.571 siswa.

"Data berapa siswa yang tidak ikut ujian belum kami terima secara keseluruhan, Karena masih kita hitung," ujarnya.
***
sumber: surabaya.detik.com




Jumat, 26 Maret 2010

Jika umumnya Matematika selalu menjadi mata pelajaran yang paling "menakutkan" bagi sebagian pelajar sekolah, maka dalam ujian nasional kali ini ternyata Bahasa Indonesia justru lebih ditakuti. Mata pelajaran yang kadang kala dianggap mudah itu justru mampu membuat sebagian siswa SMA kerepotan saat mengerjakannya.

Sejumlah siswa SMA Kanisius mengaku bahwa hingga hari ketiga pelaksanaan UN, soal Bahasa Indonesia menjadi salah soal satu mata pelajaran yang paling sulit. "Yang paling susah itu justru soal Bahasa Indonesia karena soalnya itu rancu dan sering menjebak. Pilihan jawabannya juga mirip-mirip satu sama lain," kata Christopher (18), salah seorang siswa SMA Kanisius, Jakarta, Rabu (24/3/2010).

Senada dengan Christopher, Kennardi (18), salah seorang siswa Kanisius lainnya juga membenarkan hal tersebut. "Ya, soalnya membingungkan. Dibandingkan Matematika hari ini, masih jauh lebih gampang Matematika, deh. Kalau Matematika kan kita jelas bisa tahu pasti mana jawaban yang benar, mana yang salah. Kalau Bahasa Indonesia susah diprediksi mana yang benar karena mirip semua," katanya.

Tak hanya dinilai rancu, soal UN Bahasa Indonesia pun dianggap menyulitkan karena didominasi oleh soal-soal berbentuk wacana dan paragraf. "Terus yang bikin susahnya lagi dan makan banyak waktu sih wacana-wacana dan paragrafnya itu lho yang panjang-panjang. Belum lagi soal-soal puisi dan hikayat yang cuma bisa ditafsirkan tergantung tingkat nalar masing-masing anak," kata Christopher.

Terlepas dari sulitnya soal UN Bahasa Indonesia, para siswa SMA Kanisius mengaku tak menemui kendala yang berarti selama pelaksanaan ujian dari awal hingga hari ini. "Di sini sih semua lancar-lancar aja. Dari hari pertama, kami juga enggak tegang-tegang banget, kok, karena persiapannya kan udah jauh-jauh hari," tandasnya.
***
sumber: edukasi.kompas.com




Kamis, 25 Maret 2010

70 % dari 1.054 siswa SD dari 7 sekolah yang di wilayah Kabupaten Malang, mengalami gangguan pendengaran. Akibatnya, gangguan itu berdampak pada proses belajar mengajar.

Hal ini terungkap saat dilakukan Kampanye Gizi yang diselengarakan oleh perusahaan swasta di SDN Kidal Tumpang, Kamis (25/3/2010).

Selain mengalami gangguan pendengaran, ratusan siswa tersebut juga mengalami kondisi gigi yang buruk, hingga harus dilakukan penanganan serius oleh tim dokter.

"Sekitar tujuh puluh persen dari ribuan siswa yang ikut tes kesehatan ini mengalami gangguan pendengaran dan gigi berlubang," kata dr Farah Ayu, salah seorang tenaga medis yang melakukan tes gizi kepada para siswa.

Menurut Farah, gangguan pendengaran yang dialami para siswa disebabkan karena seringkali membersihkan telinga dengan alat bantu. Selain itu juga, lubang telinga dalam kondisi kotor.

"Kalau infeksi masih belum, tapi banyak lubang telinga dalam kondisi kotor. Serta anak-anak kebanyakan membersihkan telingan dengan alat bantu," tutur wanita berjilbab ini.

Sebanyak 1.054 siswa sekolah dasar itu merupakan siswa dari SDN Kidal, SDN Pulungdowo I dan II, SDN Kambingan, SDN Ngingit I dan II, serta Madrasah Ibtida'iyah (MI) Sholeh Yusuf.

Setelah menjalani tes kesehatan yang dimulai dari mata, mulut, telinga, serta gigi, seluruh siswa langsung diberikan obat cacing, penambah darah, serta vitamin A.

"Kami berikan obat cacing, penambah darah serta vitamin A, karena kondisi usia seperti anak-anak ini yakni antara 7 tahun hingga 12 tahun sangat memerlukan tambahan obat seperti itu," tegas Farah.
***
sumber: surabaya.detik.com




Labels

Alumni (21) Amerika Serikat (1) Angkatan 1995 (1) Anti Korupsi (1) Arab Saudi (1) Arema Malang (1) Artikel (8) ASEAN (1) ay kusnadi (1) Ayusta (1) Bahasa (2) Balitjestro 2008 (1) Bandung (1) Bank Mandiri (1) Bantuan Operasional Sekolah (1) barongan (1) Basketball (1) bca (1) Beasiswa (19) Berita (3) berita duka (1) BHMN (1) Bimbel (1) Biodiversity (1) Bisnis (1) bisnis online (1) Blog (5) bondan winarno (1) BOS (3) Buku (1) Buku Paket (1) Bulan Bahasa (1) Bullying (1) Bursa Kerja (1) Candi Kidal (1) Class Meeting (1) Dee (1) dollar gratis (1) Dumpul (1) dunia maya (1) Ekstrakurikuler (5) Facebook (2) Fair Play (1) Fisika (1) Friendster (1) Futsal (1) gado gado (1) Global Warming (1) Google (1) Gunung Tabor (1) Guru (10) Gus Dur (1) HUT ke-30 (1) IKAPALA (1) imam gozali (1) Inggris (1) Inspirasi (1) Internet (1) IPB (1) Iptek (3) Istana Negara (2) ITB (1) Jabodetabek (1) Jambi (1) Jawa Timur (4) Jepang (1) jerman (3) Jeru (1) Jilu (1) Jombang (1) Jusuf Kalla (1) Kabupaten Malang (4) kampus (1) karir.com (1) Kegiatan (1) Kelas A4 (1) Kelas XII (1) Kemendikbud (3) Kemendiknas (1) Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan (1) Kepala Sekolah (1) Kesehatan (3) KH. Abdurrahman Wahid (1) Kiat Jitu (1) Komik (1) Komunitas (1) kosmetika (1) Kota Batu (1) Kota Malang (5) Kuliah (1) kuliner (1) kusti (2) launching (1) Lingkungan (1) LIPI (1) Lowongan (1) Lulusan 2008 (1) M. Nuh (1) Mahasiswa (2) Mahasiswa Baru (2) Mahkamah Konstitusi (1) maknyus (1) Malang (3) Malang Raya (1) Malangsuko (1) Malaysia (1) Matematika (1) Mendiknas (1) Mendit (1) Menkominfo (1) Menulis (2) Menulis Ilmiah (1) Minat Baca (1) Motto Kelas (1) nDangdut (1) Nostalgia (2) Otonomi Daerah (1) Pahlawan Nasional (1) pak temun (1) Pancasila (1) panggung terbuka (1) Pelajar (1) Pelajaran (1) Pemerintah (1) Pendidikan (11) Pendidikan Nasional (6) Penelitian Ilmiah Remaja (2) Perbankan (1) Perguruan Tinggi (3) Perguruan Tinggi Swasta (2) Permen Karet (1) Pertamina (2) Pilkada (1) PMP (1) PMR (1) Pornografi (1) pramuka (2) Precet (1) Profil (2) PTN (3) PTS (1) Redaksi (1) remaja (2) reuni (5) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (3) Riset (1) RSBI (4) Rujak Cingur (1) S-1 (1) S1 (1) S2 (1) S3 (1) Sains (1) Sarjana (1) SBI (1) SD (5) Sejarah (3) Sekolah Hijau (1) Sepakbola (2) sepeda (1) Situs (1) SMA (17) SMA Kebon Tebu (1) SMAN 1 Malang (1) sman tumpang (3) SMANETA (10) Smansa (1) SMK (1) SMKN Turen (1) SMP (4) SNMPTN (2) SNMPTN Online (1) soeharto (1) STT Telkom (1) sugeng hadiono (1) Sukoanyar (1) Surabaya (1) Tahun 2013 (1) Tahun Baru (1) Taiwan (1) Tawuran (1) teknologi (3) Tes Online (1) Tips (5) Tomik HS (1) Trik (1) Try Out Online (1) Tulus Ayu (1) Tumpang (2) UAN (2) UASBN (1) UGM (2) UI (1) Ujian (2) Ujian Akhir Nasional (1) Ujian Nasional (5) Ujian Nasional 2010 (1) Ujian Nasional 2011 (1) Ujian Nasional 2012 (1) UM (1) UMB (1) UN (7) UN 2010 (5) UN 2012 (1) Universitas (1) Universitas Brawijaya (1) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (1) Universitas Paramadina (1) UNS Solo (1) Virus (1) wafat (1) Wakil Gubernur (1) website (2) Wendit Water park (1) Wisata (2) wisnuwardhana-narasinghamurti (1) www.smantumpang.com (1)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!