Rabu, 24 Maret 2010

Para ilmuwan terkemuka kini sepakat bahwa di masa mendatang bumi akan menghadapi badai yang semakin kuat, meskipun frekuensinya menurun, akibat pemanasan global. Kesepahaman itu menuntaskan perdebatan ilmiah tentang dampak pemanasan global, tetapi mereka mengatakan belum cukup bukti untuk menyatakan apakah efek itu telah dimulai.

Beberapa saat sebelum Badai Katrina meluluhlantakkan Louisiana dan Mississippi pada 2005, berbagai makalah ilmiah memperdebatkan apakah pemanasan global memperburuk badai dan perkembangannya di masa depan. Studi anyar itu tampaknya membagi perbedaan tersebut.

Sebuah dewan khusus World Meteorological Organization yang terdiri dari 10 pakar badai dan perubahan iklim, termasuk ilmuwan dari kedua sisi, mencapai sebuah konsensus yang dipubliasikan dalam jurnal Nature Geoscience, Minggu.

“Banyak pengetahuan yang telah kami peroleh dalam dua tahun terakhir ini tentang isu iklim dan badai,” kata Chris Landsea, pakar badai National Oceanic and Atmospheric Administration, penulis makalah itu.

Istilah teknis untuk badai semacam itu adalah topan tropis, namun di Atlantik angin ribut itu disebut hurikan, atau puting beliung.

Studi itu menawarkan proyeksi topan tropis di seluruh dunia sampai akhir abad ini. Beberapa pakar mengatakan lebih banyak kabar buruk dibanding kabar baik. Secara keseluruhan kekuatan badai yang diukur dalam kecepatan angin akan meningkat 2 hingga 11 persen, tapi jumlah badai menurun antara 6-34 persen. Para pakar memperkirakan badai sedang dan lemah akan semakin sedikit, namun jumlah badai besar yang bersifat merusak akan semakin meningkat, begitu juga kekuatannya.

Kenaikan kecepatan angin 11 persen diterjemahkan menjadi peningkatan daya rusak hingga 60 persen, kata Kerry Emanuel, dosen meteorologi di MIT, yang juga terlibat dalam studi tersebut. Badai juga akan membawa lebih banyak hujan, indikator kerusakan lain.
***
sumber: tempointeraktif.com





Selasa, 23 Maret 2010

SALAH satu keunggulan Indonesia terletak pada keanekaragaman hayati yang dimilikinya. Keunggulan dalam keanekaragaman hayati atau biodiversity akan menguntungkan jika dikembangkan secara optimal.

Demikian disampaikan mantan Menteri Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto, Emil Salim, belum lama ini. “Kalau kita mau bersaing dengan negara lain, kita mesti melihat keunggulan dan kekurangan kita. Dan, keunggulan bangsa ini terletak pada keanekaragaman hayatinya,” terang Emil.

Pemerhati lingkungan hidup ini mengungkapkan, keanekaragaman hayati Indonesia berada di urutan kedua setelah Brasil. Keunggulan tersebut tersimpan di hutan tropis, lautan, dan alam Tanah Air. Keanekaragaman hayati Tanah Air, kata Emil, tak dimiliki negara lain, seperti China yang tengah giat mengembangkan iptek.

“Ikan hiu laut untuk obat anti-penuaan hanya ada di Kabupaten Sika, Nusa Tenggara Timur (NTT), lintah untuk obat anti-pembekuan darah, kayu manis untuk kanker, dan banyak lagi, semua itu hanya ada di Indonesia,” terangnya. Emil mengatakan, jika semua keunggulan tersebut dikolaborasikan dengan teknologi tepat guna maka akan menghasilkan produk yang bernilai ekonomis dan bermanfaat.

Tak tertutup juga menjadi komoditi ekspor. Sementara itu, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Endang Sukara mengatakan, Indonesia memang unggul dalam hal keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati Indonesia tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Banyak sumber-sumber keanekaragaman hayati Tanah Air, kata dia, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
***
sumber: seputar-indonesia.com





Senin, 22 Maret 2010

Status Ibnu jelas dan tegas menghina agama tertentu di Bali.

Hati-hati bila menulis status di situs jaringan sosial Facebook, apalagi yang bisa menyinggung satu pihak, ataupun membawa muatan SARA.

Setelah kasus status Facebook Evan Brimob sempat mencuat di publik dan menuai kemarahan masyarakat beberapa bulan lalu, kali ini seseorang bernama Ibnu Rachal Farhansyah memicu kemarahan masyarakat Bali, yang mayoritas beragama Hindu.

Pasalnya, di saat mayoritas masyarakat Bali menggelar ritual Nyepi, Selasa 16 Maret 2010, Ibnu malah menulis status yang memicu konflik. Dalam akun Facebook- nya, Ibnu menulis "nyepi sepi sehari kaya tai." Kontan, status tersebut langsung menuai komentar kemarahan dari sejumlah temannya di akun tersebut.

Dalam salah satu komentar, Ibnu dicap sebagai sosok munafik yang tidak menghargai umat Hindu. Banyak pula yang meminta Ibnu untuk pergi meninggalkan Bali ataupun mengancam melaporkan kasus ini ke pihak berwenang, polisi.

Ibnu akhirnya menuliskan status terbaru yang menyatakan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Bali, khususnya yang beragama Hindu, atas pernyataan kasarnya tersebut.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ulah Ibnu sudah terlanjur menjadi buah bibir. Bermunculan juga sejumlah grup yang menyatakan penentangan terhadap aksi Ibnu ini. Salah satu grup menggalang dukungan untuk mengusir Ibnu dari Bali.

Ibnu sendiri dikabarkan belum begitu lama tinggal di Pulau Dewata. Tampaknya, ia masih harus banyak belajar beradaptasi dan menghargai perbedaan adat-istiadat, budaya dan agama dimana ia tinggal sekarang.
***
sumber: tvone.co.id




Minggu, 21 Maret 2010

Bila anda mengalami kesulitan bermain video games, menurut para ilmuwan ini mungkin disebabkan oleh besarnya bagian tertentu dari otak anda. Sebuah penelitian terbaru dari Amerika Serikat menyimpulkan bahwa kita bisa menduga kemampuan seseorang memainkan video games dengan mengukur seberapa besar isi otaknya di bagian tertentu.

Dalam penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Cerebral Cortex, para peneliti ini mengatakan penemuan mereka bisa memiliki dampak lebih luas guna mempelajari mengapa kemampuan belajar manusia berbeda-beda. Selama ini kesepakatan umum memang menyimpulkan adanya hubungan antara besar otak dengan tingkat kecerdasan.

Namun, bagaimana persisnya hubungan tersebut masih menjadi misteri. Pada hewan atau mammal misalnya, beberapa binatang yang memiliki otak lebih kecil tergolong lebih "cerdas" dibandingkan binatang yang memiliki otak lebih besar, misalnya perbandingan antara monyet dan kuda, ataupun manusia dengan gajah.

Penelitian terbaru ini tampaknya menunjukkan bahwa ada bagian tertentu dari otak yang lebih besar, dan ini mungkin menjadi alasan mengapa masing-masing manusia memiliki tingkat belajar yang berbeda.

Main videogames
Sebuah tim gabungan dari Universitas Illinois, Pittsburgh, dan Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat mengundang 39 orang dewasa -10 laki-laki, 29 perempuan- yang dalam dua tahun terakhir bermain video games kurang dari tiga jam setiap harinya.

Mereka kemudian diminta untuk memainkan salah satu dari dua games yang sengaja dibuat untuk penelitian tersebut. Satu kelompok diminta untuk mengkonsentrasikan diri pada satu pencapaian saja, sedangkan yang lainnya diminta untuk mencapai target yang berbeda-beda.

Hasil pemindaian MRI terhadap para peserta penelitian ini menunjukkan mereka yang memiliki nucleus accumbens yang lebih besar -yang terletak di bagian otak yang memberikan hadiah- bermain lebih baik di beberapa jam pertama, mungkin karena kepuasan atas keberhasilan mereka di awal-awal permainan.

Tetapi akhirnya, mereka yang tampil paling bagus adalah mereka yang memiliki bagian otak lebih besar yang terletak di tengah otak, yang disebut caudate dan putamen.

"Penjelasannya adalah bahwa bagian otak tersebut punya hubungan dengan proses belajar dan belajar ketrampilan baru, dan juga beradaptasi terhadap lingkungan yang berbeda. Mereka ini bisa melakukan berbagai hal dalam waktu bersamaan. Ini seperti ketika dia mengemudi mobil, kita juga melihat ke jalan, melihat GPS, dan berbicara dengan penumpang lain," kata Prof Arthur Kramer dari Universitas Illinois.

Secara keseluruhan, tim peneliti menyimpulkan bahwa hampir 25% dari perbedaan performa orang per orang bisa diprediksi dengan mengukur besar otak mereka.

Usaha juga penting
Tetapi Prof Kramer mengatakan penemuan mereka tidak bisa digunakan secara absolut dalam arti bahwa seseorang yang memiliki bagian otak tertentu yang lebih besar, pasti akan lebih pintar dibandingkan yang lain.

"Ini karena sebenarnya beberapa bagian dari otak kita juga sebenarnya elastis, bisa berubah dan berkembang. Semakin banyak kita belajar, dan mengaktifkan otak kita, semakin banyak manfaatnya. Ini mungkin relevan bagi para orang tua dimana dementia (pikun) menjadi salah satu masalah," tambah Prof Kramer.

Timothy Bates, guru besar psikologi di University Edinburgh, Skotlandia mengatakan penelitian tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menetapkan adanya hubungan antara besar otak dengan kemampuan belajar.

Tetapi sama seperti Prof Kramer, Bates juga mengatakan itu bukan segalanya. "Mereka yang lahir dengan otak lebih besar bila saja dikalahkan oleh mereka dengan otak lebih kecil. Besar kecilnya otak bukanlah hal yang penting, yang penting adalah usaha kita untuk belajar dan memperbaiki diri," kata Bates.
***
sumber: BBC/Republika.co.id




Sabtu, 20 Maret 2010

BEASISWA merupakan salah satu pemicu prestasi. Umumnya, beasiswa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dan beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu.

Beasiswa mahasiswa kurang mampu biasanya tanpa memandang prestasi. Masalah terberat yang dialami mahasiswa dari kalangan keluarga kurang mampu biasanya terjadi pada awal masuk perguruan tinggi. Sebab, di semester ini para mahasiswa dibebani dengan daftar ulang setelah lulus ujian masuk.

Di sinilah sebenarnya masalah biaya muncul. Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Priyo Suprobo mengatakan, untuk 2010 ini kuota beasiswa yang diberikan ITS bekerja sama dengan Direktorat Kelembagaan dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas meningkat 90% dibandingkan pada 2009. “Bagi yang akan mengikuti program beasiswa Bidik Misi harus mempunyai prestasi kurikuler dan ekstra atau co-kurikuler minimal peringkat ketiga sesuai dengan program studi yang dipilihnya,” kata Priyo.

Beasiswa Bidik Misi akan diberikan kepada calon mahasiswa PTN selama delapan semester untuk program D4 dan S- 1, sedangkan untuk program D4 diberikan selama enam semester dengan ketentuan penerima beasiswa sebagai mahasiswa aktif. Beasiswa Bidik Misi akan dibuka pada awal Februari hingga April 2010. Sementara untuk lulusan ITS yang berprestasi, ITS memiliki program pendidikan semakin kreatif dan menggiurkan untuk melanjutkan S-2.

Hal ini karenakan ITS memberikan beasiswa berupa bebas biaya pendaftaran dan biaya kuliah (SPP) selama satu tahun. Selain itu, calon mahasiswa S-2 dibebaskan dari tes masuk. Beasiswa ini bertujuan untuk meningkatkan minat para lulusan, terutama dengan predikat cumlaude untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, para mahasiswa yang belum lulus akan terpacu untuk mendapatkan predikat cumlaude. ”Selama tepat sasaran, pemberian beasiswa sangat bermanfaat,”ucap dia.
***
sumber: seputar-indonesia.com






Jumat, 19 Maret 2010

Pemerintah kian memperketat pengawasan distribusi naskah ujian nasional (UN). Karena itu, pemerintah menjamin tak akan ada kebocoran soal UN.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Timur, Suwanto, pun mengimbau para orang tua siswa (wali murid) untuk tidak mempercayai isu adanya bocoran soal UN. Selain 1.500 polisi yang mengawal distribusi naskah UN sampai ke sekolah-sekolah, mekanisme pengawasan dan penjagaan naskah UNAS semakin ketat. Misalnya master soal sewaktu tiba di kabupaten/kota langsung diamankan.

"Petugasnya juga dikarantina dan diawasi polisi," katanya kepada wartawan, Jumat (19/3) di Surabaya. Saat naskah soal digandakan, lanjut dia, tidak boleh seorang pun masuk ke lokasi percetakan. Petugas yang mencetak naskah juga diperiksa waktu mereka keluar dan masuk ruang percetakan. Dia mengatakan, pejabat yang ingin meninjau atau masuk ke ruang percetakan juga harus diperiksa dulu.

"Dompet, HP, dan alat tulis harus ditanggalkan. Kami juga meminta murid dan orang tua jangan percaya kalau ada kabar kebocoran soal UN, dan jangan percaya pada tawaran pembelian naskah UN yang mengklaim naskah UN 2010," tandasnya.
***
sumber: republika.co.id




Kamis, 18 Maret 2010

Mendaftar ke perguruan tinggi negeri (PTN), kini tak perlu repot-repot mengambil dan menyerahkan formulir pendaftaran ke counter panitia lokal di kampus yang dituju. Dengan sistem yang dikembangkan Bank Mandiri, para peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) bisa melakukan registrasi secara online hingga mendapatkan nomor tes SNMPTN yang diselenggarakan di kota masing-masing.

"Sebelumnya, pendaftaran SNMPTN manual, sekarang dilakukan dengan electronic channel Bank Mandiri melalui internet banking, sms banking, ATM dan cabang Bank Mandiri terdekat," kata Senior Vice President Corporate Banking I Group Jiantok Hardjiman di Makassar, Minggu, pertengahan Februari 2010.

Dengan penyerahan formulir secara online, sama sekali tidak ada antrian saat membeli formulis SNMPTN. Pada SNMPTN 2008 dan 2009, pendaftaran telah dilaksanakan dengan metode pembelian melalui e-channel Bank Mandiri. Tetapi peserta hanya mendapatkan resi pembayaran yang diperoleh calon mahasiswa dan kemudian ditukarkan formulir pendaftaran di gerai panitia lokai di kampus anggota SNMPTN.

Ia menyatakan, pembelian formullir SNMPTN melalui e-channel Bank Mandiri bisa dilakukan di seluruh Indonesia tanpa batas waktu, 24 jam dan 7 hari seminggu. Setelah menyetorkan uang pendaftaran, peserta SNMPTN akan mendapatkan PIN.

Kemudian dengan PIN tersebut, calon mahasiswa dapat mengakses ke internet system SNMPTN untuk keperluan registrasi secara online formulir elektronik dimana saja. Mereka bisa mendaftar ke 57 PTN diantaranya UI, ITB, IPB, ITS, UGM, Unpad dan Undip.

"Sekarang, mereka tidak perlu ke kampus yang mereka tuju, tapi bisa langsung dilakukan secara online web based dengan PIN itu," katanya.

Calon mahasiswa bisa melakukan input data, apakah dia memilih IPA, IPS, atau IPC. Diisi data yang lengkap kemudian akan diberi nomor tesnya. "Jadi, mereka baru ke kampusnya kalau sudah benar-benar diterima," jelasnya.

Pendaftaran melalui e-channel Bank Mandiri ini akan dibuka 2 Mei hingga pertengahan Juni 2010. Mandiri memprediksikan sekitar 500 ribu calon mahasiswa akan mendaftar melalui sistem online ini.

Dengan sistem ini, Mandiri telah mempersiapkan server yang handal sehingga bisa menampung seluruh perserta yang mendaftar. "Kami siapkan sistem ini untuk satu juta calon mahasiswa," jelasnya.

Untuk memuluskan program ini, Bank Mandiri bersama panitia lokal SNMPTN telah melakukan sosialisasi ke sekitar 26 ribu SMA di seluruh Indonesia.
***
sumber: mediaindonesia.com





Rabu, 17 Maret 2010

Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan jika anak Anda menjadi korban cyber crime.

apa yang harus Anda lakukan jika anak Anda terlanjur menjadi korban kejahatan dunia maya? Barrie Ooi, Head of Windows Live Southeast Asia Microsoft memberikan beberapa langkah-langkah pencegahan sebelum dampaknya menjadi jauh lebih buruk, yaitu:

1. Usaha pencegahan
Mulailah mengurangi interaksi mereka dengan pelaku kejahatan dunia maya. Caranya, menolak untuk memberikan respon kepada pelaku kejahatan, terutama memberikan data-data pribadi yang sifatnya rahasia pada pelaku phising.

2. Berdiskusi
Diskusikan pengaruh kejahatan dunia maya dengan anak-anak, termasuk masalah apapun dengan keterlibatan mereka. Dan, dorong mereka untuk melaporkan kejahatan kepada orang tua atau orang dewasa yang mereka percaya.

3. Mencoba Family Safety Software
Mengendalikan dan mengontrol apa yang mereka lihat, lakukan, dan dengan siapa mereka berinteraksi secara online melalui piranti lunak yang tersedia. Windows Live Family Safety adalah perangkat lunak gratis untuk membantu para orangtua.

4. Menyelidiki aktivitas anak
Mencari tahu secara rinci apa yang dibicarakan anak-anak apabila mereka meminta bantuan kepada Anda. Selidiki apa yang mereka lakukan secara online dan situs apa yang mereka kunjungi, sebelum masalah timbul.

5. Koleksi informasi tentang kebijakan
Pelajari kebijakan anti-kejahatan di sekolah tempat Anak sekolah dan melalui penyedia layanan internet di rumah, tentukan apakah kebijakan-kebijakan tersebut berlaku.

6. Umumkan
Mengetahui siapa yang dihubungi jika sewaktu-waktu anak Anda menjadi korban kejahatan dunia maya.
Misalnya, di sekolah, situs di mana kejahatan tersebut terjadi, dan kantor polisi setempat jika diperlukan.
***
sumber: vivanews.com




Selasa, 16 Maret 2010

Setelah menyeleksi 26 tim mahasiswa dari 10 universitas terbaik di Indonesia, kompetisi bisnis Trust Challange 7th memasuki tahap final. Satu dari enam tim berbaik akan mewakili Indonesia di ajang internasional di Paris, Prancis, April mendatang.

Tim dari wakil Indonesia itu akan berkompetisi melawan tim dari delapan negara untuk memperebutkan gelar juara. Country Final Trust Challange 7th dibuka langsung Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallangareng di Jakarta, pertengahan Februari 2010.

Country Leader Trust Challange 2010 Indonesia Maezar Maolana mengatakan Trust adalah sebuah kompetisi bisnis unik karena mahasiswa diminta memosisikan diri sebagai jajaran direksi dari sebuah perusahaan internasional.

Mereka diajak untuk merekomendasikan solusi kreatif terhadap isu binis riil. Misalnya, kompetisi pasar internasional dan pembangunan perusahaan berkelanjutan.

"Pada kesempatan ini, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk menuangkan ide-ide dan mempraktikkan pengelolaan sebuah perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada profit namun juga menerapkan prinsip tanggung jawab sosial kepada masyarakat," kata Maezar yang juga HR Director Nurricia.

Pada kesempatan sama, Menpora mengatakan bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga juga memiliki program pemberdayaan pemuda melalui entrepreneurship. "Program tersebut mendorong pemuda Indonesia menjadi pengusaha."

Terkait dengan penyelenggaraan Trust Challange 2010, Menpora mengucapkan terima kasih kepada perusahaan baik pemerintah maupun swasta yang telah turut membina kalangan pemuda memiliki jiwa kewirausahaan.

Sementara itu, Danone sebagai penyelenggara teklah mengundang tim-tim terbaik dari 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mereka berasal dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Udayana (Unud), Universitas Sumatra Utara (USU), dan Universitas Diponegoro (Undip).

Desytha Rahma, anggota tim Kalingga UGM, juara dunia final internasional Trust tahu lalu yang kini telah bergabung dengan Danone membagi pengalamannya.
***
sumber: mediaindonesia.com





Senin, 15 Maret 2010

Wakil Presiden Boediono mengingatkan bahwa bangsa yang maju dan berkesinambungan adalah bangsa yang mengandalkan sumber daya manusia dan pendidikan adalah kunci utama yang harus disiapkan.

Wakil Presiden yang didampingi oleh jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, dalam kunjungannya di SMA Negeri 3 Kota Semarang, Sabtu, mengatakan bahwa ke depan persaingan yang tidak dapat dihindari adalah persaingan antarmanusia dalam segala bidang.

"Manusia bersaing dengan manusia lain ke depan akan semakin nyata dan terbuka dalam kancah persaingan global. Kita harus siap bersaing karena hal tersebut tidak dapat dihindari," katanya.

Standar dalam segala hal, kata Wakil Presiden, juga tidak dapat dipungkiri akan meningkat tidak lagi ditentukan oleh sekolah, oleh negara.Namun, oleh dunia internasional. Oleh karena itu, ada dua hal yang harus disiapkan, pertama penguasaan pengetahuan dan keterampilan.

"Yang kedua adalah, untuk menjadi pemimpin harus ada tambahannya yakni selain pengetahuan dan keterampilan, pemimpin juga harus punya karakter. Ini yang menentukan apakah pemimpin unggul dengan yang lain, bisa jadi pemimpin atau pengikut, atau justru yang terburuk, hanya jadi penonton," katanya.

Karakter melekat pada hati, sikap, dan pandangan mendasar, sehingga tidak bisa dengan menghapal atau menghitung. Namun, bisa dengan mencontoh. Oleh karena itu, tugas pendidik atau pengajar untuk mendidik dan memberi contoh.

"Selain karakter adalah integritas, yakni satu kesatuan antara kata-kata dan perbuatan. Apa yang dikatakan dilakukan dan sebaliknya. Jadi bukan isapan jempol," katanya.

Untuk membangun karakter, lanjut Boediono, harus diawali dari diri anak yakni adanya niat dan tekad membangun karakter diri, dari orang tua karena banyak bersinggungan di rumah, pendidik karena interaksi terbanyak di sekolah, serta dari pemerintah yang bertugas untuk mengarahkan pendidikan secara nasional.

Boediono juga mengaku bangga dengan jumlah sekolah di Jawa Tengah yang berstandar internasional. Di Jateng jumlah yang berstandar internasional terus mengalami peningkatan. Tahun 2007 jumlah SD yang berstandar internasional baru dua dan sekarang sudah ada 15 SD. SMP yang sebelumnya 40 sekolah dan sekarang sudah 66 SMP.

Masih perbandingan dengan tahun 2007, SMA yang berstandar internasional baru 35 sekarang sudah 55 dan tingkat SMK sekarang sudah ada 59 sekolah.

Dalam kunjungan ke SMA Negeri 3 Semarang tersebut, Wakil Presiden bersama menteri yang lain sempat masuk ke salah satu ruang kelas yang saat itu sedang berlangsung proses belajar mengajar dengan mengunakan bahasa Inggris.

Ikut dalam kunjungan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Menteri Agama dalam kesempatan tersebut menjadi salah satu pemberi bantuan untuk sejumlah sekolah di Jateng selain dari pihak perbankan.
***
sumber: republika.co.id




Minggu, 14 Maret 2010

Potret Pendidikan Nasional (Bagian 3 - selesai)

Semakin mahalnya biaya pendidikan tinggi di dalam negeri dibantah oleh Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Muchlas Samani. Dibandingkan biaya kuliah di negara-negara lain, biaya pendidikan di dalam negeri masih jauh lebih murah. Menurut dia, kuliah di luar negeri bisa 10 kali lebih mahal dibandingkan di dalam negeri.

Padahal, kuliah di Universitas Indonesia atau Institut Teknologi Bandung tidak lebih jelek dibandingkan di luar negeri seperti Malaysia. "Jadi tidak betul kuliah di dalam negeri lebih mahal dibandingkan di luar negeri," bantahnya.

Berdasarkan amanah undang-undang, maksimal biaya operasional pendidikan yang dibebankan kepada mahasiswa maksimal sepertiga atau 30%. Berarti, perguruan tinggi negeri (PTN) yang membebankan lebih dari sepertiga akan diberi sanksi, bisa dalam bentuk evaluasi kebijakan atau pergantian rektorat.

PTN adalah badan hukum pendidikan (BHP), sehingga negara memiliki kewenangan untuk mengawasi kinerja lembaga penyelenggara pendidikan. Selain itu pengawasan juga dilakukan oleh majelis wali amanah, yang anggotanya terdiri atas wakil dosen, orang tua, alumni, dan mahasiswa. Dengan demikian PTN dituntut untuk lebih transparan dalam mengelola keuangannya.

Jika terjadi pelanggaran, maka majelis wali amanah yang akan berperan untuk menuntut perguruan tinggi bersangkutan untuk bertanggung jawab. "Memang, untuk baik itu perlu biaya, namun yang mahal tidak selalu bagus. Artinya kita harus jeli. Setiap perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia memiliki kewenangan untuk menentukan harga. Namun, mereka harus menyediakan 20% kuota untuk beasiswa bagi orang tidak mampu," ujarnya.

Menurut Muchlis, tidak semua masyarakat harus sampai belajar ke perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia. Sebab, lulusan SMU yang kurang mampu lebih dari 20%. Ironinya kuota 20% beasiswa tersebut masih belum mampu dipenuhi oleh perguruan tinggi. Hal itu terjadi karena banyak hal, di antaranya mahasiswa miskin tidak mampu memenuhi kualifikasi persyaratan beasiswa berupa nilai akademik yang tinggi.

Padahal, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, sulit bagi anak miskin untuk melampaui kecerdasan anak dari kalangan masyarakat berada. Hambatan lainnya, angka putus sekolah di masyarakat miskin sangat tinggi, sehingga kuota 20% beasiswa di pendidikan tinggi belum terpenuhi.

"Dengan pola biaya operasional sekolah (BOS) SD sampai SMP, kita akan push sampai tingkat SMA. Untuk sekarang kita dorong, kalau memang mereka bagus, silakan masuk ke SMA, dibiayai, bahkan sampai uang transpor ke sekolah dan langsung beasiswa," papar Muchlis seusai acara predeparture breafing di Erasmus Huis, Jakarta awal tahun kemarin.
***
sumber: news.okezone.com





Sabtu, 13 Maret 2010

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) di bawah payung Southeast Asian Ministers of Education Organisation Regional Centre for Higher Education (SEAMEO RIHED) menggencarkan harmonisasi pendidikan. Alasannya, kualitas pendidikan di negara ASEAN belum merata.

Untuk mendorong hal itu, maka pada 2010 ini negara ASEAN di bawah SEAMEO mengadakan program M-I-T Pilot Project on Promoting Student Mobility in Southeast Asia.

''Program itu semacam transfer kredit mahasiswa negara ASEAN yang dimulai terlebih dahulu dalam bentuk pilot project antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Jadi nanti Indonesia akan kirim 50 mahasiswa, 25 mahasiwa ke Malaysia dan 25 mahasiswa ke Thailand, Malaysia juga kirim mahasiswa dengan jumlah yang sama, setengah ke Indonesia dan setengah ke Thaildand, begitu juga Thailand,'' ujar Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, pada Konfrensi Pers SEAMEAO RIHED di Kantor Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Kamis (11/3).

Fasli menjelaskan, kerjasama akan terdiri dari lima bidang, yakni pertanian, pariwisata, bahasa dan budaya, teknologi pangan, dan bisnis Internasional. Universitas dari Indonesia yang akan ikut kerja sama di antaranya UI, IPB, Universtas Maranata, UGM, UPI, ISI Denpasar, UNSRI, dan UNS. ''Kalau Malaysia ada enam universitas terkemuka, dan Thailand tiga, salah satunya Universitas Songkhla,'' jelasnya.

Selain itu, lanjut Fasli, sepuluh negara ASEAN beserta Timor Timur juga akan membahas bagaimana penghargaan terhadap ijazah, agar ijazah yang sudah terakreditasi oleh negara masing-masing juga dapat diakui akreditasinya oleh negara ASEAN lain. ''Nanti, badan-badan akreditasi di tiap negara ASEAN akan mendiskusikan masalah akreditasi ijazah yang dapat diakui di seluruh negara ASEAN,'' ucapnya.

Kemudian, kata Fasli, adalah membahas bagaimana meningkatkan penggunaan teknologi informasi dalam proses belajar atau e-learning, yaitu proses belajar di negara ASEAN, tetapi dosen bisa dari negara lain seperti Rusia, atau dosen negara ASEAN.

Selanjutnya, ungkap Fasli, membangun research cluster di antara negara ASEAN, seperti penelitian pertanian,teknologi pangan, energi alternatif, dan penyakit.

Sekretaris Jenderal Komisi Pendidikan Tinggi Thailand, Sumate Yamnoon, mengatakan program ini sangat menarik dan penting karena bertujuan untuk memajukan pendidikan tinggi di ASEAN. ''Tapi saya akan fokus pada penelitian di perguruan tinggi di ASEAN dan student mobility,'' jelas Sumate.
***
sumber: republika.co.id



Jumat, 12 Maret 2010

Potret Pendidikan Nasional (Bagian 2)

Sayangnya pemikiran yang sama belum terjadi di Indonesia. Direktur Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina Utomo Dananjaya mengungkapkan keprihatinannya bahwa Pemerintah Indonesia belum menjamin hak anak atas pendidikan.

Jangankan berbicara biaya pendidikan di perguruan tinggi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, wajib belajar sembilan tahun gratis saja masih sekadar slogan. Hal itu karena anggaran pendidikan 20% dari APBN 2009 ternyata lebih banyak dihabiskan untuk anggaran rutin dan gaji guru, bukan untuk mendukung biaya operasional pendidikan.

"Tampaknya bapak-bapak pemegang kebijakan di pemerintahan masih kurang peduli dengan rakyat kecil," ungkapnya. Secara angka, menurut Utomo, justru pos anggaran untuk biaya pendidikan dari APBN 2009 turun menjadi 9% dibandingkan 2008 yang masih 11%. Sebagian besar dari anggaran pendidikan yang jumlahnya lebih dari Rp200 triliun itu untuk menambah gaji guru dan anggaran rutin lainnya.

Padahal, di negara-negara lain subsidi pemerintah untuk biaya pendidikan sangat tinggi. Malaysia, misalnya, pos anggaran pendidikan adalah 32% APBN negeri jiran itu. Sebagian besar dari anggaran tersebut untuk menyubsidi biaya pendidikan, sehingga meringankan beban masyarakat untuk membayar biaya sekolah dan kuliah anaknya.

Indonesia memang belum seperti negara-negara lain yang biaya pendidikannya demikian terjangkau oleh penduduknya. Jerman, misalnya, meski telah menghapuskan kebijakan pendidikan di perguruan tinggi gratis, tapi biaya kuliah di sana masih terbilang murah. Banyak negara lain juga memberlakukan subsidi silang.

Subsidi silang di situ berarti pemerintah menyubsidi biaya pendidikan warga negaranya menjadi murah dan terjangkau, mahasiswa internasional dari negara lain tetap membayar dengan harga wajar- harga yang sebenarnya terbilang mahal. Keprihatinan lainnya adalah mengenai angka partisipasi kasar (APK) remaja usia 18-24 tahun terhadap pendidikan tinggi di Indonesia.

Berdasarkan data Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), saat ini APK untuk perguruan tinggi sebesar 17% atau naik 3% dibandingkan APK 2004 lalu. Meski peningkatannya kecil, upaya pemerintah meningkatkan jumlah APK layak diapresiasi. Sayangnya, dibandingkan negara- negara lain APK untuk perguruan tinggi di Indonesia ini masih tergolong kecil.

Menurut Utomo, APK di China saja 85%. Malaysia dan Singapura mempunyai nilai APK untuk perguruan tinggi lebih tinggi lagi. Padahal jelas, Undang-Undang Dasar 1945 sudah mengamanatkan kepada negara untuk memprioritaskan anggaran pendidikan nasional.

Apa daya, setelah lebih dari 63 tahun Indonesia merdeka, masih belum banyak masyarakat yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kelak, pada ulang tahun ke-100 kemerdekaan RI mendatang, diperkirakan masih banyak generasi muda Indonesia yang belum memiliki tingkat pendidikan memadai. "Sudah anggaran lebih kecil dibandingkan negara lain, pertanggungjawaban dan peluang kebocorannya dipertanyakan banyak pihak lagi," imbuhnya.
***
sumber: news.okezone.com





Kamis, 11 Maret 2010

Sarjana lulusan perguruan tinggi kita masih sulit bersaing dengan lulusan luar negeri. Bukan dari sisi keilmuan atau kemampuan akademisnya, melainkan soft skill mereka yang payah.

Berdasarkan kemampuan teknis sesuai bidang akademis masing-masing, lulusan perguruan tinggi Indonesia memang tidak kalah, bahkan berani diadu. Namun, justru hal-hal nonteknis, seperti kemampuan berbicara di depan orang banyak, rasa percaya diri, dan interaksi terhadap perubahan dengan cepat, lulusan kita masih payah.

Demikian dikatakan oleh CEO Inti College Indonesia Sudino Lim di Kampus Inti, Jakarta, Selasa (9/3/2010). Tidak mengherankan, lanjut Sudino, data survei tenaga kerja nasional tahun 2009 yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Nasional (Bappenas)mengungkapkan bahwa betapa tinggi dan sangat mengkhawatirkannya jumlah pengangguran di Indonesia.

Data tersebut mengungkapkan, dari 21,2 juta masyarakat Indonesia yang masuk dalam angkatan kerja, sebanyak 4,1 juta atau sekitar 22,2 persen adalah pengangguran. Lebih mengkhawatirkan lagi, kata dia, tingkat pengangguran terbuka itu didominasi oleh lulusan diploma dan universitas dengan kisaran angka di atas 2 juta orang.

"Dari situ kita melihat bahwa semakin baik perguruan tinggi menyiapkan soft skill lulusannya, maka semakin siap pula mereka menghadapi dunia kerja, bahkan untuk menjadi wirausahawan," ujar CEO Inti Sudino Lim di Jakarta, Selasa.

Sudino menambahkan, tugas perguruan tinggi saat ini harus mampu membangkitkan soft skill para mahasiswanya, baik dengan cara yang terkait langsung dengan kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler di keorganisasian mahasiswa.

"Termasuk untuk mencetak wirausahawan pada lulusannya, karena syarat utama menjadi wirausahawan adalah memiliki soft skill yang bagus," tambah Sudino.
***
sumber: edukasi.kompas.com




Rabu, 10 Maret 2010

Potret Pendidikan Nasional (Bagian 1)

Biaya pendidikan di perguruan tinggi semakin mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat miskin. Padahal sudah menjadi kewajiban negara untuk memastikan pendidikan bisa dijangkau semua kalangan.

Di samping itu, beberapa orang pejabat di negeri ini lebih memilih menyekolahkan anak mereka di perguruan tinggi luar negeri ketimbang di dalam negeri. Alasannya beragam. Konon, misalnya, biaya kuliah di Groningen, Belanda, ternyata tidak jauh lebih mahal ketimbang kuliah di Universitas Indonesia (UI).

Menyekolahkan anak ke luar negeri dengan nilai investasi yang sama dengan menyekolahkan anak di dalam negeri, bagi mereka, berarti kualitas dan prestise bisa didapat sekaligus. Orang tua yang lain beralasan kuliah di luar negeri bukan melulu karena membandingkan harga dan kualitas.

Secara harga, kuliah di luar negeri jelas lebih mahal, apalagi menghitung biaya hidup di Eropa, misalnya. Namun yang terpenting adalah lingkungan pendidikan internasional yang akan membentuk mindset si anak didik. Dengan kuliah di luar negeri, pemikirannya akan terbuka dengan dunia luar dan di luar kotak (out of the box).

Wajar investasi berapa pun akan dikeluarkan agar anak mereka bisa memperoleh pendidikan terbaik untuk bekal masa depan. Apa pun alasannya, semua itu tidak untuk masyarakat yang secara ekonomi kurang beruntung. Sebab, kuliah di luar negeri atau di dalam negeri bagi masyarakat miskin sepertinya hanya menjadi angan-angan.

Meski ada skema beasiswa bagi mahasiswa miskin, tapi jumlahnya yang kecil tidak mampu menjangkau semua penduduk miskin di negeri ini. Apalagi bagi anak miskin dengan kemampuan pas-pasan. Sudah pasti, menjadi anak kuliah hanya akan berada di dalam bayangan mereka dan sulit menjadi kenyataan.

Sebenarnya di negara berkembang seperti Indonesia maupun negara kaya seperti negara-negara di Eropa, pendidikan sudah seharusnya menjadi prioritas utama. Artinya, kondisi ekonomi sedang bagus atau krisis pun anggaran untuk pendidikan tidak akan dikurangi. Justru akan diupayakan untuk dipertahankan bahkan di tambah, seiring bertambahnya jumlah penduduk setiap tahunnya. Kerajaan Belanda bisa jadi contoh.

Meski dalam kondisi resesi ekonomi,jumlah kuota beasiswa yang disediakan tidak dikurangi. Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Nikolaos van Dam memastikan skema pemberian beasiswa yang disediakan Pemerintah Negeri Kincir Angin itu tidak akan dikurangi. "Kami tidak mengurangi pos anggaran untuk beasiswa atau fellowship, meskipun saat ini sedang krisis," kata Van Dam kepada wartawan seusai acara pre-departure briefing di Erasmus Huis, Jakarta, awal tahun 2010 lalu.
***
sumber: news.okezone.com





Labels

Alumni (21) Amerika Serikat (1) Angkatan 1995 (1) Anti Korupsi (1) Arab Saudi (1) Arema Malang (1) Artikel (8) ASEAN (1) ay kusnadi (1) Ayusta (1) Bahasa (2) Balitjestro 2008 (1) Bandung (1) Bank Mandiri (1) Bantuan Operasional Sekolah (1) barongan (1) Basketball (1) bca (1) Beasiswa (19) Berita (3) berita duka (1) BHMN (1) Bimbel (1) Biodiversity (1) Bisnis (1) bisnis online (1) Blog (5) bondan winarno (1) BOS (3) Buku (1) Buku Paket (1) Bulan Bahasa (1) Bullying (1) Bursa Kerja (1) Candi Kidal (1) Class Meeting (1) Dee (1) dollar gratis (1) Dumpul (1) dunia maya (1) Ekstrakurikuler (5) Facebook (2) Fair Play (1) Fisika (1) Friendster (1) Futsal (1) gado gado (1) Global Warming (1) Google (1) Gunung Tabor (1) Guru (10) Gus Dur (1) HUT ke-30 (1) IKAPALA (1) imam gozali (1) Inggris (1) Inspirasi (1) Internet (1) IPB (1) Iptek (3) Istana Negara (2) ITB (1) Jabodetabek (1) Jambi (1) Jawa Timur (4) Jepang (1) jerman (3) Jeru (1) Jilu (1) Jombang (1) Jusuf Kalla (1) Kabupaten Malang (4) kampus (1) karir.com (1) Kegiatan (1) Kelas A4 (1) Kelas XII (1) Kemendikbud (3) Kemendiknas (1) Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan (1) Kepala Sekolah (1) Kesehatan (3) KH. Abdurrahman Wahid (1) Kiat Jitu (1) Komik (1) Komunitas (1) kosmetika (1) Kota Batu (1) Kota Malang (5) Kuliah (1) kuliner (1) kusti (2) launching (1) Lingkungan (1) LIPI (1) Lowongan (1) Lulusan 2008 (1) M. Nuh (1) Mahasiswa (2) Mahasiswa Baru (2) Mahkamah Konstitusi (1) maknyus (1) Malang (3) Malang Raya (1) Malangsuko (1) Malaysia (1) Matematika (1) Mendiknas (1) Mendit (1) Menkominfo (1) Menulis (2) Menulis Ilmiah (1) Minat Baca (1) Motto Kelas (1) nDangdut (1) Nostalgia (2) Otonomi Daerah (1) Pahlawan Nasional (1) pak temun (1) Pancasila (1) panggung terbuka (1) Pelajar (1) Pelajaran (1) Pemerintah (1) Pendidikan (11) Pendidikan Nasional (6) Penelitian Ilmiah Remaja (2) Perbankan (1) Perguruan Tinggi (3) Perguruan Tinggi Swasta (2) Permen Karet (1) Pertamina (2) Pilkada (1) PMP (1) PMR (1) Pornografi (1) pramuka (2) Precet (1) Profil (2) PTN (3) PTS (1) Redaksi (1) remaja (2) reuni (5) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (3) Riset (1) RSBI (4) Rujak Cingur (1) S-1 (1) S1 (1) S2 (1) S3 (1) Sains (1) Sarjana (1) SBI (1) SD (5) Sejarah (3) Sekolah Hijau (1) Sepakbola (2) sepeda (1) Situs (1) SMA (17) SMA Kebon Tebu (1) SMAN 1 Malang (1) sman tumpang (3) SMANETA (10) Smansa (1) SMK (1) SMKN Turen (1) SMP (4) SNMPTN (2) SNMPTN Online (1) soeharto (1) STT Telkom (1) sugeng hadiono (1) Sukoanyar (1) Surabaya (1) Tahun 2013 (1) Tahun Baru (1) Taiwan (1) Tawuran (1) teknologi (3) Tes Online (1) Tips (5) Tomik HS (1) Trik (1) Try Out Online (1) Tulus Ayu (1) Tumpang (2) UAN (2) UASBN (1) UGM (2) UI (1) Ujian (2) Ujian Akhir Nasional (1) Ujian Nasional (5) Ujian Nasional 2010 (1) Ujian Nasional 2011 (1) Ujian Nasional 2012 (1) UM (1) UMB (1) UN (7) UN 2010 (5) UN 2012 (1) Universitas (1) Universitas Brawijaya (1) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (1) Universitas Paramadina (1) UNS Solo (1) Virus (1) wafat (1) Wakil Gubernur (1) website (2) Wendit Water park (1) Wisata (2) wisnuwardhana-narasinghamurti (1) www.smantumpang.com (1)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!